Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
41. KehendakNya


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


Akhirnya Zaila benar-benar menepati perjanjiannya dengan Kasha yaitu bersedia pergi sekaligus tinggal di pesantren untuk waktu yang cukup lama. Zaila tidak mempermasalahkan hal itu yang terpenting baginya ia bisa menikah dengan Jevin. Impiannya sejak dulu.


"Darling kamu yakin akan tinggal di pesantren?, kamu kan belum tahu seperti apa itu pesantren, bagaimana kalau nanti-"


"Mami, Mami tenang saja ya, Mami nggak usah khawatir." Zaila mencoba untuk menenangkan Lubna. Sebagai seorang Ibu wajar saja jika Lubna keberatan untuk membiarkan putrinya pergi ke tempat asing yang belum pernah disinggahinya.


Sebelum memasuki mobil yang akan membawanya pergi ke suatu tempat yang dituju, Zaila sempat menoleh ke arah seorang laki-laki yang sedari tadi sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Wajahnya menginyaratkan kekesalan.


"Jevin, aku pergi dulu ya." Ujar Zaila dengan wajah sumringah.


Jevin tidak mengubrisnya sama sekali. Kasha yang berdiri di sampingnya menjadi tidak enak dengan Zaila. Dan secepat mungkin mengalihkan pembicaraan.


"Mbak Zaila hati-hati ya." Ucap Kasha dengan senyuman ramahnya.


Zaila justru menarik kembali senyumannya. Ia menampilkan wajah datar kepada Kasha. "Iya." Jawabnya singkat.


"Mama, Papa, Zaila pergi dulu ya, doain Zaila semoga Zaila bisa cepat berubah biar bisa menikah dengan Jevin." Zaila kembali menyunggingkan senyumannya ketika berpamitan kepada Rozin dan Rifda selaku Om dan Tantenya.


Rozin dan Rifda ikut mengantarkan Zaila yang akan berangkat ke pesantren karena ajakan menantunya, Kasha. Sejujurnya mereka kecewa atas keputusan Kasha yang bersedia menerima Zaila menjadi istri kedua dari Jevin. Tetapi sebagai orang tua baik Rozin maupun Rifda tidak bisa ikut campur terlalu jauh dengan rumah tangga anaknya. Mereka memberikan kebebasan kepada Jevin dan Kasha untuk mengambil keputusan apapun tentang rumah tangga mereka karena hanya mereka yang akan menentukan kebahagian mereka sendiri.


Rifda hanya tersenyum singkat untuk menanggapi ucapan Zaila yang meminta doa kepadanya agar bisa secepatnya berubah dan nantinya bisa menikah dengan Jevin.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya." Zaila bergegas memasuki mobil online yang akan mengantarkannya ke tempat pesantren yang sudah Kasha beritahu alamatnya kepada Zaila. Nanti sesampainya di sana akan ada yang menyambut Zaila sehingga Kasha dan yang lainnya tidak perlu ikut serta menemani Zaila.


Lubna hanya bisa melambaikan tangannya ketika mobil yang membawa putrinya itu melaju, keluar dari halaman rumahnya.


"Papi ayo kita masuk." Lubna mengajak suaminya untuk masuk ke dalam rumah mereka padahal Rozin dan Rifda serta Jevin dan Kasha masih berdiri di halaman rumahnya.


"Iya, Mami duluan saja." Arshad menyuruh istrinya untuk lebih dulu masuk ke dalam rumah mereka karena Arshad masih ingin berbincang dengan anggota keluarganya yang kini sedang berkumpul di halaman rumahnya.


Lubna tidak banyak bicara lagi. Ia memilih untuk masuk ke dalam rumahnya. Seakan tidak ada niatan untuk berbicang-bincang sejenak dengan keluarganya sendiri, Kakak kandungnya sendiri, Rozin.


"Mas, Mbak, Jevin, Kasha, maafkan Zaila ya, maafkan kesalahan Zaila." Arshad meminta maaf atas nama Zaila, putrinya yang sudah mencari gara-gara dengan keluarganya sendiri.


"Ini sebenarnya nggak harus terjadi, Zaila nggak boleh menikah dengan Jevin, tapi-"


"Om Arshad ini semua terjadi tidak luput karena kehendak Allah, Mbak Zaila tidak serta merta bersalah, ini memang jalan hidup kita, skenario Allah." Kasha mencoba memberikan penjelasan yang sebenar-benarnya. Sekaligus tidak menyalahkan seutuhnya kepada Zaila.


Arshad berdecak kagum atas jawaban dari Kasha. "Jujur Kasha Om kagum sama kamu, pemikiran kamu dewasa sekali, dan kamu baik sekali, tidak menyalahkan Zaila atas apa yang terjadi di kehidupan kamu, semoga Zaila bisa berubah menjadi lebih baik lagi, seperti kamu Kasha."


Kasha menggeleng pelan. Ia tidak ingin Arshad begitu jauh memujinya. "Tidak Om, jangan memuji saya seperti itu, saya tidak sebaik yang Om kira, Allah hanya sedang menutupi aib saya, sehingga yang terlihat hanya baik-baiknya saja."


Arshad kembali berdecak kagum. Ucapan Kasha yang kedua kalinya ini justru membuatnya semakin kagum dan takjub. "Mas, Mbak, kalian bersyukur mempunyai menantu seperti Kasha, saya tidak menyangka masih ada perempuan sebaik Kasha saya akan bersyukur sekali jika memilik putri seperti Kasha, sangat bersyukur."


Rozin dan Rifda dengan kompaknya tersenyum. Tersenyum penuh syukur atas kebaikan Allah telah menghadirkan sosok menantu yang baik sekali seperti Kasha.


"Kamu benar Arshad, kami memang harus banyak bersyukur, Kasha adalah menantu terbaik kami." Ucap Rozin menyetujui ucapan Arshad.


"Iya, bagi kami Kasha adalah malaikat kami, kami bersyukur sekali mendapatkan menantu sebaik Kasha." Sambung Rifda yang sesekali menoleh ke arah Kasha dengan senyuman bahagia.


Kasha tidak banyak bicara. Ia justru kurang begitu senang dengan pujian yang berlebihan dari Papa dan Mama mertuanya. Justru baginya pujian adalah ujian agar tetap rendah hati dan tidak menyombongkan diri karena pujian adalah sebagian dari tipu daya syeitan untuk membuatnya membanggakan dirinya. Dan membanggakan diri adalah salah satu akhlak tercela yang harus dihindari.


❤❤❤


Mobil yang Jevin kendarai sudah sampai di depan pintu gerbang rumah mereka. Kasha bingung karena mobilnya tidak langsung di masukkan ke dalam rumah mereka. 


"Lho Mas kok mobilnya nggak langsung di masukkan ke dalam?." Tanya Kasha penasaran.


"Mas mau keluar sebentar." Jawab Jevin datar. Bahkan tatapannya tidak menoleh sedikitpun kepada istrinya.


"Memangnya Mas mau kemana?." Tanya Kasha lagi.


"Mau ke rumah Mama."


"Kalau begitu aku ikut ya Mas."


Jevin menggeleng cepat. "Nggak usah, kamu di rumah saja."


Kasha tidak bisa berkata-kata lagi. Sejujurnya ia ingin sekali ikut suaminya ke rumah Papa dan Mama mertuanya namun kali ini suaminya tidak mengizinkannya. Kasha harus mengerti itu. Terlebih lagi sikap suaminya kini dingin sekali. Dan ia bisa menebak bahwa itu semua ada sangkut pautnya dengan Zaila. Lebih tepatnya tentang keputusannya untuk menjadikan Zaila istri kedua dari suaminya.


"Ya sudah kalau begitu Mas hati-hati ya, dan jangan lama-lama ya Mas."


Jevin hanya mengangguk. Ia tidak banyak bicara lagi, bahkan langsung melajukan mobilnya ketika Kasha baru saja turun dari mobilnya.

__ADS_1


Jevin tidak bermaksud untuk mendiamkan Kasha. Apa lagi saat ini Kasha dalam keadaan hamil. Namun Jevin tidak bisa berpura-pura baik-baik saja atas apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Ia kecewa sekali dengan keputusan yang diambil oleh Kasha. Keputusan menjadikan Zaila istri kedua dari suaminya sendiri.


Kasha mengerti akan kondisi suaminya saat ini. Makanya ia membiarkan Jevin untuk menenangkan hatinya terlebih dahulu. Kasha berharap semoga dengan Jevin ke rumah Papa dan Mama mertuanya hatinya menjadi tenang kembali dan bisa menerima kenyataan yang ada. Sama seperti dirinya.


"Kasha."


Kasha menoleh ke belakang. Ia melihat kakak iparnya sedang berdiri di teras rumahnya.


"Kak Niswah."


Kasha membalikkan tubuhnya. Bergegas menghampiri Niswah yang tersenyum ke arahnya.


"Kasha kamu dari mana?." Tanya Niswah setelah Kasha kini berada di hadapannya.


Kasha baru tersadar bahwa ia belum memberitahu Abang dan Kakaknya, tentang keputusan besar yang ia ambil di kehidupannya.


"Kak Niswah, Abang El ada?"


Niswah menoleh ke belakang. Mengiyaratkan bahwa saat ini suaminya sedang berada di rumah. "Iya Kasha, Abang kamu ada di dalam."


Kasha bernapas lega. "Aku ingin bicara dengan Kak Niswah dan Abang El."


"Oh ya sudah kalau begitu ayo kita masuk."


Niswah mengajak Kasha untuk masuk ke dalam rumahnya. Sepertinya adik iparnya ini ada hal penting yang ingin dibicarakan kepada dirinya dan juga suaminya. Ia sampai dibuat penasaran dan ingin segera mengetahuinya.


"Apa???"


Nufael dan Niswah serentak terkejut. Mereka terkejut atas pernyataan Kasha. Tentang keputusannya yang ridho untuk dipoligami. Kasha menjelaskan semuanya dengan detail sehingga Nufael dan Niswah sangat jelas mendengarnya.


"Kasha kamu yakin dengan keputusan kamu ini?" Nufael seakan tidak percaya bahwa adiknya akan mengambil keputusan yang sangat besar di dalam hidupnya.


"Iya Kasha, poligami itu bukan hal yang mudah, apakah kamu benar-benar ridho bersedia untuk dipoligami apapun itu alasannya?." Sambung Niswah yang juga tidak percaya bahwa adik iparnya mengambil keputusan sejauh itu.


Kasha tersenyum tenang. Ia mengerti akan respon yang diberikan oleh abang dan kakaknya. "In syaa Allah aku yakin, mungkin ini yang terbaik untuk kehidupan aku."


"Tapi apa nggak ada solusi lain selain poligami?, Kakak bukannya nggak setuju tapi poligami itu berat, nggak mudah." Niswah berharap sekali ada jalan keluar lain dari permasalahn yang sedang dihadapi oleh Kasha tanpa harus dengan memilih jalan poligami.


Kasha menggeleng pelan. "Nggak ada solusi lain Kak, ini solusi yang terbaik, bahkan ini petunjuk dari Allah langsung."


Niswah sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sepertinya keputusan adik iparnya sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat.


"Kalau memang itu solusi yang terbaik menurut kamu Sha, Kak Niswah hanya bisa mendoakan semoga memang ini yang terbaik, yang penting kamu bahagia Kak Niswah akan ikut bahagia." Niswah menampilkan senyuman. Senyuman keterpaksaan.


"Abang El juga menyetujui keputusan ini kan?" Tanya Kasha dengan sangat berharap Abangnya menyetujui serta mendukung keputusannya sama seperti Kakak iparnya.


Perlahan Nufael menganggukkan kepalanya. Mengisyaratkan bahwa ia menyetujui keputusan yang diambil oleh Adiknya.


Kasha begitu lega melihatnya. Akhirnya keluarganya bisa mendukungnya dalam mengambil keputusan yang sangat besar dalam hidupnya.


"Jazakumullah khoiron Abang, Kakak." Ucap Kasha berterima kasih.


"Wa jazakillah khoiron." Balas Nufael dan Niswah serentak.


Sebagai seorang Abang yang menyayangi Adiknya, Nufael akan terus mendukung setiap langkah yang diambil oleh Kasha termasuk saat ini. Sama seperti Niswah, Nufael akan melakukan apa saja asal Kasha bahagia. Karena kebahagian Kasha adalah kebahagiaannya juga.


❤❤❤


"Jevin masih nggak menyangka Kasha akan mengambil keputusan besar seperti ini, Jevin takut ini keputusan yang nggak permanen, apalagi saat ini Kasha sedang hamil, takutnya ini karena bawaan hormornya yang berubah."


Jevin mengadukan kegundahan hatinya yang sedang berkecamuk hebat karena keputusan yang tidak main-main yang diambil oleh istrinya.


Rozin dan Rifda saling beradu pandang sejenak. Hingga akhirnya diantara mereka saling angkat bicara. Menenangkan kegundahan yang sedang dialami anak mereka.


"Jevin, kamu harus yakin bahwa istri kamu itu mengambil keputusan yang tepat, Papa yakin keputusan sebesar ini tidak mungkin Kasha ambil tanpa pemikiran yang matang."


"Iya Jevin, Mama juga yakin Kasha tahu apa yang terbaik untuk hidup kalian ke depannya, dan kamu nggak boleh lupa kalau ini semua terjadi itu karena kehendak Allah, jangan menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi saat ini, nggak mungkin ini semua akan terjadi tanpa campur tangan dari Allah." Ucap Rifda menasihati putranya dengan lembut.


"Ingat Jevin syeitan nggak akan pernah berhenti untuk mengganggu kamu, jangan biarkan syeitan menang karena sudah berhasil membuat kamu kesal seperti ini." Lanjut Rifda kembali mengingatkan putranya.


"Astaghfirullah adzim." Jevin beristighfar. 


Perlahan hati Jevin melembut. Ia dapat menerima nasihat lembut dari Papa dan Mamanya. Ia tersadar bahwa memang yang terjadi pada dirinya tidak luput dari kehendak Allah.


"Papa dan Mama benar, sekarang aku sadar nggak seharusnya aku seperti in, nggak seharusnya aku menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi saat ini."


Rozin dan Rifda dapat bernapas lega karena putra mereka akhirnya tersadar dan mengakui kesalahannya.


"Sekarang kamu banyak-banyak berdoa saja ya, semoga ini memang yang terbaik untuk kita semua, Mama dan Papa akan selalu mendoakan untuk kebahagian kita semua." Ucap Rifda kembali bersuara.


"Iya Jevin, Allah pasti tahu apa yang terbaik untuk kita semua, jadi kamu harus bisa menerima semuanya dengan lapang dada." Sambung Rozin.


Jevin menganggukkan kepalanya. Ia akan melakukan semua nasihat dari Mama dan Papanya.

__ADS_1


"Sekarang lebih baik kamu pulang Nak, kasihan Kasha, dia sedang hamil, dia pasti butuh kamu di sampingnya, Apalagi perempuan yang sedang hamil perasaannya sangat sensitif, Mama takut terjadi apa-apa dengan Kasha." Rifda mengingatkan Jevin untuk segera pulang ke rumah. Menemui istrinya yang sedang hamil.


Seketika pikiran Jevin langsung berpusat kepada Kasha. Mamanya benar disaat-saat hamil seperti ini harusnya Jevin selalu berada di samping Kasha bukan malah meninggalkannya di rumah, sendirian pula.


"Astaghfirullah adzim, Kasha." Jevin teringat bahwa tadi ia sempat mendiamkan istrinya. Jevin menyesali perbuatan buruknya dan tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi apa-apa dengan istrinya.


Jevin langsung berpamitan kepada Mama dan Papanya untuk segera pulang ke rumah. Menemui Kasha serta memastikan bahwa ia baik-baik saja.


❤❤❤


Dan benar saja, saat ini perasaan Kasha sedang tidak tenang. Ia mondar-mandir di ruang tamu. Sesekali ia menoleh ke arah jendela. Menunggu suaminya pulang ke rumah.


"Ya Allah Mas, kamu di mana?, kenapa kamu belum pulang juga." Seketika tubuh Kasha banjir keringat. Perasaannya kalut. Bahkan air mata sudah mulai membasahi kedua pipinya.


Suara mobil yang berhenti tepat di halaman rumahnya menyita perhatiannya. Tangisannya semakin pecah ketika melihat seorang laki-laki keluar dari mobilnya. Dan memasuki rumahnya. Dialah Jevin.


"Assalaamu 'alaikum."


"Wa 'alaiakumus salaam, Massss." Kasha langsung berhampur ke pelukan suaminya. Tangisannya semakin histeris.


Jevin sangat panik melihat istrinya tiba-tiba saja menangis histeris. Jevin mencoba untuk melepas pelukannya sejenak untuk bisa melihat kondisi istrnya. Namun Kasha malah semakin mempererat pelukannya dan semakin keras tangisannya.


"Sayang ada apa?, kenapa Sayang menangis seperti ini?." Tanya Jevin sangat panik.


"Masss."


Kasha tidak bisa berkata apa-apa. Saat ini ia hanya menangis dan menangis saja. Justru hal ini semakin membuat Jevin panik luar biasa. Ia takut terjadi apa-apa dengan istri dan calon bayinya.


"Sayang bicara sama Mas ada apa?, Sayang kenapa?, Sayang kesakitan?, kita ke rumah sakit ya?"


Kasha menggeleng pelan. Ia masih tidak sanggup untuk berbicara.


"Terus Sayang kenapa menangis seperti ini?, Sayang jangan buat Mas khawatir." Keringat langsung membanjiri wajah Jevin yang sangat panik, cemas dan khawatir melihat istrinya yang langsung menangis begitu saja.


Kasha mencoba untuk meredakan tangisannya. Ia tidak ingin membuat suaminya semakin panik karena dirinya yang tiba-tiha saja menangis tanpa alasan yang jelas.


Perlahan tangisannya pun mereda. Bahkan Kasha sudah bisa melepaskan pelukannya.


Jevin mengelus kedua pipi sang istri yang dibanjiri dengan air mata. "Ayo sekarang Sayang cerita sama Mas, kenapa Sayang menangis seperti ini?."


"Mas jangan tingalkan aku lagi, aku nggak mau ditinggal sama Mas, aku nggak mau Mas..." Kasha kembali menangis sesegukan.


Jevin segera membawa istrinya ke dalam pelukannya. Memberikan ketenangan agar istrinya tidak menangis lagi.


Benar apa yang dikatakan Mamanya. Perasaan istrinya saat ini sangat sensitif. Jevin merasa sangat bersalah karena telah membuat istrinya menangis histeris karena ditinggal pergi olehnya.


"Iya Sayang, Mas nggak akan meninggalkan Sayang lagi, sekarang Sayang tenang ya, sudah jangan menangis lag, Mas kan sudah pulang,  Mas nggak akan pergi ke mana-mana lagi kok." Jevin berkali-kali mencium puncak kepala istrinya. Memberikannya rasa ketenangan. 


"Sayang maafkan Mas ya, Mas salah seharusnya tadi Mas nggak meninggalkan Sayang, seharusnya tadi Mas membolehkan Sayang ikut Mas, maaf ya Sayang."


Kasha menganggukkan kepalanya. Ia memaafkan kesalahan suaminya. "Tapi Mas janji ya jangan tinggalkan aku lagi, aku nggak mau jauh-jauh dari Mas, aku mau di samping Mas terus."


"Iya Sayang Mas janji, Mas nggak akan pergi ke mana-mana lagi tanpa Sayang, ya sudah sekarang Sayang lepaskan pelukannya dulu ya." Jevin meminta Kasha untuk mengakhiri pelukan mereka.


Kasha menggeleng cepat. Ia menolak untuk mengakhiri pelukan mereka. "Nggak mau, memangnya Mas mau ke mana lagi?."


"Mas mau ambil minum dulu buat Sayang, pasti Sayang haus, soalnya Sayang kan habis menangis."


"Ya sudah kalau begitu kita ke dapurnya bersama-sama saja Mas."


Jevin terkejut. Ia sedikit terkekeh melihat tingkah istrinya yang tidak mau untuk berjauhan dengannya padahal hanya ditinggal ke dapur saja. Mungkin ini yang dinamakan bawaan bayi. Justru Jevin bahagia sekali akhirnya ia bisa lengket terus dengan istrinya. Memang moment seperti ini yang ia tunggu-tunggu selama ini. Jevin semakin sayang kepada calon bayinya yang masih berada di dalam kandungan namun sudah bisa diajak kompromi untuk bisa terus berdekatan dengan Kasha.


Untuk saat ini Jevin akan melupakan sejenak masalahnya dengan Zaila. Selagi Zaila belum kembali Jevin hanya akan memikirkan tentang kebahagiaa istri dan calon bayinya. Jevin juga sudah sepenuhnya memasrahkan kehidupannya di masa depan kepada Allah, sang Maha pengatur segalanya. Saat ini Jevin hanya akan fokus menikmati perannya sebagai suami siaga dari seorang istri yang sedang hamil buah cinta mereka.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Hay Reader apa kabarnya???


👋👋👋


Siapa nih yang sudah menunggu part ini???


Semoga kalian tetap suka dan tetap stay di lapak ini ya sampai part akhir


Aamiin


Baiklah cukup sampai disini sapa menyapanya ya


Nantikan notip terbaru dari author


🤗🤗🤗

__ADS_1


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2