Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
43. Menepati Janji


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


Seorang perempuan cantik dengan balutan pakaian syar'inya sedang bercemin di depan kaca. Ia sedang memperbaiki khimarnya yang kurang rapi.


Tiba-tiba saja seorang laki-laki memeluknya dari belakang. "Sayangnya Mas mau ke mana sih?, kok pagi-pagi sudah cantik?." Tanya Jevin yang memandangi wajah istrinya dari pantulan cermin di hadapannya.


"Aku izin pergi dulu ya Mas."Jawab Kasha meminta izin kepada suaminya untuk pergi keluar rumah.


Jevin melepas pelukannya. Menghadapkan tubuh sang istri tepat di hadapannya. Dengan jarak yang begitu dekat.


"Mau pergi ke mana Sayang?, mau Mas temani?."


Kasha menggeleng pelan. "Nggak usah Mas, kan Mas harus ke kantor, rencananya aku mau pergi sama Mama jadi Mas nggak usah khawatir ya."


Jevin menganggukkan kepala. Ia dapat bernapas lega karena istrinya akan aman meskipun pergi bukan bersamanya melainkan bersama Mamanya.


"Alhamdulillah kalau begitu, tapi memangnya Sayang mau pergi ke mana sih?." Tanya Jevin penasaran.


Kasha ragu untuk menjawabnya. Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan dari suaminya. "Aku mau, ke rumah Mbak Zaila, Mas."


Jevin langsung menghela napas kasar. Ia menjauhi istrinya. Suasana hatinya tiba-tiba berubah. Tidak baik.


"Untuk apa ke sana?." Tanya Jevin tanpa menatap lawan bicaranya.


Kasha kembali ragu untuk menjawabnya. Ia menyadari bahwa saat ini suasana hati suaminya sudah berubah. Semenjak ia menyebutkan nama Zaila.


"Un-tuk menepati janjiku Mas."


"Janji apa?." Tanya Jevin lagi.


"Janji, untuk menjadikan Mbak Zaila istri kedua Mas."


Jevin mengusap wajahnya kasar. Hatinya mendidih. Terbakar api amarah yang baru saja dinyalakan oleh istrinya sendiri.


"Mas mengizinkan aku untuk pergi ke rumah Mbak Zaila kan?."


Untuk beberapa detik Jevin terdiam. Hatinya berkecamuk tidak karuan. Ia mencoba tetap tenang. Mengalahkan amarahnya yang hampir meledak.


"Mas."


"Terserah." Ujar Jevin sembari keluar dari kamarnya.


Kasha mencoba tetap tenang meskipun ia sadar bahwa suaminya sedang marah kepadanya.


❤❤❤


Kasha dan Rifda sudah berada di rumah Zaila. Bahkan mereka sudah duduk di hadapan Zaila beserta Lubna.


"Mbak Zaila aku sama Mama datang ke sini ingin menetapi janji sama Mbak Zaila." Ucap Kasha membuka obrolan mereka.


Zaila kebingungan. "Janji?, janji apa Kasha?." Tanya Zaila tak mengerti.


Kasha menampilkan senyuman terbaiknya. "Janji untuk menjadikan Mbak Zaila istri keduanya Mas Jevin." Ucapnya.


Zaila tersenyum. Manis sekali. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa rasa cinta kepada Jevin masa sama seperti dulu. Tidak pernah berubah.


"Kamu yakin ingin melanjutkan perjanjian itu Kasha?, dan apakah kamu bersedia untuk dipoligami?." Zaila menanyakan kesungguhan Kasha untuk melanjutkan perjanjian mereka tiga bulan yang lalu. Sekaligus Zaila juga menanyakan kebersediaan Kasha untuk dipoligami.


"In syaa Allah aku yakin dan bersedia Mbak Zaila, ini sudah takdir dari Allah, sebagai hamba yang baik aku akan menerimanya."


Zaila dapat bernapas dengan tenang. Ia tidak akan merasa bersalah lagi karena Kasha sudah yakin dan bersedia untuk dipoligami.

__ADS_1


"Kalau begitu Mbak Zaila setuju kan untuk melanjutkan perjanjian kita?"


Perlahan Zaila menganggukkan kepalanya. "Iya Kasha, aku setuju." Ucapnya malu-malu.


"Alhamdulillah." Kasha berucap syukur.


"Baiklah dengan mengucap bismillahirrohmaanirrohiim saya sebagai istri pertama dari Mas Jevin Alhusayn resmi melamar Mbak Zaila untuk menjadi istri keduanya Mas Jevin, Mbak Zaila bersedia menerima lamaran ini kan?"


Zaila mengangguk. "Aku terima lamaran ini." Jawabnya dengan bahagia.


"Alhamdulillah." Tanpa sungkan lagi Kasha langsung memeluk Zaila dengan rona kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.


Rifda dan Lubna hanya saling melempar senyuman. Mereka tidak banyak bicara. Sejak tadi mereka hanya menjadi pendengar dari anak-anaknya saja. Bahkan Lubna sendiri tidak tahu harus sedih atau bahagia. Sejujurnya Rifda juga berat untuk menyetujui keputusan menantunya. Namun sebagai Ibu mertua yang baik sudah seharusnya ia mendukung setiap keputusan yang diambil oleh menantunya. Terlebih lagi yang menjalaninya adalah menantunya sendiri. Sehingga Rifda tidak punya hak untuk terlalu jauh ikut campur dalam kehidupan menantunya.


❤❤❤


Kasha langsung keluar dari rumahnya ketika mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Suaminya sudah pulang usai seharian bekerja. Wajah Kasha nampak ceria menyambut kepulangan suaminya.


Jevin turun dari mobilnya. Ia tersenyum melihat sang istri menyambutnya dengan senyuman termanis yang dipersembahkan hanya untuknya. Memabukkan sekali senyuman istrinya. Jevin sampai tidak kuasa untuk tidak segera menghampiri pemilik senyuman memabukkan itu.


"Assalaamu 'alaikum."


"Wa 'alaikumus salaam Mas." Ucap Kasha membalas salam suaminya seraya mencium tangannya.


Jevin mulai mendekatkan dirinya dengan istrinya. Mereka saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Perlahan Jevin mulai mendekatkan wajahnya.


"Mas mau apa?." Tanya Kasha menghentikan pergerakan suaminya.


Jevin menghelan napas. "Mau cium Sayang, nggak lihat nih Mas sudah manyun." Ujar Jevin sembari memperlihatkan bibirnya yang manyun.


Kash menggeleng. "Nggak di sini juga Mas." Ucapnya sambil memperhatikan kondisi sekitar rumahnya.


Jevin ikut mengedarkan pandangannya. Seketika ia menepuk jidatnya. "Astaghfirullahal adzim Mas lupa Sayang kalau kita nggak boleh bermesraan di luar rumah, takutnya ada jomblo yang melihat kita, nanti jiwa kejombloannya meronta-ronta, kan kasihan, Mas nggak tega."


Kasha terkekeh. Suaminya itu selalu ada saja yang jadi bahan candaannya. Contohnya seperti saat ini. Kaum jomblo yang menjadi bahan candannya.


"Mas kita duduk dulu ya, ada yang ingin aku bicarakan."


"Sayang mau bicara tentang apa?, sepertinya penting sekali?." Tanya Jevin ketika melihat keseriusan yang nampak di wajah istrinya.


Kasha menghela napas sejenak. "Tentang Mbak Zaila, Mas." Ucapnya lirih.


Seketika raut wajah Jevin berubah. Ia menghela napas kasar. Pandangannya terahlihkan kepada yang lain.


Suasana berubah menjadi tegang. Jevin membungkam mulutnya. Dan ia lebih memilih beranjak dari duduknya. 


"Mas mau ke mana?." Tanya Kasha mencegah suaminya.


"Mau mandi." Jawabnya singkat.


"Tapi aku belum selesai bicara Mas." Kasha memegang lengan suaminya. Membujuknya untuk kembali duduk di tempatnya.


Akhirnya Jevin mengalah. Ia kembali duduk di tempatnya. Namun bukan berarti ia mau mendengarkan istrinya yang akan melanjutkan ucapannya.


"Mas, in syaa Allah, minggu depan Mas dan Mbak Zaila akan menikah."


Jevin tersentak. Tubuhnya sampai bergetar. Ia sangat terkejut mendengar penuturan sang istri yang menyatakan bahwa dirinya akan menikah dengan Zaila minggu depan. Secepat itu.


"Apa?!"


"Iya Mas, Mas dan mbak Zaila akan menikah minggu depan, in syaa Allah acaranya akan diselenggarakan di rumah Mbak Zaila, mulai sekarang Mas harus mempersiapkan diri Mas sebaik mungkin ya Mas." Ucap Kasha setenang air yang mengalir.


Kilatan amarah terpancar di kedua bola matanya. Bagaikan perisai yang siap menyayat apapun yang ada di sekitarnya. Jevin marah sangat marah. Namun ia tidak bisa melampiaskan amarahnya kepada istrinya. Jevin mengepalkan kedua tangannya. Deruan napasnya mulai terdengar. Suasana hatinya sangat tidak bersahabat.


Seketika Jevin langsung berdiri. Meninggalkan istrinya tanpa sepatah katapun.


Bruggg


Suara bantingan pintu yang sangat keras nyaris membuat Kasha terkena penyakit jantung dadakan. Ia dapat merasakan bahwa saat ini suaminya sangat marah kepadanya. Hanya saja ia melampiaskannya kepada pintu kamar mereka yang tidak bersalah sama sekali.

__ADS_1


Kasha mencoba untuk tetap tenang. Meskipun air mata mulai mengalir dari kedua matanya. "Astaghfirullah adzim, lindungi suami hamba dari godaan syeitan yang terkutuk ya Allah. Aamiin."


❤❤❤


Guyuran air dari shower membasahi tubuh Jevin yang terasa penat sekali. Kini hatinya juga ikut lelah menghadapi kenyataan pahit yang singgah di hidupnya. Sampai detik ini Jevin tidak habis pikir. Istrinya bersedia untuk dipoligami. Dan secepatnya ia akan menikah dengan perempuan yang sudah lama ia singkirkan dalam hidupnya.


Bukannya fokus dengan kehamilannya, istrinya justru fokus dengan perjanjiannya. Menjadikan perempuan lain menjadi madunya. Tidak masuk akal bagi Jevin. Sangat tidak masuk akal.


"Kasha, Kasha, di mana pikiran kamu, bisa-bisanya merelakan suami sendiri untuk menikah lagi." Jevin kecewa dengan istrinya. Sangat kecewa.


"Zaila itu nggak benar-benar berubah, kalau dia memang sudah berubah, mana mungkin dia akan menikah dengan laki-laki yang sudah punya istri, mana mungkin dia nggak mengerti tentang hukum merusak rumah tangga orang lain." Lanjutnya, berbicara kepada dirinya sendiri.


"Dan Kasha, mau-maunya dibodohi sama perempuan bermuka dua seperti Zaila. Arghh." Kepala Jevin seakan mau pecah rasanya. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah sudi untuk menikahi perempuan yang sudah menciptakan luka parah di hatinya selama bertahun-tahun lamanya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Assalaamu 'alaikum warohmatullah wabarokaatuh


Alhamdulillah ada part terbaru nih


👋👋👋


Bagaimana perasaan kalian setelah membaca part ini???


🤔🤔🤔


Kesal?


Sebal?


Marah?


Mendidih?


Dan sejenisnya


Tarik napas.....


Keluarkan...


Jangan marah ya


Sabar...


Jevin saja sabar meskipun hatinya sudah mendidih


Jevin memang marah tapi dia masih bisa mengendalikan amarahnya kok


🤗🤗🤗


Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya???


Apakah Jevin dan Zaila beneran menikah???


Atau Jevin kabur di hari pernikahannya???


Atau...


Isi sendiri yak


😂😂😂


Dari pada mikirnya kejauhan dan nanti malah tersesat


mending pantengin saja part selanjutnya ya


Tentunya akan menguras emosi kalian lagi dan lagi


😂😂😂

__ADS_1


Wassalaamu 'alaikum warohmatullah wabarokaatuh


__ADS_2