
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Jam makan siang akan tiba dalam 15 menit kemudian. Jevin sedang sibuk di ruangannya namun seketika itu ia melirik jam dipergelangan tangannya. Seketika senyuman merekah di wajahnya padahal yang Jevin tatap hanya benda berbentuk lingkaran bukannya seorang perempuan cantik. Entah apa penyebab senyuman itu muncul hanya Jevin-lah yang mengetahuinya.
Usai menatap jam di pergelangan tangannya sejenak, Jevin beranjak dari tempat duduknya lalu bergegas keluar dari ruangannya. Bukan hanya keluar dari ruangannya saja namun juga keluar dari perusahaannya.
"Biasanya jam segini sudah datang." Ucap Jevin kepada dirinya sendiri.
Tidak seperti biasanya Jevin berdiri seorang diri di teras besar perusahaannya. Namun ia bela-belain berdiri di sana untuk menunggu kedatangan seseorang yang hanya Jevin sendiri yang mengetahuinya lagi.
Sebuah mobil berhenti tepat di halaman perusahaan Alhusayn, tepat di hadapan Jevin yang seketika kedua bola matanya memancarkan sinar yang berbinar-binar.
Pintu mobilnya pun terbuka dan menampilkan sosok Nufael keluar dari mobil itu kemudian disusul seorang perempuan muslimah yang anggun dengan pakaian syar'inya dialah Kasha yang saat ini sedang menemani Abangnya mengantarkan pesanan catering ke perusahaan Alhusayn setelah kemarin sempat tidak ikut menemani Nufael karena merasa risih dipandang oleh seorang laki-laki yang tidak lain adalah Jevin.
Nufael dan Kasha segera bergegas masuk ke dalam perusahaan Alhusayn tentunya dengan menenteng kantong besar pesanan cateringnya. Namun sesampainya di pintu masuk Nufael berpapasan dengan Jevin yang saat ini sudah menebarkan senyuman ramah kepada Nufael juga kepada Kasha. Namun Kasha hanya memandangnya sekilas kemudian sedikit menundukkan pandangannya ke bawah.
"Pak Jevin?, Pak Jevin sedang apa?"
"Sedang menunggu kalian" Ujar Jevin dalam hati.
"Oh ini saya sedang mencari angin saja, di dalam panas." Ucap Jevin beralasan.
Nufael sedikit bingung. "Lho bukannya di dalam ada ACnya ya Pak Jevin?"
Jevin salah tingkah. "Oh iya sih, cuma itu kan angin buatan saya butuh angin alami, makanya saya keluar." Jevin sedikit lega karena berhasil mencari alasan yang masuk akal.
Nufael hanya ber-o saja. Kemudian Nufael tersadar bahwa ia harus segera membawa makanan-makanan cateringnya ke dalam karena jam makan siang akan segera tiba.
__ADS_1
"Kalau begitu kami izin masuk dulu ke dalam ya Pak."
"Oh iya silakan."
Dengan sigap Jevin langsung mempersilahkan Nufael untuk masuk ke dalam begitu juga dengan Kasha. Tatapan mata Jevin tidak hentinya terpanah ke arah wajah Kasha yang masih menunduk sejak tadi.
Kasha mulai melangkah masuk ke dalam untuk menyusul sang Abang sekaligus melewati Jevin yang seakan tidak dapat memalingkan pandangannya ke arah Kasha. Bahkan saat Kasha berjalan melewatinya dada Jevin berdebar-debar, lebih tepatnya debaran cinta yang kini mulai menyapa. Senyuman manis di wajah laki-laki 30 tahun itu mengembang bagaikan bunga mawar yang sedang merekah. Tubuh Jevin seakan begetar ketika memandang Kasha. Inikah yang dinamakan getaran cinta?, iya!, tanpa ragu lagi Jevin langsung membenarkannya.
"Aku nggak bisa membohongi diriku sendiri, saat ini aku sedang jatuh cinta sama Kasha." Ungkapnya di dalam hatinya yang mulai tumbuh benih-benih cinta.
Usai menetralkan kembali jantungnya yang berdetak cepat karena cinta, Jevin pun ikut masuk ke dalam perusahaannya untuk segera makan siang karena makanan cateringnya telah sampai. Bahkan diantarkan langsung oleh seorang perempuan yang baru saja berhasil mencuri hatinya.
Jevin telah sampai di ruangan khusus untuk para karyawannya makan siang. Di sana masih sepi hanya ada Nufael dan Kasha yang sedang mengeluarkan kotak-kotak makanan dari kantong besar yang dibawa oleh mereka. Jevin melangkah menghampiri Kasha. Kasha tersadar bahwa saat ini di hadapannya sedang ada seorang laki-laki yang tadinya sempat tidak sengaja dilihatnya, lebih tepatnya saat laki-laki itu masuk ke ruangan tersebut.
"Saya boleh minta satu porsi makanannya?"
Kasha terdiam sejenak. Tidak tahu harus berbuat apa. Jujur ini pertama kalinya Kasha berurusan dengan seorang laki-laki. Bahkan saat ini laki-laki itu berada di depan matanya langsung. Kasha gugup, salah tingkah dan yang lainnya. Kasha adalah perempuan yang selama ini menutup diri dari berhubungan dengan lawan jenis. Maka tidak heran bila saat ini Kasha tidak tahu harus berbuat apa. Padahal Jevin hanya meminta Kasha untuk memberikan satu kotak makanan saja bukan meminta Kasha untuk menjadi istrinya.
Nufael tersenyum melihat adiknya terdiam saja. Nufael menyadari bahwa saat ini adiknya sedang grogi karena berhadapan langsung dengan seorang laki-laki asing. Karena sebelumnya Kasha memang tidak pernah berhadapan langsung dengan seorang laki-laki asing manapun.
"Kasha, tolong berikan satu porsi makanannya untuk Pak Jevin."
"Terima kasih, Ka-kasha." Ucap Jevin seramah mungkin.
Kasha hanya mengangguk pelan kemudian kembali ke aktivitas sebelumnya yaitu mengeluarkan satu persatu kotak makanan dari kantong besar ke meja besar yang ada di ruangan tersebut.
Sebenarnya Jevin masih ingin berlama-lama berada di ruangan itu. Lebih tepatnya masih ingin berlama-lama menatap wajah meneduhkan milik seorang perempuan yang telah berhasil menyalakan api cinta di hatinya. Namun Jevin sadar diri bahwa kehadirannya akan menganggu Kasha saja. Akhirnya dengan berat hati Jevin keluar dari ruangan itu.
Kasha langsung menghela napas sangat lega. Karena laki-laki asing itu sudah pergi. Jujur saja Kasha sangat terganggu dengan kedatangan Jevin yang tadinya jaraknya begitu dekat dengannya. Laki-laki itu benar-benar tidak mengetahui batasan antara laki-laki dan perempuan. Kasha semakin kurang suka dengan laki-laki seperti itu. Kasha pun langsung menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak memikirkan tentang laki-laki itu lagi.
❤❤❤
Sesampainya di rumah, Jevin masih teringat saja akan wajah meneduhkan yang selalu membuatnya ingin terus memandanginya. Bagi Jevin sinar rembulan di langit yang gelap malam ini kalah dengan sinar wajah Kasha. Namanya juga Jevin sedang jatuh cinta pastilah akan selalu memuja dan memuji kecantikan wajah seorang perempuan yang dicintainya.
"Kasha bukan perempuan yang sembarangan, dia adalah mutiara yang berharga, beruntungnya laki-laki yang akan menjadi suaminya, dan aku harus menjadi laki-laki beruntung itu, iya, aku harus melamar Kasha, aku harus menjadikan Kasha sebagai istriku."
__ADS_1
Jevin membulatkan tekadnya untuk menjadikan Kasha ratu di hatinya, yang akan mengisi kekosongan hatinya yang sudah kosong bertahun-tahun lamanya. Bahagianya Jevin bila mendapatkan istri seperti Kasha. Jevin harus mewujudkan keinginannya. Jevin harus segera melamar pujaan hatinya. Cinta Jevin kepada Kasha bukan hanya cinta isapan jempol belaka melainkan cinta yang harus didapatkan. Meskipun sangat cepat sekali cinta itu datang dan singgah di hatinya namun tidak ada keraguan sama sekali bagi Jevin untuk secepatnya mempersunting perempuan yang menurutnya bagaikan mutiara berharga.
"Aku berjanji, setelah nanti aku menikah dengan Kasha aku akan memperbaiki hidupku, aku akan memperbaiki ibadahku kepada Tuhan."
Itulah janji Jevin yang saat ini ia pegang erat-erat. Jevin percaya hidupnya akan bahagia bila menikah dengan Kasha. Maka dari itu Jevin berniat akan memperbaiki dirinya setelah mendapatkan Kasha. Setelah menjadikan Kasha sebagai istrinya. Itu sebagai bentuk terima kasih Jevin kepada Tuhannya karena telah menjadikan Kasha miliknya seutuhnya.
❤❤❤
Di keheningan malam. Kasha menikmati indahnya panorama alam yang disuguhkan oleh sinar terang rembulan serta kilauan bintang yang menghiasi langit gelap yang sedang berwarna hitam pekat. Kedua bola mata itu bersinar tak kalah indahnya dengan sinar rembulan dan cahaya para gugus bintang. Kasha sangat suka berdiam diri menatap indahnya bulan dan bintang. Maklum namanya juga orang pendiam pasti menyukai suasana yang hening dan kurang menyukai suasana yang bising.
"Kasha."
Seorang laki-laki keluar dari rumahnya kemudian menghampiri Kasha yang sedang duduk di teras rumah. Dialah Nufael, Abang Kasha yang saat ini sudah duduk disamping sang Adik.
"Bulannya cantik ya."
Kasha mengangguk setuju atas ucapan Nufael yang saat ini ikut serta memandangi rembulan yang sedang berada di singgasananya.
"Seperti kamu."
Wajah Kasha tampak merah merona. Sang Abang berhasil membuatnya tersipu malu dengan pujian yang baru saja dilontarkannya.
"Abang." Ucap Kasha dengan manjanya.
Nufael tersenyum melihat sang Adik sedang tersipu malu. Adiknya ini begitu polos bagi Nufael. Bahkan tanpa tersadar Nufael menjadi teringat akan kejadian tadi siang saat sang Adik tampak gugup berhadapan langsung dengan Jevin, seorang laki-laki asing di mata Kasha.
"Oh iya ngomong-ngomong Adik Abang sekarang sudah dewasa ya, sudah umur 25 tahun. Sudah layak untuk menikah, menjadi seorang istri dan juga seorang ibu. Kasha sudah siap kan menjadi seorang istri dan seorang ibu?"
Kasha terkejut sekali. Abangnya tiba-tiba membahas tentang dirinya yang sudah berumur 25 tahun dan sudah layak untuk menikah, untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu. Mengenai salah satu ibadah terlama ini sejujurnya Kasha memang sudah mempersiapkan diri sejak dulu. Namun apa daya jodohnya juga belum kunjung datang menjemputnya namun Kasha tidak berkecil hati. Kasha berpikir bahwa Allah belum menilainya siap untuk menjadi seorang istri makanya sampai saat ini Allah belum mendatangkan jodohnya. Dan masalah umur itu bukan tolak ukur seseorang untuk segera menikah melainkan kesiapan diri dan mentalnya serta kesiapan ilmu agama tentang rumah tangga menurut syariat Islam, itu yang terpenting bagi Kasha.
"In syaa Allah, Kasha siap menjadi seorang istri dan seorang Ibu Bang."
Nufael menghela napas lega serta bersyukur karena sang Adik telah mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang istri sekaligus seorang Ibu karena baik Nufael maupun Kasha tidak pernah tahu kapan jodoh Kasha akan datang. Sehingga jika jodoh Kasha sudah datang maka Kasha juga sudah siap untuk menjadi seorang istri dan seorang Ibu yang sholihah sesuai yang diajarkan agama Islam.
"Alhamdulillah kalau Kasha sudah siap, Abang ikut lega dengarnya, dan Abang doakan semoga jodoh Kasha adalah laki-laki yang sholih, laki-laki yang baik yang bisa membimbing Kasha untuk lebih dekat kepada Allah, ya paling tidak yang seperti Abang, hmmm."
__ADS_1
Kasha mengaminkan doa yang dipanjatkan oleh Nufael untuk dirinya. Kasha pun sempat terkekeh geli ketika sang Abang dengan percaya dirinya mengatakan bahwa paling tidak jodoh Kasha adalah laki-laki sholih dan baik seperti dirinya.
Setiap Abang pasti akan mendoakan yang terbaik untuk adiknya tak terkecuali perihal jodoh, begitupun Nufael. Bagi Nufael saat ini Kasha adalah tanggung jawabnya dan Nufael juga adalah walinya yang artinya Nufael bertanggung jawab untuk memastikan nantinya Kasha akan menikah dengan laki-laki yang sholih yang bisa membimbing Kasha untuk menjadi perempuan yang semakin dekat dengan Robbnya.