Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
23. Penebar Hidayah


__ADS_3

Assalamualaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


Setelah melalui perjuangan yang cukup berat akhirnya Jevin dapat menaklukan puasa sunnah senin kamis. Ia sudah dapat merasakan apa yang Haziq rasakan ketika berpuasa sunnah, yaitu biasa saja dan tidak merasa terbebani bahkan Jevin mulai menikmatinya. Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa beribadah itu harus dipaksa meskipun mengerjakannya dengan terpaksa namun lama kelamaan pasti akan menjadi terbiasa sama halnya dengan yang dialami Jevin saat ini. Ia sudah terbiasa berpuasa sunnah bahkan sudah menjadi kebiasannya,  tentunya berkat dukungan dan doa sang istri tercinta, Kasha.


Kini lengkap sudah rangkaian ibadah Jevin. Dari sholat fardhu berjama'ah di masjid, menjaga sholat sunnah tahajjud dan dhuha juga menjalankan puasa senin dan kamis. Jevin sendiri berharap semoga bukan hanya diawal-awal ia bersemangat menjalani rangkaian ibadah tersebut, Jevin berharap dapat seterusnya bersemangat untuk mendekatkan diri kepada Allah, menjadikan dirinya sebagai hamba yang beriman dan sungguh-sungguh.


❤❤❤


Disaat yang lain sedang istirahat di waktu malamnya yang sudah menuju larut malam, berbeda halnya dengan Jevin yang sedang merenung di atas ranjangnya sembari menatap kepada secarik kertas yang berada di tangannya.


Kasha keluar dari kamar mandi. Kemudian menaiki ranjang untuk bergabung dengan Jevin untuk mengistirahatkan tubuhya yang sudah seharian telah beraktivitas.


"Lho Mas kok belum tidur?, Mas sedang memikirkan apa?" Kasha menyadari bahwa saat ini sang suami sedang memikirkan sesuatu hal yang tidak Kasha ketahui.


"Ini Sayang, rencananya besok itu Mas mau mengumpulkan semua karyawan Mas. Mas ingin umumkan kalau sekarang ada kebijakan baru."


"Kebijakan baru?." Tanya Kasha tak mengerti.


Jevin menyodorkan secarik kertas itu kepada Kasha. Lalu Kasha meraihnya sekaligus membacanya. Di kertas itu tertera :


Kebijakan terbaru perusahaan Alhusayn, antara lain :



Shalat fardhu berjama'ah di masjid (laki-laki)


Shalat sunnah dhuha (semua)


Puasa sunnah senin & kamis (semua)


Celana cingkrang + berjenggot (laki-laki)


Menutup aurat/berhijab (perempuan)



"Kira-kira pendapat Sayang bagaimana tentang kebijakann itu?, Sayang setuju?"


Dengan penuh yakin Kasha menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyuman dan berdecak kagum kepada suaminya. Kasha tidak menyangka suaminya memiliki keinginan untuk mengajak seluruh  karyawannya kepada kebaikan. Kembali kepada Allah, menjadi hamba yang beriman seutuhnya.


"Maa syaa Allah aku setuju banget Mas, semoga saja dengan kebijakan ini semua karyawan Mas bisa menyeimbangkan antara mengejar urusan dunia dengan mengejar urusan akhirat."

__ADS_1


Jevin bernapas lega lantaran sang istri mendukung penuh langkah yang akan diambilnya. Namun Jevin merasa masih ada yang mengganjal di hatinya. Dan ia harus mengutarakan kepada Kasha agar rasa ganjal itu segera memudar.


"Tapi Sayang, apa ini nggak berlebihan, bagaimana kalau mereka nggak setuju, dan pastinya nantinya mereka melakukannya secara terpaksa karena patuh kepada kebijakan, bukan keinginan mereka sendiri."


Disisi lain Jevin khawatir, takutnya para karyawannya tidak setuju dengan kebijakan itu dan lebih parahnya lagi Jevin takut menanggung dosa karena telah memaksa seluruh karyawannya untuk beribadah kepada Allah.


"Mas, Mas itu kan pemilik perusahaan dan kebijakan ini kan dari Mas, mau nggak mau karyawan Mas pasti akan mematuhi kebijakan ini."


"Dan nggak masalah kalau nantinya mereka melakukannya secara terpaksa. Ibadah itu kan harus dipaksa dulu. meskipun nantinya mereka melakukannya dengan terpaksa in syaa Allah lambat laun mereka akan menjadi terbiasa bahkan bisa jadi mereka menganggap ibadah adalah sebuah kebutuhan."


Jevin yang mendengar masukan dari sang istri mulai memudar rasa khawatirnya. Menjadi lega dan semakin mantap untuk memberikan kebijakan baru kepada para karyawannya.


"In sya Allah Mas akan dapat pahala karena mengajak semua karyawan Mas untuk beribadah kepada Allah. Mas adalah penebar hidayah bagi mereka."


"Dan Sayang adalah penebar hidayah bagi Mas."


Kasha tersenyum, membalas senyuman Jevin yang lebih dulu tersenyum kepadanya.


Dalam hati Kasha bersyukur karena kini Allah telah membuka pintu hati suaminya selebar-lebarnya. Menjadikan dirinya bermanfaat bagi yang lainnya. Menebarkan hidayah untuk mengajak di sekelilingnya kepada kebaikan. Kembali kepada Allah. Menjadi hamba yang beriman seutuhnya. Alhamdulillah.


❤❤❤


Hari ini di pagi yang cerah Jevin sengaja mengumpulkan seluruh karyawannya di aula yang sudah disediakan di perusahannya yang megah nan luas. Ada pengumuman penting yang akan Jevin umumkan kepada bawahannya. Semua karyawannya pun saling bertanya-tanya karena tidak biasanya Bos mereka mengumpulkan mereka.


"Assalaamu 'alaikum warohmatullah wabarokaatuh."


"Wa 'alaikumus salaam warohmatullah wabarokaatuh."


Semua karyawan pun saling bertanya-tanya. Hingga kemudian kembali fokus kepada Jevin yang sudah memegang beberapa kertas yang kemudian dibagikan kepada karyawannya untuk dibaca. 


Usai memastikan seluruh karyawannya membaca secarik kertas yang isinya kebijakan terbaru di perusahannya, Jevin kembali angkat bicara untuk menjelaskan kebijakan itu agar lebih jelas.


"Saya sudah memutuskan dengan sangat matang untuk menetapkan kebijakan terbaru di perusahaan ini. Dan saya harap kalian bersedia mematuhinya."


Arfan yang berada dibarisan para karyawan langsung berdecak kagum usai membaca kebijakan baru yang ditetapkan oleh Jevin, sang Bos. Arfan senang bukan main lagi. Karena akhirnya di tempatnya bekerja ini tidak hanya menomorsatukan pekerjaan namun juga menomorsatukan ibadah. Arfan jadi bersyukur karena bekerja di tempat yang benar.


Sementara karyawan yang lainnya beberapa ada yang kurang setuju. Dan dari raut wajah mereka pun bermacam-macam. Ada yang nampak senang seperti Arfan, ada juga yang nampak keberatan dengan raut wajahnya yang datar.


"Siapa yang tidak setuju silakan angkat tangan dan sertakan alasannya."


Beberapa karwayan yang nampak tidak setuju pun akhirnya angkat tangan. Entah mengapa ada yang tidak setuju padahal qodarullah seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan Alhusayn beragama Islam. Lalu hanya satu orang saja yang angkat bicara untuk mewakilkan pendapat karwayan yang lain agar suasana tetap tenang. Itulah yang Jevin ajarkan kepada para karyawannya agar nantinya tidak terjadi kericuhan.


"Mohon maaf Pak, sebagian dari kami kurang setuju, karena ibadah itu kan masalah pribadi, jadi tidak seharusnya diikut campurkan dengan perkerjaan, dan bukannya kalau ibadah itu tidak boleh dipaksakan."


Jevin menghela napas sejenak untuk tetap menstabilkan suasana hatinya agar tetap tenang dan tidak terbawa amarah karena beberapa karyawannya ada yang tidak setuju dengan kebijakan yang akan diberlakukan di perusahannya.


"Baik saya hargai pendapat kalian yang tidak setuju dengan kebijakan yang akan saya berlakukan. Saya bukannya mengikut campurkan antara ibadah dengan pekerjaan, tapi saya ingin menyeimbangkan antara ibadah dengan pekerjaan. Saya tidak ingin berdosa karena membiarkan karyawan saya hanya fokus dengan pekerjaannya saja dan melalaikan ibadahnya. Bukankah seharusnya kita menyeimbangkan antara urusan dunia dengan urusan akhirat, bukan begitu?"


"Setuju Pak." Arfan angkat bicara. Setuju akan penjelasan Jevin yang tepat sekali. Luar biasa sekali Bosnya ini.

__ADS_1


Perlahan beberapa karyawan yang tadinya kurang setuju langsung mengangguk-anggukkan kepala seakan mulai menerima dan menyetujui kebijakan yang akan diberlakukan kepada mereka.


"Dan untuk masalah ibadah yang dipaksakan, memang ibadah itu tidak baik jika dipaksakan. Tapi dari pengalaman saya sendiri dan menurut saya juga ibadah itu memang harus dipaksakan terlebih dahulu, setelah itu kita memang melakukannya dengan terpaksa tapi lama kelamaan akan terbiasa dan menjadi suatu kebiasaan hingga akhirnya ibadah bisa menjadi kebutuhan untuk kita yang statusnya adalah seorang hamba."


Semua karyawan saling mengangguk dan satu demi satu bersahutan saling menyetujui atas kebijakan yang diberlakukan oleh Bos mereka. Dan jika dipikir-pikir juga kebijakan itu tidak memberatkan dan seharusnya mereka bersyukur karena di tempat mereka bekerja dapat menyeimbangkan antara kerja dengan ibadah sementara perusahaan lain di luaran sana belum tentu menetapkan kebijakan yang mengajak kepada kebaikan serta mendatangkan pahala.


"Alhamdulillah kalau kalian semua setuju. Satu hal lagi yang harus kalian ketahui, saya memberlakukan kebijakan ini semata-mata untuk kebaikan kita semua. Dan saya ingatkan kepada kalian bahwa pekerjaan bukan alasan untuk melalaikan ibadah kita kepada Allah. Tetaplah menomorsatukan Allah diatas segalanya, agar pekerjaan kita juga mendapat berkah dari Allah."


Melihat semua karyawannya mengangguk patuh atas wejangannya yang cukup serius itu, Jevin kemudian mengakhiri pertemuannya kali ini. Lalu mempersilakan para karyawannya untuk bubar dan kembali pada pekerjaannya masing-masing.


Disaat Bosnya beserta karyawan yang lainnya sudah kembali ke ruangannya masing-masing, Arfan dan kedua teman seprofesinya itu belum meninggalkan tempat. Mereka seakan masih tidak percaya bahwa sang Bos kini sudah berubah menjadi lebih baik bahkan tidak segan-segan mengajak para karyawannya kepada kebaikan. Patut diacungi jempol.


"Maa syaa Allah, Bos kita memang the best ya, beliau mengajak kita kepada kebaikan." Ucap Arfan kepada teman-temannya dengan kekaguman yang kian bertambah kepada Jevin.


"Iya Fan, alhamdulillah ya sekarang Pak Jevin sudah memberlakukan kebijakan yang memprioritaskan ibadah, jadi kita nggak akan keteteran lagi soal ibadah dan nggak ganggu pekerjaan juga."


"Iya benar banget, tapi aku heran, Pak Jevin bisa berubah seperti ini, penyebabnya apa ya?, ya aku tahu Allah yang sudah membukakan pintu hatinya tapi apa atau siapa perantaranya?"


Arfan tersenyum. Seakan mengetahui jawaban dari pertanyaan dari salah satu rekan kerjanya itu.


"Perantaranya adalah Kasha, istrinya Pak Jevin. Kasha adalah perempuan yang sholihah, jadi nggak heran kalau Pak Jevin bisa berubah menjadi lebih baik seperti ini."


"Oh jadi perantaranya itu istrinya Pak Jevin, berarti istrinya Pak Jevin itu berpengaruh sekali ya terhadap kehidupan Pak Jevin."


Arfan menimpali. "Iya kurang lebih seperti itu. Memang benar apa yang dikatakan orang-orang, dibalik kesholihan seorang laki-laki ada seorang perempuan sholihah yang mendampinginya."


Kedua rekan kerja Arfan langsung menyetujui ucapan Arfan dengan kompaknya.


"Benar itu Fan, lo juga begitu kan, istri lo juga sholihah."


"Iya, makanya kalian para jomblo nih, cari calon istri itu yang sholihah, bukan yang cantik saja. Apalagi anak-anak yang sholih dan sholihah itu terlahir dari ibu yang sholihah."


"Bener banget Fan, gue memang cari istri yang sholihah biar anak-anak gue sholih dan sholihah juga."


Arfan bersyukur karena kedua rekan kerjanya yang masih berstatus para jomblo itu dapat menerima masukan darinya yang membahas tentang istri sholihah. Arfan berharap kedua rekan kerjanya itu tidak hanya mencari calon istri yang cantik tapi juga yang sholihah. Karena jika yang cantik akan kalah dengan para bidadari beranda sementara yang sholihah justru para bidadari syurga akan iri kepadanya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Alhamdulillah Ukhfira dapat menyapa para Readers kembali


Alhamdulillah masih diberi keluangan waktu sama Allah untuk menebarkan manfaat di lapak ini


Jangan lupa usai membaca manfaatnya dibungkus ya


Dan jika bermanfaat bagikan juga ke teman-teman kalian supaya pahalanya mengalir untuk bekal di akhirat nanti


Sampai kembali bersapa ria di part selanjutnya readersss

__ADS_1


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2