Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
9. Niat Baik


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


Nufael dan Haziq tiba di rumah mereka usai melaksanakan sholat dzuhur berjamaah di masjid yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah mereka. Bahkan ayah dan anak itu selalu berangkat dan pulang dengan berjalan kaki.


"Assalaamu 'aikum. "


"Wa 'alaikumus saalam."


Niswah dan Shima yang sedang sibuk dengan rutinitasnya menjawab salam dari Nufael dan Haziq dengan bersamaan. Dan Kasha ikut menjawab salam itu usai memunculkan dirinya yang tadinya sedang mengambil tysu dari dalam rumah.


Kotak-kotak makanan telah terbungkus rapi tinggal diantarkan saja oleh Nufael. Hari ini pesanan makanannya tidak begitu banyak dan Ibu-Ibu tetangga yang sering membantu mereka juga tidak ada karena hari ini adalah hari sabtu di mana perusahaan Alhusayn sedang libur.


Nufael dan Haziq pun secara bersamaan hendak masuk ke dalam rumahnya, namun suara mobil baru saja memasuki halaman rumah mereka sehingga Nufael dan Haziq langsung saling menoleh ke arah datangnya mobil tersebut. Sama halnya dengan ketiga perempuan cantik dengan pakaian syar'inya yang ikut menoleh ke arah mobil yang berhenti tepat di depan rumah mereka.


Pemilik mobil tersebut keluar dari mobilnya. Nufael dan Kasha sama-sama terkejut ketika melihat laki-laki tersebut yang tidak lain adalah Jevin. Shima ikut terkejut lantaran ia juga sadar bahwa laki-laki tersebut adalah Bos dari suaminya. Sementara Niswah tidak mengenalinya dan Haziq juga kebingungan sebab tidak mengenali laki-laki yang menurut Haziq sangat keren dengan balutan jas dan kacamata yang sempat bertengger di hidung mancung laki-laki keren tersebut.


"Maa syaa Allah Om itu keren sekali, Om itu siapa Buya?"


Nufael beralih menatap ke arah sang putra yang penasaran dengan sosok Jevin.


"Haziq, Om itu tamunya Buya, ayo kita masuk ke dalam, Haziq harus ganti baju kan?"


Haziq tidak banyak bicara dan menurut saja apa yang diperintahkan oleh Niswah. Akhirnya Haziq masuk ke dalam bersama Niswah dan Shima, Kasha pun ikut masuk ke dalam juga.


Jevin yang melihat Kasha masuk ke dalam rumahnya sempat kecewa hingga akhirnya Jevin memutuskan untuk segera menghampiri Nufael yang sudah tersenyum ramah menyambutnya.


"Selamat siang Pak Nufael." Sapa Jevin dengan ramah sambil mengulurkan tangannya.


Nufael pun menjabat tangan Jevin serta ikut membalas senyuman ramah dari Jevin. "Selamat siang Pak Jevin."


"Mohon maaf sebelumnya, Bapak Jevin tahu alamat saya dari mana ya?"


Nufael penasaran ingin mengetahui dari mana Jevin tahu alamat rumahnya padahal Nufael tidak pernah memberitahukannya. Namun bagi Jevin sangatlah mudah untuk mendapatkah sebuah alamat terlebih lagi alamat rumah Nufael yang sudah terpampang nyata di kotak makanan yang sudah menjadi makan siang Jevin setiap hari saat di kantornya.


"Saya tahu dari kotak makanan yang sering Pak Nufael antar ke kantor."


Refleks Nufael langsung menepuk jidatnya seakan menunjukkan bahwa dirinya lupa akan kotak makanan yang memang terdapat alamat rumahnya agar pelanggan yang berminat dengan makanan cateringnya bisa langsung mendatangi ke kediamannya.


"Astaghfirullah iya saya lupa."


"Oh iya Pak Nufael, kedatangan saya ke sini, saya ingin bertemu dengan keluarga besar Pak Nufael."


Nufael sedikit kebingungan pasalnya Jevin ingin bertemu dengan keluarga besarnya. Ada apa kira-kira?, Nufael pun langsung berpikiran positif mungkin Jevin ingin membicarakan tentang kerja sama mereka dan sekaligus Jevin ingin berkenalan dengan keluarga besarnya.


"Mari silakan masuk Pak Jevin."


Nufael langsung mempersilakan Jevin untuk masuk ke dalam rumahnya kemudian mempersilakan Jevin untuk duduk di kursi ruang tamu. Nufael meminta izin sebentar kepada Jevin untuk masuk ke dalam rumahnya.


Ketiga perempuan cantik dengan balutan pakaian syarinya itu ternyata sedang berkumpul di ruang makan. Tentunya sedang membicarakan laki-laki yang sedang bertamu ke rumah keluarga Nufael.


"Laki-laki itu siapa ya?." Tanya Niswah penasaran.


"Namanya Pak Jevin, pemilik perusahaan Alhusayn, Bosnya Arfan."

__ADS_1


Niswah pun ber-o ria ketika Shima memberitahu jati diri laki-laki yang datang ke rumahnya yang tidak lain adalah Jevin pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan makananan cateringnya.


Sementara Kasha dalam diamnya ia bertanya-tanya ada apa gerangan Jevin datang ke rumah mereka. Apa ada masalah dengan makanan catering yang sering diantar oleh Kasha dan Abangnya, atau bahkan Jevin akan memutuskan hubungan kerja samanya?, pikiran negatif Kasha mulai bermunculan. Namun secepat mungkin Kasha menepis jauh-jauh pikiran negatifnya itu.


Selang beberapa lama kemudian Nufael memunculkan dirinya yang baru saja dari ruang tamu dan kini sudah berada di ruang makan di mana Niswah, Shima dan Kasha sedang duduk berkumpul di ruang makan.


"Buya, Pak Jevin ada apa ke sini?"


Niswah langsung menanyakan maksud dan tujuan Jevin bertamu ke rumah mereka. Nufael tidak menjawabnya melainkan menuju dapur untuk menuangkan teko yang berisi teh ke dalam cangkir yang sudah tersedia di samping teko.


"Buya."


Nufael segera membawa secangkir teh untuk Jevin. Namun sebelum melangkah ke ruang tamu Nufael sempat menjawab pertanyaan istrinya.


"Buya belum tahu Umma, Pak Jevin baru saja Buya persilakan duduk, ini Buya sedang ambilkan teh untuknya. Sudah ya Umma, Buya mau ke Pak Jevin dulu, nggak enak kalau lama-lama meninggalkan Pak Jevin di ruang tamu sendirian."


Niswah mengangguk patuh seraya memperbolehkan sang suami untuk menuju ruang tamu. Kembali menemui Jevin yang sedang berada di ruang tamu rumah mereka.


"Kira-kira Pak Jevin ada apa ya ke sini?"


"Sudah ditunggu saja kabar dari Nufael Nis, mending sekarang kita minum teh saja, haus nih aku."


Ucapan Shima ada benarnya, dari pada memikirkan tentang Jevin yang tiba-tiba datang bertamu lebih baik mereka menyeduh teh saja untuk menghilangkan rasa haus karena tadi sibuk menyiapkan pesanan catering.


Sementara di ruang tamu, Nufael baru saja memunculkan dirinya lagi usai membawakan teh untuk Jevin dari dapur. Jevin pun menyeruput teh itu setelah Nufael mempersilakannya. Kemudian Jevin menaruh kembali cangkirnya itu ke meja.


"Oh iya kalau boleh saya tahu, orang tua Pak Nufael ke mana?, saya ingin berkenalan dengan mereka."


Nufael tersenyum singkat kemudian berucap "Kedua orang tua saya sudah meninggal Pak Jevin."


Jevin terkejut. Ada rasa prihatin atas kabar duka tersebut. Itu artinya Nufael dan Kasha sudah tidak memiliki kedua orang tua. Tetapi itu sudah menjadi takdir mereka yang memang harus diterima dengan lapang dada.


"Tidak apa-apa Pak Jevin, kedua orang tua saya sudah meninggal sejak lama. "


Jevin pun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Pertanda mengerti akan penjelasan dari Nufael.


Akhirnya Jevin kembali angkat bicara dengan topik yang baru. "Jadi begini Pak Nufael, kedatangan saya ke sini saya tidak ingin berbasa-basi lagi."


Jevin mengambil napas sejenak kemudian kembali bersuara. "Saya mempunyai niat baik, saya ingin."


"Saya ingin melamar Kasha untuk menjadi istri saya."


Nufael terkejut bukan main. Kedua bola matanya membulat sempurna. Nufael sangat jelas sekali mendengar penuturan Jevin yang baru saja mengatakan bahwa Jevin mempunyai niat baik untuk melamar Kasha. Rasanya tidak mungkin bagi Nufael namun wajah Jevin sangat serius dan nyata sekali dalam pandangannya.


"Pa-Pak Jevin serius?." Tanya Nufael tak percaya.


Jevin mengangguk dengan sangat yakin dan penuh keseriusan. "Saya serius bahkan sangat serius Pak Nufael."


Pernyataan Jevin sudah jelas sekali. Nufael pun dapat menerimnya. Namun sebenarnya masih ada yang mengganjal di hati Nufael tetapi Nufael kembalikan semuanya kepada Kasha, karena Jevin melamar Kasha itu artinya keputusan ada ditangan Kasha.


"Baiklah kalau begitu saya panggilkan Kasha dulu."


Mendengar namanya saja sudah membuat bulu kuduk Jevin merinding. Apalagi orangnya berada di hadapannya mungkin seluruh tubuh Jevin merinding bagaikan tersengat aliran listrik. Inikah yang dinamakan sedang jatuh cinta?, ketika mendengar namanya saja hatinya sudah berdesir hebat. Terlebih lagi perempuan yang dicintai oleh Jevin bukanlah perempuan biasa melainkan bagaikan mutiara berharga. Untuk saat ini Jevin tidak malu mengakui dirinya sendiri sebagai seorang bucin alias budak cinta.


Lima menit kemudian Nufael sudah kembali lagi ke ruang tamu bersama Niswah dan Kasha yang berjalan di paling belakang. Sementara Shima tidak ikut serta karena Shima sadar bahwa dirinya bukan bagian dari keluarga Nufael. Dan Shima tetap di dapur bukannya tidak berniat ingin mendengarkan obrolan mereka namun Shima sadar diri bahwa menguping pembicaraan orang lain itu tidak baik. Lebih baik Shima menunggu Niswah menceritakannya nanti setelah Jevin pergi.


"Perkenalkan Pak Jevin ini istri saya namanya Niswah."


Nufael memperkenalkan Niswah kepada Jevin. Niswah tersenyum singkat sebagai bentuk perkenalannya kepada Jevin begitupun sebaliknya. Bahkan tanpa malu-malu Jevin mulai memfokuskan dirinya menatap ke wajah seorang perempuan yang duduk di samping Niswah, siapa lagi jika bukan Kasha.


"Maaf Pak Jevin, silakan langsung diutarakan saja kepada Kasha." Ucap Nufael mempersilakan Jevin untuk membicarakan langsung kepada Kasha.

__ADS_1


Kasha sempat kebingungan. Kira-kira laki-laki di hadapannya ini ingin mengutarakan perihal apa. Sang Abang juga tadi tidak memberitahukannya padahal sudah mengetahuinya lebih dulu.


Jevin mengatur napasnya kembali. Perlahan ia kembali bersuara. "Jadi kedatangan saya ke sini, saya ingin melamar kamu, Kasha."


"Saya ingin menjadikan kamu istri saya. Apakah kamu bersedia menerima lamaran ini dan menjadi istri saya, Kasha?"


Kasha sangat terkejut. Kasha meneguk paksa salivanya. Pernyataan yang baru saja keluar dari mulut Jevin itu sukses membuat Kasha langsung berani menatap ke arah Jevin meskipun hanya sekejap saja.


Bukan Hanya Kasha yang terkejut namun Niswah juga ikut terkejut tak menyangka bahwa kedatangan Jevin nyatanya adalah untuk melamar adik iparnya, Kasha.


"Ma-maaf Bapak serius ingin melamar saya?." Tanya Kasha sangat tidak percaya.


Bukan hanya Nufael yang tidak mempercayai akan niat baik Jevin namun Kasha juga tidak mempercayainya. Tetapi Jevin memakluminya sebab ini memang terkesan buru-buru karena Jevin dan Kasha belum saling mengenal satu sama lain namun entah mengapa tiba-tiba Jevin ingin melamar Kasha. Ini tidak masuk akal bagi Kasha namun bagi Jevin ini sangat masuk akal karena Jevin sudah jatuh cinta kepada Kasha makanya Jevin berani untuk datang melamarnya.


"Saya serius, jadi bagaimana apakah kamu bersedia menjadi istri saya Kasha?"


"Maaf, tapi sebelumnya kita belum saling mengenal satu sama lain. Lalu bagaimana Bapak yakin ingin menjadikan saya istri Bapak?"


Jevin tersenyum manis. "Iya kita memang belum saling kenal satu sama lain, tapi saya yakin kamu adalah perempuan yang baik. Jujur saja saya jatuh cinta sama kamu karena penampilan kamu. Disaat perempuan di luar sana bangga mempertontonkan tubuhnya tapi kamu tidak, kamu justru menutupinya, dan hanya laki-laki beruntung yang bisa mendapatkan perempuan seperti kamu Kasha, dan saya ingin menjadi laki-laki beruntung itu."


Kini baik Kasha, Nufael maupun Niswah sudah sama-sama mengetahui alasan Jevin yang tiba-tiba saja datang melamar Kasha. Ternyata Jevin jatuh cinta dengan Kasha karena penampilan Kasha yang berbeda dari perempuan-perempuan lain di luaran sana yang sering Jevin jumpai.


"Mohon maaf, ada yang ingin saya tanyakan. Apakah sebelum Bapak mencintai saya, Bapak sudah mencintai Allah?"


Jevin langsung panik. Pasalnya Kasha menanyakan kecintaannya kepada Tuhannya. Jujur saja Jevin adalah makhluk Tuhan yang bisa dianggap tidak mencintai Tuhannya karena selama ini Jevin menciptakan jarak yang sangat jauh dengan Tuhannya sebab kejadian di masa lalu yang menyebabkan Jevin tidak bisa menerima kenyataan hingga akhirnya bukan hanya membenci kedua orang tuanya namun juga Tuhannya.


Jevin terdiam. Tidak dapat menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Kasha. Itu menandakan bahwa Jevin belum mencintai Tuhannya. Dan Kasha sangat kecewa sekali. Ada rasa kesal di hatinya ketika mengetahui ada makhluk Tuhan yang tidak mencintai Tuhannya sendiri. Dan itu adalah laki-laki yang mempunyai niat baik untuk melamarnya.


"Jika Bapak belum mencintai Allah, maka tidak seharusnya Bapak mencintai makhluk Allah. Bagaimana mungkin Bapak mencintai makhluk Allah, tetapi Bapak tidak mencintai Allah sebagai pencipta makhluk yang Bapak cintai."


"Saya janji Kasha, kalau kamu mau menjadi istri saya, saya akan mencintai Allah, saya akan memperbaiki diri saya."


Kasha menggelengkan kepalanya. Ia kecewa berat. "Mohon maaf Pak, jika Bapak berniat untuk memperbaiki diri tolong niatkan semuanya karena Allah bukan karena saya atau bukan karena Bapak ingin menikahi saya, itu niat yang salah, jangan sampai Allah murka kepada Bapak karena Bapak mempermainkan Allah."


"Tidak seharusnya Bapak mencintai saya, Allah yang pantas Bapak cintai, karena Allah yang memberikan segalanya kepada Bapak, bukan saya."


Kali ini Kasha berbicara dengan panjang lebar. Jujur saja Kasha tidak bisa berdiam diri begitu saja ketika menyangkut tentang agamanya, tentang Tuhannya. Dan manusia tidak bersyukur seperti Jevin pantas diberitahu sebelum terlambat. Kasha sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti hati Jevin namun sudah seharusnya Jevin sadar bahwa selama ini dia telah berdosa karena tidak mencintai Tuhannya yang mana artinya Jevin tidak melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim.


Jevin merasa tertampar oleh setiap kata yang keluar dari mulut Kasha. Hingga akhirnya dengan perlahan Jevin mulai tersadar. Bahkan Jevin tidak malu lagi untuk mengakui kesalahannya. Ia merasa adalah seorang hamba yang berlumuran dosa. Selama ini ia merasa mempunyai segalanya namun nyatanya ia tidak mencintai Tuhannya yang telah memberikan segalanya kepadanya.


Selama ini Jevin menjadi manusia yang tidak bersyukur atas nikmat Tuhan yang diberikan kepadanya. Pantas saja meskipun Jevin memiliki segalanya namun ia tidak mendapatkan ketenangan di hatinya. Bahkan ia menjadi manusia pendendam yang tidak bisa berdamai dan menerima masa lalunya.


Detik ini juga Allah seakan meluluhkan hati Jevin. Mengembalikan kesucian hatinya yang selama ini sempat kotor akan dendam yang sampai berdampak tidak mau bersujud di hadapan Tuhannya. 


"Mohon maaf Pak, saya menolak lamaran ini, saya tidak bersedia menjadi istri dari seorang hamba yang tidak mencintai Allah."


"Saya terima keputusan kamu Kasha, lamaran saya pantas untuk kamu tolak, saya mengaku salah, selama ini saya memang tidak mencintai Allah bahkan saya tidak melaksanakan kewajiban saya sebagai seorang Muslim. Terima kasih Kasha karena kamu sudah membuka hati dan pikiran saya. Dan saya memohon maaf sudah mengganggu waktu kalian. Saya permisi."


Usai menerima penolakan dari Kasha sekaligus telah mengakui kesalahannya, Jevin pamit undur diri dari hadapan Kasha yang sudah membuka mata hatinya dengan selebar-lebarnya.


Setelah kepergian Jevin, Niswah langsung memeluk Kasha dengan rasa bangga yang tidak dapat disembunyikan lagi. Adik iparnya ini begitu bijak sekali dalam menangani permasalahan seperti tadi. Baru kali ini Niswah menyaksikan sendiri seorang Kasha yang selama ini pendiam namun nyatanya dapat berbicara panjang lebar perihal tentang agama dan Tuhannya. Bahkan Kasha dapat menyentuh hati Jevin hingga membuat Jevin tersadar dan mengakui kesalahannya.


"Maa syaa Allah, Kasha kamu bijak sekali, Kak Niswah bangga sama kamu."


Kasha tersenyum namun hanya sekilas. Meskipun Kasha sudah melakukan hal yang benar tetapi Kasha tetap merasa tidak enak karena telah menasihati seorang laki-laki yang belum Kasha kenal sebelumnya. Namun memang itu yang seharusnya dilakukakan oleh Kasha yaitu saling menasihati sesama manusia terlebih kepada sesama umat Islam.


"Ya Allah semoga apa yang hamba lakukan tadi adalah benar dan Engkau meridhoinya. Aamiin." Ucap Kasha dalam hati.


"Abang juga bangga sama kamu Kasha."


Kasha menjadi lebih tenang karena sang Abang ikut bangga kepadanya. Itu artinya Nufael membenarkan tindakan yang Kasha lakukan tadi terhadap Jevin.

__ADS_1


__ADS_2