
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Kasha sedang membantu suaminya memakaikan jas berwarna putih ke tubuh suaminya. Ia merapikan jas pengantin yang sudah melekat di tubuh gagah suaminya. Tak lupa peci yang berwarna putih juga ia letakkan di atas kepala suaminya.
Kasha tersenyum bangga menatap laki-laki di hadapannya. Aura ketampanannya semakin meningkat. "Maa syaa Allah, hari ini Mas tampan sekali." Puji Kasha yang setia dengan senyumannya.
Jevin sama sekali tidak menggubris kata-kata manis yang keluar dari mulut istrinya. Wajahnya datar. Tidak berekspresi sama sekali.
"Kita berangkat sekarang ya Mas." Ucap Kasha mengajak suaminya untuk pergi ke rumah keluarga Zaila saat ini juga.
Jevin tidak banyak bicara. Kali ini ia hanya menurut saja. Dan ia sudah lebih dulu keluar dari kamarnya, meninggalkan Kasha yang sudah tidak sanggup menahan isak tangisnya.
Kasha mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak sekali. Isak tangisnya pecah seketika.
"Ya Allah kuatkan aku, hari ini suamiku akan menikah lagi, aku ikhlas aku ridho jika memang ini yang terbaik, tapi aku nggak bisa membohongi diriku sendiri kalau sebenarnya hatiku sakit, sakit sekali." Kasha mengeluarkan kesedihannya. Ia kuras semua air matanya agar nantinya ia tidak bisa menangis lagi ketika melihat suaminya mencium kening perempuan lain yang tidak lain ialah istri keduanya, Zaila.
Kasha juga perempuan biasa. Ia sama seperti perempuan lainnya yang terluka ketika suaminya akan mempunyai istri selain dirinya. Tetapi Kasha tidak mungkin menentang takdirnya. Inilah takdir yang Allah gariskan kepadanya.
Secepat mungkin Kasha menghapus air matanya. Ia menarik napas sangat dalam. Mengubur kesedihannya yang tidak akan ada habisnya. Sebisa mungkin Kasha mengubah ekspresi wajahnya. Menampilkam senyuman seolah baik-baik saja. Padahal hatinya tersayat luka.
Begitulah hebatnya perempuan. Disaat hatinya terluka ia masih bisa tersenyum seolah dirinya baik-baik saja.
❤❤❤
Mobil yang membawa Jevin dan Kasha tiba di rumah Zaila, tempat acara pernikahan Jevin dan Zaila diselenggarakan.
Kasha keluar lebih dulu. Kemudian meraih tangan suaminya. Menariknya dengan lembut untuk keluar dari mobilnya.
Jevin dan Kasha mulai melangkahkan kakinya. Memasuki kediaman keluarga Zaila. Rozin dan Rifda menyusulnya di belakang. Sementara Nufael dan Niswah sengaja tidak mendampingi Kasha. Mereka tidak sanggup melihat adiknya dipoligami. Meskipun adiknya sendiri sudah ikhlas serta siap untuk dipoligami.
Para tamu undangan juga sudah hadir memenuhi kediaman keluarga Zaila. Kasha mengantarkan suaminya menuju tempat duduknya. Arshad sudah duduk di tempatnya untuk menjadi wali dari putri kandungnya, Zaila.
"Pak penghulunya belum datang Arshad?" Tanya Rozin ketika sudah duduk di sebelah Arshad.
"Belum Mas, tapi katanya sudah diperjalanan."
"Oh." Ucap Rozin mengakhiri obrolannya.
"Mas aku mau menemui Mbak Zaila ya."
Jevin hanya menganggukkan kepalanya. Wajahnya masih tetap datar. Tidak ada perubahan sama sekali.
❤❤❤
Seorang perempuan cantik dengan balutan baju pengantinnya sedang tersenyum menatap dirinya sendiri yang nampak cantik sekali dengan riasan wajah khas pengantin. Dialah Zaila, perempuan yang paling bahagia di hari ini karena dalam hitungan beberapa menit kedepan ia akan resmi menjadi istri dari seorang laki-laki yang dicintainya.
Tok... tok... tok...
"Iya masuk." Ucap Zaila sembari beranjak dari tempat duduknya untuk melihat siapa yang memasuki kamarnya.
"Kasha."
Kasha begitu takjub melihat Zaila yang hari ini sangat cantik sekali. "Maa syaa Allah, Mbak Zaila cantik sekali, aku jadi pangling lihatnya."
Zaila tersipu malu. "Ah Kasha biasa saja." Jawabnya dengan malu-malu.
"Oh iya Mbak Zaila merasa deg degan nggak?"
Zaila menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Iya Kasha, aku deg-degan banget nih."
Kasha tersenyum simpul. "Sama kak, dulu waktu aku menikah sama Mas Jevin aku juga deg-degan." Ucapnya dengan riang.
Tanpa Kasha sadari ucapannya itu cukup membuat Zaila terdiam. Bahkan senyuman Zaila perlahan memudar.
"Kasha." Zaila meraih kedua tangan Kasha. Menggenggamnya dengan lembut.
Kasha kebingungan. "Ada apa Mbak Zaila?"
"Kasha, aku ingin bertanya sekali lagi sama kamu, tolong kamu jawab yang jujur ya?!." Pinta Zaila dengan serius.
Kasha sempat terdiam. Ia nampak sedang berpikir. Hingga akhirnya ia menganggukkan kepalanya dengan diiringi senyuman termanisnya.
"Kamu yakin siap untuk dipoligami?"
"Kalau kamu berubah pikiran, kita hentikan saja sekarang, selagi acaranya belum dimulai."
Kasha menggeleng cepat. "Mbak Zaila, in syaa Allah aku siap, aku siap untuk dipoligami." Kasha meyakinkan Zaila bahwa ia siap untuk dipoligami.
Zaila dapat menghela napas dengan sangat lega lantaran untuk kedua kalinya Kasha meyakinkan dirinya bahwa Kasha siap untuk dipoligami. Sehingga ia tidak akan pernah merasa bersalah lagi.
Sementara di luar rumah Zaila ada seorang perempuan paruh baya yang anggun dengan balutan pakaian syarinya. Perempuan itu baru saja turun dari mobil online.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah sampai di rumahnya Zaila." Ucapnya seraya malangkah masuk ke dalam rumah keluarga Zaila.
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam."
Rifda dan Lubna menghampiri perempuan paruh baya tersebut. Lubna menatap heran ke arah perempuan yang di hadapannya.
"Mohon maaf saya ingin bertanya, apakah benar ini rumahnya Zaila Alishba?"
"Iya benar ini rumahnya Zaila." Jawab Rifda.
"Dan saya Maminya Zaila, anda siapa ya?." Sambung Lubna.
Perempuan tersebut tersenyum simpul. "Perkenalkan saya Irtiyah, saya pengurus pesantren di Al-hidayah, kedatangan saya ke mari atas undangan dari Zaila."
"Oh kalau begitu mari saya antarkan untuk bertemu Zaila."
"Oh iya terima kasih."
Rifda mengantarkan Irtiyah menuju kamar Zaila. Sesampainya di depan kamar Zaila mereka berpapasan dengan Kasha yang baru saja keluar dari kamar Zaila.
"Kasha, Zaila ada di dalam kan?"
"Oh iya ada Ma."
"Ini ada Ibu Irtiyah yang ingin bertemu dengan Zaila." Ucap Rifda sembari memperkenalkan Kasha kepada Irtiyah.
"Assalaamu 'alaikum." Ucap salam Irtiyah sebagai tanda perkenalnya dengan Kasha.
"Wa 'alaikumus salaam." Jawab Kasha dengan tersenyum ramah.
"Kalau begitu biar saya yang panggilkan Zaila."
Kasha kembali masuk ke dalam kamarnya Zaila. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan Zaila.
"Ustadzah Irtiyah." Zaila gembira sekali melihat Irtiyah kini berada di hadapannya.
"Assalaamu 'alaikum Zaila."
"Wa 'alaikumus salam Ustadzah."
"Kalau begitu kami pamit ke bawah dulu ya Ibu Irtiyah." Pamit Rifda.
"Oh iya silakan."
"Ayo Kasha kita ke bawah."
Rifda dan Kasha sudah kembali ke lantai bawah. Irtiyah sempat memperhatikan Kasha. Hingga akhirnya ia kembali menatap Zaila.
"Perempuan yang sedang hamil itu siapa Zaila?, bukannya kamu tidak mempunyai saudara?" Tanya Irtiyah penasaran dengan sosok Kasha. Karena setahu dia Zaila adalah anak tunggal. Waktu di pesantren Zaila menceritakan kepadanya.
"Oh itu namanya Kasha Ustadzah, Kasha itu istri pertamanya calon suami saya." Zaila memberitahukan status Kasha secara detail kepada Irtiyah.
Irtiyah terkejut. "Istri pertama?." Tanya Irtiyah kebingungan.
Zaila mengangguk. "Iya Ustadzah, kalau begitu ayo masuk Ustadzah saya ceritakan di dalam saja."
Zaila mengajak Irtiyah untuk masuk ke dalam kamarnya. Ia ingin menceritakan sesuatu hal kepada Ustadzah yang telah membimbingnya di pesantren waktu itu.
Sementara di lantai bawah, acara akad nikahnya akan segera dimulai. Penghulu baru saja tiba dan segera menduduki tempat duduk yang telah disediakan untuknya.
Kasha yang duduk di tempat duduk tamu perempuan tidak kuasa menahan air matanya yang terjatuh. Ia langsung menghapusnya dengan cepat. Untung saja semua orang termasuk Mama mertuanya fokus menatap ke arah penghulu yang baru saja datang. Sehingga ia tidak ketahuan jika baru saja menangis.
"Apakah acaranya bisa dimulai sekarang?." Tanya Penghulu kepada Jevin, Arshad dan Rozin.
"Silakan Pak penghulu." Ucap Arshad mempersilakan Penghulu untuk memulai akad nikahnya.
Air mata sudah menggenang di kedua matanya. Sekuat tenaga Kasha menahannya namun air mata itu berhasil menetes. Membasahi kedua pipinya. Kasha terkejut ketika mendapati kedua bahunya sedang dielus oleh Mama mertuanya.
"Menangis saja Kasha, nggak usah ditahan." Ucap Rifda yang sudah lebih dulu menangis.
Kasha mencoba untuk tetap tegar. Namun air matanya tetap saja mengalir. Tidak bisa ia tahan lagi.
"Ya Allah kuatkan aku, aku nggak ingin terlihat sedih di hari bahagia ini." Tutur Kasha dalam hati.
Kini Jevin sudah menjabat tangan Arshad untuk memulai akad nikahnya.
"Silakan dimulai Pak Arshad." Ujar Penghulu mempersilahkan Arshad memulai akad nikahnya.
"Bismillahirrohmaanirrohiim."
"Saudara Jevin Alhusyn, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, dengan putri kandung saya yang bernama Zaila Alishba binti Ahmad Arshad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tu-nai."
"Saya terima nikah dan kawinnya-"
"Hentikan!!!"
Semua mata langsung tertuju ke arah sumber suara. Jevin ikut menoleh ke arah seorang perempuan berbaju pengantin yang tidak lain adalah Zaila.
__ADS_1
"Mbak Zaila." Kasha terkejut melihat Zaila menghentikan akad nikahnya sendiri.
Zaila menghapus air matanya. "Hentikan pernikahan ini!." Ujarnya dengan lantang.
Kasha langsung bergegas menghampiri Zaila. "Mbak Zaila, ada apa?." Tanya Kasha kebingungan.
Zaila menatap Kasha dengan rasa bersalah. Sangat bersalah. Air matanya menetes begitu saja.
Perlahan Zaila meraih kedua tangan Kasha. Ia menggenggamnya dengan lembut. "Kasha, aku minta maaf, aku sudah berdosa sama kamu, aku berdosa sama kamu Kasha." Isak tangis Zaila memecahkan keheningan.
Semua para tamu undangan terdiam seperti patung. Sama halnya dengan Jevin yang memperhatikan Zaila sedang meminta maaf kepada Kasha. Dengan deraian air mata.
"Maksud Mbak Zaila apa?." Kasha tidak mengerti akan ucapan Zaila.
"Kasha, Ustadzah Irtiyah menyadarkan aku, beliau menyadarkan aku tentang dosa seorang perempuan yang merebut suami perempuan lain." Ucap Zaila dengan linangan air mata.
"Aku berdosa karena sudah merusak rumah tangga kamu dengan Jevin, aku berdosa karena sudah menjadi perempuan perebut suami orang, tolong maafkan aku Kasha, aku mohon, maafkan aku." Zaila mengakui kesalahan terbesarnya. Ia mengakui bahwa perbuatannya telah menghasilkan dosa yang besar.
"Iya Mbak Zaila, aku sudah memaafkan Mbak."
Zaila sedikit tenang karena Kasha mau memaafkan kesalahannya. "Terima kasih Kasha, terima kasih banyak."
Kasha menganggukkan kepalanya. Ia menangis tidak tega melihat Zaila sangat merasa bersalah kepadanya.
"Jadi bagaimana ini, apakah pernikahannya akan dilanjutkan?." Tanya Penghulu meminta kejelasan karena ia masih memiliki tanggung jawab untuk menikahkan beberapa orang lagi.
"Dihentikan, pernikahan ini dihentikan." Ujar Zaila mengeraskan suaranya.
"Silakan kalian semua meninggalkan tempat ini karena acara sudah selesai."
Para tamu undangan beserta penghulu langsung bergegas meninggalkan tempat. Mereka bersorak lantaran kecewa tidak jadi makan enak di acara pernikahan yang tiba-tiba dihentikan begitu saja.
Kini di rumah Zaila tersisa keluarga mereka saja serta Irtiyah yang tadi mendampingi Zaila keluar dari kamarnya.
"Kasha, hanya kamu istri satu-satunya Jevin, hanya kamu perempuan satu-satunya yang Jevin cintai, aku sudah nggak mencintai Jevin lagi, karena yang berhak mencintai Jevin hanya kamu, istrinya."
Zaila menoleh ke arah Jevin, mengisyaratkan kepada Kasha untuk menemui Jevin, kekasih halalnya.
Perlahan Kasha mulai melangkahkan kakinya. Menghampiri Jevin yang masih terdiam di posisinya.
Sementara Zaila langsung berhampur kepelukan Mami dan Papinya. Ia menangis dipelukan kedua orang tuanya. Ia menangis bukan karena sedih melainkan ia menangis karena bahagia.
Kini Kasha sudah berada di hadapan Jevin. Matanya berbinar-binar. Mengisyaratkan bahwa ia sangat mencintai laki-laki d ihadapannya.
Begitu juga dengan Jevin. Ia menatap perempuan di hadapannya dengan penuh cinta. Cinta yang semakin lama semakin membesar. Seperti perut sang istri yang juga membesar.
"Mas."
"Sayang."
Jevin dan Kasha langsung saling berpelukan. Pelukan yang sangat erat. Tangisan Kasha semakin nyaring terdengar. Jevin ikut meneteskan air mata. Ia bersyukur karena tidak jadi membagi cintanya dengan perempuan lain. Karena cintanya hanya untuk istrinya seorang.
"Aku mencintaimu Mas."
"Mas juga mencintaimu Sayang."
Pelukan mereka semakin erat. Cukup lama. Hingga akhirnya mereka menyudahinya. Dengan diakhiri Jevin mencium mesra kening istrinya, Kasha.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Assalaamu 'alaikum warohmatullah wabarokaatuh
Alhamdulillah Ukhfira kembali menyapa kalian semuaaaa
👋👋👋
Tentunya dengan part terbaru lagi
Alhamdu...
Lillah...
Bagaimana dengan part ini???
Feelnya dapat nggak???
Bisalah ya menebus kekesalan kalian di part sebelumnya
😂😂😂
Ukhfira terharu nih
melihat Jevin&Kasha akhirnya mesra kembali
Tentunya tanpa ada gangguan lagi
🤗🤗🤗
Sampai bertemu di part selanjutnya
__ADS_1
👋👋👋
Wassalaamu 'alaikum warohmatullah wabarokaatuh