
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Seminggu telah berlalu, namun Jevin tidak kunjung keluar dari kamarnya. Bahkan ia juga tidak masuk kantor. Kejadian satu minggu yang lalu cukup membuat seorang Jevin kepikiran dan memurungkan dirinya di kamarnya. Penolakan dari Kasha cukup membuatnya kepikiran dan sadar diri.
"Seharusnya aku sadar, Kasha adalah mutiara yang berharga sedangkan aku adalah seorang pendosa. Aku nggak pantas mendapatkan Kasha, sangat nggak pantas. Jevin-Jevin kenapa kemarin-kemarin kamu nggak sadar, kasha itu terlalu sempurna untuk kamu yang banyak kekurangan ini. Iman saja nggak punya apalagi yang lainnya."
Selama satu minggu ini Jevin menyalahkan dirinya lebih tepatnya menyalahkan kebodohannya yang tidak berpikir terlebih dahulu sebelum melamar seorang perempuan sebaik dan seberharga seperti Kasha. Mungkin ini yang dinamakan cinta yang menggebu-gebu. Ingin memiliki namun tidak sadar diri.
❤❤❤
Nufael dan Kasha telah menyelesaikan tugasnya hari ini yaitu mengantarkan pesanan makanan ke perusahaan Alhusayn. Arfan datang menemui Nufael dan Kasha yang akan bergegas-gegas pulang usai menata kotak-kotak makanan di meja seperti biasanya.
"Sudah selesai?." Tanya Arfan sekadar basa-basi. Padahal ia sudah melihat sendiri bahwa Nufael dan Kasha sudah selesai mengerjakan tugasnya dengan baik.
"Alhamdulillah sudah."
Seketika wajah Arfan berubah. Seperti sedang memikirkan sesuatu dan tidak bergairah sama sekali. Tidak seperti kemarin-kemarin. Nufael pun menyadari perubahan wajah dan sikap Arfan yang tiba-tiba.
"Fan?, kamu kenapa?, ada yang sedang kamu pikirkan?"
Arfan menghela napas lemas. "Pak Jevin sudah seminggu nggak masuk kantor, aku prihatin sama dia, baru kali ini dia nggak masuk kantor sampai berhari-hari seperti ini."
Kasha langsung mengangkat wajahnya. Terkejut akan ucapan yang baru disampaikan oleh Arfan. Sudah satu minggu Jevin tidak masuk kantor. Pantas saja Kasha tidak melihatnya selama berhari-hari ini saat ia mengantarkan pesanan makanan. Kasha menjadi sangat bersalah atas kejadian satu minggu yang lalu. Ketika ia menolak lamaran dari Jevin dan dengan beraninya menasihati Jevin panjang lebar. Namun itu semua Kasha lakukan demi kebaikan Jevin. Kasha tidak bermaksud membuat Jevin sampai seperti saat ini. Sampai tidak masuk kantor.
Begitupun dengan Nufael. Ia tidak menyangka bahwa Jevin sampai tidak masuk kantor selama satu minggu. Nufael berharap Semoga Jevin baik-baik saja dan tidak melakukan hal-hal yang buruk atas kejadian waktu lalu yaitu penolakan lamaran dari adiknya, Kasha.
"Kamu nggak mencoba hubungi Pak Jevin?"
__ADS_1
Arfan menggeleng pelan. "Aku nggak berani hubungi dia, aku takut suasana hati dia bertambah buruk. Tapi kata sekretarisnya, Pak Jevin nggak mau diganggu dulu, mungkin Pak Jevin masih kepikiran sama lamarannya yang ditolak, oleh Kasha."
Arfan menoleh sejenak ke arah Kasha saat menyebut nama Kasha diakhir ucapannya. Arfan sudah mengetahui tentang sang Bos yang melamar Kasha dari istrinya, Shima. Awalnya Arfan tidak menyangka bahwa Jevin melamar Kasha padahal selama ini Arfan tidak melihat gelagat Jevin yang diam-diam menyukai Kasha namun pada akhirnya Arfan tersadar bahwa kemarin-kemarin Jevin sempat menanyakan tentang Kasha kepadanya. Namun Jevin tidak mengatakan bahwa ia menyukai Kasha bahkan sebaliknya. Tetapi setelah Shima menceritakan bahwa Jevin jatuh cinta kepada Kasha karena penampilan Kasha yang berbeda dari perempuan-perempuan yang lainnya Arfan dapat menyimpulkan bahwa rasa ketidaksukaan Jevin berubah menjadi rasa kesukaan yang hingga akhirnya melebar menjadi rasa cinta sampai Jevin mempunyai niat baik untuk menjadikan Kasha pendamping hidupnya.
"Tapi biarlah dia menyendiri dulu, semoga dengan lamarannya ditolak itu dia jadi sadar dan kembali menjadi hamba yang taat dan patuh kepada Allah."
"Aamiin." Nufael mengaminkannya.
"Aamiin Allahumma aamiin." Ucap Kasha di dalam hati. Ikut mengaminkan. Serta berharap semoga Jevin segera kembali menjadi hamba yang sholih.
❤❤❤
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam."
Kasha memasuki rumahnya dengan mengucap salam. Kemudian ikut bergabung bersama Niswah dan Shima yang sedang menikmati bronis buatan Niswah di ruang makan.
Kasha masih saja kepikiran dengan Jevin. Kasha merasa sangat berlebihan saat kemarin menasihati Jevin. Takutnya Jevin tersinggung atas nasihat yang dilontarkan olehnya. Jujur saja ini pertama kalinya Kasha menasihati seseorang bahkan Kasha tidak dekat dengan orang itu.
Niswah dan Shima saling memandang satu sama lain usai memperhatikan wajah Kasha yang sedang nampak memikirkan sesuatu. Niswah tidak akan tinggal diam melihat adik iparnya yang sedang kepikiran sesuatu hal yang Niswah tidak ketahui. Kasha tidak akan menceritakan kepada Niswah jika Niswah tidak menanyakannya. Begitulah sifat Kasha yang pendiam dan tertutup.
Shima menganggukkan kepalanya. Menyetujui ucapan Niswah yang menginginkan Kasha untuk menceritakan masalah yang menjadi beban pikiran Kasha saat ini.
Sejujurnya Kasha tidak ingin menceritakan apapun kepada Niswah dan Shima. Itu bukan sifat Kasha yang begitu mudahnya berbagi cerita kepada siapapun termasuk Kakak iparnya sendiri. Kasha tidak tega jika Niswah dan Shima ikut kepikiran seperti dirinya. Namun di sisi lain Kasha tidak enak jika melihat kedua wajah perempuan di hadapannya nampak penasaran dan menunggu dirinya untuk bercerita mengenai masalah yang menjadi pusat pikirannya.
"Ini tentang, Pa-Pak Jevin." Ucapnya dengan lirih.
Niswah menyerngitkan dahinya seakan tidak mengerti mengapa sang adik iparnya memikirkan seorang laki-laki yang sudah ditolak lamarannya satu minggu yang lalu. Sementara Shima seakan sudah mengetahui hal tentang Jevin yang saat ini sedang dipikirkan oleh Kasha.
"Pak Jevin belum masuk kantor ya Sha?"
Kasha mengangguk pelan tanpa bersuara. Sementara Niswah langsung beralih memandang Shima untuk meminta penjelasan dari Shima.
Shima seakan mengerti ekspresi wajah Niswah yang meminta penjelasan darinya. "Arfan cerita sama aku kalau sudah satu minggu ini Pak Jevin nggak masuk kantor, sepertinya dia masih kepikiran dengan lamarannya yang ditolak oleh..."
__ADS_1
"Kasha."
Shima menatap ke arah Kasha dengan wajah tidak enak karena takut Kasha merasa bersalah hingga akhirnya Shima kembali melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa yang Kasha lakukan sudah benar kok, menolak lamaran dari Pak Jevin."
"Dan kamu nggak usah merasa bersalah Kasha, kamu nggak salah kok, Pak Jevin memang bukan laki-laki yang baik. Pak Jevin nggak pantas dijadikan seorang suami, dia bukan laki-laki yang sholih."
Kasha sedikit bernapas lega. Setidaknya keputusannya benar untuk menolak lamaran Jevin. Namun tetap saja hati Kasha tidak tenang namanya juga Kasha dengan sifatnya yang mudah tidak enakan terhadap siapa saja.
"Kamu tahu dari Arfan kalau Jevin bukan laki-laki yang baik?"
Shima mengangguk bahkan bukan hanya sebuah anggukan semata, karena Shima tahu betul siapa Jevin, Bos dari suaminya itu. Arfan selalu menceritakan tentang Jevin kepada Shima bahkan sangat teringat jelas diingatan Shima tentang Jevin yang menolak keras ajakan dari Arfan untuk sholat jum'at berjamaah. Jevin bukan hanya meninggalkan kewajiban sholat jumat namun juga meninggalkan kewajiban sholat fardhu yang apabila ditinggalkan dengan sengaja akan berdosa besar sebagaimana: Para ulama sepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar lainnya Ibnu Qayyim Al Jauziyah -rahimahullah- mengatakan, "Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat." (Ash Sholah, halaman 7).
"Iya Arfan pernah cerita sama aku, kalau Arfan pernah mengajak Pak Jevin untuk sholat jum'at di masjid tapi Pak Jevin menolak keras bahkan sampai mau memecat Arfan."
Niswah semakin yakin bahwa Jevin memang bukan laki-laki baik lebih tepatnya bukan laki-laki yang sholih. Perintah Allah saja dia tentang apalagi perintah manusia. Jevin memang tidak pantas bersanding dengan Kasha yang sholihah. Niswah juga tidak akan ridho jika adiknya menikah dengan laki-laki seperti Jevin.
"Astaghfirullahal adzim, dia berani sekali meninggalkan sholat jumat, lalu apakah dia juga meninggalkan sholat fardhunya Shim?"
Shima mengangguk pelan untuk menanggapi pertanyaan Niswah tentang Jevin yang meninggalkan sholat fardhunya.
"Astaghfirullahal adzim, nggak menyangka aku bisa bekerja sama dengan orang seperti itu." Niswah mengelus dadanya seakan miris mengetahui sifat asli Jevin yang meninggalkan kewajibannya melaksanakan sholat fardhu.
Lengkap sudah alasan Niswah untuk tidak menyukai Jevin karena Jevin bukan laki-laki yang baik, dia berani durhaka kepada Allah dengan tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim dan dia juga berani durhaka kepada kedua orang tuanya dengan menyia-nyiakan kedua orang tuanya sendiri.
"Ya Allah ternyata Jevin bukan hanya durhaka kepada kedua orang tuanya tetapi juga durhaka kepada Allah."
"Benar Nis, aku nggak habis pikir, tapi ya mau bagaimana lagi, kita hanya bisa mendoakan saja semoga Pak Jevin cepat sadar dan menjadi orang yang lebih baik dari yang kemarin."
"Aamiin."
Kasha juga tidak keberatan untuk kembali mendoakan agar Allah segera memberikan sebuah hidayah kepada Jevin karena hanya Allah pemilik hidayah. Dan Allah akan memberikan hidayahNya kepada hamba-hambaNya yang terpilih. Tetapi hidayah itu tidak ditunggu melainkan dijemput dengan usaha yang sungguh-sungguh. Dan semoga Jevin tidak hanya menunggu hidayah itu namun memperjuangkannya untuk menjemput hidayah dari Allah subhanahu wata 'ala.
Kini Niswah beralih menatap Kasha dengan tatapan penuh kasih sayang. Niswah tersenyum ke arah Kasha. Tidak ada alasan untuk tidak membalas senyuman itu.
__ADS_1
"Kak Niswah berharap semoga kamu berjodoh dengan laki-laki yang sholih Sha, laki-laki yang bisa membimbing kamu. Kamu adalah perempuan yang sholihah. In syaa Allah perempuan yang sholihah akan berjodoh dengan laki-laki yang sholih."
"Aamiin." Kasha mengaminkan doa dari Kakak iparnya itu. Semoga Allah mengabulkannya. Jujur saja Kasha memang ingin berjodoh dengan laki-laki yang sholih. Beribadah kepada Allah bersama laki-laki yang sholih dan nantinya in syaa Allah akan dikaruniai anak-anak yang sholih dan sholihah. Karena langkah awal mendapatkan anak yang sholih dan sholihah adalah dengan memilih pendamping hidup yang sholih.