Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
12. Mencintai Allah


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


Usai melaksanakan sholat taubat beberapa hari yang lalu, kini Jevin sudah membiasakan diri untuk beribadah kepada Allah, mencintai Allah dengan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Perlahan namun pasti Jevin sudah bisa bangun di pagi hari untuk melaksanakan sholat subuh tentunya atas bantuan Mbok yang susah payah membangunkannya. Bukan kebiasaan Jevin bangun di pagi hari lebih tepatnya di waktu sholat subuh sehingga Mbok sedikit kesusahan untuk membangunkan majikannya itu. Jevin masih sholat subuh di rumah sebab bangunnya selalu di waktu adzan subuh berkumandang. Namun untuk saat ini Mbok memakluminya yang terpenting majikannya itu sholat subuh dulu dan itu sudah merupakan kemajuan yang sangat pesat. Sebagai orang tua Mbok tidak lupa menyelipkan doa untuk anak muda seperti Jevin agar terus istiqomah di jalan Allah dan terus semangat beribadah kepada Allah.


Usai sholat subuh Jevin memilih tidur kembali. Tidak mudah bagi Jevin untuk membiasakan diri selepas sholat subuh untuk tidak menghempaskan dirinya di kasur empuknya. Sang Mbok membiarkannya bukan tanpa alasan namun Mbok paham bahwa Jevin membutuhkan waktu untuk bisa membiasakan diri dan itu tidak mudah. Langkah demi langkah dulu, daripada langkah cepat namun tidak istiqomah atau tidak bertahan lama.


Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Mbok memasuki kamar Jevin lalu menarik gorden jendela kamar itu sehingga sinar matahari menembus dan menyilaukan seseorang yang sedang terlelap tidur.


"Nak Jevin, bangun, sudah pagi, Nak Jevin hari ini katanya mau ke kantor, ayo bangun Nak Jevin."


Kedua mata Jevin yang terpenjam terbuka sedikit. Rasa silau langsung menyeruak masuk ke pelupuk matanya. Jevin membalikkan posisinya untuk menghindar dari silaunya matahari pagi.


"Saya capek Mbok, dibatalkan saja masuk kantornya." Jevin berucap dalam keadaan setengah sadar.


Mbok tersenyum melihat tingkah majikannya yang katanya capek dan membatalkan niatnya untuk masuk kantor padahal tadi malam Jevin meminta dengan sangat agar Mboknya membangunkan dirinya sampai terbangun namun pada pagi hari ini Jevin malah mengurungkan niatnya untuk masuk ke kantor.


"Nak Jevin, tidak baik tidur pagi, katanya Nak Jevin mau dicintai sama Allah, tapi kok Nak Jevin malah tidur pagi dan bermalas-malasan seperti ini."


Meskipun kedua matanya terpejam rapat namun telinga Jevin dapat dengan jelas mendengarkan penuturan sang Mbok yang mulai menasihatinya dengan lembut. Jevin mencoba keluar dari zona nyamannya. Dengan secepat mungkin ia kembali ke alam sadarnya.


Perlahan Jevin terbangun dan beranjak kemudian mendudukkan dirinya yang masih lemas akibat rasa kantuk yang masih menyerang.


"Iya Mbok saya bangun, memangnya sudah jam berapa sih?"


"Sudah jam setengah tujuh, Nak Jevin cepat mandi sana, Mbok siapkan sarapannya dulu ya."


"Iya Mbok, ini saya mau mandi."


Usai memastikan sang majikan masuk ke dalam kamar mandi dan terdengar bunyi shower air, Mbok melangkah keluar dari kamar Jevin untuk menuju dapur karena akan menyiapkan sarapan untuk majikannya yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.


❤❤❤


Tepat pukul 08.00 pagi, mobil yang dikemudikan Jevin telah sampai di tempat parkiran perusahaannya. Jevin melangkah keluar dari mobilnya lalu mulai memasuki bangunan besar yang sudah satu minggu ini tidak ia singgahi. Semua karyawan menyambut Jevin dengan ramah dan senang lantaran Bos mereka sudah kembali lagi masuk ke kantor. Jevin membalas senyuman ramah dari para karyawannya. Tidak seperti biasanya Jevin bersikap ramah seperti itu sehingga menimbulkan rasa tanya di hati para karyawannya. Jevin yang dulu kini sudah tidak ada lagi. Jevin ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari yang kemarin dan hasilnya dapat dirasakan oleh para karyawannya.


Sementara Arfan baru saja keluar dari lift. Sepertinya ia hendak keluar kantor untuk urusan pekerjaan. sesampainya di lantai satu. Tepat saat dirinya keluar dari lift. Tatapan Arfan langsung tertuju kearah Jevin yang melangkah menghampirinya lebih tepatnya akan menaiki lift untuk menuju ruangannya yang berada di lantai atas. Arfan tercengang melihat Jevin yang nampak berbeda dari sebelumnya. Satu minggu lebih sudah Arfan tidak melihat Bosnya itu dan kini sang Bos hadir kembali di hadapannya dengan raut wajah yang berbeda. Wajah tampan Jevin terlihat lebih segar, tenang dan bersinar itulah pengakuan dari Arfan.


"Assalaamu 'alaikum Arfan."


Arfan menyerngitkan dahi. Ia merasa aneh dengan ucapan salam yang baru saja terlontar dari mulut Jevin. Arfan merasa aneh dengan telinganya yang tidak beres. Ini hanya khayalan Arfan saja atau kenyataan?, mana mungkin Bosnya mengucapkan salam. Namun setelah dikoreksi kembali telinga Arfan baik-baik saja dan sangat jelas menangkap ucapan salam yang baru saja ia dengar.


"Mengucapkan salam hukumnya sunnah, tapi menjawabnya adalah wajib, bukan begitu Arfan?"


Arfan tersadar dan segera menganggukkan kepalanya. Menyetujui ucapan Jevin mengenai hukum mengucap dan menjawab salam.


"I-iya, apa yang dikatakan Pak Jevin benar."


Jevin mengangkat sebelah alisnya. Menunjukkan ekspresi aneh saat melihat tingkah Arfan. "Kalau benar, kenapa kamu nggak menjawab salam saya?"


"Oh iya, wa- wa 'alaikumus salaam."


"Alhamdulillah akhirnya Pak Jevin masuk kantor lagi, setelah seminggu lebih nggak ada kabar, oh iya Pak Jevin apa kabar?, Pak Jevin baik-baik saja kan?"


Arfan sengaja menanyakan kabar Jevin, takutnya Jevin sedang tidak baik-baik saja apalagi melihat perubahan sikap Jevin yang berbeda sekali sampai mengucap salam segala bahkan mengetahui hukumnya mengucap dan menjawab salam. Bukannya Arfan tidak senang akan perubahan dratis dari Jevin namun Arfan merasa aneh saja.


"Alhamdulillah saya baik-baik saja, oh iya kalau begitu saya mau ke ruangan saya dulu."


"Oh iya Pak, silakan."


Meskipun Arfan masih penasaran dengan perubahan Jevin namun Arfan tidak enak jika menanyakan secara langsung. Apalagi Arfan sadar diri bahwa ia hanyalah bawahan dan Jevin atasannya. Jadi Arfan tidak berhak menanyakan tentang kehidupan pribadi Jevin.

__ADS_1


"Pak Jevin kenapa ya?, kok dia jadi berubah seperti itu, tapi ya alhamdulillah. Apalagi wajah Pak Jevin sudah nggak sesangar dulu bahkan sekarang dilihatnya jadi adem banget." Arfan mensyukuri perubahan yang terjadi kepada Jevin meskipun tetap saja Arfan penasaran.


❤❤❤


Sesampainya di ruangan, Jevin bukannya sibuk berkutat dengan laptopnya atau dengan berkas-berkas pentingnya. Namun nyatanya Jevin lebih memilih membaca sebuah buku yang ia bawa dari rumah, yaitu buku tafsir Al-Qur'an yang diberikan oleh Zulkifli untuk Jevin baca. Sebelum membaca buku yang lainnya Zulkifli menyarankan Jevin untuk membaca tafsir dari Al-Qur'an yang mana sangat penting karena kitab suci Al-Qur'an merupakan petunjuk hidup manusia dari Allah subhanahu wata 'ala.


Kali ini Jevin membaca tafsir Al-Qur'an surah An-Nur, betapa banyaknya ilmu yang bisa Jevin ambil tentang surah an-Nur ayat 26 yaitu tentang perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), dan perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).


Jevin mulai tersentuh hatinya ketika membaca tafsir dari ayat tersebut. Tanpa sadar Jevin mengingat kejadian saat lamarannya ditolak oleh Kasha. Sudah tidak ada alasan bagi Jevin untuk tidak menerima kenyataan itu. Di dalam Al-Qur'an sudah jelas sekali bahwa perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik. Pun sebaliknya perempuan yang baik untuk laki-laki yang tidak baik pula.


Secepat mungkin Jevin langsung menghentikan aktivitas otaknya yang secara tidak langsung memikirkan tentang Kasha. Jevin sudah bertekad untuk melupakan perempuan yang bagaikan mutiara berharga itu. Kali ini Jevin hanya ingin fokus memperbaiki diri dan hanya mencintai Allah bukan yang lainnya termasuk Kasha. Jevin takutnya nantinya malah merusak niatnya yang ingin memperbaiki diri semata-mata karena Allah bukan karena ingin menjadi baik agar mendapatkan perempuan baik seperti Kasha. Biarlah Jevin serahkan semuanya kepada Allah. Jika memang Kasha bukan jodohnya, Jevin yakin Allah telah mempersiapkan jodoh yang lebih baik untuknya. Intinya Jevin hanya akan menyerahkan semuanya kepada Allah apalagi urusan jodohnya. Hanya Allah yang mengetahuinya.


Jevin kembali fokus membaca tafsir Al-Qur'an ayat selanjutnya. Dan lagi Jevin tercekat ketika membaca terjemahan dari ayat 30 dan 31 yang isinya yaitu ayat 30 adalah Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara ***********; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat". Ayat 31 adalah Katakanlah kepada perempuan yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan ***********, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau Ayah mereka, atau Ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.


Jevin terdiam sejenak, mencerna tafsir Al-Qur'an surah an-Nur ayat 30 yang baru ia baca. Disana sangat jelas bahwa Allah memerintahkan seorang laki-laki yang beriman untuk menundukkan pandangannya. Selama ini Jevin tidak melakukan itu justru sebaliknya kedua matanya selalu melihat aurat-aurat perempuan yang bukan mahromnya. Betapa berdosanya Jevin selama ini.


Kemudian Jevin juga mencerna tafsir Al-Qur'an ayat 31 awal yang mana Allah juga memerintahkan kepada seorang perempuan untuk menundukkan pandangannya juga. Jevin teringat akan Kasha yang selalu menundukkan pandangannya ketika dihadapan Jevin. Akhirnya sekarang Jevin mengetahui alasan dari Kasha.


"Sekarang aku paham kenapa Kasha setiap kali berhadapan sama aku, dia selalu menunduk ke bawah, nggak berani menatapku, ternyata karena Kasha mengetahui bahwa Allah memerintahkannya untuk menundukkan pandangannya."


Tidak berhenti disitu, sepertinya setiap Jevin membaca tafsir Al-Qur'an tersebut Jevin akan teringat kepada Kasha. Seperti saat ini Jevin kembali mengingat Kasha usai membaca tafsir ayat 31 lanjutan dari pembahasan tentang menundukkan pandangan bagi perempuan beriman. Seorang Kasha, perempuan yang pernah Jevin cap sebagai perempuan aneh sebab pakaian yang dikenakannya, tidak modis dan kampungan. Ternyata dibalik itu semua Kasha adalah perempuan yang taat kepada perintah Allah. Sangat jelas sekali di Al-Qur'an bahwa Allah memerintahkan perempuan yang beriman untuk menutup auratnya. Dan Kasha menjalankan itu semua.


"Ternyata memang benar di Al-Qur'an Allah memerintahkan kepada perempuan yang beriman untuk menutup auratnya, dan Kasha adalah perempuan beriman itu. Ya Allah bagaimana aku tidak mengagumi salah satu hambaMu itu. Bagaimana aku tidak jatuh cinta kepada dia, perempuan sholihah yang semua lelaki ingin menjadikannya sebagai istri, begitu juga dengan hambaMu ini ya Allah."


Akhir-akhir ini Jevin sudah berusaha sekeras mungkin untuk melupakan Kasha. Namun entah mengapa bayang-bayang Kasha selalu muncul di ingatannya dan itu tanpa ada unsur kesengajaan. Contohnya seperti saat ini, tiba-tiba saja Jevin teringat akan Kasha padahal Jevin sedang fokus membaca buku tafsir Al-Qur'an dan sama sekali tidak terbesit di hatinya untuk mengingat tentang Kasha.


❤❤❤


Jevin keluar dari ruangannya. Padahal ia belum tuntas membaca buku tafsir Al-Qur'annya. Namun jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Dan Jevin memang harus keluar dari ruangannya.


"Perhatian-perhatian, mohon semuanya berkumpul di hadapan saya sekarang juga." Jevin mengeraskan suaranya agar terdengar oleh para karyawannya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Para karyawan dengan sigap bergegas untuk bekumpul di hadapan Jevin, termasuk Arfan. Para karyawan pun saling bertanya-tanya mengapa Bosnya menyuruh mereka untuk berkumpul, aneh sekali karena ini pertama kalinya Jevin mengumpulkan para karyawannya.


"Assalaamu 'aikum warohmatullah wabarokaatuh."


"Wa 'alaikumus salaam warohmatullah wabarokaatuh." Para karyawan sedikit gugup untuk menjawab salam dari Jevin lantaran merasa aneh karena baru kali ini Jevin mengucapkan salam dan selengkap itu.


"Wa 'alaikumussalam warohmatullah wabarokaatuh."


Tanpa berlama-lama lagi, Jevin bergegas keluar dari kantor untuk menuju masjid namun sebelum itu ia mengajak semua para karyawan laki-laki untuk ikut bersamanya untuk menuju masjid yang letaknya tidak jauh dari kantor tempat mereka bekerja.


"Eh aku nggak salah dengar nih?, Pak Jevin menyuruh kita sholat dzuhur?"


"Iya kita disuruh berjamaah di masjid lagi."


"Itu tadi seriusan Pak Jevin kan?"


Begitulah obrolan singkat para karyawan laki-laki yang masih berdiri mematung sambil memperhatikan Bos mereka yang sudah keluar dari kantor untuk menuju masjid.


Arfan juga kebingungan dan merasa heran sama seperti karyawan-karyawan yang lainnya. Jevin menyuruh para karyawannya untuk sholat dzuhur dan meninggalkan pekerjaan mereka. Ini bukan Jevin yang Arfan kenal. Selama ini Jevin selalu mengutamakan pekerjaan di atas segalanya bahkan para karyawannya tidak diberikan waktu khusus untuk melaksanakan sholat namun hari ini berbeda, Jevin bukan hanya memberikan waktu khusus untuk sholat kepada para karyawannya namun Jevin juga melaksanakan sholat dzuhur dan berjamaah di masjid.


"Sepertinya Pak Jevin sudah berubah, dia bukan Pak Jevin yang dulu lagi, dan kita harus bersyukur atas perubahan Pak Jevin."


"Benar itu Fan, ya walaupun kita masih belum percaya atas perubahan Pak Jevin, tapi memang sepertinya Pak Jevin sudah berubah."


"Iya alhamdulillah deh kalau Pak Jevin sudah berubah, itu baru Bos gue."


"Bos kita kali."


Arfan pun menghentikan obrolan-obrolan para rekan kerjanya yang membicarakan tentang perubahan Jevin. "Sudah-sudah, sekarang kita ke masjid saja, nanti malah ketinggalan sholat berjamaahnya."


Ajakan Arfan disambut dengan setuju oleh para rekan karyawan sesamanya. Kemudian mereka mengikuti langkah Arfan, keluar dari kantor lalu menuju masjid untuk menunaikan sholat dzuhur berjamaah.


Para jamaah sholat dzuhur yang kebanyakan para karyawan di perusahaan Alhusayn itu sama-sama khusu' melaksanakan sholat dzuhur berjamaah yang dipimpin oleh seorang Ustadz yang memang bertugas menjadi imam sholat. Jevin sholat di shaf pertama dengan di sampingnya terdapat Arfan.


Sholat dzuhur berjamaah telah selesai. Sebagian para karyawan kembali lagi ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Sementara Arfan malah mencuri pandang ke arah Jevin yang sedang khsusu' berdzikir kemudian dilanjutkan berdoa.

__ADS_1


"Maa syaa Allah, Pak Jevin benar-benar sudah berubah. Wajahnya begitu bersinar dan adem dilihatnya. Alhamdulillah aku ikut senang melihat perubahan Pak Jevin saat ini, semoga saja Pak Jevin istiqomah di jalan Allah. Aamiin." Ucap Arfan dalam hati.


Usai berdoa, Jevin segera bergegas untuk kembali ke kantornya namun tanpa sengaja Jevin menoleh ke arah samping di mana Arfan sedang menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.


"Arfan."


Arfan langsung tersadar. "I-iya Pak Jevin?"


"Kamu kenapa masih ada di sini?, yang lain kan sudah pada balik ke kantor."


"Iya Pak, ini saya mau balik ke kantor juga."


"Oh iya Arfan, saya mau meminta maaf sama kamu, saya pernah berbuat salah sama kamu, bahkan saya masih ingat kamu pernah mengajak saya untuk sholat jumat dan saya menolaknya, saya minta maaf ya atas kesalahan saya di masa lalu."


Arfan sedikit terkejut. Tanpa rasa malu Jevin meminta maaf kepadanya atas kesalahannya di waktu yang sudah berlalu. Arfan bukan tipe orang pendendam, dengan senang hati Arfan memaafkan semua kesalahan Jevin.


"Saya sudah memaafkan Pak Jevin. Oh iya Pak, jujur saya sangat senang melihat Pak Jevin yang sekarang, Bapak sudah berubah."


Jevin tersenyum tulus. "Alhamdulillah Arfan, Allah baik sekali sudah memberikan saya hidayah, mohon doanya ya semoga saya istiqomah di jalan Allah."


Arfan mengangguk senang. "Aamiin, saya akan selalu mendoakan Bapak, semoga Bapak selalu istiqomah."


"Terima kasih Arfan."


"Sama-sama Pak."


❤❤❤


Kini Jevin dan Arfan sudah keluar dari masjid dan kembali ke kantor. Namun langkah mereka terhenti ketika melihat sosok Nufael keluar dari sebuah mobil. Ini waktunya makan siang. Jadi seperti biasa Nufael mengantarkan pesanan makanan cateringnya ke perusahaan Alhusayn.


Tanpa sengaja Nufael menoleh kearah dua laki-laki yang datang menghampirinya dialah Arfan dan Jevin. Nufael terdiam sejenak ketika melihat Jevin sedang berdiri di hadapannya. Rasa canggung dan tidak enak langsung bermunculan di hati Nufael. Namun Nufael juga lega karena akhirnya Jevin sudah masuk ke kantornya lagi setelah satu minggu lebih tidak masuk kantor lebih tepatnya setelah lamaran Jevin ditolak oleh Kasha.


Jevin mengulas senyum tulus kepada Nufael. Bahkan tanpa ragu Jevin memeluk Nufael dengan singkat.


"Assalaamu 'aikum."


"Wa 'alaikumus salaam."


"Pak Nufael apa kabar?"


"Alhamdulillah baik, Pak Jevin juga apa kabar?"


"Alhamdulillah saya juga baik."


"Oh iya Pak Jevin sama Arfan habis dari mana?"


Arfan angkat bicara. "Kita habis dari masjid El. Alhamdulillah baru selesai sholat dzuhur berjamaah."


Nufael sedikit terkejut namun tidak menampakkannya, karena Nufael ingin menjaga perasaan Jevin. Nufael sempat tidak percaya namun ia berpikiran positif bahwa Jevin mungkin sudah berubah dan seharusnya ia mensyukuri atas perubahan Jevin.


"Alhamdulillah El, sekarang Pak Jevin sudah berubah, lihat saja wajahnya, terlihat bersinar dan semakin tampan berkarisma kan?!."


Jevin hanya tersenyum melihat Arfan yang menyuruh Nufael untuk melihat wajahnya yang katanya bersinar dan semakin tampan berkarisma.


Nufael membenarkan ucapan Arfan. Jevin memang terlihat lebih tenang dan ramah, serta terus mengulas senyuman. Nufael sangat senang mendengar berita bagus itu, tentang Jevin yang sudah berubah, tentunya menjadi lebih baik dari kemarin.


"Alhamdulillah saya ikut senang mendengarnya, saya doakan semoga Pak Jevin istiqomah."


"Aamiin, terima kasih atas doanya Pak Nufael."


"Sama-sama Pak Jevin."


"Oh iya Pak Nufael, tolong sampaikan ucapan terima kasih saya kepada Kasha ya."


"Saya sangat berterima kasih kepada Kasha, karena Kasha sudah menyadarkan saya, Kasha adalah perantara yang Allah hadirkan untuk menyadarkan saya."


"Alhamdulillah saat ini saya sudah mengikuti arahan dari Kasha, yaitu mencintai Allah."

__ADS_1


Nufael tersenyum. "In syaa Allah nanti saya akan sampaikan kepada Kasha."


Jevin lega mendengarnya. Meskipun tidak mengucapkan terima kasih kepada Kasha secara langsung namun setidaknya Jevin sudah berterima kasih kepada Kasha yang sudah menyadarkannya. Ternyata ada sebuah hikmah yang dapat Jevin petik dari penolakan Kasha atas lamarannya, yaitu menyadarkan Jevin untuk kembali kepada Allah. Mencintai Allah sepenuh hati dengan menjalankan semua perintahNya.


__ADS_2