
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Brughhh
"Sialan!!!"
Suara bantingan pintu yang sangat keras mengejutkan Lubna dan suaminya yang sedang duduk santai di ruang keluarga. Tatapan keduanya saling tertuju ke arah seorang perempuan yang baru saja memasuki rumah mereka. Dan wajahnya memerah karena sedang meluapkan kemarahannya.
"Zaila." Lubna langsung menghampiri sang putri yang mulai melangkah menghampirinya.
"Ada apa Darling?, pulang-pulang kok marah-marah?"
"Ayo sini duduk dulu."
Lubna mengajak putri kesayangannya untuk duduk terlebih dahulu. Setidaknya memadamkan api amarah yang masih berkobar-kobar.
"Darling ayo cerita sama Mami, apa yang membuat kamu marah-marah seperti ini?"
"Sampai pintu nggak berdosa terkena imbasnya, semoga tuh pintu nggak rusak ya." timpal Arshad yang malah memikirkan keadaan pintu rumahnya yang habis dibanting sekeras mungkin oleh Zaila.
"Papi!!!, kok malah memikirkan pintu, bukannya memikirkan anaknya." Lubna memarahi suaminya karena sama sekali tidak ada perhatiannya kepada anak sematawayangnya sendiri.
"Darling, ayo cerita sama Mami, kamu kenapa?" Lubna kembali tertuju ke arah Zaila yang sedang duduk di sampingnya.
"Aku kesal sama Jevin, Mami."
"Masa dia sengaja banget mesra-mesraan di hadapan aku, dia sengaja buat hati aku panas sampai mendidih seperti ini." Amarah Zaila masih meledak-ledak saat menceritakan kekesalannya kepada Jevin.
Lubna hanya bisa mengelus pundak Zaila agar Zaila bisa lebih tenang dulu. Meskipun Lubna tahu bagaimana suasana hati putrinya saat ini.
Berbeda dengan Arshad, sebagai seorang Papi, Arshad bukannya ikut prihatin melihat anaknya sedang kesal dan marah, namun ia malah tersenyum puas seolah mendukung perlakuan Jevin kepada Zaila.
"Tenang Darling, tenang, kamu harus bisa mengontrol amarah kamu ya, kalau kamu marah-marah terus yang ada wajah kamu nantinya cepat tua dan bisa keriput, nanti yang ada Jevin semakin nggak suka sama kamu Darling."
Kali ini Zaila mengikuti saran sang Mami untuk bisa mengontrol emosinya. Zaila juga tidak mau wajahnya cepat tua apablagi keriput. Itu masalah besar bagi Zaila.
"Sudahlah Zaila, kamu nggak usah ganggu Jevin lagi, Jevin itu sudah punya istri, masih banyak laki-laki di luaran sana, bahkan masih banyak stok laki-laki yang lebih baik dari Jevin."
Ucapan Arshad yang seenaknya saja berhasil membuat istri dan anaknya sama-sama menatap tajam ke arahnya. Tatapan mereka seperti ingin membunuh Arshad. Padahal Arshad adalah kepala keluarga yang harus dihormati.
"PAPI!!!" Sorotan tajam Lubna seakan mengisyaratkan bahwa ia marah atas ucapan Arshad.
"Papi itu bukannya membela aku, malah seperti itu. Aku itu anak Papi, seharusnya Papi seeprti Mami, menedukung aku untuk merebut Jevin dari istrinya." Zaila marah karena Papinya sama sekali tidak berada dipihaknya.
"Justru karena kamu adalah anak Papi, makanya Papi memberitahu yang benar, merebut kebahagiaan orang lain itu salah Zaila, dan Papi tidak pernah mengajarkan kamu untuk seperti itu, lagi pula bukannya kamu sendiri kan yang dulu menolak lamaran Jevin, ya sudah sekarang terima saja kenyataannya kalau Jevin sudah menikah dengan perempuan lain."
"PAPI!!!" Untuk kedua kalinya Lubna memanggil suaminya dengan nada yang keras. Agar suaminya sadar akan ucapannya.
"Papi jahat, Papi memang nggak pernah dukung apapun keputusan aku." Air mata Zaila sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia kecewa berat dengan Papinya yang tidak mendukung keputusannya.
"Justru kamu yang jahat Zaila. Karena dulu kamu menolak lamaran Jevin hubungan Papi dan Mami dengan keluarga kita sendiri jadi berantakan. Dan sekarang kamu mau merebut Jevin dari istrinya, itu sama saja kamu tambah merusak hubungan kekeluargaan Papi dengan keluarga Jevin, seharusnya kamu bisa berpikir dewasa apalagi kamu juga sudah dewasa, jangan seperti anak kecil, yang apa-apa harus dituruti."
Arshad sudah tidak bisa menahan diri untuk menasihati putrinya yang sudah berada dijalur yang salah. Sebagai seorang Papi, Arshad berkewajiban untuk memberitahu bahwa apa yang dilakukan putrinya itu tidak benar.
Lubna tidak habis pikir dengan perlakuan suaminya kepada putri sematawayang mereka. Amarah Lubna sudah sampai puncaknya. Ia beranjak dari tempat duduknya dengan sorotan tajam ke arah suaminya.
"Tega ya Papi bicara seperti itu sama Zaila. Tega Papi menyakiti hati anak Papi sendiri. Papi lupa bagaimana susahnya kita mendapatkan Zaila?, berjuang mati-matian untuk bisa punya anak. Dan sekarang Papi membuat hati anak kita hancur seperti itu."
Arshad ikut beranjak dari tempat duduknya. Tapi ia tetap tenang dan tidak menuruti hawa nafsunya untuk meluapkan amarah seperti yang dilakukan istrinya saat ini.
"Papi ingat, ingat sekali. Makanya itu Papi ingin mendidik Zaila menjadi anak yang baik. Bukan terlalu memanjakan dia. Apablagi sekarang dia sudah dewasa."
"Lihat sekarang, akibat Mami terlalu memanjakan Zaila. Zaila mau menjadi perempuan perebut suami orang. Itu bukan suatu prestasi tapi suatu keburukan."
"HENTIKAN" Zaila angkat bicara. Ia ikut beranjak dari tempat duduknya untuk menghentikan perdebatan panas antara Mami dan Papinya.
"Kalian nggak usah lagi bahas tentang aku. Aku memang sudah dewasa dan aku berhak menentukan kebahagiaan aku sendiri."
Zaila beralih menatap ke arah sang Mami sambil tersenyum. "Mami nggak usah lagi mendukung aku. Aku bisa sendiri."
"Dan Papi" Zaila beralih menatap nanar ke arah Arshad. Wajahnya memerah menyiratkan kekesalan. "Papi nggak usah mengatur hidup aku lagi. Aku bisa menentukan kebahagiaan aku sendiri. Dan kebahagiaanku, adalah Jevin. TITIK."
Usai puas mengeluarkan isi hatinya. Zaila langsung pergi meninggalkan Arshad yang hanya bisa menghela napas gusar. Ia tidak menyangka sang putri sebegitu terobsesinya dengan Jevin.
__ADS_1
Sementara Lubna tersenyum sinis ke arah suaminya. Ia merasa senang karena menang mengalahkan suaminya. Dan Zaila tetap pada pendiriannya. Merebut Jevin dari istrinya. Lubna tersenyum puas melihat suaminya kembali menyandarkan tubuhnya di sofa dengan wajah yang kecewa dan pasrah.
❤❤❤
"Sayang, Mas nggak mau ya kalau perempuan itu datang ke rumah kita."
"Dan Mas nggak mengizinkan perempuan itu masuk ke rumah kita."
Kasha langsung mendatangi suaminya yang sedang merapikan dasinya. Kasha tidak mengerti maksud ucapan Jevin.
"Perempuan itu?, maksud Mas, Mbak Zaila?"
"Iya siapa lagi."
"Tapi kenapa Mas?"
Jevin menoleh ke arah Kasha. Ia mendekati Kasha yang sedang duduk di samping ranjang.
"Sayang, Mas nggak suka kamu dekat-dekat sama Zaila."
Kasha masih penasaran dengan alasan Jevin yang tidak suka jika Kasha dekat-dekat dengan Zaila padahal Zaila adalah sepupunya Jevin sendiri. Tapi Jevin malah tidak menyukai jika istrinya bisa akrab dengan sepupunya.
"Iya tapi kenapa Mas?, beritahu aku alasannya apa."
"Karena Zaila punya niat nggak baik sama kamu Sayang." Ucap Jevin dalam hati.
"Pokoknya Sayang harus jauhi perempun itu. Mengerti Sayang?"
Kasha menggelengkan kepalanya. Mana bisa Kasha menuruti permintaan Jevin untuk menjauhi Zaila, sedangkan Jevin tidak memberikan alasan apapun.
Jevin bukannya tidak memberikan alasan kepada Kasha. Namun Jevin tidak mungkin berterus terang tentang masa lalunya yang sangat kelam bersama Zaila kepada istrinya. Karena itu sama saja Jevin membuka luka lama yang masih terasa perih hingga saat ini. Jevin juga sudah mengubur dalam-dalam ingatannya bersama Zaila. Dan Jevin sudah tidak ingin membahas Zaila lagi. Bagi Jevin Zaila sudah mati bersama kenangan mereka yang sudah Jevin kubur dalam-dalam.
"Pokoknya kalau Sayang nggak mau menjauhi Zaila, maka Mas yang akan menjauhi Sayang. Assalaamu 'alaikum."
"Mas-"
Jevin sudah lebih dulu keluar dari kamarnya sehingga Kasha tidak bisa menahannya untuk meminta penjelasan dari alasan Jevin yang menyuruhnya untuk menjauhi Zaila.
"Mas, kenapa Mas menyuruh aku untuk menjauhi Mbak Zaila?, padahal Mbak Zaila baik kok sama aku Mas. Apa lagi mbak Zaila kan sepupu Mas sendiri."
Kasha masih tidak mengerti dengan tindakan suaminya yang menyurunya untuk menjauhi Zaila tanpa memberikan alasan juga. Sehingga Kasha menjadi dilema. Antara menuruti permintaan suaminya atau tetap menjalin hubungan baik dengan Zaila, sepupu suaminya.
❤❤❤
"Iya tunggu sebentar."
Kasha meninggikan suaranya agar terdengar oleh seseorang yang sedang mengetok pintu rumahnya. Dengan langkah yang cepat Kasha menuju pintu utama rumahnya untuk membukanya dan melihat siapa yang bertamu di siang hari ke rumahnya.
"Mbak Zaila."
Ternyata Zaila yang sedang bertamu ke rumah Kasha. Otak Kasha langsung berputar mundur, mengingat kejadian tadi pagi disaat Jevin menyuruhnya untuk menjauhi Zaila.
"Kasha, kamu kenapa?" Zaila memergoki Kasha yang sedang melamun. Suasana hati Zaila sudah membaik dan jauh lebih tenang. Zaila lakukan itu semua demi keberhasilan rencananya untuk merebut Jevin dari perempuan kampungan di hadapannya saat ini.
Perlahan Kasha tersadar dari lamunannya. "I-iiya Mbak Zaila, aku nggak apa-apa kok."
"Ngomong-ngomong aku nggak disuruh masuk nih." Sindir Zaila yang sedari tadi sang pemilik rumah tidak mempersilakan dirinya masuk.
Kasha ragu untuk mempersilakan Zaila masuk namun Kasha juga tidak enak jika membiarkan Zaila berdiri saja di depan rumahnya. Namun Kasha lebih tidak enak harus mengatakan apa yang tadi Jevin suruh kepadanya. Untuk menjauhi Zaila. Bahkan Jevin tidak mengizinkan Zaila untuk masuk ke rumah mereka.
"Maaf Mbak Zaila. Aku, aku nggak bisa mempersilakan Mbak Zaila untuk masuk ke dalam."
Zaila mengangkat sebelah alisnya. "Lho kenapa?"
"I-itu Mbak, Mas Jevin nggak mengizinkan aku untuk mempersilakan Mbak Zaila masuk ke rumah kami."
Zaila terbelalak. Ia bukannya sedih karena dilarang masuk oleh Jevin tapi justru senang karena itu artinya tanpa sepegetahuan Zaila, Jevin dan Kasha sedang membicarakan tentangnya atau bisa jadi mereka cekcok.
"Lho memangnya kenapa Kasha?" Zaila berpura-pura sedih padahal dalam hati ia sudah bersorak kegirangan. Dan sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban dari Kasha selanjutnya.
Sebenarnya Kasha tidak tega untuk mengatakannya. Tapi walau bagaimana pun Kasha harus memberitahu Zaila dan semoga saja Zaila tidak salah paham dan tidak salah mengartikannya.
"Mas Jevin menyuruh aku untuk menjauhi Mbak Zaila. Tapi Mas Jevin nggak memberitahu alasannya, Mbak Zaila Atas nama Mas Jevin aku minta maaf ya Mbak."
Zaila girang bukan main lagi. Dugaannya benar sekali. Dari raut wajah Kasha, Zaila bisa menyimpulkan bahwa Kasha tidak setuju dengan permintaan Jevin untuk menjauh dari dirinya. Pasti mereka sedang bertengkar saat ini. Bertengkar karena Zaila penyebabnya.
Zaila pun langsung memasang raut wajah sedih di hadapan Kasha. Sesedih-sedihnya. "Oh begitu ya Kasha. Aduh kok Jevin begitu ya. Kenapa dia menyuruh kamu untuk menjauhi aku, tanpa alasan lagi."
"Aku juga nggak tahu Mbak. Tadi aku sudah coba tanya. Tapi...Mas Jevin malah marah." Kasha sedih sekali mengingat kejadian tadi. Pasti saat ini Jevin masih marah kepadanya.
"Apa?, marah?, hahahaha. Rasakan itu. Akhirnya Jevin marah juga sama Kasha." Dalam hati Zaila senang sekali mendengar bahwa Jevin marah kepada Kasha. Memang itu yang diinginkan Zaila. Membuat hubungan Jevin dan Kasha merenggang. Bahkan Zaila menginginkan lebih dari itu, yaitu perceraian.
__ADS_1
"Ternyata Jevin masih marah sama aku, sampai dia memarahi kamu juga Kasha."
"Masih marah?, maksud Mbak Zaila apa?"
"Dulu aku pernah berbuat salah sama Jevin. Dan ternyata dia belum memaafkan aku. Bahkan dia menyuruh kamu untuk menjauhi aku. Padahal niat aku tulus untuk bisa mempunyai hubungan baik sama kamu. Aku ingin menebus kesalahanku sama Jevin dengan menjalin hubungan baik sama kamu Kasha. Tapi ternyata Jevin malah nggak suka. Aku nggak tahu lagi harus berbuat apa supaya Jevin mau memaafkan aku."
Kasha merasa prihatin kepada Zaila yang saat ini wajahnya sudah berubah menjadi sedih. Kasha menjadi tidak enak karena sebagai istri dari Jevin. Kasha merasa bersalah karena Jevin belum memaafkan kesalahan Zaila. Padahal Zaila sudah menyesalinya dan berniat baik untuk memperbaiki hubungan baik mereka apa lagi mereka masih ada hubungan keluarga.
Kini Kasha sudah mengetahui alasan dibalik sikap suaminya yang menyuruhnya untuk menjauhi Zaila, yaitu karena Jevin belum memaafkan kesalahan Zaila.
"Mbak Zaila tenang saja ya, in syaa Allah aku akan bantu Mbak Zaila agar Mas Jevin mau memaafkan Mbak. Mbak Zaila nggak usah sedih lagi ya. Nanti aku akan bicara sama Mas Jevin."
Zaila tersenyum tulus kepada Kasha. Nyatanya senyuman tulus itu hanya palsu belaka.
"Terima kasih ya Kasha. Kamu memang orang yang baik. Aku senang bisa kenal dan dekat sama kamu."
Kasha mengangguk sambil tersenyum tulus tanpa modus berbeda dengan yang dilakukan oleh Zaila.
"Sama-sama Mbak Zaila."
Tanpa sungkan lagi Zaila segera memeluk Kasha dengan hangat. Namun tidak dengan isi hatinya yang berkebalikan dengan sikapnya. Bahkan tanpa sepengetahuan Kasha, Zaila tersenyum licik karena telah berhasil membuat hubungan Jevin dengan Kasha merenggang.
"Dasar perempuan kampungan. Gampang sekali dibodohi." Ledek Zaila dalam hati.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Jangan lupa semangat, bersyukur dan tersenyum di hari ahad ini.
Di pagi hari ini
😊😊😊
Alhamdulillah Ukhfira bisa ngelanjutin part ini
Ada yang sudah nungguin gak ya???
Alhamdulillah banget nih
mood nulis bisa diajak kompromi
Walaupun tugas negara sedang menanti
Hihihi
Gpp yang penting bisa ngatur waktu dengan baik
Betul kan readersss
🤗🤗🤗
Btw gimana reaksi kalian dengan part ini???
Bikin hati membara gak sih???
Dengan sikap Zaila yang tidak terpuji itu???
Semoga kita tidak seperti Zaila ya
Yang mau merebut suami orang
Itu bukan sikap terpuji
Percayalah jika seseorang itu adalah jodoh kita maka tidak akan pernah melewatkan kita apalagi sampai menikah dengan yang lain
Namun jika memang seseorang itu bukan jodoh kita maka dia akan melewatkan kita dan menikah dengan jodohnya, bukan dengan kita
Berdamailah dengan takdir
Tak usah menentang yang terjadi
Itu semua sudah menjadi suratan ilahi
Jika doi sudah bahagia dengan kekasih hatinya
Berarti dia bukan yang terbaik menurut Allah
Dan Allah sudah menyiapkan seseorang yang lebih baik untuk menjadi jodoh kita
Cukup sekian wejangan di pagi kali ini. Yang mana bukan sekedar wejangan namun sudah seperti curhatan hati ini
__ADS_1
🙈🙈🙈
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabatokaatuh