Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
21. Sunnah


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


Sebelum berangkat ke kantor Jevin meluangkan waktunya untuk sarapan di pagi hari tentunya dengan ditemani sang istri yang dengan senang hati berkutat di dapur di pagi hari untuk memasak.


"Oh iya Sayang mumpung Mas ingat nih, Sayang tahu nggak kira-kira apa ukuran celana panjangnya Abang ipar?"


Disela-sela kegiatan mengunyah makanannya entah ada apa tiba-tiba saja Jevin menanyakan tentang Nufael lebih tepatnya menanyakan tentang ukuran celana panjang Nufael. Kira-kira ada apa dengan Jevin yang tiba-tiba saja membahas tentang Abang iparnya?.


"Hah?, kok tiba-tiba Mas bertanya seperti itu, memangnya ada apa Mas?"


"Jadi seperti ini Sayang, maaf ya sebelumnya bukannya Mas nggak sopan, cuma Mas merasa sepertinya semua celana panjang yang dipakai Abang ipar itu sudah kekecilan Sayang, sudah cingkrang, jadi Mas punya inisiatif untuk membelikan Abang ipar celana yang baru makanya Mas bertanya tentang ukuran celana Abang ipar sama Sayang."


Kasha yang mendengarnya dibuat tersenyum dan menahan gelak tawanya yang hampir pecah. Melihat istrinya yang tersenyum geli itu lantas membuat Jevin bertanya-tanya. Perasaan, Jevin sedang tidak melucu tapi mengapa istrinya jadi senyam-senyum seperti itu.


"Sayang kok malah senyum-senyum sih, memangnya perkataan Mas ada yang lucu ya?." Ucap Jevin bertanya-tanya.


Kasha menggeleng cepat agar sang suami tidak salah sangka kepadanya. "Nggak Mas, nggak ada yang lucu kok, cuma aku nggak menyangka saja Mas perhatian begitu sama Abang El."


Jevin ber-o ria usai mendengar pengakuan dari Kasha bahwa tidak ada yang lucu dengan perkataan Jevin. "Iyalah Sayang, Abang El kan Abang iparnya Mas, masa Mas nggak perhatian sama Abang ipar sendiri, jadi bagaimana Sayang, Sayang tahu nggak ukuran celana panjangnya Abang ipar?"


Kasha menghentikan aktivitas sarapannya sejenak. Kemudian beralih menatap ke arah Jevin yang sedang berhenti mengunyah untuk kembali angkat bicara.


"Mas, celana Abang El itu bukan kekecilan tapi memang sengaja Abang El memakai celana yang cingkrang."


Jevin terkejut dan langsung menaruh sendok yang tadinya hendak dimasukkan ke mulutnya. Jevin kebingungan dan mulai bertanya-tanya mengapa Abang iparnya itu sengaja memakai celana yang cingkrang.


"Hah?, maksudnya bagaimana Sayang?, kenapa Abang ipar sengaja memakai celana yang cingkrang?, Mas jadi bingung deh, atau itu memang gayanya Abang ipar berpakaian ya Sayang?"


Kasha kembali tersenyum melihat suaminya itu kebingungan dan bertanya-tanya bahkan sampai menduga bahwa itu memang gaya berpakaian Nufael, Abang iparnya.


"Abang El berpakaian sesuai sunnah Mas"


"Hah?, sunnah?"


Kasha mengangguk penuh keyakinan.  "Iya Mas, sunnah, celana cingkrang yang Abang El pakai itu sesuai sunnah yaitu tidak isbal."


"Hah?, isbal?" Jevin merasa asing dengan kata terakhir yang diucapkan oleh istrinya.


"Iya Mas, isbal itu artinya memanjangkan pakaian hingga menutupi mata kaki, dan itu dilarang oleh agama Islam."


"Lho kenapa dilarang Sayang?, memang alasannya apa?"


"Karena Rasulullah yang menyuruh seorang muslim untuk tidak isbal agar terhindar dari rasa sombong dan juga memudahkan untuk beraktivitas karena ditakutkan juga kalau memakai sampai di bawah mata kaki akan terkena najis."


Kini Jevin sudah paham atas penjelasan sang istri yang terdengar tutur katanya sangat lembut dan sama sekali tidak bernada tinggi sehingga membuat Jevin tersentuh dan terketuk hatinya. Bukan hanya karena istrinya yang memberikan penjelasan namun isi penjelasannya sangat masuk akal sehingga pikiran dan hati Jevin dapat menerimanya dengan lapang dada bukan malah menentangnya apalagi hal tersebut adalah sunnah, jadi jika Jevin sampai menentang itu artinya sama saja Jevin menentang Rasulullah.


"Baiklah Sayang, sekarang Mas sudah paham, dan mulai sekarang juga Mas nggak akan isbal, apa lagi ini kan sunnah yang dicontohi oleh Rasulullah, jika kita nggak meneladani Rasulullah lalu kita akan meneladani siapa."


"Alhamdulillah, benar sekali Mas. Sebaik-baik teladan kita adalah nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam."


Kasha sangat bersyukur dan senang sekali lantaran suaminya dapat menerima dengan baik atas larangan isbal yang disyariatkan oleh agama Islam. Jevin memang masih minim pemahaman tentang ilmu agama Islam namun Kasha tetap mensyukurinya karena Jevin mau belajar dan patuh terhadap setiap perintah yang disyariatkan oleh agama Islam. Dan memang sudah seharusnya umat Islam itu mematuhi setiap perintah agamanya bukan melanggar apalagi menentangnya.


❤❤❤


Seperti hari-hari biasanya. Kasha mengantarkan makan siang untuk suaminya. Namun kali ini Kasha bukan hanya membawa kotak makanan namun juga membawa goody bag berukuran sedang yang ternyata isinya adalah celana-celana kain panjang milik Jevin yang selalu ia pakai saat ke kantor.


"Lho Sayang, celana-celana Mas kok dibawa ke kantor?, untuk apa?"


"Iya Mas, aku baru saja ke tukang jahit untuk memotong celana-celana Mas di atas mata kaki, supaya nggak isbal."


Jevin terkejut, ia tidak menyangka sang istri mempunyai inisiatif untuk memotong celana-celana miliknya agar tidak isbal. Padahal tadinya Jevin berniatan untuk membeli celana-celana baru dan ia tidak kepikiran untuk memotongnya apa lagi ke tukang jahit. Namun sang istri sudah bergerak cepat sekali bahkan diluar dugaannya. 


"Maa syaa Allah luar biasa sekali Sayangnya Mas ini, gercep ya kamu Sayang."


"Alhamdulillah iya dong Mas, kalau masalah agama kita harus bergerak cepat, biar Allah dan Rasulullah makin sayang sama kita."


"Dan Mas juga makin sayang sama istri Mas yang sholihah ini."


Cup


Kedua bola mata Kasha terbelalak. Wajahnya langsung memerah akibat mendapatkan serangan mendadak dari suaminya, yaitu ciuman mesra di pipinya. Untuk kesekian kalinya Kasha tersentak dan debaran jantungnya bergemuruh tidak karuan.


"MAS." Oceh Kasha cemberut.


Jevin terkekeh dan malah semakin gemas melihat wajah istrinya yang sedang cemberut serta memanyunkan bibir merah mudanya.


"Mas kebiasaan deh, suka nggak bilang-bilang dulu, aku kan kaget Mas."


"Makanya dibiasakan Sayang, Mas kan sudah pernah bilang, Mas bisa cium Sayang kapan pun dan di mana pun, jadi Sayang harus siap sedia ya."


Jevin terkekeh sangat puas. Ia berhasil membuat sang istri menggeleng-gelengkan kepalanya akibat ucapannya yang menggelitik.


❤❤❤


Langit sudah gelap gulita. Malam pun kian larut. Namun Kasha belum kunjung merakit mimpi indahnya karena sedang menunggu kepulangan suaminya yang seharian mencari nafkah untuknya.


Kasha mengunci pintu rumahnya usah Jevin masuk ke dalam rumahnya dan lebih dulu menuju kamarnya. Usai memastikan bahwa pintu dan jendela rumahnya sudah terkunci rapat barulah Kasha menyusul Jevin ke kamar mereka untul beristirahat karena jam udah menunjukkan pukul 23.13 malam.


"Sayang, Mas mandi dulu ya."


"Iya Mas, mandinya pakai air hangat ya Mas."


"Iya Sayang."


Sebenarnya tidak baik mandi malam-malam, Jevin dan Kasha saling mengetahui akan hal itu. Namun mau bagaimana lagi Jevin merasa gerah karena tubuhnya penuh dengan keringat akibat seharian bekerja dan Kasha juga tidak tega melihat suaminya kegerahan sehingga Kasha memperbolehkan Jevin untuk mandi malam asal menggunakan air hangat.

__ADS_1


Jevin pun memasuki kamar mandi. Ia hendak mengguyurkan tubuhnya dengan air hangat. Namun seketika Jevin terhenti di depan wastafel karena sempat merasa aneh ketika melihat wajahnya sendiri di cermin. Tidak ada yang aneh hanya saja kumis tipis sudah menghiasi wajah tampannya serta bulu-bulu halus juga sudah mulai tumbuh di sekitar jambangnya. Jevin pun tersadar bahwa ia harus merapikan kembali wajah tampannya dari bulu-bulu halus yang mulai menumbuh.


"Alat cukurnya mana ya?." Jevin mencari-cari alat cukur di sekitaran wastafel namun tidak ada. Akhirnya Jevin keluar dari kamar mandi untuk mencarinya di kamar, barang kali ada.


"Cari apa Mas?"


Kasha yang sedang mempersiapkan baju piyama untuk Jevin segera menghampiri Jevin yang sedang membuka nakas-nakas di dekat ranjangnya.


"Ini Sayang, Mas sedang cari alat cukur. Nah ini dia." Akhirnya Jevin menemukan alat cukur yang dicarinya. Kemudian ia kembali lagi masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Kasha malah diam mematung sembari memperhatikan alat cukur yang berada di genggaman suaminya.


"Astaghfirullahal adzim." Seketika Kasha beristighfar. Lalu dengan langkah seribu ia bergegas menuju kamar mandi.


Tok... tok... tok...


"Mas buka pintunya."


"Buka saja Sayang, nggak dikunci kok."


Kasha pun segera memegang kenop pintunya dan terbukalah pintu kamar mandinya. Pandangan Kasha langsung tertuju ke arah Jevin yang sudah bersiap-siap untuk mencukur kumis dan jenggot tipisnya.


"Mas sedang apa?." Tanya Kasha yang sudah berada di samping Jevin.


"Ini Sayang, Mas mau cukur kumis sama jenggot Mas, biar kelihatan rapi dan nggak menutupi kegantengan Mas lagi, sudah waktunya dicukur juga."


Kasha menggeleng cepat dan dalam sekejap alat cukur itu sudah berada di tangannya. Sontak Jevin terkejut dan langsung menoleh ke arah istrinya.


"Lho Sayang kenapa diambil?"


"Biar aku saja yang mencukurnya ya Mas."


Jevin tersenyum lebar. Ternyata istrinya berinisiatif membantunya untuk mencukur kumis dan jenggotnya. Jevin senang bukan main. Kemudian tanpa berlama-lama lagi Jevin mempersilakan sang istri untuk mencukur kumis dan jenggotnya.


Kasha mencukur kumis tipis sang suami dengan telaten dan fokus. Sampai Kasha tidak sadar bahwa Jevin terus memandanginya dengan binar-binar cinta di matanya serta senyuman manis yang memabukkan.


Ini adegan yang sangat romantis bagi Jevin. Sederhana namun mesra. Ditambah lagi ini di luar dugaannya. Biasanya Jevin yang selalu menciptakan adegan yang romantis, namun kini Kasha lah yang menciptakan adegan romantis mereka berdua, bahkan tanpa Jevin memintanya. Jevin berharap semoga istrinya akan menciptakan adegan yang lebih romantis lagi dari ini.


"Alhamdulillah sudah selesai Mas." Ucap Kasha yang telah menyelesaikan tugasnya.


Jevin pun bercermin. Kumis tipisnya sudah tercukur habis. Tetapi bulu halus di sekitar dagunya masih ada. Mungkin Kasha melupakannya.


"Lho Sayang, ini jenggotnya belum dicukur lho."


"Jenggotnya nggak usah dicukur Mas."


"Lho kenapa Sayang?"


Kasha menatap kearah Jevin kemudian tersenyum manis. "Sunnah Mas."


Jevin menyerngitkan dahi. Kurang mengerti akan ucapan dari sang istri.


"Sunnah?, maksudnya bagaimana sayang?"


"Mas Rasulullah memerintahkan Mas dan kaum muslim yang lainnya untuk mencukur kumis dan memelihara jenggot."


"Oh begitu ya Sayang, baiklah Mas nggak akan mencukur jenggot ini, biarlah tumbuh subur seperti cinta Mas pada Sayang."


Kasha menghela napas. Namun juga terselip senyuman malu di wajahnya. Suaminya ini bisa saja membuatnya tiba-tiba seakan melayang ke udara dengan rayuan maut yang ditujukan untuknya.


"Tapi Sayang suka nggak kalau Mas berjenggot seperti ini?"


"Aku suka kalau Mas menjalankan sunnah."


"Tapi Mas masih kelihatan ganteng kan Sayang?"


"Iya Mas, bahkan Mas tambah ganteng."


"Apa Sayang?"


Kasha tersadar akan ucapannya. Dan secepat mungkin ia membungkam mulutnya yang sudah keceplosan. Malu sekali Kasha rasanya. Meskipun yang Kasha puji adalah suaminya sendiri namun tetap saja Kasha merasa malu apa lagi suaminya itu seorang Jevin. Laki-laki terusil dan terjail.


"Sayang tadi bilang apa?." Tanya Jevin mulai menggoda.


"Masa Mas nggak dengar sih." Oceh Kasha sedikit kesal.


Jevin menggeleng sembari terkekeh. "Mas nggak dengar Sayang, coba diulangi lagi." Jevin berbohong, sebenarnya ia mendengar ucapan Kasha yang memuji dirinya namun.  bukan Jevin namanya jika tidak membuat wajah istrinya memerah seperti kepiting rebus.


"Nggak ada pengulangan Mas!" Kasha tidak ingin mengulangi ucapannya lagi. Bisa-bisa malunya kian bertambah.


"Sayang mau ulangi lagi atau..." Diluar dugaan!, Jevin segera melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya. Sontak Kasha tersentak dan hanya dapat berdiri seperti patung.


Perlahan Jevin menatap Kasha dengan lembut. Mendekatkan wajahnya ke wajah Kasha. Tubuh Kasha melemas hingga akhirnya memasrahkan diri dan memejamkan ke dua matanya.


"Mas mandi dulu ya Sayang, kita lanjutkan nanti."


Kasha langsung membuka kedua matanya. Melihat Jevin sudah terkekeh menatapnya. Kasha pun langsung melepas diri dari rangkulan suaminya. Malu?, jangan ditanya lagi. Wajah Kasha sudah memerah akibat menahan malu semalu-malunya.


"Sayang kok masih di sini?" Jevin menyadarkan Kasha yang masih saja berdiri mematung.


"Atau Sayang mau mandi sama Mas?." Goda Jevin tiada hentinya. Alhasil Kasha langsung terbelalak dan berbalik badan untuk keluar dari kamar mandi.


Jevin terkekeh melihat sang istri yang masih saja malu-malu. Jevin semakin tidak sabar saja untuk mengusili serta menjaili istrinya nanti usai dirinya selesai mandi.


❤❤❤


"Lho, Om Jev tumben jemput Haziq?"


Seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun yang rapi dengan seragam sekolahnya baru keluar dari sekolahan yang bertuliskan "MI Al-Hidayah". Anak laki-laki tersebut adalah Haziq. Ia sempat terheran-heran melihat seorang laki-laki dewasa sedang berdiri di samping mobilnya.


"Assalaamu 'alaikum Haziq."


Haziq menyengir. Ia lupa mengucapkan salam terlebih dahulu akibat ia heran melihat Om iparnya itu menjemputnya.

__ADS_1


"Wa 'alaikumus salaam Om Jev."


"Sepeda Haziq bannya bocor ya?, dan sekarang masih di bengkel kan?"


"Lho kok Om Jev tahu?"


Jevin tersenyum lalu menghampiri keponakannya yang berdiri tepat di hadapannya.


"Ya Om Jev tahu dong, tadi Buya mau jemput Haziq kan?, tapi nggak jadi karena biar Om Jev saja yang jemput Haziq, ya sudah sekarang ayo kita pulang."


"Oke Om Jev ayo kita pulang."


Jevin sempat menahan Haziq yang hendak masuk ke dalam mobil. "Haziq sudah sholat dzuhur belum?"


"Alhamdulillah sudah Om Jev, tuh di masjid itu." Haziq menunjuk ke arah sebuah masjid yang letaknya tidak jauh dari sekolah Haziq.


"Sip, anak sholih, ya sudah ayo masuk, kita pulang."


Haziq pun masuk ke dalam mobil dan Jevin menyusulnya usai memastikan terlebih dahulu bahwa pintu mobilnya tertutup rapat. Kemudian Jevin menancapkan gasnya dan meluncurlah mobilnya dengan kecepatan yang sedang.


Di sepanjang perjalanan Haziq tidak banyak tingkah ia hanya fokus memperhatikan pemandangan di luar dari kaca jendela di sampingnya. Sesekali Jevin menoleh ke arah Haziq untuk memastikan bahwa keponakan sholihnya itu menikmati perjalanannya. 


"Haziq ada yang ingin dibeli nggak?." Tanya Jevin sekedar basa basi untuk mencairkan suasana agar tidak hening.


Haziq menggeleng pelan. "Nggak Om Jev, Haziq nggak ingin beli apa-apa."


Jevin mengangguk, merespon jawaban Haziq yang tidak ada niatan untuk sekedar membeli sesuatu. Padahal niatnya Jevin ingin mengajak Haziq ke mall tapi jika anaknya tidak berkenan tidak mungkin Jevin memaksanya.


"Haziq mau es cream?." Terbesit es cream dipikiran Jevin. Biasanya anak kecil suka makan es cream dan Jevin berpikiran bahwa Haziq pasti juga menyukai es cream.


Hazil menggeleng lagi. Jevin yang melihatnya dibuat bertanya-tanya. Kira-kira keponakannya itu mengapa tidak mau es cream padahal dia kan masih kecil. Masa tidak suka es cream?. Atau Haziq berbeda dengan anak kecil pada umumnya?, entahlah Jevin jadi bingung sendiri.


"Lho, Haziq kenapa nggak mau es cream?, Haziq nggak suka es cream ya?"


"Suka kok Om Jev."


"Kalau suka kenapa nggak mau es cream?, uang jajan Haziq habis ya?, tenang Om Jev kok yang mau belikan Haziq es cream."


"Nggak Om Jev, uang jajan Haziq masih ada kok."


"Terus kenapa Haziq nggak mau beli es cream?"


"Haziq sedang puasa Om Jev."


"Hah?" Jevin terkejut. Ia tidak salah dengar kan?, keponakannya itu sedang berpuasa?, yang benar saja. Ini kan bukan bulan Ramadhan. Sepertinya Haziq sedang bercanda, pikir Jevin.


"Haziq bercanda ya?, ini kan bukan bulan Ramadhan, masa iya Haziq puasa."


"Haziq serius kok Om Jev, ini memang bukan bulan Ramadhan, tapi Haziq memang sedang puasa sunnah Om Jev."


Secara tiba-tiba mobil Jevin berhenti. Jevin mengerem mendadak. Lalu pandangannya tertuju ke arah Haziq yang terlihat panik dan langsung beristighfar.


"Astaghfirullahal adzim, Om Jev kenapa tiba-tiba mengerem mendadak?, Haziq kaget Om Jev."


Jevin pun merasa bersalah. "Aduh maaf-maaf ya Haziq, Om Jev nggak sengaja."


"Iya Om Jev nggak apa-apa."


"Oh iya tadi Haziq bilang apa?, Haziq sedang puasa sunnah?" Jevin pun membahas tentang ucapan Haziq tadi yang menjadi penyebab dirinya mengerem mendadak.


Haziq mengangguk yakin. "Iya Om Jev, Haziq sedang puasa sunnah."


"Memangnya ada ya puasa sunnah?." Tanya Jevin yang tidak malu untuk bertanya kepada Haziq. Jujur saja jika masalah agama Jevin memutus urat malunya sejenak, ketimbang ia tidak tahu apa-apa. Lebih baik Jevin menanggung malu dari pada rugi karena pemahaman ilmu agamanya yang masih dangkal.


"Ada Om, namanya itu puasa senin kamis, maksudnya puasa hari senin dan hari kamis."


"Oh begitu, iya-iya sekarang Om Jev mengerti." Di satu sisi Jevin merasa bangga dan kagum kepada anak laki-laki disampingnya itu diumurnya yang masih kecil sudah menjalankan salah satu sunnah dan termasuk sunnah yang berat bagi Jevin yaitu puasa. Disisi lain Jevin merasa malu karena kalah dengan Haziq yang masih kecil tapi sudah menjalankan puasa sunnah dan dapat dipastikan ilmu agama Haziq lebih tinggi dari Jevin.


"Ngomong-ngomong hari ini Haziq sungguhan puasa?, memangnya Haziq nggak haus dan lapar?, apalagi Haziq kan sekolah."


Haziq menggeleng pelan. Raut wajahnya sama sekali tidak menampakkan lemas dan tidak bertenaga makanya Jevin heran dan tidak percaya bahwa Haziq sedang berpuasa karena sama sekali tidak terlihat seperti orang berpuasa pada umumnya yang kebanyakan terlihat lemas bahkan tidak bertenaga.


"Iya Om Jev Haziq sungguhan sedang puasa, kalau nggak percaya nanti Om Jev tanya saja sama Umma dan Buya."


"Iya Om Jev percaya kok sama Haziq, cuma Haziq kok kelihatan segar tuh, nggak lemas sama sekali, memangnya Haziq nggak lapar atau haus?"


Haziq menggeleng lagi. "Nggak kok Om Jev, Haziq kan sudah sahur tadi malam terus Haziq juga sudah terbiasa puasa, jadi sudah nggak merasa lapar dan haus lagi."


Benar-benar luar biasa sekali. Baru kali ini Jevin melihat orang yang sedang berpuasa tapi segar bugar dan bersemangat sekali apalagi ini anak kecil. Jevin mendadak jadi ngefans sama keponakan sholihnya itu.


"Anak ajaib." Puji Jevin berdecak kagum.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Alhamdulillah mumpung otak lagi encer dan mood nulis lagi baik juga


Akhirnya Ukhfira bisa update lagi


Ngomong-ngomong masih pada setia di lapak ini gak ya????


Masih pada mantauin cerita cintanya Jevin dan Kasha gak ya???


Kok diem-diem baee


Sepi senyappp aja nih lapak


yasudahlah Ukhfira undur diri dulu nih


Sudah malam juga dan saatnya rebahan-rebahan club


Supaya esok hari bisa bersemangat untuk update part selanjutnya

__ADS_1


See you all


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2