Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
15. Laki-Laki Beruntung


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


Seorang laki-laki sedang berdiri di depan cermin yang berukuran sekitar tinggi tubuhnya. Paras wajahnya yang tampan terpantul di cermin itu. Baju pengantin berwarna cream yang membalut tubuhnya menjadikan dirinya berkali-kali lebih tampan dari sebelumnya, ditambah lagi aura bahagia terpancar di wajahnya. Laki-laki itu mengulas senyuman kepada dirinya sendiri di pantulan cermin kamarnya.


"Jevin."


Seorang perempuan paruh baya yang terlihat cantik dengan baju kebaya plus riasan di wajah dan rambutnya memunculkan dirinya di kamar sang Putra. Kemudian memperhatikan Jevin yang menoleh ke arahnya.


"Anak Mama tampan sekali."


Jevin tersenyum bahagia. "Alhamdulillah Ma."


"Kamu sudah siap?"


"Sudah Ma, tinggal pakai kopyah." Jevin hendak mengambil kopyah berwarna cream untuk dipasangkan ke kepalanya namun Rifda sudah lebih dulu mengambilnya dan berniat untuk memasangkan ke kepala Jevin. Refleks Jevin pun sedikit membungkuk agar sang Mama dapat memasangkan kopyah ke kepalanya.


Kini Rifda tersenyum sembari memandangi wajah sang Putra yang terlihat bahagia seperti dirinya. Sebentar lagi Putranya yang sudah berumur kepala tiga itu akan ada yang menemaninya. Akan ada perempuan yang selalu ada untuknya. Rifda menjadi terbawa suasana dan tidak kuasa menahan air matanya yang mulai menetes.


Jevin terkejut mendapati Mamanya menangis di hadapan matanya sendiri. Jevin tidak ingin melihat Mamanya menangis di hari bahagianya ini. Dengan lembut Jevin mengusap air mata itu sembari menggelengkan kepala agar sang Mama tidak menangis lagi.


"Mama nggak boleh menangis, Mama harus tersenyum, Jevin sudah berjanji sama diri Jevin sendiri, Jevin nggak akan pernah membuat Mama meneteskan air mata lagi."


Rifda menggeleng pelan. "Mama menangis bukannya sedih tapi Mama terharu karena akhirnya anak Mama akan ada yang menemani, akan ada yang melayaninya, alhamdulillah."


Jevin segera berhambur ke pelukan sang Mama. Sekuat tenaga Jevin berusaha untuk tidak menangis namun hatinya terlalu lemah jika berhubungan dengan perempuan yang telah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya ke dunia ini.


Pelukan singkat mereka pun terlepas. Rifda mengusap air matanya lalu tersenyum kepada putranya. Sama halnya dengan Jevin yang sudah lebih dulu mengusap air matanya sehingga sang Mama tidak melihat air matanya yang sempat terjatuh.


"Kita berangkat sekarang ya, Papa sudah menunggu di bawah."


"Ayo Ma."


Sebelum melangkah ke luar dari kamarnya tidak lupa Jevin berucap bismillah seraya berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar.


❤❤❤


Seorang perempuan cantik berpakaian pengantin yang syar'i berwarna cream serta riasan wajah yang natural sedang duduk terdiam di kamarnya yang dihias sebagaimana kamar pengantin.


"Kasha."


Panggilan seseorang menyadarkan Kasha yang segera menoleh kearah seorang laki-laki yang sedang berdiri di ambang pintu. Refleks Kasha segera beranjak dari tempat duduknya, kemudian laki-laki itu menghampiri Kasha.


"Abang." Panggil Kasha dengan lirih.


Nufael tersenyum sembari memperhatikan adiknya yang terlihat lebih cantik dari biasanya karena polesan make up yang tidak pernah wajah Kasha merasakan sebelumnya.


"Maa syaa Allah, Adik Abang cantik sekali."


Kasha tersipu malu. Perlahan terukir senyuman di wajahnya, selang beberapa detik kedua matanya berkaca-kaca. Nufael yang melihatnya langsung bertindak.


"Jangan menangis, ini hari bahagia kamu, sambut dengan senyuman, ya."


Kasha tidak tersenyum justru kedua matanya semakin berkaca-kaca hingga akhirnya meluruhlah tetesan air mata di kedua matanya. Kasha tidak bisa menahan air matanya yang hendak terjatuh.


Dengan lembut dan penuh kasih sayang Nufael mengusap air mata itu, kemudian menarik lembut ke dua ujung bibir sang adik agar membentuk senyuman yang indah.


"Abang, Kasha sayang sama Abang, Abang segalanya untuk Kasha, walaupun nantinya Kasha sudah menikah, Kasha nggak ingin jauh-jauh dari Abang."


Nufael membentangkan kedua tangannya seakan berisyarat agar Kasha memeluknya. Kasha seakan paham akan isyarat itu hingga akhirnya Kasha pun berhambur ke pelukan Nufael.


"Abang juga sayang sama kamu Kasha, meskipun nanti kamu sudah menikah, rumah ini akan selalu terbuka lebar untuk kamu, kalau kamu kangen sama Abang, kamu main kesini ya."


Dalam isak tangisnya Kasha sempat mengangguk untuk merespon ucapan sang Abang kepadanya. Sejujurnya Kasha masih ingin tinggal lebih lama bersama Abangnya namun Allah telah mempertemukan dirinya dengan jodohnya sehingga Kasha tidak bisa tinggal bersama sang Abang lagi.


Sementara di luar kamar, tepatnya di ruang tamu para undangan perempuan yang kebanyakan ibu-ibu tetangga Niswah sedang ikut memeriahkan acara pernikahan Kasha yang sederhana namun bermakna. Niswah menyuguhkan minuman kepada para undangan yang duduk melingkar dengan ditemani oleh Shima yang ikut membantunya. Sedangkan Haziq sedang berada di halaman rumah yang mana menjadi tempat duduk para tamu undangan laki-laki sekaligus tempat akad nikahnya akan dimulai. Haziq sudah seperti orang dewasa yang dengan ramahnya menyapa para tamu undangan yang baru saja datang. Haziq tidak sendiri melainkan ditemani oleh Arfan.


Selang beberapa menit kemudian datanglah kedua mobil dengan salah satu mobil dihias dengan pita plus bunga-bunga khas mobil pengantin. Kedua mobil tersebut berhenti di depan pintu gerbang rumah Nufael. Para tamu undangan laki-laki beserta Arfan dan Haziq saling tertuju ke arah mobil itu. Keluarlah seorang laki-laki dan perempuan yang tidak lain adalah Rozin dan Rifda kemudian keluarlah sosok laku-laki muda dengan pakaian pengantin turun dari mobil yang satunya yang dihias seperti mobil pengantin pada umumnya.


"Maa Syaa Allah itu kan Om keren yang waktu itu ke sini?." Haziq teringat akan sosok om yang dipanggilnya dengan sebutan keren ketika melihat sosok mempelai pengantin laku-laki yang tidak lain adalah Jevin. Haziq memang tidak mengetahui calon om iparnya siapa.


"Haziq tolong bilang sama Buya, kalau Om kerennya sudah datang."


"Oke Om Arfan." Dengan bersemangat Haziq masuk ke dalam rumahnya untuk melaksanakan perintah dari Arfan.


Sementara Arfan menyambut hangat kedatangan Rozin dan Jevin. Dan Rifda sudah mengetahui bahwa tamu perempuan ada di dalam rumah jadi Rifda masuk ke dalam rumah melewati samping rumah di mana sudah disediakan jalan untuk tamu perempuan masuk tanpa melewati tamu laki-laki.


"Umma, Buya mana?" Haziq sampai di dalam rumah dan mendatangi Niswah yang sedang duduk bersama Shima dan tamu yang lainnya.


"Buya lagi di kamar Tante Kasha Haziq, ada apa Nak?"


"Itu Om kerennya sudah datang."


"Alhamdulillah, ya sudah kalau begitu Haziq kembali ke luar biar Umma yang panggil Buya."


"Iya Umma."


Haziq kembali ke luar rumah, dan Niswah menuju kamar pengantin untuk memanggil suaminya sekaligus membawa pengantin perempuan ke luar kamarnya karena sebentar lagi acara akad nikahnya akan segera dimulai.


"Assalaamu 'alaikum."


Bertepatan dengan kepergian Niswah, Rifda memunculkan dirinya. Shima selaku teman dari tuan rumah segera menemui Rifda dan menyuruhnya untuk duduk di tempat yang telah disediakan yaitu di sebelah Niswah duduk tadi. Di ruang tamu memang tidak disediakan kursi atau sofa agar para tamu undangan beserta pengantin dapat duduk berdampingan dan tempatnya menjadi lebih luas.


Sementara Niswah baru saja sampai di ambang pintu kamar sang adik kemudian segera bergabung bersama suami dan adik iparnya yang sama-sama mengusap air matanya.


"Buya, Kasha, Pak Jevin dan kedua orang tuanya sudah datang."


Deg


Jantung Kasha tiba-tiba berdetak lebih cepat. Rasa gugup langsung menderanya. Ini adalah hari yang sakral nan suci bagi Kasha tetapi entah mengapa rasanya seperti sedang ujian, menegangkan.


"Alhamdulillah ya sudah kalau begitu ayo kita keluar."


"Kasha, bismillah ya."


Kasha mengangguk seraya mengucapkan kata bismillah dengan suara yang lirih. Kini Kasha berjalan keluar kamarnya dengan diapit oleh abang dan kakak iparnya. Semua tamu undangan takjub ketika melihat Kasha, sang pengantin perempuan yang baru keluar dari kamarnya. Rifda juga ikut takjub melihat calon menantunya terlihat cantik dan anggun.


Niswah mempersilakan Kasha untuk duduk di samping Rifda. Dan Niswah sendiri duduk di samping Kasha. Sedangkan Nufael bergegas keluar rumah untuk menyambut calon adik iparnya.


Jevin sudah duduk di hadapan Penghulu yang sudah siap di tempat duduknya. Rozin duduk di samping Jevin. Nufael pun segera bergabung untuk duduk di samping Penghulu yang mana Nufael akan menjadi wali nikah dari Kasha.


"Bagaimana apakah sudah bisa dimulai?." Penghulu menayakan kepada semua pihak apakah akad nikahnya bisa segera dimulai.


Jevin selaku mempelai laki-laki menganggukkan kepala, pertanda sudah siap. Rozin dan Nufael pun ikut menganggukkan kepala, begitu juga dengan para tamu undangan.


"Baiklah dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim, kita mulai ijab qobulnya, silahkan Mas Nufael selaku wali dari mempelai perempuan untuk memulai ijab qobulnya."


Nufael melaksanakan arahan dari penghulu untuk memulai ijab qobulnya. Jevin segera menjabat tangan Nufael yang sudah terulur di hadapannya. Kedua mata mereka saling beradu dengan wajah yang sama-sama sedang serius.


"Bismillahirrohmanirrohim, saudara Jevin Alhusayn, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Adik kandung saya yang bernama Kasha putri Althafurrahman binti Rafka Althafurrahman dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tu...nai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Kasha putri Althafurrahman binti Rafka Althafurrahman dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi sah?"


"Sah"


"Alhamdulillahribbil aalamiin."


"Barokallahulakuma wabaroka alaikuma wajama'ah bainakuma fii khoir."

__ADS_1


Penghulu telah selesai melafalkan doa untuk Jevin yang telah sah menjadi seorang suami dan Kasha juga telah sah menjadi seorang istri di mata agama dan negara.


Jevin berhambur di pelukan Rozin seraya tersenyum bahagia karena telah resmi menyandang status baru yaitu seorang suami dari perempuan yang selama ini Jevin idam-idamkan, perempuan mutiara berharganya. Jevin juga memeluk Nufael usai memeluk sang Papa. Kini laki-laki yang di peluk Jevin adalah Abang iparnya, Abang kandung dari istrinya.


Usai pelukannya terlepas, tatapan Jevin tertuju ke arah ambang pintu rumah Nufael di mana di dalamnya sudah ada sang istri yang menantinya. Jevin tersenyum manis seakan sedang tersenyum ke arah Kasha. Nufael yang melihat adik iparnya seakan mengetahui bahwa adik iparnya itu sudah tidak sabar ingin menemui perempuan halalnya.


Di ruang tamu, Kasha dan semua para tamu undangan perempuan ikut bahagia ketika terdengar kata sah dari luar rumah, itu artinya Kasha sudah sah menjadi seorang istri dari Jevin, laki-laki yang baru saja mengucapkan ijab qobul.


"Alhamdulillah, Kasha kamu sudah sah menjadi istri dari Pak Jevin, selamat ya."


"Jazakillah khoiron Kak Niswah."


"Wa jazakillah khoiron Adikku sayang."


Kasha memeluk Niswah dengan rasa haru yang tak terkira. Kasha sangat menyayangi Niswah layaknya seorang adik menyayangi kakaknya. Sama halnya dengan Niswah yang sejak dulu memang sudah menganggap Kasha seperti adik kandungnya sendiri. Niswah ikut bahagia jika Kasha pun bahagia.


Kasha pun menoleh kearah samping, di mana Rifda sedang tersenyum ke arahnya. Dengan rasa hormat Kasha mencium punggung tangan Rifda. Dan Rifda langsung membawa Kasha dalam pelukannya yang singkat.


"Alhamdulillah akhirnya Mama punya menantu juga, mulai sekarang panggil saya Mama ya."


Kasha tersenyum seraya mengangguk. "I-iya Ma-Mama." Ucap Kasha dengan terbata-bata. Jujur saja ini pertama kalinya Kasha memanggil seseorang dengan sebutan Mama. Maklum saja Mama kandung Kasha sudah meninggal sejak ia lahir. Dan kini Kasha bahagia karena sudah ada seorang perempuan yang dipanggilnya Mama dalam kehidupannya meskipun hanya Mama mertua namun Kasha akan menganggap seperti Mamanya sendiri dan Kasha juga berharap semoga Mama mertuanya juga menyayanginya layaknya putrinya sendiri.


Kini tatapan mata Kasha tertuju ke arah seorang laki-laki yang baru memunculkan dirinya di ruang tamu. Dengan ditemani Rozin dan Nufael, Kasha langsung menunduk, Niswah yang melihatnya langsung mengangkat dagu Kasha dengan lembut.


"Kasha jangan menunduk, dia sudah halal untuk kamu pandang, sekarang dia adalah suami kamu."


Dengan malu Kasha mengangkat kembali wajahnya, lalu menatap kedua mata seorang laki-laki yang tersenyum tulus kepadanya. Kasha masih canggung untuk membalas senyuman itu, hingga pada akhirnya Kasha kembali menundukkan pandangannya. Maklum saja ini pertama kalinya bagi Kasha memandang seorang laki-laki yang asing baginya, namun laki-laki di hadapannya kini adalah suaminya.


Perlahan Jevin melangkahkan kakinya untuk menghampiri sang mutiara berharga yang sudah duduk manis menantinya. Jevin pun duduk di depan Kasha dengan tatapan yang tidak lepas dari wajah cantik Kasha.


"Kasha." Jevin memanggil Kasha dengan suara lembutnya.


Kasha terperanjat. Panggilan lembut Jevin berhasil membuat Kasha salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya dengan perlahan Kasha pun mencoba mengangkat wajahnya untuk melihat laki-laki yang sedang memanggilnya dengan suara yang lembut.


Kedua mata mereka saling bertemu. Tatapan mata Jevin yang menyiratkan binar-binar cinta berhasil membuat Kasha tertunduk malu kembali. Jevin mengerti akan sifat sang istri yang nampaknya masih malu-malu.


"Kasha, ayo cium tangan suami kamu." Niswah menyuruh Kasha untuk mencium tangan suaminya.


Jevin mengangkat tangan kanannya, bersiap-siap untuk Kasha mencium tangannya. Kasha kembali menatap Jevin kemudian beralih menatap tangan Jevin yang sebentar lagi akan menyatu dengan tangannya.


Tangan Kasha sudah berkeringat dingin dan gemetaran. Sekuat tenaga Kasha mengangkat tangannya untuk bersentuhan dengan tangan Jevin. Namun Kasha kembali menurunkan tangannya. Dan Jevin malah menyodorkan tangannya lebih dekat kepada Kasha. Kelakuan Jevin yang tidak sabaran itu berhasil membuat para tamu undangan perempuan yang kebanyakan ibu-ibu tertawa-tiwi.


"Pengantin laki-lakinya sudah nggak sabaran ya." Ucap salah satu ibu-ibu.


"Iya, mau menyosor saja tuh." Timpal ibu-ibu yang lain.


Niswah menyemangati Kasha. "Bismillah dicoba lagi Kasha."


Kasha mengangguk dan kembali mencobanya. Tangan Kasha sudah semakin dekat dengan tangan Jevin. Dan akhirnya Kasha memberanikan diri untuk menyatukan tangannya dengan tangan Jevin. Dan...


Berhasil


Kasha merasakan ada yang aneh dengan perasaannya saat tangannya masih melekat di tangan Jevin. Kasha merasa tangan Jevin begitu hangat berbeda dengan tangannya yang gemetaran dan berkeringat.


Tanpa berlama-lama lagi Kasha mencium tangan Jevin lalu tangan kiri Jevin memegang ubun-ubun kepala Kasha sembari melafalkan sebuah doa yang ia hafalkan dari buku yang diberikan oleh Nufael untuk Jevin pelajari.


Kini pasangan pengantin baru saling bersalaman dan berpelukan dengan anggota keluarganya satu persatu. Kasha menangis di pelukan sang abang dan Jevin menitikkan air mata pula di pelukan sang Mama. Kasha tidak memperdulikan make upnya yang akan luntur jika dirinya terus-terusan menangis, karena ini adalah moment yang sangat mengharukan. Sebentar lagi Kasha akan meninggalkan rumah ini dan tidak bisa tinggal bersama abang dan kakak iparnya beserta keponakannya. Hanya tiga bulan lebih Kasha tinggal bersama abangnya, jika boleh memilih Kasha ingin selamanya tinggal bersama abangnya, namun Kasha sadar bahwa saat ini dia sudah menikah yang mana artinya Kasha harus mengikuti kemanapun suaminya tinggal.


"Kasha tanggung jawab Abang sekarang sudah berpindah kepada suamimu, jadilah istri yang sholihah, yang dapat memasuki pintu syurga lewat mana saja."


Kasha menganggukkan kepala pertanda bahwa Kasha akan menjalankan nasihat dari Nufael. "In syaa Allah Kasha akan menjadi istri yang sholihah, Abang doakan Kasha ya semoga Kasha bisa menjadi istri yang sholihah."


Nufael tersenyum tulus. "Aamiin, Abang akan selalu mendoakan kamu Adikku sayang."


Kini Kasha kembali lagi berhambur ke pelukan sang Abang yang selalu memberikan dirinya kenyamanan. Kasha berharap bisa memeluk Nufael selamanya. Kasha sangat menyayangi Nufael dan tidak ingin kehilangan Abang tersayangnya.


❤❤❤


Langit kini menghitam dengan ditaburi hiasan para bintang yang bertaburan di langit, juga ditemani oleh sang penerang rembulan yang menjadikan langit bersinar indah.


Sebuah mobil memasuki halaman rumah mewah usai pintu gerbangnya terbuka. Sang pemilik mobil memunculkan dirinya, dialah Jevin sang pengantin baru. Jevin memutari mobilnya, lalu membukakan pintu mobilnya untuk sang mutiara berharganya yang kini sudah resmi menyandang status sebagai istrinya.


Jevin menggandeng sang istri memasuki rumahnya yang mulai saat ini akan menjadi rumah istrinya juga, alias mereka akan tinggal bersama.


Pandangan mata Kasha mengabsen seluruh ruangan mewah yang baru dimasukinya. Kasha merasa rumah yang saat ini dipijaki telalu besar dan mewah. Namun Kasha tidak bisa komplen kepada Jevin, selain karena Jevin adalah suaminya, Kasha juga masih ragu untuk mengobrol dengan suaminya, maklumlah sebelumnya mereka tidak saling kenal. Jadi Kasha harus membiasakan diri terlebih dahulu agar nantinya bisa berkomunikasi dengan suaminya.


"Ini rumah kita, mulai sekarang aku dan kamu akan tinggal di sini, kamu mau kan tinggal di sini sama aku?"


Kasha hanya dapat menganggukkan kepala. Ia belum berani untuk mengeluarkan satu katapun. Rasanya lidah Kasha keluh sehingga ia tidak dapat mengeluakan suaranya. Kasha memang tipe orang yang pendiam apalagi dengan orang yang baru ia kenal. Sudah dapat dipastikan Kasha hanya akan diam saja.


Jevin tidak mempermasalahkan hal itu. Justru Jevin merasa tertantang untuk mengubah sifat pendiam sang istri menjadi banyak bicara. Namun Jevin bingung mau memulainya dari mana.


"Mbok, Mbok."


Mbok memunculkan dirinya usai beberapa kali Jevin memanggilnya.


"I-iya Nak Jevin."


"Mbok perkenalkan ini Kasha, istri saya."


"Kasha perkenalkan ini Mbok, asisten rumah tangga yang berkerja di rumah kita."


Baik Mbok maupun Kasha hanya saling menebar senyuman satu sama lain, sebagai bentuk salam kenal di pertama kalinya ini bertemu.


"Ya sudah kalau begitu Mbok boleh kembali istirahat ini sudah malam, saya dan istri saya juga akan istirahat."


"Iya Nak Jevin, kalau begitu Mbok pamit ke kamar dulu."


Mbok pun kembali ke kamarnya. Dan Jevin kembali menggandeng tangan Kasha untuk menuju kamar mereka di lantai atas.


Sesampainya di dalam kamar yang luas nan besar. Kedua mata Kasha memperhatikan seisi ruangan yang akan menjadi kamarnya itu. Tiba-tiba Kasha terkejut ketika mendengar suara pintu yang dikunci. Kasha menoleh dan ternyata Jevin sengaja mengunci pintu kamar mereka.


"Ada apa Kasha?"


Kasha menggeleng pelan dan segera memalingkan wajahnya ke sembarang arah untuk menstabilkan debaran jantungnya yang kian cepat.


Jevin meraih kedua tangan Kasha lalu membawanya ke sisi ranjang. Mereka duduk saling berhadapan dan Jevin kembali mengukir senyumannya sembari terus memandangi wajah cantik istrinya. Jevin bersyukur sekali karena Allah mengabulkan doanya untuk memiliki mutiara berharga di hadapannya.


Kasha yang menyadari sedang dipandangi terus-terusan oleh Jevin akhirnya menundukkan wajahnya, otomatis membuat Jevin kecewa dan langsung memegang dagu Kasha untuk mengangkat wajah Kasha kembali.


"Kenapa menunduk?, apa aku nggak boleh memandangi wajah istriku sendiri?"


Dengan malu-malu Kasha menggelengkan kepala. Jujur saja saat ini rasanya Kasha ingin pingsan. Ia tidak kuat menahan kegugupan karena dipandang terus menerus oleh Jevin. Ini pertama kalinya Kasha dipandangi dengan binaran penuh cinta.


"Aku adalah laki-laki beruntung bisa mendapatkan kamu Kasha, kamu adalah mutiara berharga yang nggak sembarang orang bisa memiliki kamu, dan aku adalah laki-laki beruntung itu."


Perlahan Jevin kembali menggenggam kedua tangan Kasha. Jevin merasa aneh karena tangan Kasha masih gemetaran dan berkeringat. "Tangan kamu gemetaran dan berkeringat, kamu kenapa Kasha?"


Kasha menggeleng pelan seraya ingin melepas tangannya dari genggaman Jevin namun Jevin mengeratkan genggaman tangannya. Alhasil Kasha hanya malu karena tangannya masih gemetaran dan berkeringat.


"Kasha, apa ini pertama kalinya tangan kamu dipegang oleh laki-laki yang bukan anggota keluarga kamu?"


Perlahan Kasha mengangguk, mengakui bahwa memang ini pertama kalinya ia bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahromnya.


Jevin tersenyum puas dan bangga. Karena ia adalah laki-laki pertama yang menyentuh tangan Kasha yang masih suci. "Berarti aku adalah laki-laki pertama yang menggenggam tangan kamu Kasha?"


Kasha mengangguk. Memang Jevin lah laki-laki pertama yang menggenggam tangan Kasha. Selama ini Kasha menjaga sekali dirinya dari sentuhan laki-laki yang bukan mahromnya. Kasha hanya ingin suaminya saja yang berhak menyentuhnya dan Kasha berhasil menjaga kesucian tubuhnya sampai benar-benar sang suami yang menjadi laki-laki pertama yang menyentuhnya.


Jevin benar-benar beruntung dan bersyukur karena ia merasa laki-laki yang istimewa yaitu mendapatkan seorang istri yang sangat menjaga dirinya dengan baik. Laki-laki mana yang tidak sebahagia Jevin saat ini. Kasha benar-benar mutiara berharga yang hanya Jevin saja yang boleh menyentuhnya. Seperti itulah perempuan muslimah yang sangat diistimewakan oleh agama Islam, oleh Allah dan Rasulullah.


"Maa syaa Allah, terima kasih Kasha, kamu sudah menjaga diri kamu dengan baik, jujur saja aku bersyukur bisa memiliki istri seperti kamu, kamu adalah mutiara berharga bagiku."


"Tapi maaf Kasha, aku, aku bukan seperti kamu, aku mau jujur sama kamu, kamu bukan perempuan pertama yang aku sentuh tapi-"


"Cukup Pak Jevin, Pak Jevin tidak boleh memberitahu masalalu Pak Jevin kepada saya, in syaa Allah, Allah sudah memafkan masa lalu Pak Jevin jadi Pak Jevin tidak usah mengingat masa lalu itu lagi."


Jevin bernapas lega karena sang istri tidak mempermasalahkan masa lalunya yang kelam. Jevin berjanji tidak akan mengingat masa lalunya lagi. Lagi pula sebenarnya Jevin sudah tidak ingin membahas masa lalu lagi namun Jevin merasa harus berterus terang kepada Kasha yang berhak mengetahui masa lalunya, tetapi syukurlah Kasha tidak ingin mengetahuinya dan tidak ingin membahasnya.

__ADS_1


"Tunggu, kenapa kamu memanggil aku dengan sebutan Pak, jangan panggil Pak lagi ya, aku sekarang suami kamu."


Kasha tersenyum malu karena tidak sengaja memanggil Jevin dengan sebutan Pak, namun Kasha bingung sendiri dan tidak tahu harus memanggil Jevin dengan sebutan apa.


Jevin sedang berfikir untuk mencari panggilan yang pas untuk dirinya saat Kasha memanggilnya. Jevin pun tersenyum menandakan bahwa ia sudah menemukan panggilan yang pas.


"Mulai sekarang kamu panggil aku dengan sebutan Mas, oke?"


Kasha mengangguk. Ia tak kuasa mengucapkan sepatah katapun.


"Ayo Kasha, sekarang coba panggil aku dengan sebutan Mas."


Kasha tersipu malu. Ia kesusahan untuk membuka mulutnya. Jevin sangat sabar menunggu Kasha memanggil dirinya dengan sebutan Mas.


"I-iya Mas."


"Apa?" Jevin sengaja menggoda Kasha untuk memanggilnya lagi.


"I-iya Mas."


"Kurang keras." Jevin menggoda Kasha lagi dan lagi.


"I-iya Mas." Kasha sedikit mengeraskan suaranya.


Jevin pun tersenyum puas. "Nah begitu dong, panggil Mas ya!"


"I-iya Pak."


"Lho?"


"Maksudnya Mas." Kasha malu karena tadi salah menyebutkan panggilan untuk Jevin.


Jevin terkekeh melihat sang istri malu-malu karena salah mengucapkan panggilan baru untuknya. Sejujurnya Jevin gemas sekali kepada istrinya itu. Ingin sekali Jevin memeluk Kasha dengan erat namun Jevin sadar diri bahwa Kasha masih membutuhkan waktu untuk membiasakan dirinya.


Kini Jevin sedang serius menatap wajah sang istri yang mulai terbiasa menatap Jevin "Sayang..."


"I-iya Pak"


"Ma-maksudnya Mas."


"Sayang, apakah Mas boleh, memberikan nafkah batin kepadamu, malam ini?"


Kedua bola mata Kasha melebar. Rasa gugup mulai menderanya. Meskipun Jevin tidak terang-terangan dalam ucapannya namun Kasha mengerti apa yang Jevin bicarakan kepadanya.


Sejujurnya Kasha belum siap dalam hal itu. Namun sebagai istri yang sholihah sudah seharusnya Kasha taat kepada setiap ucapan yang keluar dari mulut suaminya.


"In syaa Allah aku siap Mas."


Jevin bersorak dalam hati. Jiwanya menggebu-gebu sudah tidak sabar ingin memiliki istrinya seutuhnya. Namun lagi-lagi Jevin harus bersabar dalam hal ini yang prosesnya sepertinya cukup lama karena Kasha tipekal orang yang tenang tidak terburu-buru berbeda dengan Jevin yang sudah siap sekali.


"Bisa kita mulai sekarang Sayang?"


Kasha menggeleng pelan. Jevin terkejut melihat istrinya menggeleng pertanda tidak setuju dengannya.


"Lho kenapa?, katanya sudah siap?"


"Kita sholat dua raakat dulu ya Mas."


Jevin menghela napas, ada rasa kecewa di hatinya namun Jevin sadar diri memang ia dan sang istri belum melaksanakan sholat dua rakaat setelah menikah.


"Berarti kalau habis sholat dua rakaat kamu siap?"


"In syaa Allah aku siap Mas." Ucap Kasha dengan malu-malu.


Jevin yang sudah bersemangat sekali langsung bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, sementara Kasha hanya dapat tersenyum melihat suaminya bertingkah lucu seperti itu. Meskipun disisi lain, Kasha gugup dan cemas, ada rasa takut juga. Namun Kasha harus melawan ketiga rasa itu. Karena Kasha harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


10 menit berlalu, Jevin dan Kasha telah selesai melaksanakan sholat dua rakaat sesudah menikah dengan berjamaah. Kini Jevin dan Kasha kembali duduk di tepi ranjang. Mereka masih lengkap dengan pakaian sholatnya.


"Bisa dimulai sekarang Sayang?"


Kasha menggeleng pelan. Jevin pun terkejut lagi dengan gelengan kepala Kasha yang menandakan belum siap.


"Lho kok belum siap lagi Sayang, kan sudah sholat dua rakaat, ada apa lagi?"


"Aku mau tanya sama Mas."


"Tanya apa?"


"Mas sudah hafal doa..." Kasha terdiam disela ucapannya, ia malu untuk melanjutkan ucapannya.


Jevin seakan mengetahui maksud dari ucapan sang istri. "Alhamdulillah Mas sudah hafal dong, bahkan sudah memperlajari semuanya, sekarang tinggal dipraktekkan."


Wajah Kasha langsung bersemu merah. Ucapan suaminya itu benar-benar membuat Kasha malu sendiri.


"Jadi apa bisa dimulai sekarang Sayang?"


Kasha menggeleng lagi. Jevin langsung menghela napas. Apa lagi yang membuat istrinya itu menggeleng. Jevin semakin dibuat greget. Namun ia harus bersabar menghadapi sang istri yang menggemaskan sekali.


"Ada apa lagi Sayang?, kamu mau bertanya apa lagi?"


"Nggak ada."


"Terus?"


"Lampunya dimatikan dulu Mas."


Jevin pun tersadar, memang lampunya harus dimatikan terlebih dahulu.


"Oke, Mas akan matikan lampunya, tapi apakah setelah Mas matikan lampunya, kita bisa langsung memulainya?"


Kasha tersenyum dan malu-malu ia mengangguk. Jevin tidak ingin berlama-lama lagi dan langsung beranjak untuk mematikan lampunya.


Kleg


Cahaya di kamar pengantin baru itu akhirnya padam. Dan bersamaan dengan itu kedua pasangan pengantin baru yang halal akhirnya saling menyatukan cinta mereka yang diridhoi oleh Allah subhanu wata'ala. Tak lupa mereka juga saling melafalkan doa agar Allah meridhoi setiap apa yang mereka lakukan dan setan tidak akan berani mengganggu penyatuan cinta suci mereka.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Alhamdulillah akhirnya Ukhfira datang lagi dengan part tersosweet ini


❤❤❤


Yang jomblo pasti senyum-senyum sendiri tuh


Sabar ya mblo kita akan menikah pada waktunya kok


Aamiin


#jomblo_saling_menguatkan


🤓🤓🤓


Sudah dulu ya


Sampai bertemu di part-part selanjutnya


yang sepertinya akan semakin sosweet


Karena


Jevin dan Kasha


Pasangan pengantin baru


yang masih anget-angetnya

__ADS_1


Hehehe


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2