Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
27. Kembali Lagi


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


Tok... tok... tok...


"Masuk."


Pintu ruangan Jevin terbuka. Usai Jevin sendiri mempersilakan seseorang yang mengetok pintunya untuk masuk. Namun kedatangannya tidak disambut baik oleh Jevin, karena Jevin sedang fokus menatap ke layar laptopnya. Menampilkan file pekerjaannya.


"Selamat siang Darling."


Suara seorang perempuan yang terdengar manis mampu membuyarkan konsentrasi Jevin yang langsung mendongakkan kepalanya ke arah perempuan cantik yang sedang tersenyum kepadanya.


Kedua mata Jevin langsung terbelalak. Ia juga berdiri dari tempat duduknya dengan tatapan tidak lepas dari perempuan di hadapannya.


Perlahan perempuan itu mulai mendekati Jevin. Dan ketika perempuan itu sudah berdiri didekat Jevin, Jevin langsung mengambil langkah ke depan, menghindar dari perempuan cantik itu.


Tatapan Jevin lurus ke depan. Ia menatap jalanan dari jendela ruangannya dengan tajam. Raut wajahnya tidak bersahabat semenjak perempuan yang berdiri di belakangnya itu masuk ke dalam ruangannya.


"Untuk apa kamu datang lagi?"


Perempuan itu tersenyum. Kemudian melangkah lagi untuk mendekati Jevin. Dan kali ini Jevin tidak menghindar lagi tapi Jevin sama sekali tidak menoleh ke arahnya.


"Aku kangen sama kamu Darling."


"Kangen banget."


"Sudah lima tahun kita-"


"STOP ZAILA!" Bentak Jevin dengan binar-binar kemarahan yang tidak bisa disembunyikan lagi.


Jevin langsung memalingkan wajahnya. Ia sangat tidak suka melihat perempuan yang tidak lain adalah Zaila berada di hadapannya. Rasa benci sejak dahulu semakin menghimpit di rongga dadanya sehingga Jevin merasa sesak sekali.


"Ternyata selama lima tahun kita nggak bertemu, kamu banyak perubahan ya, dan kamu seperti nggak keurus seperti ini, bahkan kamu nggak memperdulikan pernampilan kamu lagi."


Zaila merasa banyak perubahan dari sepupunya yang juga masa lalunya. Bulu-bulu halus di bagian bawah wajah Jevin dibiarkan tumbuh lebat padahal dulu Jevin selalu tampil rapi dengan tidak membiarkan bulu-bulu halus tumbuh di sekitaran wajahnya.


Zaila masih saja memandangi wajah Jevin yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Rasa cinta yang dulu masih menetap di hatinya kini semakin tumbuh dan berkembang. Apa lagi kini sudah bertatap muka kembali dengan laki-laki yang tidak pernah absen berada di hatinya.


"Meskipun penampilan kamu berubah, tapi rasa cinta aku nggak akan pernah berubah, dari dulu sampai sekarang sama saja, bahkan-"


"Hentikan ocehanmu Zaila."


"Pintu di sebelah sana, silakan angkat kaki dari ruangan ini."


Zaila sama sekali tidak merasa ketakutan ketika melihat wajah Jevin benar-benar diselimuti rasa amarah. Tatapannya pun tidak kalah tajamnya dari sayatan pisau.


"Kamu yakin mau usir tunangan kamu, kamu yakin nggak kangen sama calon istri kamu ini, Darling."


Jevin tersenyum sinis. "Berhenti menghayal Zaila, kamu sudah bukan siapa-siapa lagi di hidupku. Dan jangan pernah bermimpi untuk menjadi istriku. Oh ya dan satu lagi asal kamu tahu aku sudah menikah, dan istriku adalah perempuan yang jauh lebih baik dari kamu."


"Aku tahu kamu sudah menikah. Tapi aku nggak yakin kalau kamu sudah move on dari aku, secara lima tahun kita bersama dan sudah bertunangan juga kan, nggak mungkin secepat itu kamu melupakan kenangan manis kita Darling."


Jevin kembali tersenyum sinis. "Iya aku memang sudah membuang-buang waktu selama lima tahun dengan kamu, tapi selama lima tahun juga aku sudah melupakan kamu. Jadi impas. Dan aku sudah benar-benar mengusir kamu dalam hidupku. Jadi untuk apa kamu datang lagi di kehidupan aku."


Sepertinya diantara Jevin dan Zaila sama-sama saling memegang ucapannya masing-masing. Tidak mau kalah dan terkesan sedang terjadi perdebatan yang cukup serius. Perdebatan masalah hati dan perasaan.


"Aku datang lagi di kehidupan kamu karena aku masih cinta sama kamu Darling. Dan satu lagi aku ingin menagih janji kamu sama aku lima tahun yang lalu, kamu masih ingat?"


Jevin menyerngitkan dahinya. Ia tidak berniat untuk mengingat-ingat masa lalunya. Karena baginya masa lalunya sudah lewat dan diharamkan untuk diingat lagi.


"Janji?"


"Iya, kamu berjanji akan menikahi aku, kamu masih ingat kan Darling?. Makanya aku datang lagi ke kehidupan kamu, karena aku ingin kamu menepati janji kamu untuk menikahi aku."


Entah apa yang berada dipikiran Jevin sampai ia tertawa tanpa beban seakan-akan ucapan Zaila adalah sebuah lelucon. Padahal tidak sama sekali. Bahkan Zaila mengatakannya dengan wajah yang sangat serius.


"Kenapa kamu tertawa Darling?, aku serius."


"Kamu amnesia atau bagaimana?, sebenarnya aku malas sekali untuk membahas ini. Tapi ya sudahlah biar kamu sadar diri dan cepat pergi, kalau perlu nggak usah kembali lagi."


Jevin menghela napas, kemudian kembali membuka suara. "Dengarkan baik-baik ya Nona Zaila yang terhormat. Lima tahun yang lalu anda sudah memutuskan hubungan kita, dengan alasan ingin menjadi model internasional di Amerika. Jadi janji yang ingin anda tagih sudah gugur dan saya sama sekali tidak punya utang janji sama sekali dengan anda."


Kali ini Zaila memilih terdiam. Ia kehabisan kata-kata. Lebih tepatnya ia membenarkan ucapan Jevin yang sebenarnya sama sekali tidak terlupakan di memori ingatannya. Namun entah mengapa Zaila ingin sekali Jevin menjadi miliknya seperti dulu lagi. Zaila sadar diri. Ia yang melepas Jevin dari pelukannya dan kini Zaila menyesal sekali karena melepas laki-laki yang benar-benar tulus mencintainya. Zaila merasa bodoh sekali karena telah menyia-nyiakan laki-laki yang berniat baik ingin membina rumah tangga bersamanya.


"Sekarang aku ingat, aku sadar, memang aku yang memutuskan hubungan kita. Karena keegoisan aku. Karena ambisiku. Tapi Jevin-"

__ADS_1


Jevin menghentakkan tangan Zaila dengan keras yang sempat menyentuh lengannya. Jevin tidak sudi dipegang oleh perempuan yang sudah membuatnya terluka begitu dalam di masa lalu. Lima tahun Jevin terombang-ambing karena hatinya hancur dan berantakan. Bahkan sampai kedua orang tuanya menjadi korban dan itu semua gara-gara satu perempuan yang kini berada di hadapannya.


"Jevin maafkan aku, aku mohon maafkan aku atas kesalahan aku di masa lalu, aku nggak berniat menyakiti kamu sedikitpun. Namun waktu itu aku dibutakan oleh ambisiku sendiri."


"Sebagai hamba yang baik, aku sudah memaafkan kamu, karena Tuhanku juga maha Pemaaf."


Zaila dapat bernapas lega karena Jevin telah memaafkan kesalahan fatalnya di masa lalu. Itu artinya ada kesempatan untuk Zaila memperbaiki hubungannya dengan Jevin.


"Terima kasih Jevin karena kamu sudah mau memaafkan aku, aku senang banget."


"Sekarang silakan keluar. Jangan buang-buang waktu saya."


"Tapi Jevin-"


"Keluar!"


Dengan berat hati Zaila keluar dari ruangan Jevin. Sebenarnya Zaila masih ingin berlama-lama bersama Jevin tapi waktunya tidak tepat karena Zaila sadar bahwa Jevin belum sepenuhnya memaafkannya. Namun bukan masalah besar bagi Zaila. Cepat atau lambat Zaila yakin Jevin akan kembali ke pelukannya.


Usai kepergian Zaila. Perasaan Jevin bergemuruh hebat. Amarah masih menyelimuti hatinya. Jevin memang sudah memaafkan Zaila. Namun kesalahan besar yang dilakukan oleh Zaila di masa lalu sungguh menyayat hatinya dan bekas luka itu selamanya tidak akan pernah bisa memudar apalagi sembuh. Tidak akan pernah.


"Kenapa dia kembali lagi?, luka ini bukannya sembuh malah tambah parah." Jevin memegangi dadanya yang terasa masih sakit akibat goresan luka yang pernah Zaila torehkan di masa lalu.


"Astaghfirullahal adzim."


Tiada henti-hentinya Jevin mengelus-elus dadanya agar tetap tenang dan tidak mengeluarkan amarah yang sudah menyambar-menyambar hendak meledak.


❤❤❤


Derap langkah Jevin terdengar keras sehingga membuat Rifda dan Rozin menoleh ke arahnya. Jevin pun memasuki rumah kedua orang tuanya dengan raut wajah yang tidak bersahabat.


"Assalaamu 'alaikum."


"Wa 'alaikumus salaam."


Meskipun sedang diburu api amarah namun tidak menjadikan Jevin lupa untuk bersopan santun kepada kedua orang tuanya. Secara bergantian Jevin mencium tangan Mama dan Papanya.


"Jevin kamu kenapa?, kenapa kelihatannya kamu sedang marah."


Sebelum menjawab pertanyaan dari sang Mama, Jevin memilih mendudukkan dirinya di atas sofa tepat di hadapan Mama dan Papanya.


"Mama dan Papa sudah tahu, kalau Zaila sudah balik lagi ke Indonesia?"


Rifda yang mendengar pertanyaan sang putra tidak lantas langsung menjawab. Ada rasa takut kini menderanya. Meskipun Jevin sudah berubah namun Rifda takut jika ia membahas Zaila suasana Jevin tidak akan bersahabat lagi dan lebih ditakutkan lagi Jevin akan berubah seperti dulu.


"Iya Vin, kemarin Om dan Tante kamu juga Zaila datang ke sini."


"Kenapa mereka kembali lagi ke Indonesia Pa?." Tanya Jevin dengan nada tidak suka mendengar Zaila bersama kedua orang tuanya yang tidak lain anggota keluarganya juga kembali lagi ke indonesia. Setelah lima tahun lamanya hijrah ke Amerika.


"Mereka bilang katanya rindu sama Indonesia, makanya mereka kembali lagi ke sini."


"Nggak masuk akal, aku yakin itu bukan alasan utama mereka kembali lagi ke Indonesia, pasti ada alasan lain."


"Dan Zaila juga tahu kalau aku sudah menikah, apa Mama dan Papa memberitahu dia?, atau memberitahu kedua orang tuanya?"


Rifda semakin ketakutakan. Ia membungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan satu katapun. Sementara Rozin mengedarkan pandangannya ke arah istrinya. Menganggukkan kepala seraya mengisyaratkan kepada istrinya agar menjawab pertanyaan Jevin.


Akhirnya mau tidak mau, Rifda harus menjawab pertanyaan Jevin kali ini. Rifda berharap ia tidak salah menjawab. "Mama dan Papa tidak memberitahu mereka, tapi mereka tahu kalau kamu sudah menikah dari...postingan Mama."


"Jevin, Mama minta maaf, Mama nggak bermaksud untuk memberitahu mereka. Mama nggak tahu kalau ternyata mereka masih memantau sosial media Mama. Kalau Mama tahu akan seperti ini Mama nggak akan posting apapun. Jevin tolong maafkan Mama ya."


Jevin menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia memang kecewa atas kejadian ini tapi ia sama sekali tidak kecewa apalagi marah kepada Mamanya. Dan ini bukan sepenuhnya kesalahan sang Mama.


"Ma, Mama nggak salah. Mama nggak perlu minta maaf sama Jevin ya." Ucap Jevin melembut. Berusaha agar membuat Mamanya tenang dan melupakan rasa bersalahnya.


"Tapi Jevin, memang Mama yang salah. Mereka balik lagi ke Indonesia karena Mama."


"Nggak Ma, ini bukan salah Mama. Sudah Mama nggak usah merasa bersalah lagi ya."


Rozin mencoba menenangkan sang istri agar tidak merasa bersalah lagi. Karena Jevin tidak menyalahkannya. Rifda pun berhenti mengoceh dengan pernyataan dirinya yang bersalah.


"Tapi ngomong-ngomong postingan Mama yang mana yang membuat mereka kembali lagi ke Indonesia?"


Jevin penasaran dengan postingan sang Mama di sosial media yang membuat Zaila beserta kedua orang tuanya kembali lagi ke Indonesia.


Usai membuka akun sosial medianya, dengan ragu Rifda segera memberikan handponenya kepada Jevin. Layar handpone itu menampilkan sebuah foto makanan, Jevin merasa aneh karena foto itu hanya makanan, namun Jevin akhirnya mengetahui alasan dibalik Zaila kembali lagi ke Indonesia yaitu caption yang disematkan dibawah foto makanan itu.


"Oh jadi ini alasan dia kembali lagi ke Indonesia."


"Jevin Mama minta maaf ya-"


"Mama nggak salah Ma, Jevin nggak mau lagi dengar Mama minta maaf seperti itu."


Akhirnya Rifda berhenti berbicara. Ia tidak akan berucap kata maaf lagi meskipun hatinya terus meronta agar dirinya meminta maaf kepada sang putra.

__ADS_1


"Dasar perempuan nggak tahu diri. Setelah dulu menggores luka yang teramat perih, dengan seenaknya sekarang malah kembali."


Rifda dan Rozin hanya bisa saling memandang satu sama lain usai melihat raut wajah serta kilatan mata Jevin yang menampakkan kebencian yang selama ini ia pendam bertahun-tahun lamanya.


"Sudah lah Vin, nggak usah memikirkan Zaila lagi. Sekarang kamu fokus saja dengan Kasha, istrimu. Kalian kan sudah bahagia."


"Tapi Pa, kehadiran dia membuat hati aku panas lagi. Aku nggak akan hidup tenang kalau dia masih berkeliaran di kehidupan aku."


"SIALAN!!!"


Jevin benar-benar tersulut amarah. Ingin sekali ia berkata-kata kasar untuk meredamkam amarahnya namun Jevin tetap sadar diri bahwa kini di hadapannya sedang ada kedua orang tuanya dan Jevin sebagai seorang anak harus bersopan santun di hadapan kedua orang tuanya meskipun ia sudah terlanjur mengucapkan satu kata yang tidak baik dengan nada yang sangat keras.


Akhirnya Jevin memilih untuk pergi dari rumah kedua orang tuanya. Daripada nantinya ada perkataan kasar yang akan keluar dari mulutnya tanpa disadari olehnya sendiri.


❤❤❤


Suara mobil berhenti di depan rumahnya. Buru-buru Kasha membuka pintu dan menyambut kedatangan sang suami yang baru pulang dari kantornya.


"Assalaamu 'alaikum."


"Wa 'alaikumus salaam, alhamdulillah Mas sudah pulang."


Kasha merasakan ada yang berbeda dengan suaminya. Kasha tidak melihat senyuman di wajah suaminya. Bahkan binar-binar cinta yang selalu memenuhi kedua bola matanya seakan menghilang. Kasha malah melihat kilatan amarah di tatapan tajam kedua mata suaminya itu.


"Mas kenapa?, Mas ada masalah?"


Jevin menggeleng pelan. Suasana hatinya semakin memburuk. Bahkan ia tidak ingin berbicara dulu dengan Kasha.


"Cerita sama aku Mas."


Kasha tidak percaya bahwa Jevin sedang tidak ada masalah. Meskipun Jevin menggelengkan kepala namun wajahnya mengisyaratkan bahwa ia tidak baik-baik saja itu artinya masalah sedang menghampirinya.


Jevin menggeleng lagi. "Mas ke kamar dulu ya."


Kasha ikut menggeleng. Ia tidak memperbolehkan sang suami menuju kamar mereka. Alhasil Jevin nampak menghela napas kasar. Dan Kasha menyadarinya.


"Mas kenapa?, jangan menyembunyikan sesuatu dari aku Mas. Ada masalah apa Mas?"


"Iya Mas memang ada masalah. Tapi Mas nggak bisa cerita. Tolong mengerti ya. Mas ingin sendiri dulu."


Kasha tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tidak bisa memaksa Jevin untuk menceritakan masalahnya. Namun sebagai seorang istri, Kasha ingin sekali membantu suaminya untuk menghadapi masalahnya namun suaminya yang tidak berkenan untuk membagikan masalahnya kepadanya.


"Mas ke kamar ya?"


Kasha pun akhirnya memperbolehkan Jevin untuk ke kamar mereka. Namun baru saja Jevin melangkahkan kakinya Kasha langsung menahannya.


"Mas seberat apapun masalah yang sedang Mas hadapi. Mas harus tetap sabar ya, jangan sampai Mas nggak bisa menahan amarah. Jangan biarkan syeitan tertawa karena berhasil membuat Mas marah."


Jevin mengangguk. kemudian tersenyum kecil untuk meyakinkan Kasha bahwa dirinya tidak akan terbakar api amarah. Jevin tidak akan mau kalah dengan godaan syeitan yang seakan-akan selalu membisikkan kepadanya untuk mengeluarkan amarahnya sampai keakar-akarnya.


Setidaknya Kasha dapat bernapas lega karena suaminya mau menerima nasihatnya agar tidak melampiaskan amarahnya karena masalah yang sedang hinggap pada dirinya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Selamat hari senin


Dan selamat weekend jugakkk


🤗🤗🤗


Alhamdulillah Ukhfira nongol lagi nih


Ada yang menunggu kenongolan Ukhfira gk ya???🙈


Eh maksudnya ada yang menunggu part ini gak ya???🤓


Monmaap nih readers Ukhfira baru nongol


Biasalah penyakit Ukhfira kambuh nih


Penyakit bad mood nulis


😅😅😅


Sudah dulu ya sapa menyapa Ukhfira kali ini


Mau langsung buka lembaran baru nih


Biar cepat selesai kisah cintanya Jevin❤Kasha


Biar kalian gak penasaran jug sampai akhir ceritanya

__ADS_1


🤗🤗🤗


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2