Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
38. Membuka Topeng


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


Tepat di hari ini usia kehamilan Kasha sudah memasuki 4 minggu 2 hari alias satu bulan. Di kehamilan pertama ini baik Kasha maupun Jevin sama-sama antuias menanti kehadiran Jevin dan Kasha junior, calon anak mereka yang nantinya akan meramaikan kehidupan mereka. Tidak sabar rasanya bagi mereka berdua untuk segera mendengar tangisan bayi yang akan menggema di seluruh penjuru ruangan di rumah mereka.


Hari ini pertama kalinya Kasha memeriksa kandungannya ke dokter kandungan sekaligus mengecek USG cabang bayinya. Sebagai calon Ayah yang sudah menyiapkan diri untuk menjadi Ayah yang terbaik Jevin sangat antusias sekali untuk menemani sang istri cek kandungan. Bahkan Jevin sempat menangis karena terharu saat melihat hasil USG sang calon anak yang masih terlihat sangat kecil sekali di dalam rahim sang istri.


"Alhamdulillah, kandungan Ibu Kasha baik-baik saja, dan pertumbuhannya normal." Ucap sang Dokter kandungan yang terlihat ikut bahagia melihat kondisi kehamilan pasiennya yang baik-baik saja.


"Alhamdulillah." Ucap syukur keduanya.


"Dokter saya mau bertanya." Kasha ingin mengajukan pertanyaan kepada dokter perempuan yang menangani kehamilannya. "Meskipun saat ini saya sedang hamil, saya boleh kan Dokter mengerjakan pekerjaan rumah, seperti menyapu, beres-beres dan lain-lain." Kasha sengaja menanyakan persoalan itu karena kemarin-kemarin ia dilarang untuk mengerjakan pekerjaan rumah oleh Jevin, padahal pekerjaan rumahnya tidak membuatnya lelah sama sekali.


"Boleh Ibu Kasha, bahkan sangat dianjurkan, karena Ibu hamil harus banyak bergerak supaya janin yang di kandungan juga aktif." Jawab Dokter yang memperbolehkan Kasha untuk melakukan pekerjaan rumah meskipun sedang dalam kondisi hamil.


Kasha tersenyum lega dan langsung menoleh ke arah suaminya. "Tuh kan Mas, kata Dokter boleh kok aku mengerjakan pekerjaan rumah." Ucapnya dengan membela dirinya sendiri yang kemarin-kemarin hanya diam saja dan menuruti perintah suaminya.


Jevin yang sedang duduk disamping Kasha hanya tersenyum kecil. Ia merasa bersalah karena kemarin sempat melarang Kasha untuk melakukan aktivitas apapun termasuk pekerjaan rumah.


"Tapi tetap nggak boleh capek kan Dokter?, pekerjaan rumah itu kan pekerjaan yang melelahkan." Kali ini Jevin mencari pembenaran kepada Dokter atas tindakan yang melarang istrinya untuk melakukan pekerjaan rumah.


"Iya Pak Jevin benar." Balas Dokter mendukung Jevin.


"Tuh kan Sayang benar kata Dokter." Ujar Jevin dengan bangganya karena tindakannya benar dalam melarang istrinya untuk melakukan pekerjaan rumah.


Kasha nampak cemberut. Tapi ia bisa apa jika Dokter sudah berkata seperti itu. Mau tidak mau Kasha harus mengikuti saran dari dokter demi kesehatan dirinya juga calon bayinya.


"Tapi Ibu Kasha boleh kok melakukan pekerjaan rumah, seperti menyapu, beres-beres dan mencuci piring, asal tetap menjaga kesehatannya dan nggak boleh terlalu capek ya."


Kasha senang sekali mendengar ucapan Dokter selanjutnya. "Tuh kan Mas, boleh kok." Ujar Kasha membanggakan diri karena sang Dokter juga mendukungnya bahkan kini berada dipihaknya untuk memperbolehkannya melakukan pekerjaan rumah asal yang tidak berat dan melelahkan.


Jevin mengalah. "Iya-iya Sayang, Mas yang salah." Jawab Jevin dengan tertunduk lesu.


"Jadi mulai sekarang Mas nggak boleh lagi ya melarang aku untuk menyapu, cuci piring dan pekerjaan rumah lainnya yang ringan-ringan, oke Mas?"


Jevin mengangguk. Ia menyetujui ucapan sang istri yang memintanya agar tidak melarangnya lagi dalam hal pekerjaan rumah.


"Janji?" Tanya Kasha sembari mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan suaminya.


Perlahan Jevin menautkan jari kelingkingnya dengam jari kelingking sang istri. Pertanda ia berjanji tidak akan melarang Kasha lagi.


Kasha tersenyum penuh kemenangan. Tidak sabar rasanya bagi Kasha untuk segera sampai di rumahnya dan memegang senjata perangnya di rumahnya yang beberapa minggu tidak ia sentuh. Dan itu semua karena larangan dari suaminya.


Sang Dokter yang berada di hadapan mereka hanya dapat tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Calon ibu dan ayah di hadapannya ini masih seperti abege saja, tingkahnya lucu. Padahal sebentar lagi mereka akan memiliki bayi yang lucu tentunya bahkan mengalahkan kelucuan tingkah mereka saat ini.


❤❤❤


"Mas nggak sabar ingin menunjukkan hasil USG calon bayi kita Sayang kepada Mama dan Papa."


"Iya Mas aku juga."


Begitulah percakapan singkat antara Jevin dan Kasha yang baru saja keluar dari mobilnya dan saat ini sudah melangkah beriringan masuk ke dalam rumah orang tua Jevin yang pintunya sedang terbuka lebar.


"Assalaamu 'alaikum, Mama, Papa, lihat nih calon cucu-" Ucapan Jevin terhenti begitu saja. Aura kebahagiaan yang sedari tadi terpancar di wajahnya mendadak memudar. Sorotan matanya berubah menjadi tajam ketika terfokus ke satu titik.


Seorang laki-laki paruh baya yang umurnya hampir sama dengan Rozin sedang duduk di sofa ruang tamu bersama Rozin dan Rifda. Mereka nampak sedang bercengkrama bahkan disaat Jevin dan Kasha sampai ketiganya masih dalam raut wajah bahagia.


"Wa 'alaikumus salaam, eh Jevin, Kasha." Ucap Rifda yang beranjak dari duduknya usai melihat anak dan menantunya sedang berkunjung ke rumahnya.


Kasha segera mencium tangan Mama mertuanya. Setelah itu ia menatap ke arah sang suami yang langsung membuang muka usai menatap tajam kepada sosok laki-laki paru baya diujung sana.


"Untuk apa dia di sini Ma?." Tanya Jevin dengan tatapan tidak suka, usai mencium tangan Mamanya.


Semua mata pun tertuju ke arah laki-laki itu yang tidak lain adalah Arshad, adik ipar Rozin yang juga Papi dari Zaila, sepupu sekaligus mantan tunangan Jevin.


Rifda mencoba untuk tetap tenang meskipun suasana sudah mulai tegang dengan tatapan Jevin yang sangat tidak suka akan kehadiran Arshad di rumah mereka.

__ADS_1


Kasha hanya dapat mengelus pundak sang suami untuk menenangkannya. Namun sepertinya rasa benci yang terlalu besar telah membutakan hati nuraninya sehingga Jevin mengabaikan usaha istrinya untuk menenangkannya.


Arshad beranjak. Ia tidak ingin berdiam diri saja. Bahkan saat ini ia memberanikan dirinya untuk menampakkan wajahnya tepat di hadapan Jevin.


Jevin menyadari kedatangan Omnya. Namun Jevin sama sekali tidak berminat untuk menatap laki-laki paruh baya yang berdiri di hadapannya. Jevin tidak bermaksud untuk membenci Omnya sendiri namun bagi Jevin siapapun yang berhubungan dengan Zaila pasti Jevin akan membencinya, itu di luar keinginan Jevin.


"Jevin, atas nama Zaila-"


"Jangan pernah sebut nama itu lagi!" Sarkas Jevin menghentikan ucapan Arshad.


"Jevin atas nama anak Om, Om minta maaf." Arshad mengulang ucapannya dengan tidak menyebut nama Zaila. Dan syukurnya Jevin tidak mempermasalahkannya lagi.


Jevin hanya mengangguk. Tidak banyak bicara. Kemudian ia beralih menghampiri sang Papa yang sudah beranjak dari duduknya dan wajahnya nampak tegang akibat perdebatan singkat yang Jevin ciptakan dengan Arshad.


Jevin kembali memasang wajah sumringah di hadapan Papanya. Kasha pun ikut menghampiri sang Mama mertua yang berdiri tidak jauh dari Jevin dan Papa mertunya. Sementara Arshad, ia memilih untuk tetap berdiri di tempatnya.


"Assalaamu 'alaikum Pa." Salam Jevin mulai mencairkan suasana.


"Wa 'alaikumus salaam."


"Jevin tolong bersikap baik sama Om Arshad, walau bagaimanapun dia adalah Adik ipar Papa, dan kamu harus menghormatinya, seperti kamu menghormati Papa." Pinta Rozin dengan nada lirih, mengingatkan Jevin agar tetap bersikap baik serta menghormati Arshad yang masih menjadi bagian dari keluarga mereka.


Tanpa sepengetahuan Jevin, selama ini Arshad memang sering berkunjung ke rumah Rozin dan Rifda. Arshad memiliki niat baik untuk memperbaiki hubungan persaudaraannya dengan kakak iparnya. Dengan tangan terbuka baik Rozin maupun Rifda sama-sama menerima niatan baik Arshad untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan mereka.


Bicara soal permintaan Rozin tadi, nyatanya Jevin tidak meresponnya. Ia tidak berminat untuk membahas hal itu. Dan Jevin hampir saja melupakan tujuan utamanya ke rumah Mama dan Papanya, yaitu untuk memperlihatkan hasil USG calon bayinya yang akan menjadi cucu dari Rozin dan Rifda.


"Oh iya Pa, Ma Jevin sama Kasha ke sini mau memperlihatkan hasil USG calon cucu Papa dan Mama." Papar Jevin sengaja mengeraskan suaranya, padahal Rifda dan Kasha sudah berada di dekatnya karena Rifda ingin sekali melihat hasil USG yang berada di tangannya. Jevin sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar sampai ke telinga Arshad yang sama sekali tidak berpindah dari tempatnya.


"Ini dia."


"Maa syaa Allah, ini calon cucu Mama Jevin?, aduh Mama nggak sabar deh ingin cepat-cepat menggendong cucu Mama." Rifda senang sekali melihat foto USG sang calon cucu. Kemudian ia beralih mengelus lembut perut Kasha yang di dalamnya ada calon cucunya.


"Alhamdulillah kalau calon cucu Papa baik-baik saja." Rozin lebih tenang dan santai menanggapi hasil USG calon cucunya. Berbeda sekali dengan istrinya yang sangat antusias dalam menanggapinya.


"Jadi sebentar lagi Mas Rozin sama Mbak Rifda akan punya cucu?, wah selamat ya Mas, Mbak, aku ikut senang dengarnya." Arshad menghampiri Rozin dan mengucapkan selamat atas kabar bahagia yang baru saja ia dengar, meskipun rasa tidak enak masih bernaung di hatinya, sebab Jevin masih menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Iya Arshad, terima kasih, in syaa Allah calon cucuku adalah calon cucu kamu juga, iya kan Jevin, Kasha?." Ungkap Rozin yang diakhir ucapanya meminta dukungan dari Jevin dan Kasha.


"Iya Pa, calon cucu Papa, calon cucunya Om Arshad juga." Kasha tersenyum ramah kepada Arshad yang ikut membalas senyumannya meskipun tadi Arshad sempat ragu untuk membalasnya.


Kasha mengetahui tentang laki-laki paruh baya di hadapannya itu dari Mama mertuanya. Tadi Rifda sempat memberitahu dirinya bahwa laki-laki paruh baya itu bernama Arshad, dan dia adalah Adik ipar mereka yang tak lain adalah Ayah dari Zaila.


❤❤❤


"Apa?!!!" Teriak Zaila dengan amat terkejut.


Kabar kehamilan Kasha sudah sampai ke telinga Zaila dan juga Lubna. Zaila sangat terkejut ia seperti mendengar suara petir yang menggelegar di siang hari. Arshad yang memberitahu kabar bahagia itu yang menurut Zaila adalah kabar terburuk dalam hidupnya. Arshad sengaja memberitahu kabar bahagia ini kepada Zaila agar putri satu-satunya ini berhenti mengusik kehidupan serta kebahagian Jevin. Arshad berharap dengan kehamilan Kasha, putrinya tidak akan mengganggu kehidupan Jevin lagi, karena perbuatannya itu sangat tidak benar dan Arshad sama sekali tidak pernah mengajari putrinya untuk mengganggu kebahagiaan orang lain.


Perlahan air mata mengalir dari kedua mata Zaila. Ia langsung menyekanya dengan perasaan benci tak tertahankan. Lubna mengusap pundak Zaila berkali-kali untuk memberikan rasa ketenangan agar sang putri tetap dalam keadaan tenang meskipun baru saja mendengar kabar yang tidak enak sekali.


"Papi harap kamu berhenti mengganggu kehidupan Jevin, Jevin sudah bahagia dengan istrinya, dan sebentar lagi mereka akan mempunyai anak." Ucap Arshad dengan tenang namun terdengar tegas.


Untuk kali ini Zaila tidak banyak bicara. Bahkan ia membiarkan Papinya masuk ke dalam kamarnya usai menceramahi dirinya. Padahal biasanya Zaila selalu menentangnya.


"Nggak mungkin!!!" Teriak Zaila bersamaan dengan isak tangisnya.


Zaila marah semarah-marahnya. Ia tidak terima atas kenyataan pahit yang baru saja ia dengar. Lubna hanya bisa memeluk sang putri yang sudah mengeluarkan amarahnya yang diringi dengan isak tangis.


"Nggak mungkin Mami, ini semua nggak mungkin, kemarin aku berhasil membuat mereka bertengkar hebat, dan aku pikir sekarang mereka sedang mengurus perceraian mereka tapi ternyata"


"Ternyata perempuan kampungan itu hamil, dan dia hamil anak Jevin."


Dengan napas yang tersenggal-senggal serta amarah yang masih menyelimutinya. Zaila sangat tidak terima akan semua ini. Rasa benci yang tertanam di hatinya semakin bertumpuk untuk Kasha yang disebutnya sebagai perempuan kampungan.


"Lihat saja kamu perempuan kampungan, aku nggak akan tinggal diam!"


"Jevin itu milik aku. Jevin hanya milik aku!!!"


Praghhh


Semua barang-barang yang ada di atas laci terhempaskan ke lantai. Zaila melampiaskan amarahnya kepada semua barang-barang yang ada di sekitarnya. Lubna hendak menghentikan tindakan Zaila namun ia gagal dan kewalahan, karena pergerakan Zaila sangat cepat sekali.


❤❤❤

__ADS_1


Tok... tok... tok...


Bunyi ketokan pintu sangat keras dan berkali-kali. Zaila sengaja mengetoknya dengan keras dan berkali-kali agar pemilik rumah yang ia datangi segera memunculkan dirinya.


Di dalam rumahnya, Kasha sangat terkejut akan ketokan pintu yang sangat keras. Ia memgambil langkah cepat untuk segera membuka pintu tersebut yang telah menjadi korban amukan Zaila.


"Iya tunggu sebentar." Ucap Kasha sembari membuka pintunya.


Kreggg


Kedua mata Kasha bertemu pandang dengan kedua mata Zaila yang berapi-api. Kasha terperanjat. Namun Kasha berusaha untuk tetap tenang meskipun ia tahu perempuan di hadapannya sedang terkobar api amarah.


"M-Mbak Zaila?"


"Lepaskan Jevin!!!" Ucap Zaila tenang namun tegas.


"Ma-maksud Mbak Zaila apa?"


"Aku minta, lepaskan Jevin!!!!" Nada bicara Zaila mulai meninggi.


Kasha menggelengkan kepalanya. Ia masih tidak percaya bahwa di hadapannya ini adalah Zaila. Kasha sampai tidak mengenali Zaila yang sekarang. Benar-benar berbeda dari Zaila yang kemarin. Zaila yang baik dan ramah kepada Kasha.


"Astaghfirullahal adzim, kenapa kemarin-kemarin Mbak Zaila tega berpura-pura baik sama aku Mbak?, salah aku apa Mbak?"


Zaila memutar bola matanya jengah. Ia tidak ingin membahas persoalan itu lagi. Tapi Kasha malah membahasnya. Mau tidak mau ia harus membahasnya dulu sebelum nantinya ia meminta lagi kepada Kasha agar melepaskan Jevin.


"Salah kamu itu kamu sudah merebut Jevin dari aku, dan sekarang aku minta kamu untuk lepaskan Jevin!!!. Perempuan kampungan seperti kamu itu nggak pantas sama Jevin, aku yang pantas sama Jevi, kamu sadar diri!!!"


Kasha menghela napas pelan. Hatinya tergores akan ucapan Zaila yang benar-benar tega berucap seperti itu. Seorang perempuan yang berhati lembut seperti Kasha mudah sekali air mata jatuh membasahi pipinya bila mendengar perkataan yang menyakitkan dan tidak pantas untuk diucapkan apalagi ditujukan untuknya.


"Aku nggak butuh air mata kamu, aku cuma butuh Jevin dalam hidup aku, sekarang juga kamu lepaskan Jevin!!!"


Dengan cepat Kasha menyeka air matanya sekaligus ia menggeleng berkali-kali, mengisyaratkan bahwa dirinya tidak akan pernah melepaskan Jevin yang dalam artian tidak akan pernah ada kata cerai di dalam pernikahan mereka.


"Kamu itu nggak tahu diri banget ya!!!" Zaila membentak Kasha dengan keras sampai-sampai Kasha tersentak di tempatnya.


"Astaghfirullahl adzim." Pekik Kasha lirih sembari mengelus lembut perutnya, mengkhawatirkan kondisi cabang bayinya akibat bentakan keras dari Zaila.


"Kamu mau lepaskan Jevin atau janin dalam kandungan kamu mati sekarang juga!!!" Ancam Zaila tidak main-main bahkan sambil menunjuk wajah Kasha lau beralih menunjuk perut Kasha.


Kasha menggeleng cepat. Tubuhnya bergetar hebat. Panik dan takut kalau Zaila benar-benar menyakiti calon anaknya yang masih di dalam perutnya.


"Aku beri kamu waktu sampai besok sore, kalau sampai besok sore kamu nggak mengambil keputusan, siap-siap saja kamu menangis darah karena kehilangan janin yang ada di kandungan kamu!" Ancam Zaila dengan senyuman licik diakhir ucapannya.


Zaila langsung pergi meninggalkan Kasha yang tubuhnya sudah bergetar hebat. Ia menggeleng cepat seakan tidak ingin kehilangan calon bayinya yang masih berada di dalam kandungannya.


"Ya Allah lindungilah hamba dengan calon bayi hamba ya Allah, lindungilah kami dari segala mara bahaya, aamiin."


Dengan gerakan yang cepat Kasha memasuki rumahnya dan mengunci pintu rumahnya. Kasha sangat takut jika Zaila datang lagi untuk menyakiti calon bayinya. Kasha tidak ingin hal buruk itu terjadi. Sebisa mungkin Kasha akan menjaga baik-baik calon bayinya. Kasha tidak ingin kehilangan buah hatinya bersama Jevin.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Ada yang greget sama Zaila gk???


Ukhfira greget nih pake bangedddd


😈😈😈


Doain aja ya semoga Kasha dan calon bayinya baik-baik saja


🤗🤗🤗


Ukhfira juga doain semoga yang baca juga baik-baik saja dan selalu berada di lindungan Allah subhanahu wata'ala


Doain Ukhfira juga ya


semoga baik-baik saja dan selalu berada dalam lindungan Allah subhanahu wata'ala dan bisa menyapa kalian lagi part selanjutnya


🤗🤗🤗


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh

__ADS_1


__ADS_2