
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Nufael mencepatkan langkah kakinya usai keluar dari mobil yang ditumpanginya. Rasanya Nufael sudah tidak sabar ingin memberikan kabar baik yang baru saja ia terima kepada Niswah dan Kasha.
"Assalaamu 'alaikum"
"Umma, Kasha."
"Wa 'alaikumus salaam, Nufael ada apa?, kok sepertinya kamu senang sekali?"
Yang datang menemui Nufael bukan Niswah ataupun Kasha melainkan Shima. Bahkan tanpa ragu Shima mempertanyakan alasan wajah Nufael yang nampak bahagia bahkan senyuman juga terukir di wajahnya.
"Niswah sama Kasha ke mana Shima?"
"Ada di dalam."
Tanpa berlama-lama lagi, Nufael segera masuk ke dalam rumahnya. Kemudian disusul oleh Shima yang dibuatnya penasaran. Shima tidak mempermasalahkan Nufael yang tidak menjawab pertanyaannya, mungkin Niswah dan Kasha adalah orang pertama yang harus Nufael beritahu terlebih dahulu sebelum nantinya Nufael memberitahukan juga kepada Shima.
"Assalaamu 'alaikum, Umma, Kasha."
Nufael mencari keberadaan istri dan adiknya. Yang dicari pun akhirnya memunculkan dirinya. Dan Nufael langsung menghampiri mereka.
"Wa 'alaikumus salaam, Buya ada apa?"
"Kita duduk dulu ya."
Sebelum menceritkan apa yang terjadi. Nufael menyuruh Niswah dan Kasha untuk duduk terlebih dahulu. Begitu pun dengan Shima yang mulai bergabung bersama mereka.
"Ada apa Buya?"
Nufael masih mengulas senyuman. Niswah dibuatnya tidak mengerti. Dan penasaran sekali. Apa yang membuat suaminya itu menampilkan senyuman kebahagiaan.
"Alhamdulillah Umma, ada kabar baik.
"Kabar baik apa Buya?." Niswah semakin penasaran hingga akhirnya ikut terbawa suasana bahagia ketika melihat sang suami begitu antusias hendak menceritakan sebuah kabar baik.
Kasha memilih diam. Meskipun sama halnya dengan Niswah yang penasaran namun Kasha lebih memilih fokus untuk mendengarkan saja. Begitu juga dengan Shima. Biarlah Niswah yang mewakilinya untuk bertanya kepada Nufael.
"Pak Jevin sudah berubah, alhamdulillah tadi Pak Jevin sama Arfan sholat dzuhur berjamaah di masjid."
Tiba-tiba wajah Niswah berubah datar. Sepertinya itu bukan kabar baik untuknya. Tidak penting sama sekali. Pak Jevin bukan siapa-siapanya terlebih bukan anggota keluarga.
Berbeda dengan Shima, ia terkejut sekali. Dan wajahnya berubah menjadi bahagia. "Kamu serius El?, Pak Jevin sudah berubah?, Pak Jevin sholat dzuhur berjamaah di masjid?"
Nufael mengangguk berkali-kali untuk meyakinkan Shima agar percaya kepadanya. "Iya Shima, aku serius, lebih jelasnya kamu tanya saja sama Arfan, dia lebih tahu karena tadi Jevin ke masjid bersama Arfan."
"Alhamdulillah, akhirnya Pak Jevin berubah juga, aku ikut senang dengarnya." Shima mensyukuri kabar baik itu. Jujur saja Shima ikut senang dengarnya. Meskipun Jevin hanya Bos di kantor suaminya tapi sebagai sesama umat Islam Shima ikut senang mendengar bahwa pak Jevin sudah berubah lebih tepatnya sudah bertaubat.
Kasha tersenyum. "Alhamdulillah, semoga Pak Jevin istiqomah." Ucap Kasha turut senang dan tidak ragu untuk mendoakan agar Jevin istiqomah dalam perubahannya ke yang lebih baik.
"Aamiin Allahumma aamiin." Nufael dan Shima mengaminkan doa Kasha secara bersamaan.
"Oh iya Kasha, tadi Pak Jevin bilang sama Abang, dia mau mengucapkan terima kasih sama kamu, karena kamu sudah menyadarkannya. Alhamdulillah sekarang Pak Jevin sudah mencintai Allah."
__ADS_1
Kasha terharu mendengarnya. Kedua matanya berkaca-kaca. Hati Kasha begitu lembut sehingga ia mudah sekali menangis apalagi mendengar kabar bahwa Jevin sudah mencintai Allah. Sebagai sesama umat Islam, pastilah Kasha ikut senang.
"Alhamdulillah." Ucap Kasha lirih.
Kini Nufael beralih memandang ke arah Niswah. Wajah Niswah terlihat berbeda dari mereka. Nufael bingung dengan ekpresi wajah istrinya yang nampak biasa-biasa saja.
"Umma kenapa?, kok sepertinya nggak senang dengar kabar baik ini, sebagai sesama muslim kita harus senang Umma kalau ada saudara kita yang kembali lagi menjadi hamba yang beriman."
Niswah pun tersenyum. Nufael mengetahui bahwa itu senyuman keterpaksaan. "Umma?" Nufael menanyakan senyuman palsu itu.
"Umma senang kok Buya, cuma biasa saja sih, lagi pula dia kan bukan siapa-siapa kita, keluarga juga bukan. Dan satu lagi, percuma dia berubah kalau tetap menyia-nyiakan kedua orang tuanya, iya kan?"
Niswah mengingatkan tentang Jevin yang menyia-nyiakan kedua orang tuanya. Sampai kapanpun Niswah akan selalu mengingat akan hal itu. Bagi Niswah selama Jevin masih menyia-nyiakan kedua orang tuanya, selama itu juga Jevin belum berubah.
Nufael terdiam sejenak, kemudian membernarkan ucapan istrinya. Namun Nufael berharap semoga Jevin sudah meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Dan menyayangi mereka kembali.
"Kita doakan saja semoga Pak Jevin segera meminta maaf kepada kedua orang tuanya, dan kembali menyayangi mereka."
"Aamiin." Kasha dan Shima mengaminkan dengan penuh pengharapan. Begitu juga dengan Niswah yang ikut berharap agar Jevin kembali menjadi anak yang mencintai kedua orang tuanya.
❤❤❤
Jevin berdiri di sebuah rumah mewah dan besar. Ditatapnya rumah itu dengan diiringi sebuah senyuman. Kemudian Jevin bergegas untuk mengetok pintu. Namun Jevin mengurungkan diri untuk mengetok pintu. Jevin mengumpulkan keberaniannya kembali, hingga akhirnya ia benar-benar mengetok pintu rumah itu.
Kreggg
Pintunya pun terbuka. Menampilkan sosok perempuan paruh baya yang terkejut bukan main melihat Jevin berdiri di hadapannya. Dia adalah perempuan yang telah melahirkan seorang putra tiga puluh tahun yang lalu. Dia adalah Rifda, seorang ibu yang selama bertahun-tahun ini merindukan sosok putranya yang penurut. Dan kini putra yang dirindukannya sedang berdiri di hadapannya.
"Je-Jevin." Kedua mata Rifda berkaca-kaca. Ia tidak percaya bahwa putra yang selalu dirindukannya kini berdiri di hadapannya, tepat di depan matanya.
"Mama." Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya Jevin kembali memanggil perempuan itu dengan sebutan Mama.
"Anakku." Pekik Rifda yang langsung memeluk Jevin dengan sangat erat.
Jevin sangat merindukan Mamanya. Jevin tidak bisa menyangkal selama ini hati Jevin selalu merindukan sosok ibu yang telah melahirkannya. Jevin tidak berniat untuk membenci kedua orang tuanya selama ini, namun keadaan yang menyuruhnya untuk membenci mereka. Namun Jevin tetaplah seorang anak yang selalu merindukan kebersamaannya bersama kedua orang tuanya.
Jevin bersyukur sekali. Allah telah membuka mata hatinya. Allah telah menghilangkan rasa dendam dan benci yang sudah bertahun-tahun ini memenuhi relung hatinya.
Perlahan pelukan mereka terlepas. Rifda masih berkucuran air mata. Jevin tidak tega melihatnya. Begitu berdosanya Jevin selama ini telah membuat Mamanya selalu meneteskan air mata. Jevin yakin Allah pasti sangat murka kepadanya. Jevin mengakui kesalahannya. Jevin sadar bahwa selama ini ia menjadi anak yang durhaka.
"Mama, maafkan Jevin Ma, maafkan Jevin selama ini Jevin sudah membuat Mama menangis, membuat Mama bersedih, Jevin memang anak yang durhaka. Pukul Jevin Ma, pukul Jevin!"
Rifda melepas cengkraman tangan Jevin yang menyuruhnya untuk memukulnya. Rifda tidak akan pernah melakukan hal itu. Jevin adalah anak yang sangat disayanginya mana mungkin Rifda akan mengotori tangannya dengan memukul anaknya sendiri.
"Jevin, Mama sudah memaafkan kamu, jauh sebelum kamu meminta maaf, Mama sudah memaafkan kamu, Mama senang sekarang kamu sudah tidak marah lagi sama Mama."
"Jevin sayang sama Mama, Jevin janji Jevin nggak akan menjadi anak yang durhaka lagi, Jevin janji Ma."
Rifda tersenyum penuh syukur. "Syukurlah, Mama senang dengarnya, ya sudah ayo masuk Nak."
Rifda langsung menggadeng Jevin untuk masuk ke dalam rumah mereka. Rumah yang sudah lima tahun lamanya Jevin tinggalkan. Tidak ada perubahan, sama seperti dulu. Memori ingatannya seketika kembali ke waktu lima tahun yang lalu. Jevin bersyukur akhirnya bisa menginjaki rumah ini lagi, rumah di mana ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh Mama dan Papanya.
Seketika tatapan Jevin tertuju ke arah seorang laki-laki paruh baya yang baru saja memunculkan dirinya. Tatapan laki-laki paruh baya itu tidak bersahabat. Ia menatap Jevin dengan tajam lalu beralih menatap ke arah istrinya.
"Untuk apa dia ke sini Ma?"
Rifda belum sempat menjawab pertanyaan dari suaminya karena Jevin sudah lebih dulu melangkah, mendekati sang Papa yang tidak berminat untuk menatapnya.
"Papa."
Tiba-tiba saja Jevin berlutut di hadapan Rozin. Jevin memeluk salah satu kaki sang Papa dengan penyesalaan yang terdalam bahkan air mata keluar dari kedua pelupuk matanya.
__ADS_1
"Papa, Jevin minta maaf, selama ini Jevin sudah menjadi anak yang durhaka, maafkan Jevin Pa, Jevin menyesal."
Rifda tak kuasa melihat sang putra berlutut sambil menangis di hadapan suaminya. Jevin menyesali semua perlakuan buruknya di masa lalu. Perlakuan buruk terhadap orang tuanya.
Rozin tidak berkutik sama sekali. Ia terdiam dan membungkam. Tidak sedikitpun Rozin menunduk untuk melihat wajah sang putra yang menangis tersedu-sedu dan meminta maaf kepadanya.
Jevin memahaminya. Tidak mudah bagi Papanya untuk memaafkan dirinya. Jevin sadar bahwa ia sudah keterlaluan. Tidak apa-apa jika sang Papa tidak memaafkannya yang terpenting Jevin tulus meminta maaf kepada Papanya atas dosanya di masa lalu.
Perlahan ekspresi wajah Rozin berubah. Tidak ada lagi tatapan tajam itu, tidak ada lagi raut wajah kekesalan. Kedua matanya berkaca-kaca, dan raut wajahnya nampak bersedih, lebih tepatnya terharu.
Rozin meraih kedua pundak Jevin, mengangkatnya agar Jevin kembali berdiri seperti semula. "Bangun Jevin, ayo bangun." Suara Rozin melembut dan lirih.
Jevin kembali berdiri seperti semula dengan bantuan sang Papa. Kedua mata mereka bertemu. Sudah lama ayah dan anak ini tidak saling memandang satu sama lain.
"Papa sudah memaafkan kamu, kamu tetap anak Papa, anak kebanggaan Papa."
Jevin tak kuasa mendengar pernyataan sang Papa yang masih menganggapnya sebagai anaknya, anak kebanggaannya padahal Jevin sudah menyakiti hatinya. Jevin benar-benar merasa bodoh karena dulu sudah menyia-nyiakan kedua orang tua sebaik Papa dan Mamanya.
Akhirnya ayah dan anak ini saling berpelukan. Rozin memang marah dan kecewa kepada Jevin namun tidak ada alasan baginya untuk tidak memaafkan anak sematawayangnya, darah dagingnya sendiri. Seburuk apapun, Jevin tetaplah anaknya. Lagi pula saat ini Jevin sudah berubah. Tidak ada lagi Jevin anak yang durhaka, yang ada Jevin anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.
Melihat suami dan anaknya sedang berpelukan lantas Rifda langsung menghampiri mereka dan ikut memeluk dua laki-laki yang dicintainya. Rifda bersyukur sekali karena akhirnya anaknya kembali lagi kepelukannya dan keluarga mereka kini utuh kembali seperti sedia kala.
❤❤❤
Dretttt drettt drettt
Suara getaran berasal dari benda pipih yang tergeletak di meja ruang tengah. Nufael mengambil benda pipih tersebut. Ada panggilan masuk dari Rozin. Nufael pun segera mengangkatnya.
"Halo assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam, Nak Nufael." Ucap Rozin di ujung sana.
Rozin sedang berdiri di dekat jendela rumahnya sembari menelpon Nufael. Dan di belakangnya ada Jevin yang sedang lahap memakan masakan Rifda. Jevin sangat merindukan masakan Mamanya. Rifda senang sekali melihat Jevin yang sedang duduk di sampingnya dengan makan begitu lahapnya.
"Nak Nufael maaf ya sore-sore begini saya menganggu, saya hanya ingin berbagi kebahagiaan kepada Nak Nufael."
"Iya Pak Rozin tidak apa-apa, tidak menganggu juga. Kalau boleh saya tahu Pak Rozin ingin berbagi kebahagiaan apa ya Pak?"
Rozin menoleh ke arah anak dan istrinya lalu tersenyum melihat kebersamaan mereka, ditambah lagi wajah istrinya yang tidak pernah absen mengulas senyumannya.
"Jadi begini Nak Nufael, Jevin anak saya sudah berubah, dia sudah meminta maaf kepada saya dan istri saya, bahkan sekarang dia sudah membuat Mamanya tersenyum lagi, saya bersyukur akhirnya anak saya berbakti lagi kepada saya dan istri saya selaku kedua orang tuanya."
Hati Nufael tersentuh. Rozin berhasil membagikan kebahagiaan kepadanya. Nufael ikut senang mendengar kabar baik ini. Jevin benar-benar telah berubah. Ia bukan hanya berubah menjadi hamba yang beriman namun juga berubah menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.
"Alhamdulillah, saya ikut senang mendengarnya Pak."
"Papa, ayo sini makan, jangan salahkan Jevin ya, kalau nanti makanannya habis." Jevin memanggil sang Papa untuk segera bergabung makan bersamanya.
Suara Jevin terdengar sampai ke telinga Nufael. Senyuman bahagia merekah di wajah Nufael. Suara yang didengar oleh Nufael benar-benar suara Jevin. Itu artinya saat ini Jevin sedang bersama kedua orang tuanya. Nufael pun bersyukur jika Jevin sudah berubah dan berbakti lagi kepada kedua orang tuanya.
Sambungan teleponnya pun terputus. Nufael meletakkan kembali benda pipih miliknya ke tempat semula. Nufael sedikit terkejut ketika membalikkan tubuhnya, Niswah sudah berada di belakangnya. Niswah tidak bermaksud membuat suaminya jantungan, sebenarnya Niswah tadi hendak memanggil suaminya namun Nufael sudah lebih dulu membalikkan tubuhnya sehingga menimbulkan rasa keterkejutan pada diri Nufael.
"Siapa yang menelpon Buya?"
"Pak Rozin, Umma."
"Oh iya Umma, Pak Rozin menelpon Buya untuk memberitahu katanya alhamdulillah Pak Jevin sudah meminta maaf kepada Pak Rozin dan istrinya, bahkan tadi Buya nggak sengaja dengar suara Pak Jevin, itu artinya Pak Jevin sudah berbakti lagi kepada kedua orang tuanya."
"Oh, iya alhamdulillah kalau begitu." Niswah pun ikut senang mendengar Jevin sudah berbakti lagi kepada kedua orang tuanya. Tidak ada alasan bagi Niswah untuk tidak ikut senang karena seorang Jevin sudah benar-benar berubah. Tetapi entah mengapa Niswah kurang suka dengan Jevin, mungkin karena kejadian waktu lalu, di mana Jevin dengan percaya dirinya melamar Kasha. Untung saja Kasha menolaknya, jika tidak mungkin Kasha akan menderita mempunyai suami seperti Jevin. Dan Niswah tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Tanpa Nufael dan Niswah sadari, di belakang mereka ada Kasha yang sedang berdiri di balik dinding. Kasha tidak sengaja mendengar percakapan Abang dan Kakak iparnya itu. Jujur saja Kasha ikut senang ketika mendengar kabar bahwa Jevin sudah kembali menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya Pak Jevin berbakti lagi kepada kedua orang tuanya, aku ikut senang mendengarnya, terima kasih ya Allah Engkau telah menyadarkan Pak Jevin, semoga ke depannya Pak Jevin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin."
Kasha tidak dapat menahan rasa bahagianya. Entah mengapa Kasha merasa lega karena Jevin sudah mulai berbakti lagi kepada kedua orang tuanya. Jika yang berkaitan dengan kedua orang tua Kasha akan mudah sekali tersentuh hatinya dan akan terbawa suasana, namanya juga seorang anak yatim piatu yang terlahir tanpa orang tua disisinya. Kasha sangat berharap semoga tidak ada lagi anak di luaran sana yang seperti Jevin yang dulu, yang tega menyia-nyiakan kedua orang tuanya.