Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
14. Alhamdulillah


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


🤗🤗🤗


Kedua mata Rifda tidak berkedip sejak tiga menit yang lalu, sejak kedatangan seseorang yang saat ini sedang berdiri di hadapannya, dialah Jevin yang kadar ketampanannya yang haqiqi kian bertambah drastis. Rifda memperhatikan sang putra dari bawah hingga atas. Baju taqwa, sarung serta kopyah hitam yang melekat pada tubuh Jevin membuat Rifda berdecak kagum kepada putra semata wayangnya. Ini pertama kalinya Rifda melihat Jevin berpakaian seperti itu. Meskipun terlihat aneh tetapi pakaian itu melambangkan busana Islami dan Rifda hanya melihat seorang laki-laki di luaranan sana yang memakai seperti itu, namun kini tepat di hadapan matanya, Rifda melihat sang putra sedang memakai busana muslim tersebut.


"Je-Jevin."


"Jevin anak Mama ganteng banget sih pakai baju ini, Mama sampai pangling lho." Rifda memuji ketampanan sang putra sambil sesekali mengelus lembut pipi Jevin.


Jevin tersenyum dan sesekali membenarkan kopyahnya. "Iya dong Ma, Mama Jevin kan cantik badai, makanya Jevin ganteng berlapis-lapis dong."


"Bisa saja kamu ya buat Mama meleleh."


"Oh iya Ma, Papa ke mana ya?" Jevin menanyakan keberadaan sang Papa yang tidak terlihat oleh kedua sorot matanya.


"Papa?"


"Papa di sini."


Ibu dan anak yang sedang mencari suami atau papanya itu seketika dengan kompaknya menoleh ke arah sumber suara yang berada tepat di belakang mereka. Tatapan keduanya pun tertuju kepada seorang laki-laki paruh baya yang sedang membetulkan kopyah yang dipakainya. Rozin nampak kurang percaya diri dengan busana muslim yang dipakainya.


"Papa?" Rifda seakan tidak mempercayai bawah di hadapannya itu adalah suaminya tercinta.


"Bagaimana Ma, Papa sudah ganteng maksimal belum?"


Jevin terkekeh melihat sang Papa sedang berjalan ke arah dirinya dan Mamanya sambil menampilkan wajah tampannya yang katanya maksimal.


Rifda mengulas senyuman yang lebar, kemudian mengacungkan kedua jempolnya seraya mengangguk-anggukkan kepala untuk menyetujui pertanyaan suaminya itu.


"Ya sudah Pa, kalau begitu kita berangkat sekarang saja ya Pa, biar bisa dengerkan khutbahnya dari awal."


"Ayo."


"Mama kita ke masjid dulu ya."


"Iya dua Pangeran tampanku, semangat sholat jum'atnya ya."


"Siap Bidadari cantikku." Ucap Rozin dan Jevin secara serentak.


"Mama jangan lupa sholat dzuhur juga ya."


"Siap Pangeran mudaku."


Jevin terkekeh melihat sang mama memberikan hormat kepadanya seakan sedang hormat kepada ketua upacara saja.


Kini sepasang ayah dan anak tersebut keluar dari rumahnya untuk meleburkan kewajibannya sekaligus lebih dekat kepada Tuhannya yaitu melaksanakan sholat jum'at yang mana wajib bagi seorang muslim, layaknya sholat fardhu, bahkan di hari jum'at sholat dzuhur bagi para pria muslim gugur lantaran sudah diganti dengan sholat jum'at.


"Alhamdulillah, akhirnya keluargaku utuh kembali, terima kasih ya Allah, suami dan anakku telah menjadi seorang muslim yang taat beragama."


Tiada ucapan syukur bagi Rifda. Menurutnya ini adalah keajaiban yang diberikan oleh Allah kepada keluarganya yang awalnya terpecah belah kini menjadi bersatu kembali tentu dengan campur tangan Allah subhanu wata'ala.


❤❤❤


Satu jam berlalu, sholat jum'at pun telah usai. Rozin dan Jevin memasuki rumahnya kembali. Suara pintu yang dibuka oleh mereka menghasilkan suara yang dapat terdengar oleh Rifda.


"Assalaamu 'alaikum."


"Wa 'alaikumus salaam, alhamdulillah sudah pulang pangeran-pangeran tampanku ini."


"Mama masak apa?, aku lapar nih Ma." Jevin memegangi perutnya yang sudah menghasilkan bunyi keroncongan.


"Mama masak spageti kesukaan kamu."


Mata Jevin berbinar-binar dan seakan-akan di otaknya sudah berputar-putar yang namanya spageti terlebih spageti buatan sang Mama, juara sekali di lidah Jevin bahkan chef profesional pun kalah telak.


"Jevin, mau ke mana?, ganti baju dulu, baru makan."


Ekspresi wajah Jevin berubah lemas seketika. Sang papa menyuruhnya untuk berganti pakaian dulu sebelum melahap habis spageti menu makan siangnya.


"Ayo Pa, ganti baju dulu, Mama sudah siapkan baju gantinya di kamar."


"Ayo Ma."


"Baju Jevin juga sudah disiapkan Ma?"


Kedua orang tuanya menoleh dengan kompak ke arah Jevin. Kemudian dengan kompaknya lagi terkekeh. Jevin menghela napas lantaran siang ini menjadi bahan lelucon kedua orang tuanya.


"Jevin-Jevin, kamu kan sudah besar masa iya harus Mama siapkan baju kamu."


"Lah itu Mama siapkan bajunya Papa, kan Papa sudah lebih tua dari aku."


Rozin berdehem. "Tuanya nggak usah disebutkan dong."


"Jevin, Mama siapkan baju Papa karena memang kewajiban Mama untuk melayani suami dengan baik."


"Makanya segera menikah, biar ada yang siapkan baju." Sindir Rozin dengan terang-terangan.


Rifda mengangguk cepat seraya sangat menyetujui usul suaminya agar putranya yang sudah berumur kepala tiga itu segera sold out. "Benar tuh kata Papa, kalau kamu mau disiapkan bajunya, mau apa-apanya disiapkan, menikah sana, biar nggak iri sama Papa yang apa-apa Mama siapkan."


Entah mengapa disaat membicarakan tentang pernikahan, Jevin tidak kesal karena disuruh cepat-cepat menikah oleh kedua orang tuanya, tidak seperti jomblo akut di luaran sana yang seperti mendapatkan teror horor jika ditanyakan tentang pernikahan. Berbeda dengan Jevin dia justru teringat akan sosok perempuan yang bagaikan mutiara berharga, dialah Kasha. Jevin tidak bermaksud untuk terus menerus mengingat akan Kasha namun Jevin tidak bisa menepis sosok perempuan yang telah menyadarkannya itu. Dan jangan ditanya tentang perasaan Jevin. Sudah satu bulan lebih perasaan itu masih sama seperti waktu lalu meskipun lamarannya sempat ditolak namun Jevin sama sekali tidak membenci Kasha justru ia berterima kasih.


Rifda dan Rozin saling berkode satu sama lain disaat melihat sang Putra sedang senyam-senyum sendiri. Kedua orang tua ini sama-sama penasaran dan kebingungan melihat tingkah putranya yang sudah seperti kehilangan kesadarannya.


"Jevin."


Suara bariton Rozin yang terdengar menggelar akhirnya berhasil menyadarkan Jevin dari lamunan indahnya. Namun senyuman masih mengembang di wajahnya yang mewarisi ketampanan Papanya.


"I-iya Pa, kenapa?"


"Kamu tuh yang kenapa?, disuruh segera menikah kok malah senyam-senyum."


"Ayo putra Mama ini lagi memikirkan siapa?, jangan-jangan kamu sudah ada calonnya ya?"


Jevin nampak malu-malu namun ia tidak malu-malu untuk mengakui bahwa ucapan sang Mama ada benarnya. Jevin mengangguk sekali untuk membenarkannya.


Baik Rifda maupun Rozin sama-sama tidak menyangka bahwa putra mereka memang sudah memiliki calon. Kedua orang tua mana yang tidak senang jika mendengar kabar bagus ini. Apalagi Jevin adalah anak tunggal sudah dipastikan Rifda dan Rozin sangat menantikan anggota keluarga mereka yang tidak lain adalah menantu tunggal mereka.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya anak Mama ada calonnya juga, ngomong-ngomong siapa calonnya Vin?, kenalkan sama Mama dan Papa dong."


"Jangan dikenalkan Mama, langsung lamar saja." Timpal Rozin. Rifda pun sangat menyetujui.


"Jevin jatuh cinta sama seorang perempuan Ma, dia berbeda dari perempuan yang pernah Jevin lihat, bisa dibilang dia adalah mutiara berharga, hanya laki-laki beruntung yang bisa mendapatkannya. Dan dia juga yang telah menyadarkan Jevin untuk menjadi orang yang lebih baik lagi."


Rifda seakan penasaran dengan perempuan yang sedang diceritakan oleh Jevin. Perempuan yang telah membuat Jevin jatuh cinta sekaligus membuat Jevin merubah dirinya menjadi lebih baik. Perempuan itu bukan perempuan sembarangan, Rifda meyakini akan hal itu.


"Ya sudah kalau begitu tunggu apa lagi Jevin, ayo segera lamar dia sebelum keduluan orang lain lho."


"Jevin sudah melamarnya Pa."


"Oh iya?, terus bagaimana?, diterima?" Rifda langsung menyerbu Jevin dengan beberapa pertanyaan.


Jevin menggeleng pelan seraya tersenyum hambar. "Ditolak Ma."


"APA?!"


Rifda dan Rozin seakan tidak percaya bahwa lamaran putranya itu ada yang menolaknya. Padahal Jevin adalah tipe calon suami idaman namun nyatanya ada seorang perempuan yang menolaknya.


"Kok bisa ditolak?, memangnya kamu kurang apa dimata dia?"


"Iya Vin, kurang apa lagi coba anak Papa ini, ganteng iya, keren iya, kaya juga iya."


"Jevin kurang iman Ma, Pa."


Kedua orang tuanya terdiam tanpa kata. Nyatanya memang satu hal yang kurang dari Jevin yang luput dari perkiraan mereka. Kekurangannya itu adalah IMAN.


"Tapi sekarang kamu kan sudah beriman Vin, sudah berubah kan, bukan yang dulu lagi."


"Iya Pa alhamdulillah."


"Ya sudah kalau begitu, kita lamar lagi saja, Papa dan Mama siap mendampingi kamu."


Jevin menggeleng pelan lagi. Sepertinya Jevin sudah tidak ada niatan untuk melamar Kasha yang kedua kalinya. Bukan apa-apa namun Jevin takut ditolak lagi.


"Lho, kenapa kamu nggak mau lamar dia lagi Jevin?." Kali ini Rifda ingin mengetahui alasan sang putra yang tidak berniat untuk melamar yang kedua kalinya.


"Jevin takut ditolak lagi Ma."


Rifda dan Rozin saling menghela napas kasar usai mengetahui alasan sang putra yang tidak ingin melangkah lebih seriua untuk yang kedua kalinya.


"Ya Allah, anak Papa kok cemen banget sih, jangan pesimis begitu dong."


"Jevin bukan pesimis Pa, tapi Jevin sadar diri, Jevin memang nggak pantas mendapatkan perempuan bagaikan mutiara berharga itu, Jevin berlumuran dosa Pa, sedangkan dia perempuan suci."


"Jevin dengerkan Papa, sekarang kamu kan sudah berubah, bukan Jevin yang dulu lagi, jadi buat apa kamu memikirkan yang dulu, hidup itu ke depan bukan ke belakang."


"Iya Jevin, kamu nggak boleh pesimis begitu, Jevin yang Mama kenal nggak pernah pesimis selalu optimis."


Tidak semudah itu Jevin menerima nasihat serta masukan dari kedua orang tuanya. Jevin sadar diri betul siapa dirinya dan siapa Kasha. Jevin merasa antara dirinya dan Kasha bagaikan langit dan bumi, jauh sekali perbedaannya.


"Tapi-"


"Jevin kamu itu baru ditolak sekali saja sudah menyerah seperti ini, nih Papa ceritakan ya sama kamu, bagaimana perjuangan Papa dulu waktu mendapatkan Mama kamu, kurang lebih seperti kamu, tapi Papa nggak menyerah seperti kamu."


"Ceritakan Pa, biar anak kita ini nggak menyerah begitu saja."


"Jadi begini, dulu Papa itu berkali-kali melamar Mama kamu dan berkali-kali juga Mama kamu menolak Papa, bahkan Mama kamu hampir saja menikah sama laki-laki lain, kalau sampai menikah sama laki-laki lain mungkin kamu nggak akan ada di dunia ini, tapi Papa nggak ada yang namanya putus asa seperti kamu, yang ada Papa terus kejar Mama kamu, sampai akhirnya Mama kamu luluh juga dan mau menikah sama Papa dan lahirlah kamu ke dunia ini untuk melengkapi kehidupan kami, kurang lebih seperti itu ceritanya."


"Tuh Jevin, perjuangan Papa kamu lebih berat dari kamu. Jevin kamu mau tahu kenapa Mama akhirnya bisa menerima lamaran Papa kamu?"


Jevin mengangguk antusias ingin mengetahui kira-kira apa yang membuat Mamanya bisa menerima lamaran Papanya yang berkali-kali ditolak.


"Karena ketulusan Papa kamu, dan perjuangan Papa kamu yang luar biasa juga. Jujur saja sebagai seorang perempuan, Mama bahagia jika ada yang tulus mencintai Mama dan mau berjuang untuk mendapatkan Mama, dan sepertinya perempuan calon kamu itu tidak jauh berbeda sama Mama, jadi kamu jangan menyerah, datangi rumahnya dan lamar untuk yang kedua kalinya."


"Tapi-"


"Jevin, siapa tahu lamaran kedua kamu ini, dia berubah pikiran, dan mau menerima lamaran kamu."


"Iya Jevin apa yang dikatakan Mama kamu itu benar, yang penting usaha saja dulu, masalah hasil serahkan saja semuanya kepada Allah, bukankah manusia hanya bisa berusaha dan Allah yang menentukan, begitu kan?"


Jevin mengangguk. Ucapan Papanya benar sekali. Manusia memang hanya bisa berusaha selebihnya termasuk hasilnya itu Allah yang menentukan. Namun Jevin masih ragu untuk melamar Kasha yang kedua kalinya. Jevin tahu betul Kasha bukan perempuan sembarangan apalagi sudah mengetahui bagaimana masalalu Jevin.


"Sudah jangan banyak mikir, nanti malam kita ke rumah perempuan mutiara berharga itu untuk melamarnya yang kedua kalinya." Ujar Rozin yang tidak mau ada penolakan.


"Benar itu Mama setuju, lebih cepat lebih baik." Sambung Rifda ikut menyetujuinya.


Kini Jevin tidak dapat berkomentar lagi. Kedua orang tuanya sudah mengambil keputusan untuknya. Dan mungkin itu keputusn yang terbaik. Tidak ada salahnya juga Jevin melamar Kasha kembali. Dan Jevin tidak tahu bagaimana penilaian Kasha saat ini kepada dirinya yang sudah berubah, namun lagi-lagi Jevin membetulkan niatnya untuk berubah semata-mata karena Allah bukan karena untuk mendapatkan Kasha. Diterima atau ditolaknya lamaran yang kedua kalinya ini Jevin sudah mempersiapkan diri sesiap mungkin.


"Bismillah, semoga keputusan ini yang terbaik, Aamiin." Ucap Jevin membatin seraya berharap keputusan adalah yang terbaik diantara yang baik.


❤❤❤


Ucapan Rozin dan Rifda bukan sekadar ucapan dimulut saja namun dapat diacungkan jempol untuk kedua orang tua seperti mereka yang bergerak cepat demi kehidupan masa depan sang putra semata wayang.


Mobil yang Jevin kemudikan berhenti tepat di halaman rumah keluarga Kasha yang terlihat sederhana sekali. Rifda yang duduk di belakang terdiam sejenak sembari memperhatikan rumah di depannya itu. Mungil, sederhana dan jauh dari kata mewah. Rifda ingin sekali menanyakan kepada Jevin, takutnya Jevin salah rumah, namun ini bukan pertama kalinya Jevin ke sini sehingga tidak akan mungkin salah rumah.


"Ayo Pa, Ma kita keluar."


Jevin mengajak kedua orang tuanya yang awalnya terdiam sejenak sembari sama-sama memperhatikan suasana sekitar, namun keduanya kompak untuk mengembalikan raut wajah mereka seperti semula, bersemangat dan antusias.


"Perempuan ini bukan lahir dari keluarga kaya seperti kita, tapi keluarga mereka adalah keluarga yang baik yang patuh dan taat kepada Allah. Mama dan papa nggak mempermasalahkan hal ini kan?"


"Ya nggak lah Vin, kekayaan kita kan cuma titipan dari Allah, jadi untuk apa kita membedakan keluarga mereka dengan keluarga kita, sama saja di mata Allah kan?"


Jevin senang sekali. Papanya satu pemikiran dengannya. Namun Jevin belum mendengar sesuatu yang keluar dari mulut Mamanya.


Rifda seakan mengetahui isyarat tatapan mata Jevin yang menunggu jawaban darinya. "Mama juga nggak keberatan kok, yang terpenting dia orang baik, dan sayang sama anak Mama."


"Alhamdulillah, kalau begitu ayo kita keluar Ma, Pa."


Usai percakapan singkat itu, Jevin beserta kedua orang tuanya akhirnya keluar dari mobil mereka. Kemudian Jevin mengetok pintu rumah yang sedang tertutup rapat.


Perasaan Jevin sudah mulai kalang-kabut. Cemas, khawatir, grogi dan sejenisnya seakan menyerang Jevin secara serentak. Namun Jevin tidak ingin kalah dengan perasaan-perasaan itu. Jevin masih teringat akan kata-kata papanya yang akhirnya membuatnya bersemangat dan lebih tenang lagi.


Kreggg


Perlahan pintu terbuka. Nufael memunculkan dirinya dari balik pintu yang ia buka dengan lebar. Nufael sedikit terkejut dan tersentak karena kini di hadapannya ada Jevin dan laki-laki di sebelah Jevin, Rozin yang tak lain adalah Papa dari Jevin beserta Mama Jevin juga.


"Assalaamu 'alaikum."


"Wa-wa 'alaikumus salaam."

__ADS_1


Bukan hanya Nufael yang terkejut namun Rozin juga terkejut ketika melihat Nufael yang baru saja membuka pintu itu artinya yang dikunjungi adalah rumah keluarga Nufael.


"Lho?, Nufael?"


"Iya Pak Rozin ini saya Nufael, oh ya mari silakan masuk."


Tanpa berlama-lama lagi, Nufael menyuruh tamunya untuk masuk ke dalam rumahnya. Rozin pun ikut masuk dengan rasa penasaran dan masih kebingungan saja.


Kini Jevin duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya. Sementara Nufael memilih masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil minuman buat sang tamu.


Nufael kembali lagi dengan membawa 3 cangkir teh untuk Jevin, papa Rozin dan mama Rifda.


"Mari silakan diminum dulu."


Untuk menghargai Nufael, mereka segera menyeruput tehnya secara bersamaan. Kemudian meletakkannya kembali ke atas meja.


"Jadi seperti ini Nak Nufael, kedatangan kami ke mari, kami mendampingi Jevin anak kami untuk melamar..." Rozin terdiam sejenak seraya menoleh ke arah Jevin untuk menanyakan nama perempuan yang akan dilamarnya.


"Kasha." Ucap Jevin lirih.


Nufael terkejut. Meskipun bukan pertama kalinya Jevin datang untuk melamar Kasha, justru ini menjadi tanda tanya besar bagi Nufael. Jevin sudah ditolak lamarannya oleh Kasha, dan saat ini Jevin melamar Kasha lagi untuk yang kedua kalinya sekaligus Jevin membawa serta kedua orang tuanya.


"Mungkin Nak Nufael merasa aneh, karena Jevin sudah cerita bahwa kemarin sudah pernah melamar Kasha namun ditolak, dan sekarang Jevin datang lagi bersama kami untuk melamar Kasha yang kedua kalinya." Rozin seakan mengetahui ekspresi wajah Nufael yang kebingungan lantaran kedatangan mereka untuk melamar Kasha.


"Kalau begitu, saya panggilkan Kasha dulu."


Nufael kembali masuk ke dalam untuk memanggil Kasha. Dan Jevin sudah berkeringat dingin. Dadanya berdebar-debar menantikan kehadiran perempuan sang mutiara berharga.


"Kasha, di ruang tamu ada Pak Jevin beserta kedua orang tuanya, mereka ingin bertemu kamu."


Nufael baru saja tiba di ruang tengah, di mana sang Adik dan Niswah sedang menemani Haziq belajar. Kasha terkejut ketika sang Abang memberikan pernyataan bahwa Jevin dan kedua orang tua Jevin sedang bertamu ke rumah mereka dan ingin bertemu Kasha.


"Apa Buya?, Pak Jevin beserta kedua orang tuanya ingin bertemu Kasha?, memangnya ada apa Buya?" Niswah penasaran dengan kedatangan Jevin beserta kedua orang tuanya.


"Umma juga keluar ya, sekalian kenalan sama Pak Rozin dan istrinya."


"Iya Buya, Haziq belajarnya sendiri dulu ya Nak."


"Iya Umma."


Nufael beserta Niswah dan Kasha pun meninggalkan Haziq yang sibuk belajar untuk menemui Jevin dan kedua orang tua Jevin di ruang tamu.


Kini mereka sudah duduk berhadapan dengan keluarga Jevin. Nufael memperkenalkan Niswah kepada kedua orang tua Jevin, lalu memperkenalkan Kasha juga.


Rifda memperhatikan Kasha dari bawah sampai atas. Perempuan di hadapannya ini sederhana sekali dalam segi berpakaian bahkan sangat tertutup sekali. Rifda tidak menyangka bahwa kriteria calon istri putranya turun drastis namun dalam segi penampilannya. Rifda teringat kembali akan ucapan Jevin bahkan perempuan sederhana ini bukan perempuan sembarangan buktinya dia bisa menyadarkan Jevin sampai akhirnya Jevin bisa berubah menjadi lebih baik.


"Jadi seperti ini Nak Kasha, kami selaku kedua orang tua Jevin ingin melamar Nak Kasha yang kedua kalinya ini untuk menjadi menantu kami sekaligus istri dari Jevin. Apakah Nak Kasha bersedia menerima lamaran yang kedua ini?"


Kasha sedikit terkejut. Namun ia kembali menstabilkan perasaannya. Satu bulan yang lalu Jevin seorang diri melamar dirinya namun Kasha menolaknya dan malam ini Jevin datang bersama kedua orang tuanya untuk melamar dirinya yang kedua kalinya dengan membawa kedua orang tuanya.


Dalam diamnya Jevin menahan rasa cemas, takut jika lamarannya tertolak lagi. Jevin menunduk tak kuasa untuk mengedarkan pandangannya dan Jevin juga masih ingat akan tafsir ayat Al-Quran yang menyuruhnya untuk menundukkan pandangan kepada yang bukan mahromnya.


"Kasha, semua keputusan ada di tangan kamu, Abang dan Kak Niswah akan mendukung setiap keputusan yang kamu ambil, iya kan Umma?"


Niswah sedikit terkejut usai Nufael meminta persetujuan darinya mengenai setiap keputusan yang akan diambil oleh Kasha. Sejujurnya Niswah berharap semoga Kasha kembali menolak lamaran Jevin. Namun Niswah percaya bahwa adik iparnya itu tidak akan berubah pikiran. Jawabannya pasti sama seperti lamaran yang terdahulu.


Kasha terdiam sejenak. Ia pandangi Abang dan Kakak iparnya secara bergantian. Kemudian Kasha mengedarkan pandangannya ke arah Rozin dan Rifda, dan Kasha sempat menoleh ke arah Jevin yang mana pandangan Jevin tertunduk ke bawah, sama sekali tidak mencuri pandang ke arah Kasha. Berbeda sekali dengan yang dulu. Kasha menjadi yakin bahwa Jevin benar-benar telah berubah. Kasha merasakan bahwa Jevin yang saat ini duduk di hadapannya adalah Jevin yang baru bukan yang dulu.


"Ya Allah semoga keputusanku ini benar, semoga Pak Jevin benar-benar sudah berubah, aamiin." Tutur Kasha dalam hati.


Kasha menghela napas pelan. Kemudian dengan perlahan ia menganggukkan kepalanya. Menandakan bahwa ia menerima lamaran Jevin.


Kasha akhirnya menerima lamaran Jevin yang kedua kalinya ini, Kasha sudah meyakinkan dirinya bahwa Jevin memang sudah berubah. Dan Kasha tidak ada alasan lagi untuk menolak lamaran dari laki-laki sholih yang datang melamarnya. Mungkin ini terlalu cepat namun bagi Kasha jika yang datang melamarnya adalah laki-laki yang baik agamanya maka Kasha akan menerimanya karena bagi Kasha lagi, laki-laki yang baik agamanya in syaa Allah akan baik semuanya.


"Alhamdulillah." Rozin beserta Rifda berucap syukur secara bersamaan.


Sementara Jevin terdiam sejenak. Jevin masih belum mempercayai hal itu. Namun Kasha benar-benar menerima lamarannya. Jevin tak kuasa menahan rasa harunya. Dan seketika itu juga Jevin beranjak dari duduknya kemudian bersujud di lantai.


"Alhamdulillah." Jevin kembali ke tempat duduknya. Rozin memeluknya dengan rasa gembira.


"Alhamdulillah terima kasih ya Allah, tiada hentinya hamba bersyukur kepadaMu atas keajaiban cinta ini." Ucap syukur Jevin dalam hatinya yang berdesir hebat.


Akhirnya Allah memberikan keajaiban cinta kepada Jevin. Lamaran yang kedua kalinya ini diterima oleh Kasha. Itu artinya sebentar lagi Jevin akan mendapatkan mutiara berharganya.


Nufael tersenyum kepada Kasha seakan menyetujui keputusan yang Kasha ambil. Tetapi tidak dengan Niswah, ia seperti tidak menyangka bahwa Kasha menerima lamaran itu. Namun Niswah tidak bisa berbuat apa-apa, ini kehidupan Kasha, dan Kasha sendiri yang berhak menentukannya.


"Kalau begitu sekarang kita bahas tentang tanggal pernikahannya ya, kira-kira kapan acara pernikahannya akan di selenggarakan?"


"Besok juga boleh, kan lebih cepat lebih baik." Timpal Jevin dengan antuasias, terkesan sudah tidak sabar.


Rozin dan Rifda sama-sama menggelengkan kepala mendengar ucapan Jevin yang spontan itu. Ternyata putra mereka sudah tidak sabar menantikan hari bahagianya tiba sampai-sampai ingin segera diselenggarakan secepatnya.


"Bagaimana jika bulan depan acara pernikahannya diselenggarakan?, supaya kedua calon pengantin sama-sama saling mempersiapkan diri mereka."


Usulan Nufael disetujui oleh semua pihak baik kedua calon pengantin maupun kedua orang tua Jevin. Satu bulan waktu yang cukup untuk kedua calon pengantin mempersiapkan diri mereka masing-masing.


"Kalau masalah acara pernikahannya, Nak Kasha ingin yang seperti apa?." Kali ini Rifda mencoba membuka obrolannya dengan calon menantunya.


Kasha tersenyum ramah. "Saya ingin yang sederhana saja, kalau bisa menikahnya di rumah ini saja sudah cukup, tapi saya serahkan lagi sama Pak Jevin."


"Aku terserah Kasha saja, bagiku yang penting sah." Jevin tersenyum malu-malu ketika berucap kata sah.


Rifda mengangguk seraya mengerti akan usulan dari sang calon menantu yang langsung disetujui oleh Jevin. Sejujurnya Rifda ingin pernikahan Jevin diselenggarakan dengan mewah karena Jevin adalah anak sematawayangnya namun kembali lagi Rifda harus menghargai keputusan calon menantu dan anaknya yang menginginkan pernikahannya yang sederhana saja.


❤❤❤


Kabar Kasha menerima lamaran Jevin yang kedua kalinya sudah sampai di telinga Shima. Niswah yang memberitahu Shima, bahkan saat ini Niswah sedang berbincang bersama Shima sambil mengemas makanan catering mereka.


"Nis, kok kamu seperti nggak senang begitu sih, memangnya ada apa?, kamu nggak senang ya Kasha menerima lamaran dari Jevin?"


Niswah mengangguk yakin. "Iya Shim, aku nggak senang Kasha menerima lamaran Jevin. Jevin itu bukan laki-laki baik."


"Kata siapa Jevin bukan laki-laki yang baik?, kata Arfan alhamdulillah Jevin sudah berubah kok Nis, sholatnya saja sudah rutin dan berjamaah di masjid."


Tetap saja Niswah masih meragukan tentang perubahan Jevin yang menurutnya terlalu cepat dan bukan niat karena Allah. "Aku masih nggak percaya kalau Jevin berubah secepat itu, lagi pula sepertinya dia berubah bukan lillahi ta 'ala tapi semata-mata untuk mendapatkan Kasha, dan aku takut nantinya-"


"Nis cukup." Shima menghetikan ucapan Niswah. Sepertinya Niwah sudah tidak terkontrol untuk menjaga ucapannya. "Istighfar Nis, kamu nggak boleh suu'dzon sama Pak Jevin."


Niswah tersadar dan segera berucap istighfar. "Jazakillah khoir Shim, sudah mengingatkan aku."


"Iya Nis sama-sama, sudah kamu nggak usah su'udzon lagi sama Pak Jevin. Hidayah itu hanya Allah yang punya dan saat ini Allah sudah memberikan hidayah itu kepada Pak Jevin, nggak ada yang nggak mungkin bagi Allah Nis, apa lagi hanya membolak-balikkan hati Pak Jevin, sangat mudah bagi Allah."


Perlahan Niswah membenarkan semua ucapan yang keluar dari mulut Shima. Memang tidak seharusnya Niswah berpikiran negatif tentang Jevin. Kini Niswah pun percaya bahwa Allah telah memberikan hidayah kepada seorang Jevin sehingga Jevin dapat berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sejujurnya Niswah hanya berharap agar Kasha mendapatkan seorang imam yang sholih untuk membimbingnya. Karena bagi Niswah kebahagiaan Kasha adalah kebahagiaan dirinya juga. Kasha memang hanya adik ipar bagi Niswah, namun Niswah menyayangi Kasha selayaknya adik kandungnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2