
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Sinar matahari pagi menerobos masuk ke dalam sebuah ruangan melalui cela-cela jendela yang terbuka lebar. Sepasang mata yang terpejam perlahan bergerak berkali-kali seakan merasakan kesilauannya sinar matahari pagi. Akhirnya kedua mata itu terbuka dengan menyipit. Jevin terbangun dari tidurnya lebih tepatnya terpaksa beranjak dari rebahannya lantaran sinar matahari pagi telah mengusiknya.
"Sudah pagi?" Jevin menatap ke arah jendela yang mana bumi sudah terang benderang. Kemudian Jevin beralih menatap jam berukuran kecil di nakas dekat ranjang tidurnya.
Tiba-tiba saja mata Jevin terbelalak seakan tidak percaya bahwa saat ini sudah pukul 08.48 pagi. Jevin bangun kesiangan dan hari ini Jevin ada meeting tepat di jam 09.00 itu artinya Jevin hanya memiliki waktu 12 menit untuk mandi dan bersiap-siap.
Dengan langkah cepat Jevin langsung masuk ke kamar mandi. Namun ia keluar lagi karena lupa membawa handuk.
Lima menit berlalu Jevin sudah selesai mandi. Ini waktu yang paling cepat Jevin mandi. Selama ini paling cepat Jevin selesai mandi adalah 15 menit namun karena takut terlambat akhirnya Jevin mandi dengan secepat mungkin. Yang terpenting tubuhnya diguyur air masalah bersih atau tidak Jevin sudah tidak ingin memikirkannya.
"Sayang, Sayang di mana?" Meskipun sedang sibuk memakai kemeja yang sudah disiapkan di atas ranjang, Jevin tidak akan melupakan istrinya yang sudah tidak terlihat di sekitar kamar mereka. Namun Jevin tidak mencari keberadaan Kasha lagi usai menemukan kertas kecil yang sengaja Kasha selipkan di bawah jas Jevin.
"Mas aku izin ke rumah Abang El"
Jevin pun bernapas lega karena istrinya bukan menghilang melainkan saat ini sedang di rumah abangnya dan pastinya sedang membantu mengurusi catering keluargnya.
Mobil Jevin melaju keluar dari halaman rumahnya. Kasha memperhatikan mobil suaminya yang sudah melenggang dengan kecepatan yang cukup laju.
"Alhamdulillah kalau mas Jevin sudah bangun." Ucap Kasha dalam hati.
"Kasha?, kamu sedang apa?"
Kasha terkejut bukan main. Perlahan ia menoleh ke belakang. Didapatinya Niswah yang sedang memperhatikannya.
"Kak Niswah, aku masuk dulu ya Kak, makanannya belum selesai aku bungkus."
Niswah tersenyum seraya mempersilakan Kasha untuk masuk ke dalam rumahnya. Sebenarnya Niswah penasaran kira-kira tadi Kasha sedang apa, namun Niswah tidak mungkin bertanya terlalu banyak, apa lagi Kasha tidak menjawabnya itu artinya Kasha memang tidak ingin memberitahu kepada dirinya.
Kasha bukannya tidak sopan karena tidak menjawab pertanyaan dari Niswah, namun Kasha sadar bahwa aib suaminya tidak boleh ia sebarkan kepada siapapun termasuk kepada Niswah. Sudah seharusnya Kasha menutupi aib suaminya karena aib suaminya adalah pakaian baginya. Maka jika Kasha menyebarkan aib suaminya, berarti Kasha membiarkan dirinya tidak berpakaian hingga akhirnya akan menanggung malu.
❤❤❤
"Assalaamu 'alaikum."
Kasha memunculkan dirinya dari dalam rumah Abangnya ketika mendengar suara salam dari Nufael yang baru tiba di rumahnya usai mengantar catering di perusahaan Alhusayn.
"Wa 'alaikumus salaam, Abang sudah pulang?"
"Iya Kasha Abang sudah pulang."
"Oh iya Abang, Mas Jevin ada di kantor?"
Nufael menggeleng. "Nggak ada, kata Arfan Jevin sedang keluar, lagi meeting sama clien, oh pantas saja kamu nggak ikut Abang tadi, soalnya sudah tahu ya kalau Jevin sedang keluar."
Kasha hanya tersenyum tipis. Kasha memang sengaja tidak ikut Nufael mengantarkan makan siang ke kantor Jevin tetapi Kasha tidak tahu jika Jevin sedang tidak ada di kantor alias sedang di luar karena meeting.
"Ya sudah kalau begitu Abang masuk dulu ya."
Kasha mengangguk. Mempersilakan Nufael untuk masuk ke dalam rumahnya. Dari raut wajahnya Nufael terlihat kelelahan. Maklum saja namanya juga pekerja keras. Namun Kasha bangga kepada Abangnya karena selama ini tidak pernah mengeluh atas lelahnya yang Kasha harapkan menjadi berkah karena lillah.
"Mas Jevin sudah sholat dzuhur apa belum ya?." Kasha memikirkan suaminya. Kasha takut jika Jevin tidak bersimpuh lagi di hadapan Allah seperti waktu subuh tadi.
Ingin sekali Kasha menelpon Jevin untuk menanyakan apakah Jevin sudah sholat dzuhur. Namun Kasha urungkan karena saat ini Jevin pasti sedang meeting dan tidak bisa diganggu. Akhirnya Kasha tetap mengeluarkan handponenya dari saku gamisnya, tetapi bukan untuk menelpon Jevin melainkan mengirimkan chat yang isinya mengingatkan Jevin untuk sholat dzuhur.
"Semoga saja Mas Jevin baca chat aku, dan semoga juga Mas Jevin sudah sholat dzuhur. Aamiin."
Kasha kembali menaruh handponenya di saku gamisnya. Kemudian menyusul Nufael masuk ke dalam rumah keluarga kecil sang Abang.
❤❤❤
Suara adzan yang merdu nan syahdu menggema sekitar sepuluh menit yang lalu. Dan sholat empat rakaat Kasha sudah mencapai salam. Tak lupa Kasha berdzikir, mengingat Allah serta menyelipkan doa yang tidak pernah absen setelah selesai sholat.
Pandangan Kasha tertuju kearah benda pipih berwarna gold yang tergeletak di nakas samping ranjang kamarnya. Kasha pun meraih benda pipih tersebut. Mencari nama "Mas Jevin" di kotak nomor handponenya. Setelah itu Kasha menekan tombol hijau untuk memanggilnya.
__ADS_1
Panggilannya tidak segera tersambung. Cukup lama Kasha menunggunya serta mengulang-ulang memanggilnya. Namun sambungan panggilannya tidak kunjung tersambung. Hingg akhirnya Kasha menyerah dan menggeletakkan benda pipih itu ke tempat semula.
"Mas Jevin kok nggak angkat telepon aku ya?, apa dia masih sibuk?." Tanya Kasha kepada dirinya sendiri. Lagi-lagi Kasha memikirkan suaminya yang sepertinya hari ini sedang sibuk sekali sampai chatnya belum dibaca dan panggilannya tidak diangkat.
Kasha memang mengkhawatirkan Jevin yang sepertinya sedang sibuk kerja namun Kasha lebih mengkhawatirkan Jevin yang takutnya lalai dalam sholatnya. Kasha tetap berpikiran positif bahwa suaminya pasti sudah sholat dzuhur dan ashar. Namun disisi lain Kasha juga takut jika kejadian tadi subuh terulang kembali. Takutnya karena dilanda kesibukan Jevin malah terlupakan akan kewajibannya untuk mendirikan sholat. Tetapi Kasha berusaha untuk tetap tenang dan mempercayakan Jevin bahwa Jevin tidak akan lupa untuk sholat dzuhur dan ashar.
❤❤❤
Jarum jam kecil menunjuk ke arah angka 10 dan jarum jam panjang menunjuk ke arah angka 5. Itu artinya sekarang sudah jam 10 malam lewat 25 menit. Kasha sedang duduk di sofa dengan pandangan tertuju ke arah pintu rumahnya yang tertutup rapat. Sejak tadi Kasha mencoba menelpon Jevin namun handpone Jevin tidak aktif. Pikiran Kasha sudah melayang ke mana-mana. Ia mengkhawatirkan suaminya yang tidak bisa dihubungi serta belum kunjung pulang juga.
"Kamu di mana Mas, kok handpone kamu mati, Ya Allah lindungilah suami hamba, semoga dia baik-baik saja."
Suara mobil berhenti terdengar dari luar rumah. Kasha langsung beranjak dari duduknya dan membuka sedikit tirai di jendela. Kasha mengenali mobil yang berhenti di depan rumahnya. Tidak salah lagi itu adalah mobil milik Jevin, itu artinya Jevin sudah pulang. Rongga dada Kasha lega seketika melihat Jevin baru saja keluar dari mobilnya.
"Alhamdulillah Mas Jevin sudah pulang."
Kasha segera membukakan pintu untuk menyambut kedatangan suaminya yang baru saja pulang dari bekerja. Namun pintunya sudah lebih dulu terbuka dan Jevin masuk ke dalam rumahnya.
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam Mas-"
Seketika Kasha terperanjat. Tubuhnya sudah berada di pelukan Jevin yang memeluknya dengan teramat erat. Kasha menetralkan debaran jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang. Antara terkejut dan gugup langsung menyergapnya lantaran langsung mendapatkan pelukan mendadak dari sang suami.
"Mas rindu berat sama Sayang, seharian ini nggak bertemu Sayang, rasanya dada Mas sampai sesak menahan rindu sama Sayang."
Akhirnya Jevin melepas pelukannya tanpa Kasha meronta-ronta terlebih dahulu. Sebab Jevin tahu bahwa istrinya itu sudah sesak napas di dalam pelukannya karena Jevin yang memeluknya terlalu erat.
"Sayang juga rindu berat kan sama Mas?" Jevin meminta Kasha untuk memberikan pengakuan bahwa Kasha juga merindukannya sama seperti yang dirinya rasakan.
Kasha hanya tersenyum tipis. Kasha tidak berminat untuk membahas persoalan rindu itu. Melainkan ada yang lebih penting dari itu. Dan Kasha harus membicarakannya sekarang juga kepada Jevin. Namun sebelum itu Kasha mengajak Jevin untuk duduk. Agar hati Kasha menjadi lebih tenang karena tadi sempat mengkhawatirkan Jevin.
"Mas kenapa dari tadi siang susah dihubungi?, aku sudah chat Mas, telepon Mas tapi Mas nggak balas dan nggak angkat telpon aku, bahkan handpone Mas malah nggak aktif."
Jevin hanya ber-o ria. Berbanding terbalik dengan Kasha yang sudah beraut wajah cemas dengan terselipkan sedikit rasa kesal.
"Oh itu, iya Sayang, Mas minta maaf ya, tadi siang sampai sore itu Mas ada meeting dan handpone Mas ketinggalan di ruangan. Jadi Mas nggak tahu kalau Sayang chat dan menelpon Mas, dan barusan ini Mas baru saja selesai meeting lagi sama clien, Mas sengaja matikan handpone karena takut clien Mas nanti terganggu."
"Ya sudah aku maafkan, tapi lain kali Mas harus memberi kabar ya, supaya aku nggak khawatir sama Mas yang nggak bisa dihubungi."
"Iya-iya Sayang, Mas nggak akan buat Sayang khawatir lagi."
"Mas sudah sholat isya?"
Seketika Jevin tercekat. Hanya duduk terdiam tanpa satu katapun keluar dari mulutnya. Jevin seperti tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan dari Kasha. Padahal hanya cukup menjawab sudah atau tidak. Namun Jevin tetap merasa tidak sanggup untuk menjawabnya. Akhirnya Jevin hanya menggeleng pelan untuk merespon pertanyaan Kasha.
"Kenapa belum sholat Mas?." Tanya Kasha dengan menghela napas.
"Itu Sayang, emh..."
"Mas lupa." Ungkap Jevin kemudian.
Kasha yang mendengarnya terdiam sejenak. Menahan kekesalan yang ingin tertumpahkan saat ini juga. Kasha menetralkan napasnya yang seketika sesak begitu saja usai mendengar pengakuan suaminya yang lupa melaksanakan sholat isya'.
"Lalu, bagaimana dengan sholat dzuhur, ashar dan maghrib, apa Mas juga lupa?." Tanya Kasha dengan penekanan kata disetiap ucapannya.
Jevin menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Jujur saja saat ini wajah Kasha terlihat menyeramkan di mata Jevin sampai-sampai Jevin tidak berani beradu pandang dengannya.
"Mas sudah sholat dzuhur, ashar dan maghrib kan Mas?." Tanya Kasha sekali lagi dengan harapan suaminya menganggukkan kepala sebagai pertanda bahwa ia telah mengerjakan sholat dzuhur, ashar dan maghrib.
Perlahan Jevin menggeleng. Ditatapnya wajah sang istri yang seketika berubah dan bahkan langsung membuang muka darinya. Rasa bersalah kini berkecamuk di hati Jevin. Ia memang salah dan mengakui kesalahannya.
Jevin meraih tangan Kasha. Mengelusnya dengan lembut. "Sayang Mas minta maaf ya, Mas mengaku salah, Mas-"
"Minta maafnya sama Allah Mas." Ucap Kasha yang tidak ingin menatap wajah suaminya. Rasanya dada Kasha terasa sesak menahan kekesalan serta kekecewaan yang mendalam kepada Jevin. Suaminya itu telah berdosa besar kepada Allah. Seharian penuh ini ia meninggalkan kewajibannya.
Kasha sudah tidak dapat menahan rasa kecewanya yang ia lampiaskan dengan air matanya. Rasanya Kasha sudah tidak tahu lagi harus berbicara apa. Seketika saja lidahnya keluh dan hanya air mata saja yang dapat Kasha keluarkan.
Air mata yang menetes begitu saja membuat Jevin terkejut bukan main. Jevin memandangi wajah istrinya yang berselimutkan perasaan sedih dan itu karenanya. Karena kesalahannya.
"Sayang kenapa menangis?, Sayang Mas minta maaf ya, nggak seharusnya Mas meninggalkan sholat, Mas pikir karena tadi Mas nggak sholat subuh jadinya seharian ini Mas nggak sholat, karena percuma, Mas kan sudah berdosa."
Kasha tidak menyangka atas pengakuan dari Jevin. Ternyata suaminya ini sengaja meninggalkan sholat karena merasa percuma saja jika mengerjakan sholat yang lainnya karena sudah tidak sholat subuh dan sudah terlanjur berdosa.
__ADS_1
"Astaghfirullahal adzim Mas, bukan seperti itu, Mas memang nggak sholat subuh dan Mas memang berdosa tapi bukan berarti Mas nggak sholat yang lainnya, itu namanya Mas sengaja bermaksiat kepada Allah."
"Astaghfirullahal adzim Mas." Kasha berucap istighfar terus menerus. Jujur saja Kasha sangat kecewa kepada Jevin yang memiliki pemikiran yang tidak seharusnya seperti itu.
Jevin mengusap wajahnya kasar. Menyesali atas perbuatan yang ia lakukan hari ini. Jevin tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri setelah melihat air mata jatuh di pipi istrinya dan itu karena perbuatannya.
Kedua matanya berkaca-kaca. Jevin tidak sanggup melihat sang istri menangis karena dirinya. "Sayang maafkan Mas ya, Sayang jangan menangis lagi ya, Mas janji Mas nggak akan meninggalkan sholat lagi, Mas janji Sayang."
Kasha menggeleng. "Jangan janji sama aku Mas tapi janji sama Allah, aku kecewa sama Mas ternyata Mas belum sepenuhnya berubah."
"Sayang, Mas akan janji sama Allah Mas nggak akan meninggalkan sholat lagi, Mas sudah berubah Sayang, cuma hari ini mungkin iman Mas sedang turun dan-"
Kasha langsung memotong ucapan Jevin. "Dan seharusnya Mas menaikkan iman Mas lagi, bukan malah membiarkannya turun."
Jevin menunduk seakan mengaku kesalahannya yang telah bermaksiat kepada Allah. "Iya Sayang, seharusnya Mas memang menaikkan iman Mas bukan malah membiarkannya turun, Mas janji sama Allah dan Mas juga janji sama Sayang, kejadian ini nggak akan terulang lagi, Sayang percaya kan sama Mas?"
"Aku butuh bukti Mas bukan hanya janji, Mas serius mencintai Allah kan?"
Jevin menggangguk penuh keyakinan. "Iya Sayang, Mas benar-benar mencintai Allah."
"Kalau Mas benar-benar mencintai Allah, Mas pasti akan mematuhi perintahnya."
"Iya Sayang Mas akan mematuhi perintah Allah."
Kini Kasha mulai menatap dengan penuh harap kepada Jevin. Kasha mengharapkan agar suaminya benar-benar mencintai Allah bukan hanya di mulut saja tetapi juga di hatinya.
"Mas boleh sibuk dengan urusan dunia, tapi jangan sampai Mas lalai dengan urusan akhirat, Mas aku ingin Mas yang menggandeng aku masuk ke dalam syurganya Allah, aku bukan hanya ingin bersama Mas di dunia ini tapi aku juga ingin bersama Mas di akhirat nanti, di syurganya Allah nanti."
Tetesan air mata tidak terasa jatuh meluruh dipipi Kasha. Tetesan air mata penuh pengharapan agar Jevin dapat berubah menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Sama seperti istri-istri sholihah di luaran sana, Kasha juga menginginkan berjodoh dengan suaminya bukan hanya di dunia tetapi juga di syurga.
Jevin tersentuh sekali akan ucapan tulus dari lubuk hati Kasha yang paling dalam. Jevin juga tidak kuasa menahan air matanya yang menerobos keluar dari pelupuk matanya.
"Iya Sayang, Mas juga ingin selamanya Sayang yang menemani Mas, di dunia ini juga di syurga nanti."
"Mulai sekarang sesibuk apapun, selelah apapun Mas, Mas nggak akan pernah melupakan Allah, Mas akan menomor satukan Allah, selamanya."
"Aamiin Allahumma aamiin." Kasha mengaminkan harapan Jevin yang bertekad untuk berubah menjadi hamba beriman yang lebih baik lagi.
"Sayang maafkan Mas ya, Sayang jangan kecewa lagi ya sama Mas, Mas nggak akan memaafkan diri Mas sendiri kalau Sayang nggak memaafkan Mas dan masih kecewa sama Mas."
Perlahan Kasha mulai tersenyum tulus. "Mas aku sudah memaafkan Mas, aku juga sudah nggak kecewa sama Mas, tapi tolong, Mas jangan buat Allah kecewa lagi ya, karena kalau Allah sudah kecewa sama Mas, bukan cuma aku yang meninggalkan Mas tapi Allah juga akan meninggalkan Mas dan nggak peduli lagi sama Mas, bisa jadi hidup Mas berantakan tanpa kasih sayang dari Allah."
Jevin menggeleng berkali-kali. Jevin tidak ingin itu semua terjadi. Benar apa yang dikatakan istrinya. Jika Allah sudah kecewa kepadanya bukan hanya istrinya yang akan meninggalkannya namun Allah juga akan meninggalkannya. Dan yang sangat parah jika Allah sudah tidak peduli dengannya. Maka hancurlah hidup Jevin seketika itu pula. Jevin sadar sekali bahwa ia bukan apa-apa tanpa kasih sayang dari Allah. Tidak ada alasan lagi bagi Jevin untuk tidak menyesali perbuatannya yang teramat merugikan dirinya sendiri.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Assalaamu 'laikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Selamat hari jumat
Untuk para jomblo terhormat
Semoga menjadi manusia yang bermanfaat
Aamiin Allahumma Aamiin
Di hari Jumat ini jangan lupa ngedate sama Al-Kahfi ya
Masa baca cerita ini sempat
Tapi baca Al-kahfi gak sempat???
Sungguh terlaaalu
😱😱😱
Rugi lho kalau sampai gak baca Al-Kahfi, rugi serugi ruginya
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” (HR. Hakim 6169, Baihaqi 635, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 6470)
Wassalamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
__ADS_1