Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
36. Berlebihan


__ADS_3

Assalaamualaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


Seorang laki-laki dengan kadar ketampanannya yang haqiqi sedang menyiapkan sarapan pagi di meja makan. Meskipun sarapannya hanya roti panggang namun yang terpenting ada sarapan untuk dirinya yang sudah siap dengan pakaian kantornya.


"Mas sedang apa?"


Laki-laki tersebut yang tidak lain adalah Jevin langsung menoleh ke arah datangnya suara. Jevin terkejut mendapati Kasha sedang melangkahkan kakinya untuk menghampirinya.


"Lho Sayang kenapa ke sini, Mas kan menyuruh Sayang istirahat di kamar."


"Mas aku bosan di kamar terus, dan Mas kok buat sarapan sendiri, harusnya kan aku yang buatkan Mas sarapan, ya sudah kalau begitu aku masak nasi goreng mentega ya untuk Mas."


Jevin menahan langkah Kasha yang hendak menuju dapur untuk membuatkan nasi goreng untuknya.  


"Nggak Sayang, Sayang nggak boleh menyentuh dapur, lagi pula Mas sudah buat roti panggang kok, sudah ya Sayang istirahat saja di kamar, oke."


"Tapi Mas, aku bosan di kamar." Oceh Kasha yang tidak mau di kamar saja yang aktivitasnya hanya berbaring saja. Apa lagi Kasha tidak dalam keadaan mengantuk.


"Sayang mau kamar atau mau cium Mas?"


Dengan berat hati Kasha mengalah dan mau kembali ke kamar. Kasha tidak habis pikir suaminya itu selalu ada saja cara untuk membuat dirinya mengalah dan tidak bisa berkutik sama sekali dan pasti ujung-ujungnya mengarah ke hal yang tidak mungkin Kasha lakukan.


"Ya sudah aku mau ke kamar." Ucap Kasha dengan lirih.


Sebenarnya Jevin tidak tega melihat wajah sang istri yang cemberut karena dilarang olehnya untuk melakukan aktivitas apapun. Namun bukan tanpa alasan Jevin melakukan itu semua. Demi kesehatan Kasha serta calon bayi mereka makanya Jevin harus tega kali ini kepada istrinya. Ini semua juga demi kebaikan sang istri dan tentunya demi kebaikan calon anak mereka di masa depan.


Tok... tok... tok...


"Assalaamu 'alaikum."


Terdengar suara ketokan pintu sekaligus ucapan salam dari luar rumah Jevin dan Kasha. Sepertinya pagi ini rumah mereka kedatangan tamu.


"Sayang ke kamar saja ya, biar Mas yang buka pintunya."


Kasha mengangguk. Tetapi ia tidak beranjak menuju kamarnya, melainkan menyusul Jevin dari belakang dan tentunya tanpa sepengetahuan Jevin.


"Wa 'alaikumus salaam, eh Mama Papa, akhirnya datang juga, ayo masuk Ma, Pa."


Rupanya tamu yang datang ke rumah Jevin dan Kasha pagi-pagi adalah kedua orang tua Jevin sekaligus mertua Kasha. Rifda dan Rozin sengaja datang pagi-pagi ke rumah anak dan menantu mereka karena tadi malam Jevin sempat memberitahu kabar bahagia perihal kehamilan Kasha bahkan Jevin meminta kedua orang tuanya untuk datang ke rumahnya dengan tujuan menemani Kasha disaat Jevin berangkat kerja. Jevin takut terjadi apa-apa jika meninggalkan istrinya di rumah sendirian dalam keadaan hamil.


"Mama."


Kasha senang sekali melihat kedatangan Mama mertuanya. Bahkan ia langsung berhambur ke pelukan Rifda dengan riang. Alhasil Jevin yang melihatnya hanya dapat menghela napas.


"Giliran sama Mama memeluk duluan." Oceh Jevin yang cemburu kepada Mamanya yang mendapat pelukan dari istrinya lebih dulu. Sedangkan Jevin baru sekali saja ia merasakan dipeluk lebih dulu oleh sang istri.


"Mengoceh apa sih." Goda Rozin yang terkekeh melihat putranya mengoceh sambil melihat istri dan menantunya berpelukan.


"Mama selamat ya Ma sebentar lagi Mama akan punya cucu."


"Iya Kasha, alhamdulillah Mama senang dengarnya, bahkan tadi malam saat Jevin telepon Mama, Mama sampai menangis haru karena bersyukurnya sebentar lagi akan ada yang memanggil Mama dengan sebutan Oma."


Kasha terdiam sejenak. Ia sedikit kecewa karena Mama mertunya sudah mengetahui kabar kehamilannya dari suaminya sendiri. Kini tatapan Kasha tertuju ke arah Jevin yang hanya menyengir kuda. Jevin sadar bahwa saat ini istrinya sedang kesal karena dirinya memberitahu lebih dulu kepada Mama dan Papanya. Padahal rencananya nanti siang Kasha akan ke rumah mertuanya untuk menyampainkan kabar bahagia itu. Dan sepertinya ini juga salah satu alasan Jevin memberitahu kedua orang tuanya lebih dulu agar Kasha tidak pergi ke mana-mana apa lagi tanpa Jevin. Itu sangat berbahaya bagi Jevin.


"Mama, Papa, Jevin minta tolong ya untuk jaga Kasha selama Jevin kerja."


"Iya Jevin, Mama akan menjaga Kasha dan calon cucu Mama."


"Papa juga, kamu fokus saja sama kerjaan kamu di kantor ya, percayakan Kasha dan calon anak kamu sama Papa dan Mama."

__ADS_1


Akhirnya Jevin bisa bernapas lega sekaligus bisa kerja dengan tenang karena kedua orang tuanya tidak keberatan untuk menemani bahkan menjaga Kasha di rumah disaat ia nanti berangkat kerja.


"Alhamdulillah kalau begitu, ya sudah Jevin sarapan dulu ya, Mama sama Papa sudah sarapan belum?"


"Alhamdulillah sudah."


"Ya sudah kalau begitu Mama sama Papa santai saja dulu ya."


Jevin pun menuju ruang makan untuk menikmati sarapan pagi buatannya sendiri sebelum ia berangkat ke kantor.


"Mama, Papa, Kasha temani Mas Jevin sarapan dulu ya."


"Iya Kasha, sana temani Jevin makan, jangan lupa kamu juga harus sarapan ya."


"Iya Ma."


Tanpa berlama-lama lagi Kasha segera menuju ruang makan untuk menemui Jevin. Dan sesekali Kasha menoleh ke arah ruang tamu di mana Mama dan Papa mertuanya sedang duduk santai.


"Mas kenapa merepotkan Mama dan Papa sih?"


"Merepotkan?, maksudnya Sayang apa sih, Mas nggak mengerti Sayang."


Jevin sama sekali tidak menyadari bahwa sang istri sedang kesal kepadanya. Bahkan Jevin terlihat menikmati sekali roti panggang hasil jerih payahnya sendiri.


"Mas untuk apa sih minta tolong Mama dan Papa untuk menjaga aku disaat Mas sedang bekerja, itu kan merepotkan Mama dan Papa, Mas, aku nggak mau merepotkan mereka."


"Oh jadi itu maksud Sayang, ya mau bagaimana lagi Sayang, Mas nggak tenang kalau meninggalkan Sayang sendirian di rumah apa lagi saat ini Sayang kan sedang hamil, jadi harus ada yang menemani Sayang, dan Mas kan harus kerja jadi mau nggak mau Mas minta tolong Mama dan Papa untuk menemani Sayang di rumah."


Kasha menghela napas jengah. Kasha tidak suka dengan tindakan yang diambil oleh suaminya apa lagi tanpa persetujuan darinya padahal ini ada kaitannya dengan dirinya dan tentang dirinya.


"Mas, aku nggak apa-apa kok ditinggal sendirian di rumah, lagi pula aku kan nggak melakukan aktivitas apapun di rumah, jadi Mas tenang saja dan fokus saja kerjanya."


"Nggak Sayang, Mas nggak bisa membiarkan Sayang sendirian di rumah, apa lagi sekarang Sayang sedang hamil."


"Tapi aku nggak enak sama Mama dan Papa, Mas, aku nggak mau merepotkan mereka, pasti di rumah Mama dan Papa ada kesibukan lain kan yang jauh lebih penting dari pada menemani aku di sini."


"Tapi Mas-"


Jevin langsung memotong pembicaraan Kasha yang pastinya akan terus membahas ketidak-enakannya karena merasa merepotkan Mama dan Lapa mertuanya. Dan Jevin tidak mau mendengar perihal itu lagi.


"Sudah ya Sayang menurut saja sama Mas, ini demi kebaikan Sayang dan calon anak kita, Sayang mengerti?"


Kasha terdiam. Ia tidak merespon sama sekali. Kasha bukannya tidak senang dengan kedatangan Mama dan Papa mertuanya hanya saja Kasha tidak ingin merepotkan mereka. Dan suaminya juga sangat berlebihan sekali. Padahal Kasha sedang keadaaan baik-baik saja dan pasti calon anak mereka juga baik-baik saja. Dan tidak perlu dijaga ekstra oleh siapapun apa lagi sampai merepotkan orang terdekatnya.


"Mas nggak usah berlebihan ya Mas, aku gak apa-apa kok, Masa Mas nggak percaya sama aku sih, Mas nggak boleh merepotkan Mama dan-"


"Sayang mau menuruti Mas atau-"


Jevin belum selesai bicara namun Kasha sudah mangkir lebih dulu. Jevin terkekeh melihat istrinya sudah kembali ke ruang tamu untuk menemani Mama dan Papanya. Mungkin Kasha sudah mengetahui ucapan selanjutnya yang akan keluar dari mulut suaminya. Seperti ucapan kemarin yang masih teringat jelas diingatan Kasha.


❤❤❤


"Sayang, Mas kerja dulu ya, kamu di rumah istirahat jangan melakukan aktivitas apapun, nggak boleh capek-capek lho Sayang."


Kasha harus bersabar mendengar nasihat yang sedari tadi Jevin ucapkan terus menerus. Seperti tidak ada bosannya Jevin untuk mengingatkan Kasha. Padahal sekali saja pasti Kasha akan mengingatnya.


"Mama sama Papa juga nggak boleh membiarkan Kasha melakukan aktivitas apapun, pokoknya selama Jevin kerja Kasha harus dalam keadaan baik-baik saja."


"Siap Bos!" Ujar Rifda dan Rozin secara bersamaan. Jevin sudah seperti seorang Raja yang sedang memberikan perintah kepada prajuritnya untuk menjaga permaisurinya.


"Mas jangan berlebihan seperti itu, apa lagi sama Mama dan Papa." Ucap Kasha yang tidak enak hati melihat Jevin seenaknya memerintah seperti itu kepada kedua orang tuanya. 


"Kasha nggak apa-apa kok, wajar kalau Jevin berlebihan seperti ini, namanya juga kamu sedang hamil jadi harus dijaga ekstra, dulu juga saat Mama hamil Jevin, Papa juga nggak memperbolehkan Mama melakukan aktivitas apapun."


"Tuh Sayang, Mama saja nggak keberatan kok, jadi Sayang nggak usah merasa nggak enak lagi ya."


Kasha hanya bisa menghela napas. Ia menjadi malu kepada Mama dan Papa mertuanya karena tadinya sempat merasa tidak enak dan takut merepotkan mereka. Dan Kasha gemas sekali kepada suaminya yang secara blak-blakan berbicara seperti itu.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu Mas berangkat saja ya, nanti Mas terlambat lho."


"Iya Sayang ini Mas mau berangkat."


Jevin segera mencium tangan kedua orang tuanya secara bergatian. Kemudian Kasha mencium tangannya. Tak lupa Jevin berpamitan juga kepada calon bayinya yang sekarang masih berada di dalam rahim sang istri.


"Sayangnya Daddy yang nomor dua,  Baik-baik di perut Mommy ya Sayang, Daddy berangkat kerja dulu ya."


"Kok Daddy Mommy Mas?"


"Terus apa dong Sayang?"


"Abby sama Ummy, Mas."


Jevin tersenyum. Menyetujui panggilan untuk dirinya dan istrinya jika sedang mengobrol dengan buah cinta mereka yang masih di dalam perut Kasha.


"Oke Sayang."


Jevin kembali menunduk sejenak sembari mengelus perut Kasha seolah-olah sedang mengelus serta mengajak mengobrol buah cintanya yang masih bersembunyi di dalam perut sang istri.


"Sayangnya Abby yang nomor dua, baik-baik di perut Ummy ya Sayang, Abby berangkat kerja dulu ya."


"Assalaamu 'alaikum."


"Wa 'alaikumus salaam."


Akhirnya Jevin bisa berangkat kerja dengan tenang karena sang istri dan buah cinta mereka akan baik-baik saja dengan dijaga ketat oleh Mama dan Papanya yang sebentar lagi juga akan menjadi Oma dan Opa. 


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Selamat malam jumat


para barisan jomblo terhormat


Sekaligus para pejuang akat


(Maksain banget pake "t" padahal kan aslinya "d" hehehe)


🤗🤗🤗


Alhamdulillah nih masih diberi kelancaran dan waktu luang sama Allah untuk menyapa kalian semua para Readers tentunya dengan part terbaru dan terseruuuu


Mungkinnnn


😆😆😆


Di malam Jumat ini jangan lupa ngedate sama Al-Kahfi ya


Masa baca cerita ini sempat


Tapi baca Al-kahfi gak sempat???


Sungguh terlaaalu


😱😱😱


Rugi lho kalau sampai gak baca Al-Kahfi, rugi serugi ruginya


Kenapa rugi????


👇👇👇


مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ


“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” (HR. Hakim 6169, Baihaqi 635, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 6470)

__ADS_1


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2