Hati Selembut Sutera

Hati Selembut Sutera
bab 38


__ADS_3

Sementara itu di sebuah kamar yang mewah seorang ibu tak henti hentinya meratapi kepergian anak gadisnya. Beribu kata penyesalan tak lagi mampu menggantikan kekecewaan yang ia rasakan. Iya benar hanya penyesalan yang kini bu Handoko rasakan. Seandainya saja dulu ia berani menolak keinginan suaminya untuk menjodohkan anak gadisnya, pasti saat ini Tiara masih ada di dekatnya, bersamanya, bahkan bisa bercanda seperti biasanya. Setidaknya Tiara masih mau mempercayainya sehingga ia tidak begitu saja meninggalkannya tanpa pesan seperti ini, sebagai seorang ibu ia merasa terpukul anak perempuan satu satunya bahkan tidak menjadinya sebagai tempat berkeluh kesah akan ketidaknyamanannya terhadap papanya. Ia menyesal lebih memihak kepada suaminya dibandingkan dengan anaknya.


Pak Handoko yang melihat kondisi istrinya yang menyedihkan seperti saat ini, iapun menjadi sangat kecewa dan sedih, tapi apa mau dikata semuanya sudah terlanjur, tidak ada lagi yang bisa ia sesali.


" Sudahlah ma...jangan menangis terus, aku jadi semakin bingung harus berbuat apa." kata Pak Handoko sambil mengusap lembut pundak istrinya.


" bahkan menangispun aku kau larang pa...apa yang boleh aku lakukan saat ini?" tanya istrinya pasrah.


" ma...jangan bicara begitu." kata Pak handoko mulai lemah


" aku harus bagaimana? katakan pa..aku harus bagaimana jika anakku tidak juga di temukan hingga hari ini, ini sudah lebih dari seminggu lo pa?" tanya bu Handoko sambil berurai air mata di pipinya.


" ma...aku juga sudah berusaha mencarinya."


" iya..memang papa harus mencarinya sampai ketemu, karena papa yang menyebabkan Tiara pergi." sentaknya ketus, sedangkan Pak Handoko hanya mampu menunduk lemah tanpa bisa membantah kata kataistrinya.


" maafkan aku ma...aku nggak mengira akan berakhir menjadi seperti ini." kata Pak Handoko.


"sudah terlambat pa...aku nggak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Tiara di luar sana saat ini pa...ia pergi tanpa membawa uang dan pakaian yang ia punya. Bagaimana kalau dia...dia..."


" Sudahlah ma...jangan kau racuni pikiranmu dengan hal hal negatif begitu."


" bagaimana aku bisa berfikir positif dengan kondisi begini pa...ajari aku, bagaimana caranya? Tiara selama ini tidak pernah hidup susah, tidak pernah jauh dari kita orang tuanya." kata bu Handoko tanpa menghentikan tangisnya.


" ma...aku sudah mencarinya ke seluruh penjuru kota, bahkan aku sudah lapor polisi, tapi belum ada hasilnya, aku juga bingung harus mencari kemana lagi." kata Pak Handoko


Bu Handoko tidak menjawab apapun ucapan Pak Handoko, hanya suara tangisnya saja yang terdengar semakin menyayat hati bagi yang mendengarnya.


Sementara itu, di rumah sederhana milik paman dan Bibi Sandy, mereka terlihat sedang duduk bersantai di teras rumah sambil makan pisang goreng buatan mereka sendiri.


" apa ada kabar dari Sandy bu?"

__ADS_1


" Belum Pak, dia belum kirim surat."


" Memang Jaman sekarang ini sudah nggak umum orang berkirim surat, coba kita punya handpone bu, pasti kita bisa berkirim kabar dengan cepat."


" lah...maunya bapak bagaimana?"


" pakai telpon bu...bagaimana kalau kita beli handphone saja."


" duh...gaya sekali bapak ini, kaya yang punya duit banyak aja."


" cari yang murah lah bu, sekarang banyak kok handphone dengan harga murah di pasaran...yang penting bisa bunyi dan bisa komunikasi. Nggak usah yang terlalu canggih, kita nggak butuh juga yang terlalu canggih." kata paman sambil tersenyum


" murah itu berapa?"tanya Bibi sambil tersenyum sinis.


" ya nggak tahu bu...aku belum pernah tanya juga."


"pak... bagaimana kalau kita tengok Sandy dalam waktu dekat ini."


"Kenapa?" tanya Bibi bingung sambil menurunkan suaranya seolah berbisik.


" kamu tahu kan kalau saat ini tuan Handoko masih curiga pada Sandy karena kepergian anaknya, kalau kita pergi saat ini pasti mereka akan semakin curiga, dan itu bisa membahayakan Sandy bu." kata Paman pelan.


" lalu bagaimana cara kita bisa tahu kabar Sandy?"


" besok atau lusa aku akan pergi menemuinya, tapi aku berangkat sendiri saja, kalau aku yang pergi tidak akan memancing kecurigaan orang, kalau ibu ikut akan beda ceritanya."


" terserah bapak saja lah...walaupun sebenarnya saya sudah kangen juga sama Sandy."kata Bibi sambil cemberut.


" sabarlah dulu bu...nanti ada waktunya kita bisa ngumpul bersama lagi."


" iya Pak, aku tahu kok, aku paham."

__ADS_1


Di kantor, akhirnya Sandy bisa meyakinkan Tiara untuk mampir selepas mereka makan siang bersama. Sandy benar benar ingin memperlihatkan statusnya yang sudah menikah di lingkungan kerjanya. Beberapa rekan pria Sandy awalnya mengira Tiara hanyalah kekasihnya, bahkan ada yang terang terangan menggodanya di depan Sandy, namun setelah diperkenalkan sebagai istri Sandy mereka segera meminta maaf atas sikap kurang ajarnya. Sedangkan Sisca setelah melihat sosok Tiara, ia tidak berani mengangkat kepalanya karena malu akan sikapnya semalam. Bukannya tidak tahu, Tiara justru malah semakin mendekati Sisca bahkan ia seolah ingin akrab dengannya.


" Maaf ya mbak...saya semalam lancang telpon mas Sandy di luar jam kerja." kata Sisca sambil menunduk saat Tiara menghampirinya di mejanya sedangkan Sandy berada di ruangannya.


" nggak papa kok, sudahlah...jangan sungkan begitu." jawab Tiara lembut.


" tapi saya beneran nggak tahu mbak kalau mas Sandy sudah menikah." jawab Sisca sambil mengangkat wajahnya.


" iya, nggak papa, saya tahu kamu nggak ada niat jahat kok, Sudahlah...oh iya, boleh nggak saya minta tolong sama mbak Sisca?"


" minta tolong apa mbak?"


" tolong selalu bantu mas Sandy ya, dia kan belum punya pengalaman di jabatannya sekarang."


" oh...kalau itu sudah jadi tugas saya mbak, Pak Kuncoro juga memberi tugas seperti itu pada saya."


" syukurlah kalau begitu, saya hanya ingin mas Sandy nggak malu maluin di depan klien Pak Kuncoro nanti."


" oh...mbak Tiara tenang aja, bagaimanapun itu sudah menjadi tugas saya untuk membantu mas Sandy dan Pak Kuncoro."jawab Sisca, Tiara jadi semakin tersenyum lebar mendengar jawaban itu.


" Kalau begitu, boleh aku minta nomer ponselmu?" tanya Tiara


" tentu saja boleh mbak, no saya 0815xxxxxxxx." jawab Sisca


" saya simpan ya, siapa tahu suatu saat nanti butuh."


" iya mbak, saya juga boleh minta nomernya mbak Tiara?"


" tentu saja, saya telpon ya. "


" terima kasih mbak."

__ADS_1


Tiara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian ia berpamitan untuk masuk kembali ke ruangan Sandy. Sisca hanya tersenyum melihat tubuh Tiara menghilang di balik pintu. Harus Sisca akui Tiara jauh lebih cantik dibandingkan dengan dirinya. Sandy benar benar beruntung mendapatkan Tiara sebagai istri, sudah cantik, baik, lembut dan sangat pengertian. Sisca merasa dia bukan tandingan bagi Tiara.


__ADS_2