Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
30. Luapan Amarah


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


Zaila keluar dari mobilnya. Dan buru-buru masuk ke dalam rumahnya. Wajahnya bersinar dengan kilatan bahagia di kedua matanya. Akhirnya rencananya berhasil dan membuahkan hasil.


"Mami."


"Mami, where are you?"


Sesampainya di dalam rumahnya, Zaila memanggil-manggil sang Mami yang tidak kelihatan di ruang tamu. Zaila tidak sabar ingin memberitahu berita bagus kepada Lubna.


"Iya-iya Mami di sini Darling."


Tak berapa lama Lubna mendatangi putri kasayangannya yang sedang menunggunya di ruang tamu.


"Mamiii."


Zaila langsung berhambur ke pelukan Maminya. Lubna terkejut namun ikut senang melihat senyuman bahagia terpancar di wajah cantik Zaila yang menuruni garis kecantikan darinya.


"Hei, ada apa Darling. Kelihatannya kamu senang sekali, ayo cerita sama Mami dong, jangan buat Mami penasaran."


Lubna tidak sabar ingin mengetahui penyebab sang putri sumringah sekali. Padahal kemarin baru saja Zaila kesal karena sikap Jevin kepadanya.


"Mami ada berita bagus, sangat bagus."


"Oh ya?, apa?, berita bagus apa Darling?"


"Jevin sama Kasha bertengkar Mami."


"Bahkan Jevin memarahi Kasha."


"Oh ya?"


Zaila mengangguk dengan sangat yakin. Rona kebahagiaan tidak bisa disembunyikan lagi. Bahkan kini sang Mami ikut bahagia setelah mendengar berita bagus yang sangat bagus langsung dari mulut Zaila.


"Ini benar-benar berita bagus Darling. Sangat bagus."


"Iya Mami, akhirnya rencana aku berhasil juga untuk membuat hubungan mereka renggang."


"Kamu memang hebat Darling. Mami doakan semoga mereka cepat bercerai dan kamu bisa menikah dan hidup bahagia sama Jevin."


"Thank you Mami. Zaila sayang banget sama Mami."


"Mami juga sayang banget pastinya sama kamu Darling."


Zaila kembali ke pelukan Lubna dengan rona bahagia yang menghiasi wajahnya.


❤❤❤


"Assalaamu 'alaikum."


"Wa 'alaikumus salaam, alhamdulillah Mas sudah pulang."


Kasha meraih tangan suaminya. Lalu menciumnya. Kemudian berjalan beriringan menuju ruang tamu.


Jevin menghempaskan tubuhnya ke sofa. Kemudian melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Sementara Kasha tidak ikut duduk di samping Jevin melainkan menuju dapur untuk membuat secangkir teh hangat untuk siapa lagi jika bukan untuk suami kesayangannya.


"Ini Mas diminum dulu tehnya."


"Jazakillah khoiron Sayang."


"Wa jazakallah khoiron Mas."


Tanpa menunggu lama lagi, Jevin langsung menyeruput tehnya kemudian beralih memandangi wajah istrinya yang sedang duduk di sampingnya.


"Maa syaa Allah manis sekali Sayang."


"Iya dong Mas, kan tehnya pakai gula, makanya manis."


Jevin menggeleng. Namun kedua matanya tidak lepas dari wajah cantik sang istri.


"Bukan tehnya Sayang."


"Tapi Sayang yang manis, mubadzir kalau nggak dicium."


Cup


Jevin berhasil meraih dagu sang istri untuk memberikannya kecupan penuh cinta di pipinya. Alhasil Kasha terperanjat dan wajahnya sudah nampak memerah.


"Aduh pipi kamu memerah Sayang. Mas jadi makin gemas deh sama Sayang." Jevin membelai pipi Kasha yang tambah memerah akibat mendapat belaian lembut darinya.


"Sayang, ayo ke kamar." Ajak Jevin dengan manjanya.


Kasha terperanjat. Pikirannya sudah melanglang buana. Meskipun sudah menjadi suatu kebutuhan serta kebiasaan bahkan menjadi berbuah pahala namun tetap saja Kasha masih merasa malu-malu.


"Mas mau mandi Sayang, sudah gerah nih."


Oh!, ternyata Jevin mengajak Kasha ke kamar mereka karena Jevin ingin segera menyegarkan tubuhnya di bawah guyuran air. Bukan karena yang ada dipikiran Kasha.


"Oh Mas mau mandi, aku pikir mau..." Seketika Kasha terdiam dalam ucapannya yang masih menggantung. Kasha baru tersadar bahwa hampir saja ia keceplosan sesuatu.


Jevij kebingungan serta penasaran dengan ucapan Kasha selanjutnya. "Mau apa Sayang?"


Secepat mungkin Kasha menggelengkan kepala. Ia takut suaminya terus mencecarnya untuk menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Ayo Sayang jawab, Sayang pikir Mas mau apa?"


Kasha masih teguh pada pendiriannya. Ia menggeleng lagi. Tidak mau membuka suara sedikitpun. Namun bukan Jevin namanya jika tidak bisa merayu istrinya untuk menjawab pertanyaannya.


"Sayang ayo dong, jawab dong pertanyaan Mas. Sayang pikir Mas mengajak ke kamar, mau apa?"


"Kalau Sayang nggak jawab, Sayang harus cium Mas, di sini." Jevin menempatkan jari telunjuknya tepat di bibirnya. Mengisyaratkan bahwa jika Kasha tidak menjawab pertanyaannya maka konsekuensinya Kasha harus menciumnya, tepat di bibirnya.


Jelas!, Kasha akan memilih opsi yang pertama. Karena tidak mungkin bagi Kasha untuk memilih opsi yang kedua. Meskipun mereka sudah halal namun terlalu ekstream bagi Kasha untuk melakukan opsi yang kedua itu.


"Iya aku mau jawab."


Jevin menghela napas. Ia sedikit kecewa karena istrinya lebih memilih menjawab pertanyaannya ketimbang menyapu lembut bibir miliknya yang kering. Tapi tidak apa-apa, itu bukan masalah besar untuk Jevin. Ia juga hanya bercanda saja, jika istrinya menurutinya ya Jevin bersyukur tetapi jika tidak pun tidak masalah.


"Aku pikir Mas mengajak ke kamar, karena Mas mau..."


"Iya, mau apa Sayang?"


Kasha mencoba menenangkan dirinya yang sudah malu-malu untuk melanjutkan ucapannya.


"Mas mau itu."


Jevin menyerngitkan dahinya. "Mau itu apa Sayang?" Jevin pura-pura tidak mengerti akan kata "itu" yang sudah jelas artinya mengarah kepada suatu hal.


Kasha bingung harus menjawab dengan apa lagi. Tidak mungkin bagi Kasha untuk berterus terang tanpa menyamarkan sebuah kata yang akan ia ucapkan.


"Masa Mas nggak mengerti sih."


Jevin menggeleng dengan polosnya. Seakan-akan tidak mengerti akan ucapan Sayangnya itu. Padahal bukan Jevin namanya kalau tidak tahu menahu tentang kata "itu" yang disamarkan kata aslinya oleh Kasha.


"Ikhtiar Mas."


"Hah ikhtiar?, maksudnya Sayang?"


Kasha memutar bola matanya dengan jengah. Ia sudah mendapatkan kata pengganti dari maksud ucapannya itu namun suaminya malah tidak mengerti.


Jevin memang tidak mengerti maksud dari kata ikhtiar yang dilontarkan oleh istrinya. Jevin tahu arti dari ikhtiar yang artinya adalah berusaha tapi Jevin tidak mengerti mengapa istrinya menyebut kata yang disamarkan tadi dengan kata ikhtiar.


"Iya Mas ikhtiar, artinya ikhtiar kan berusaha. Dan kita kan berusaha mempunyai anak. Mas mengerti kan maksud aku?"


Oh!, sekarang Jevin mengerti, sangat mengerti. Bagus juga penggantian kata ikhtiar untuk menyamarkan kata hubungan suami istri yang dimaksudkan Kasha dari tadi.


"Oh sekarang Mas sudah mengerti. Jadi tadi Sayang mikirnya Mas mengajak ke kamar untuk ikhtiar?"


Perlahan Kasha menganggukkan kepalanya, meskipun sudah diganti katanya namun tetap saja maknanya sama dan Kasha malu sekali untuk mengakui pikirannya yang tadi sempat mengarah ke sana. Habisnya seperti yang sudah-sudah, jika suaminya mengajaknya ke kamar pasti mengarah kepada hal itu. Dan hari ini saja tidak mengarah kepada hal itu.


"Memangnya Sayang mau?"


Kasha langsung terbelalak. Dan secepat mungkin menggelengkan kepalanya. Namun Jevin tidak semudah itu percaya.


"Yang benar Sayang nggak mau?, mumpung Mas nggak lelah nih Sayang."


Kelakuan Jevin ada-ada saja. Dan selalu saja menggoda istrinya yang pemalu. Jevin justru merasa senang jika terus menerus menggoda sang istri. Apa lagi jika sampai wajah sang istri merah merona. Pikiran Jevin sudah melayang ke mana-mana.


"Ya nggak apa-apa Sayang, sekalian mandinya nanti saja."


"Ya sudah terserah Mas saja." Jawab Kasha malu-malu.


"Berarti Sayang mau nih?" Jevin girang bukan kaleng-kaleng.


Perlahan Kasha mengangguk. Dan tanpa menunggu waktu lama lagi Jevin langsung menggendong Kasha ala bridal style. Kasha hanya bisa pasrah dan mengalungkan tangannya di leher Jevin. Jangan lupakan kedua pipi Kasha yang tidak pernah absen untuk merah merona.


❤❤❤


Sesampainya di kamar. Jevin tidak sungguh-sungguh dalam ucapannya. Karena ia merasa sangat gerah sekali akibat beraktivitas seharian penuh lagi pula Jevin tidak akan tega untuk melakukan ikhtiar dalam keadaan kotor dan bersarang keringat, nanti yang ada sang istri malah terkena bakteri dan kuman yang bersumber dari dirinya.


Kasha tidak mempersalahkan hal itu. Karena Kasha juga merasa lelah dengan aktivitasnya seharian ini. Bahkan saat ini Kasha merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menunggu Jevin selesai mandi.


Sebenarnya sebelum mandi Jevin sudah menyuruh Kasha untuk istirahat lebih dulu. Namun Kasha tidak segera tertidur karena hatinya ada yang mengganjal. Kasha kepikiran dengan Zaila yang meminta bantuannya untuk membujuk Jevin agar mau memaafkan Zaila.


20 menit berlalu, akhirnya sang Pangeran keluar dari tempat bersemedinya. Cukup lama juga Jevin menghabiskan waktunya di kamar mandi. Maklum namanya juga pekerja keras yang seharian di luar rumah sudah pasti kuman, bakteri dan kawan-kawannya menempel di sekujur tubuhnya.


"Lho Sayang, kok belum tidur?"


Jevin terkejut melihat sang istri sedang duduk bersandar di ranjang sambil membaca buku.


Kasha bernapas lega karena yang ditunggu akhirnya keluar juga. Cukup lama juga suaminya mandi mengalahkan dirinya saja. Atau mungkin sekalian menguras bak kamar mandi tapi di kamar mandi mereka nggak ada bak mandi karena sudah diganti shower oleh Jevin.


"Aku menunggu Mas."


Kali ini Kasha sudah merasa biasa saja ketika melihat suaminya hanya berselempang handuk dibagian pinggang sampai lutut, lebih tepatnya Kasha membiasakan diri, toh Jevin adalah suaminya jadi Kasha halal-halal saja melihat dada bidang suaminya yang nyaris sempurna.


"Lho untuk apa menunggu Mas?, oh Sayang mau mengajak Mas ikhtiar?, ya sudah ayo mumpung Mas belum pakai baju nih."


Kasha menggeleng-gelengkan kepalanya sekaligus memutar bola matanya dengan jengah. Kasha sudah lelah dengan omongan suaminya yang ujung-ujung selalu mengarah ke sana. Entah hanya bercanda atau serius tetap saja Kasha merasa tidak habis pikir.


"Bukan Mas. Lebih baik Mas pakai baju saja dulu deh."


"Ya sudah tolong siapkan bajunya ya Sayang. Mas kan nggak bisa memilih baju sendiri."


Manjanya Jevin mengalahkan bayi yang baru lahir saja. Untung Kasha begitu telaten menghadapi sifat manja suaminya. Padahal sebenarnya Jevin bisa apa-apa sendiri namun entah mengapa setelah menikah bawaannya ingin semuanya disiapkan oleh sang istri. Jiwa kemanjaan Jevin muncul dadakan.


Jevin segera memakai piyama yang warnanya sama dengan piyama yang dipakai Kasha. Mereka memang selalu tampil couple disaat menjelang tidur supaya terlihat tambah romantis sebagai pasangan suami istri.


"Sekarang aku sudah boleh ngomong nggak Mas?"


"Sayang tolong buatkan Mas teh dulu ya. Habis mandi ingin yang hangat-hangat nih."


Kasha mengiyakan permintaan Jevin. Lalu bergegas keluar dari kamarnya untuk membuatkan Jevin teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya yang habis diguyur oleh air hangat juga. Namun karena sudah malam rasa dingin terasa mencengkram sekujur tubuh Jevin.


5 menit berlalu, Kasha sudah kembali ke kamarnya dengan membawa secangkir teh hangat untuk Jevin. Dan Jevin langsung menyuruput tehnya. Namun sebelum itu ia sudah mempersilakan Kasha yang sedang duduk di sampingnya untuk membuka obrolan perbincangan hangat mereka di malam hari.

__ADS_1


"Mas, tadi Mbak Zaila datang ke rumah kita."


Uhuk uhuk


Jevin tersendak usai mendengar ucapan Kasha. Lebih parahnya lagi Kasha sedang membahas tentang Zaila. Dan itu membuat suasana hati Jevin jadi tidak baik.


"Astaghfirullahal adzim, Mas nggak apa-apa?"


Jevin menggeleng. Seketika wajahnya berubah datar. Dan aura kekesalan terlihat jelas di wajahnya.


"Terus Sayang membiarkan dia masuk ke rumah kita?"


Kasha menggeleng cepat agar Jevin tidak semakin kesal dibuatnya. "Nggak Mas, Mbak Zaila nggak masuk ke rumah kita kok."


Jevin dapat bernapas dengan lega. Namun hanya sesaat karena Kasha kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Tapi tadi aku sama Mbak Zaila sempat mengobrol Mas."


"Mengobrol apa?" Jevin tidak bisa berbicara dengan biasa saja. Entah ada apa jika berurusan dengan perempuan yang bernama Zaila bawaannya ingin meluapkan amarahnya begitu saja. Meskipun saat ini Jevin sedang berbicara dengan perempuan yang dicintainya.


"Maaf Mas sebelumnya, tadi aku sempat bilang ke Mbak Zaila kalau Mas menyuruh aku untuk menjauhi Mbak Zaila."


"Terus dia bilang apa?"


"Mbak Zaila sedih Mas, karena awalnya Mbak Zaila senang bisa kenal dan deket sama aku, tapi Mas malah menyuruh aku untuk menjauhi Mbak Zaila."


"Dan Mbak Zaila titip salam sama Mas, katanya Mbak Zaila minta maaf atas kesalahan Mbak Zaila sama Mas. Mas tolong maafkan Mbak Zaila ya, apapun kesalahan Mbak Zaila Mas harus memaafkan."


Jevin menyerngitkan dahinya. "Memangnya dia memberitahu Sayang tentang kesalahannya sama Mas?"


Kasha menggeleng pelan. Jujur saja Kasha penasaran. Kira-kira kesalahan apa yang diperbuat Zaila sampai membuat Jevin marah dan susah untuk memaafkannnya. Namun Kasha sadar diri dan tahu batasannya sehingga ia tidak akan menanyakan hal itu baik kepada Zaila maupun kepada Jevin, suaminya sendiri.


"Sayang, Mas sudah memaafkan dia kok, sudah lama malahan."


"Alhamdulillah." Kasha bersyukur karena suaminya sudah memaafkan Zaila.


"Tapi, kalau Mas sudah memaafkan Mbak Zaila, kenapa Mas menyuruh aku untuk menjauhi Mbak Zaila?"


Jevin terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan Kasha. "Karena Mas punya alasan yang kuat Sayang, dan maaf Mas nggak bisa jelaskan ke Sayang."


"Tapi apa alasan yang kuat itu Mas?, aku berhak tahu, Mas nggak boleh melarang aku untuk menjauhi Mbak Zaila karena sama saja Mas memutuskan hubungan silaturrahim aku sama Mbak Zaila, dan itu dosa Mas."


Jevin menarik napas kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Setidaknya Jevin mencoba tetap tenang meskipun sejak tadi ia berusaha menahan api-api amarah yang siap berkobar di dalam hatinya.


Akhirnya Jevin beranjak dari tempat duduknya. "Maaf Sayang, Mas nggak bisa jelasin sama Sayang."


"Ya tapi kenapa mas?" Kasha ikut beranjak dari tempat duduknya.


"Sayang sudah cukup, nggak usah bahas tentang perempuan itu lagi. Ini sudah malam Mas lelah."


"Tapi Mas-"


"SAYANG!!!"


"Mas bilang sudah ya sudah!, nggak usah dibahas lagi."


Jevin sudah tidak bisa mengendalikan amarahnya. Seketika itu juga ia naik pitam. Bahkan tanpa sadar sempat meninggikan suaranya lebih tepatnya membentak Kasha.


Kasha terkejut bukan main. Tubuhnya sampai bergetar hebat. Ini pertama kalinya Jevin mengeraskan suaranya kepada Kasha. Alhasil seketika itu juga bulir air mata jatuh di pelupuk mata Kasha. Hati Kasha terlalu lembut sehingga ia tidak bisa kuat ketika mendapatkan bentakan seperti itu. Apa lagi yang membentaknya adalah suaminya sendiri.


Perlahan Jevin tersadar. Ia mengakui kekhilafannya karena baru saja meluapkan amarahnya kepada istrinya sendiri.


"Sayang, Mas minta maaf, Mas nggak bermaksud membentak Sayang, Mas khilaf Sayang."


Terlambat!, percuma Jevin meminta maaf kepada Kasha karena Kasha sudah terlanjur kecewa karena mendapat perlakuan tidak baik dari suaminya sendiri. Kasha langsung melepaskan tangan Jevin dari lengannya. Kasha sudah tidak bisa menahan tangisnya yang semakin menjadi. Kasha merasa sakit hati hingga akhirnya ia memilih keluar dari kamarnya untuk menenangkan dirinya.


"Sayang tunggu-"


"Sayang."


Percuma!, Kasha sudah terlanjur sakit hati. Dan Jevin hanya bisa menyesali perbuatannya. Ia memarahi dirinya sendiri karena tidak bisa menahan amarahnya dan lepas kendali sampai luapan amarahnya ia tuangkan kepada istrinya. Pasti saat ini Kasha sangat sedih karena mendapatkan perlakuan tidak baik dari suaminya sendiri dan pasti Kasha tidak menyangka bahwa suaminya setega itu membentak dirinya. Hanya karena persoalan sepele. Namun bagi Jevin hal yang menyangkut Zaila bukan hal yang sepele namun hal yang membuat dadanya seketika sesak dan hatinya tergores sayatan luka.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Btw Alhamdulillah nih perjalanan cintanya Jevin ❤ Kasha sudah mencapai 30 part


Bisa dikatakan sudah berada ditengah-tengah cerita nih


Terharu nih Ukhfira gak nyangka sudah 30 part aja


😍😍😍


Jazakumullah khoiron untuk kalian para readersnya akoh yang selalu nyemangatin dan nagih part-part selanjutnya


Seneng akutuh


🤗🤗🤗


Doakan ya semoga Ukhfira bisa nulis kisah cintanya Jevin ❤ Kasha sampai tamat


Kira-kira hidayah berukir cinta sampai berapa part ya???


🤔🤔🤔


Btw sudah dulu ya sapa menyapanya


Ukhfira sudah timbul gejala-gejala ingin ke alam bawah sadar nih


Alias bonis (bobok manis)

__ADS_1


🤓🤓🤓


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2