
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Lima Bulan Kemudian...
Pagi-pagi sekali Kasha mengajak Jevin untuk berjalan kaki di pagi hari. Kata Dokter dikehamilannya yang sudah memasuki bulan terakhir ini harus banyak-banyak beraktivitas agar memudahkan proses persalinannya, salah satunya dengan aktivitas berjalan kaki di pagi hari.
"Sayang kalau capek bilang ya, jangan dipaksa."
Kasha memutar bola matanya jengah. Ini sudah kesekian kalinya suaminya berkata seperti itu. Diulang terus menerus.
"Mas lebih baik dzikir saja deh dari pada mengulang kata-kata itu terus." Oceh Kasha sedikit sebal.
"Mas bukannya mengulang Sayang, Mas cuma mengingatkan." Ujar Jevin meluruskan perkataan istrinya.
"Lho kok sudah berhenti Sayang?, Sayang marah ya sama Mas?, Mas minta maaf ya, Mas nggak akan bawel lagi untuk mengingatkan Sayang."
Kasha terkekeh. Ia memang sengaja mengakhirkan jalan kakinya tetapi bukan karena marah kepada suaminya. "Mas aku nggak marah kok sama Mas."
"Ya terus kenapa sudah berhenti?." Tanya Jevin penasaran.
"Karena sudah sampai rumah, Mas sudah lupa ya sama rumah sendiri?" Kasha terkekeh disela ucapannya.
Seketika Jevin menepuk jidatnya. Ia baru tersadar bahwa sudah sampai di rumahnya.
"Astaghfirullahal adzim Mas baru sadar Sayang."
"Makanya Mas jangan mengoceh terus ya." Ujar Kasha yang giliran menasihati suaminya.
Mereka akhirnya masuk ke dalam rumahnya. Jevin memastikan bahwa sang istri duduk dengan nyaman di sofa. "Mas ambilkan minum untuk Sayang dulu ya."
Kasha mengangguk. "Iya." Jawab Kasha sembari tersenyum bahagia karena suaminya mengambilkan air minum untuknya. Perhatian sekali.
"I love you." Ucap Jevin sembari mengkedipkan sebelah matanya dengan genit. Tergoda akan senyuman manis dari istrinya.
Kasha menghela napas jengah. Sempat-sempatnya suaminya itu bermain mata genit kepadanya.
"Lho Sayang kok nggak membalas ucapan i love you dari Mas sih?" Jevin sudah kembali dari dapur dengan membawa segelar air minum untuk istrinya tercinta. Tetapi ia kembali mengoceh lantaran kata i love you darinya tidak dibalas oleh istrinya.
Kasha kembali menghela napas jengah. "Iya-iya i love you too Mas Jevinku."
Hanya dengan kata-kata itu cukup membuat Jevin meleleh. Senyam-senyum sendiri hingga berakhir memeluk istrinya. "Maa syaa Allah Mas jadi tambah cinta deh sama Sayang."
"Mas meluknya jangan kencang-kencang, kena bayi kita Mas."
Jevin langsung melepas pelukannya. Ia sangat panik dan takut terjadi apa-apa dengan bayinya karena terlalu erat memeluk istrinya yang perutnya kian membesar seperti balon.
"Aduh Sayangnya Abby yang nomor dua maafkan Abby ya, Abby nggak sengaja Sayang." Jevin membelai lembut perut buncit istrinya. Seakan membelai bayinya yang tinggal hitungan hari akan terlahir ke dunia.
❤❤❤
Teriknya matahari di siang hari akan menyengatkan kulit jika terkena sinarnya. Daripada panas-panasan Kasha lebih memilih dingin-dinginan di naungan Ac yang menyala di kamarnya. Kasha tertidur dengan sangat nyenyak. Cukup lama ia tertidur yaitu dari setelah sholat dzuhur sampai saat ini menjelang waktu sholat ashar.
Tadinya Jevin ikut tertidur di samping istrinya. Namun ia terbangun lebih dulu dan langsung menuju kamar mandi untuk mandi. Untuk bersiap-siap pergi ke masjid karena waktu sholat ashar akan segera tiba.
Perlahan Kasha terbangun dari tidurnya. Perutnya terasa mulas sekali. Ia mencoba untuk duduk namun susah sekali mengingat perutnya yang sudah membesar sehingga sulit untuk bangun dari tempat tidurnya.
"Mas..."
"Mas..."
Kasha memanggil suaminya. Cukup keras. Namun tidak ada jawaban sama sekali.
"Mas Jevin ke mana sih?." Ocehnya sembari mencoba kembali untuk bangkit dari tempat tidurnya. Namun gagal. Perutnya juga semakin mulas. Ia hanya bisa meremas erat sprei di sampingnya. Untuk melampiaskan rasa sakit yang mulai mendera perut buncitnya.
"Astaghfirullah adzim, Sayang kenapa?." Jevin sangat terkejut melihat istrinya merintih kesakitan.
"Mas dari mana saja sih, dipanggil-panggil kok nggak dengar?." Rengek Kasha seperti anak kecil.
Jevin langsung membantu istrinya untuk bangkit dari posisi tidurnya.
"Maaf ya Sayang, Mas baru selesai mandi, Sayang kenapa?, perutnya sakit?." Jevin sangat panik.
Kasha mengangguk. Ia terus memegangi perutnya yang mulas bercampur sakit.
"Mas se-perti-nya aku mau la-hiran." Ucap Kasha terbata-bata karena rasa sakit yang belum pernah ia alami sebelumnya cukup menguras tenaganya.
Jevin langsung panik. "Ya sudah Sayang ayo kita ke rumah sakit." Ujarnya.
Jevin sudah siap merangkul istrinya. Namun Kasha menahannya. "Mas tung-gu."
"Ada apa lagi Sayang?"
"Itu Mas tas bajunya tolong dibawa juga." Kasha menunjuk ke arah tas berukuran sedang yang isinya adalah perlengkapan dirinya untuk melahirkan.
"Oh iya Mas lupa." Jevin langsung mengambil tas itu. Dan kembali merangkul istrinya. Untuk membawanya ke rumah sakit.
"Mas tunggu dulu."
Jevin menghela napas jengah. Dari tadi istrinya menahannya. Padahal ia suda sangat panik dan takut terjadi apa-apa jika tidak buru-buru ke rumah sakit.
"Ada apa lagi Sayang?, kita harus segera ke rumah sakit."
"Mas pakai baju dulu, masa ke rumah sakit handukan seperti itu."
Jevin menatap ke bawah. Handuk putih masih melingkar di perutnya. Ia terkekeh sendiri melihat dirinya yang hendak ke rumah sakit namun lupa bahwa ia hanya memakai handuk saja.
"Ya sudah Mas pakai baju dulu ya, Sayang yang sabar ya."
Kasha mengangguk. "Iya Mas."
Braggg... Bruggg... Bruggg...
Berkali-kali Jevin membentur lemari bajunya. Dari bagian tangannya. Kakinya sampai wajahnya.
"Pelan-pelan Mas, jangan buru-buru." Titah Kasha disela-sela ia mengerang kesakitan.
Jevin sudah mengenakan pakainnya. Ia kembali membantu istrinya untuk keluar dari kamarnya.
"Hati-hati Sayang."
Akhirnya Kasha masuk ke dalam mobilnya dengan perjuangan yang berat sampai-sampai Jevin mandi air keringat. Padahal baru saja ia mandi air yang sesungguhnya.
"Mas tolong beritahu Abang El sama Kak Niswah kalau aku sudah mau melahirkan."
"Iya Sayang."
"Abang Nufael, Kak Niswah, Kasha mau melahirkan." Teriak Jevin sekencang-kencangnya.
Kasha menghela napas jengah. "Mas datangi mereka bukan teriak seperti ini, yang ada mengganggu tetangga yang lain." Kasha tidak habis pikir dengan suaminya yang malah berteriak bukannya mendatangi Abang dan Kakaknya.
"Maaf Sayang, Mas nggak kepikiran, Mas panik banget soalnya, ya sudah kalau begitu Mas ke rumah mereka dulu ya."
Jevin hendak membalikkan tubuhnya. Seketika ia terkejut melihat Nufael dan Niswah beserta Haziq sudah berdiri di hadapannya.
"Alhamdulillah Abang sama Kakak ipar sudah di sini, ayo masuk ke mobil Abang, Kak, Haziq."
Niswah duduk di samping Kasha. Sesekali menenangkan adik iparnya yang akan melahirkan. Sementara Nufael dan Haziq duduk di kursi depan di samping Jevin yang fokus menyetir.
"Kasha kamu yang tenang ya, tarik napas, keluarkan."
Kasha mencoba mengikuti instruksi Kakak iparnya. Meskipun rasa sakit diperutnya semakin bertambah sakit.
❤❤❤
Sesampainya di rumah sakit Kasha langsung dibawa ke ruangan bersalin dengan dibantu oleh beberapa suster yang sudah menyambut kedatangannya. Atas intruksi Jevin yang meneleponnya lewat Nufael.
Jevin ikut masuk ke dalam ruang bersalin untuk mendampingi istrinya melahirkan. Sementara Nufael dan Niswah beserta Haziq menunggunya di luar.
Dokter dan beberapa suster sudah siap untuk membantu proses Kasha melahirkan.
"Kita mulai sekarang ya Ibu Kasha." Ucap Dokter.
"Bismillah dulu Sayang agar semuanya lancar." Jevin mengingatkan Kasha untuk mengucapkan bismillah.
"Bismillahirrohmaanirrohiim."
"Ibu Kasha ayo tarik napas pelan-pelan, lalu keluarkan."
__ADS_1
Kasha mengikuti arahan sang Dokter untuk menarik napas serta mengeluarkannya.
"Sekarang Ibu Kasha coba dorong perlahan-lahan ya." Cukup tenang Dokter memberikan aba-aba sehingga Kasha cukup tenang juga meskipun rasa sakitnya sudah luar biasa sekali.
Kasha kembali mengikuti arahan sang Dokter. Berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan sang bayi dari rahimnya. Namun belum keluar juga.
"Dokter perut saya sakit Dok." Kasha merintih kesakitan. Ia sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya. Bahkan air mata sudah berjatuhan dari pelupuk matanya.
"Ayo dicoba lagi ya Ibu Kasha, ayo semangat ya." Dokter berusaha untuk menyemangatkan Kasha dalam proses persalinannya.
Berkali-kali Kasha sudah mengikuti arahan dokter. Namun sang bayi belum kunjung keluar juga. Dan rasa sakit semakin menyiksanya.
"Sayang yang kuat ya, demi anak kita Sayang." Jevin memberikan semangat kepada istrinya yang berjuang luar biasa untuk melahirkan buah cinta mereka.
Sekali lagi Kasha mengenjan sekuat tenang. Namun bayinya belum keluar juga.
Jevin yang melihat perjuangan istrinya yang sangat luat biasa tidak bisa menahan tangisannya. Ia menangis. Meneteskan air mata berkali-kali.
"Mas jangan menangis, aku nggak apa-apa Mas." Kasha mencoba meyakinkan suaminya bahwa ia baik-baik saja dan masih kuat berusaha agar bayi mereka segera terlahir ke dunia.
"Sayang, Mas nggak tega lihat Sayang kesakitan seperti ini, Mas nggak tega Sayang." Jevin kembali meneteskan air matanya.
"Dokter tolong istri saya Dok, kasihan istri saya kesakitan Dok." Ucap Jevin memohon kepada sang Dokter agar melakukan tindakan lebih.
"Iya Pak Jevin kami akan terus berusaha untuk membantu Ibu Kasha agar bayi kalian segera keluar."
"Ibu Kasha ayo dicoba lagi ya, lebih kuat lagi ya." Ujar dokter menyuruh Kasha untuk lebih kuat lagi usahanya.
Kasha mencobanya kembali. Mendorong sangat kuat. mengeluarkan seluruh sisa tenaganya. Dan "Allahu Akbaaaar".
"Owek owek owek."
Tangisan bayi melegakan hati Kasha dan Jevin. Akhirnya bayi mereka telah lahir ke dunia. Dengan perjuangan yang sangat luar biasa.
"Alhamdulillah Mas bayi kita sudah lahir." Ucap Kasha bersyukur, meskipun tubuhnya kini lemas tidak bertenaga karena seluruh tenaganya sudah ia keluarkan yang tersisa hanya beberapa persen saja.
Jevin tidak sanggup untuk berkata-kata. Ia masih saja menangis. Tidak menyangka bahwa perjuangan istrinya sangat luar bisa untuk melahirkan anaknya.
"Selamat ya Bapak Jevin, Ibu Kasha, bayi kalian laki-laki, tampan seperti Ayahnya dan kuat seperti Ibunya." Ucap dokter memberikan ucapan selamat kepada Jevin dan Kasha yang mulai detik ini sudah resmi menyandang status ayah dan ibu.
"Silakan untuk diadzankan dulu bayinya, Pak Jevin."
Dokter memberikan bayinya kepada ayahnya. Perlahan Jevin melantunkan adzan tepat di telinga sang bayi.
Usai diadzakan Jevin memberikan bayinya kepada istrinya. Kasha tersenyum bahagia ketika kini ia sudah bisa menggendong bayinya yang selama kurang lebih sembilan bulan berada di dalam perutnya.
"Maa syaa Allah Mas lihat, bayi kita tampan sekali seperti Mas." Ucap Kasha memuji ketampanan bayinya yang sepertinya mirip dengan Abbynya.
Seketika Kasha kebingungan melihat sang suami belum berhenti menangis sejak tadi. "Lho Mas kenapa?, kok masih menangis?, anak kita kan sudah lahir."
"Mas sangat mencintai Sayang, cinta banget sama Sayang." Jevin memeluk erat istrinya. Serta berkali-kali mencium keningnya.
"Kita cukup punya anak satu saja ya Sayang, cukup satu saja."
"Lho memangnya kenapa Mas?." Tanya Kasha kebingungan.
"Mas nggak kuat lihat Sayang kesakitan seperti tadi, Mas nggak kuat Sayang." Jevin kembali menitikkan air matanya. Ia mengingat kembali bagaimana perjuangan istrinya tadi untuk melahirkan bayinya.
Kasha tersenyum geli. Ia tidak menyangka suaminya sudah sejauh itu pemikirannya. "Mas sudah ya jangan menangis lagi, malu nih sama anaknya, Nak, masa Abby masih menangis sih kalah sama kamu ya yang anteng dipelukan Ummy." Kasha mengajak bayinya mengobrol. Lebih tepatnya mengejek suaminya yang masih saja menangis.
"Sayangnya Abby yang nomor dua, nanti kalau kamu sudah dewasa kamu harus berbakti dan patuh sama Ummy ya jangan buat Ummy sedih apa lagi sampai menangis, karena perjuangan Ummy untuk melahirkan kamu itu sangat luar biasa bahkan mempertaruhkan nyawa Ummy." Jevin ikut mengajak mengobrol sang bayi, lebih tepatnya menasihatinya sejak dini agar berbakti kepada Ummynya.
❤❤❤
Kini Kasha sudah dipindahkan ke ruang rawat inap bersama bayinya dan tentunya ditemani oleh suami tercintanya.
Kasha tidak bosan-bosannya untuk memandangi bayi mungilnya. Buah hatinya. Penyemangat hidupnya. Seakan ia jatuh cinta lagi kepada selain suaminya.
Jevin pun demikian. Ia juga sedang memandangi buah cintanya dengan sang istri yang kini sudah lahir ke dunia. Melengkapi keluarga kecilnya. Serta memberikan status baru kepadanya, yaitu seorang Ayah.
"Assalaamu 'alaikum."
Suara salam mengalihkan pandangan keduanya. Jevin dan Kasha menoleh ke arah pintu ruangan inapnya yang terbuka dan menampilkan beberapa orang yang mulai memasuki ruangannya.
"Mama, Papa." Ucap Jevin ketika melihat kedua orang tuanya mulai menghampirinya.
"Abang El, Kak Niswah, Haziq." Ucap Kasha juga ketika keluarga baru saja tiba di ruangan inapnya.
"Cucu Mama." Ujar Rifda dengan riangnya dan bergegas untuk menggendong cucunya. Namun pergerakannya dihentikan oleh Jevin. Dan Jevin langsung memeluk dirinya.
"Mamaaaa."
"Lho kok menangis sih?" Rifda terkekeh mendapati putranya yang sudah besar menangis dalam pelukannya.
Bukan Hanya Rifda yang kebingungan dengan tingkah Jevin. Nufael dan Niswah juga kebingungan, bahkan mereka memberikan isyarat kepada Kasha untuk menanyakan tentang tingkah Jevin kepadanya.
Kasha hanya tersenyum seraya terus memandangi suaminya yang seperti anak kecil saja.
"Jevin ada apa sih?, kok Mama jadi bingung." Rifda terus saja menanyakan keadaan putranya yang tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba menangis tersedu-sedu.
"Jevin sayang sama Mama, sayang banget, Jevin janji nggak akan buat Mama bersedih lagi, Jevin janji Ma." Ucap Jevin ketika tangisannya mulai mereda.
Rifda tersenyum penuh haru. "Mama juga sayang sama kamu Jevin, kamu kan anak Mama satu-satunya, oh iya terima kasih ya kamu sudah memberikan Mama cucu, Mama senang sekali soalnya sudah lama Mama nggak mengendong bayi."
"Harusnya Jevin yang berterima kasih sama Mama karena Mama sudah melahirkan Jevin, sekarang Jevin tahu Ma bagaimana perjuangan seorang ibu saat melahirkan anaknya dan Jevin nggak tega melihatnya, Jevin nggak kuat tadi melihat Kasha kesakitan Ma, dan pasti Mama juga kesakitan kan waktu melahirkan Jevin."
Air mata haru mulai menetes dari pelupuk mata Rifda. Ibu mana yang tidak terharu ketika sang anak berkata-kata manis kepadanya. Itulah yang Rifda rasakan saat ini.
"Ah Jevin Mama jadi terharu deh." Ucap Rifda dengan menghapus air matanya.
"Nanti kalau Haziq sudah dewasa, Haziq tetap berbakti sama Umma ya, seperti Om Jev yang masih berbakti dan sayang sama Mamanya." Nufael mencoba menasihati sang putra ketika melihat pemandangan indah di hadapan mereka. Seorang anak yang bakti dan sayangnya luar biasa kepada Ibunya.
Haziq menganggukkan kepalanya. "Iya Buya in syaa Allah Haziq akan seperti Om Jev, Haziq akan sayang sama Umma sampai kapanpun, sama Buya juga." Jawabnya dengan riang.
Nufael tersenyum bahagia. Putranya mudah sekali untuk dinasihati. Dan ia juga berterima kasih kepada Jevin karena sudah memberikan contoh yang baik kepada Haziq, seperti saat ini.
"Sekarang Mama boleh bertemu cucu Mama." Jevin memberikan jalan kepada sang Mama untuk bertemu dengan cucunya.
Rifda mulai menghampiri sang cucu tersayang yang sedang berada dalam dekapan Ummynya.
"Assalaamu 'alaikum cucu Oma tersayang."
Kini sang bayi mungil sudah berada dalam dekapan Rifda. Dekapan penuh kasih sayang.
"Kasha selamat ya sekarang kamu resmi menjadi seorang Ummy." Ucap Niswah memberi selamat kepada adik iparnya.
"Kasha adikku selamat ya, Abang El bangga sama kamu, kamu perempuan yang kuat, tetap semangat ya." Nufael ikut memberikan selamat serta memberikan dukungan semangat kepada adiknya yang baru saja mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan bayinya.
Kasha tersenyum haru. "Iya Kak Niswah, Abang El, jazakumullah khoiron."
"Wa jazakillah khoiron." Jawab Niswah dan Nufael serentak.
"Assalaamu 'alaikum."
Suara salam kembali terdengar dari arah pintu. Terlihat dua perempuan cantik dengan balutan syarinya bersama seorang laki-kali memasuki ruangan inap Kasha.
"Wa 'alaikumus alaam." Jawab semuanya dengan serentak.
"Mbak Zaila." Panggil Kasha.
"Arshad." Panggil Rozin.
"Lubna." Panggil Rifda ketika melihat seorang perempuan seumuran dengannya mengenakan balutan pakaian syari.
"Mbak Rifda." Sapa Lubna.
"Alhamdulillah kamu sudah menutup aurat juga." Ucap Rifda mensyukurinya.
Lubna menganggukkan kepala serta tersenyum simpul. "Iya Mbak alhamdulillah, Zaila putriku yang menyadarkan aku bahwa kita hidup di dunia tujuannya untuk beribadah kepada Allah dan mematuhi perintahnya."
"Oh iya ini cucu kita Lubna, anaknya Jevin sama Kasha, ini gendong." Rifda memberikan bayi mungil dalam dekapannya kepada Lubna.
Lubna terharu ketika melihat bayi mungil sedang berada dalam dekapannya. "Maa syaa Allah lucu sekali kamu Nak, perkenalkan ini Oma Nana, Omanya kamu juga."
"Kasha." Zaila langsung memeluk Kasha, sang Ibu muda yang baru saja melahirkan.
"Kasha selamat ya atas kelahiran bayi lucunya, terima kasih juga ya sudah memberikan aku keponakan yang lucu." Ucap Zaila yang gemas sekali melihat bayi mungil yang sedang digendong oleh Maminya.
"Iya Mbak Zaila, terima kasih juga ya sudah mau menjenguk aku, oh iya Mbak Zaila nggak mau coba gendong?"
Zaila menggeleng cepat. "Nggak Kasha, aku nggak bisa gendong bayi."
"Makanya sekarang dicoba Mbak."
"Iya ayo dicoba Zaila." Rifda ikut bersuara. Membujuk Zaila untuk mencoba menggendong keponakannya Zaila sendiri.
__ADS_1
"Iya Zaila hitung-hitung latihan." Sambung Niswah ikut membujuknya.
Akhirnya Zaila mencoba untuk menggendong keponakannya yang baru saja lahir. Lubna memberikan bayi mungil itu dengan hati-hati karena putrinya masih pemula. Belum pernah menggendong bayi sama sekali.
"Mami ini benar gendongnya seperti ini?." Tanya Zaila yang takut salah menggendong. Bahaya jika ia salah menggendong nanti pemilik bayinya marah kepadanya.
"Iya sudah benar kok Darling." Jawab Lubna mengiyakan pertanyaan putrinya.
"Maa syaa Allah lucu sekali sih kamu Nak, keponakannya siapa sih?, keponakannya Tante Lala ya Sayang, iya keponakannya Tante Lala yang cantik." Zaila mulai mengajak mengobrol sang bayi mungil yang menggemaskan.
"Oh iya ngomong-ngomong keponakannya Tante Lala siapa nih namanya?, sudah punya nama kan?." Tanya Zaila sembari menoleh ke arah Kasha dan Jevin secara bergantian.
"Alhamdulillah sudah." Jawab Jevin akhirnya membuka suaranya karena semenjak kedatangan keluarga Zaila ia bungkam seribu bahasa.
"Namanya siapa Vin?." Tanya Zaila dengan sangat antusias. Sama seperti yang lainnya. Ikut antusias juga.
"Namanya Anugrah Alhusayn, yang artinya anugrah dari Allah untuk keluarga Alhusayn." Ucap Jevin mengumumkan nama anaknya, lengkap dengan artinya.
"Maa syaa Allah." Ucap semuanya dengan takjub.
"Anugrah Sayang, keponakannya Tante Lala ya." Zaila kembali mengajak bicara keponakannya yang kini sudah memiliki nama yang indah.
"Oh iya ngomong-ngomong kamu sudah memaafkan aku kan Vin?." Tanya Zaila kepada Jevin.
Jevin tersentak. Ia masih terdiam tanpa kata.
"Kalau kamu belum memaafkan aku, aku culik nih anak kamu." Ancam Zaila serius. Namun malah semua orang tertawa karenanya. Begitu juga dengan Jevin yang ikut tersenyum.
"Ya sudah kamu culik saja Anugrah." Ujar Jevin dengan serius.
"Kita buat yang baru ya Sayang." Lanjutnya sembari mengkedipkan mata genti kepada istrinya.
Kasha malah mencubit lengan Jevin. Ia malu sekali ketika semua anggota keluarganya menertawakannya, lebih tepatnya menertawakan ucapan iseng dari suaminya.
"Awww kok dicubit sih Sayang, kan benar?"
"Mas malu ditertawakan keluarga kita, memangnya buat bayi seperti buat kue yang langsung jadi." Oceh Kasha dengan kesal.
Jevin langsung memeluk istrinya. Mencium kepalanya berkali-kali. "Aduh sayang-sayang, Ummynya Anugrah, Abbynya Anugrah minta maaf ya, Abbynya Anugrah janji nggak akan nakal lagi."
Hati Kasha meluluh apa lagi mendapatkan pelukan serta ciuman penuh cinta dan kasih sayang dari Abbynya Anugrah. Lumer seketika.
Zaila langsung mengelus dada ketika melihat sepasang kekasih halal sedang bermesraan di hadapannya. Sungguh kejam. Tidak memikirkan perasaannya.
"Anugrah, Abby sama Ummynya Anugrah jahat ya, masa bermesraan di depan Tante Lala, kalau begitu Anugrah seriusan Tante Lala culik ya."
"Kabuuur"
Seketika Zaila keluar dari ruangan itu. Anggota keluarga yang lain menyusulnya. Sementara Abby dan Ummynya Anugrah malah semakin erat berpelukan. Saling mengulas senyuman kebahagiaan.
"Aku mencintaimu Ummynya Anugrah."
"Aku juga mencintaimu Abbynya Anugrah."
Kini lengkap sudah kebahagiaan Jevin dan Kasha. Hadirnya bayi dikehidupan mereka memberikan anugrah kebahagiaan kepada keluarga besarnya. Tali silaturrahim semakin kuat diantara keluarga besar mereka. Mereka patut mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada mereka. Tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak taat kepada Allah karena mereka sadar kebahagiaan yang mereka miliki saat ini adalah berasal dari cinta dan kasih sayang Allah subhanu wata 'ala.
Perjalanan cinta
Jevin Alhusayn
❤
Kasha Putri Althafurrahman
.....TAMAT......
😭😭😭😭😭
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Maa syaa Allah
Alhamdulillahirobbil Alaamiin
😭😭😭
Akhirnya perjalanan cinta
Jevin & Kasha
berakhir sampai di sini
Dan
Happy Ending
🤗🤗🤗
Jazakumullah Khoiron untuk kalian semua para pembaca setianya Ukhfira
Terima kasih banyak untuk kalian Readers
sudah meluangkan waktu untuk membaca
Perjalanan cinta islami
Jevin ❤ Kasha
🙏🙏🙏
Semoga ada manfaat yang terselip dalam cerita ini yang bisa berbuah pahala untuk kita semua
Aamiin Allahumma Aamiin
Sekali lagi Ukhfira ucapkan Jazakumullah khoiron untuk kalian semua yang selama ini sudah antuasias membaca, memberi vote bahkan menorehkan komentar baik serta yang sudah setia menunggu part-part selanjutnya
🤗🤗🤗
Ukhfira terharu
😭😭😭
Silahkan berikan pesan dan kesannya tentang novel ini👉👉👉
Kritik dan saran untuk Ukhfira👉👉
Semoga kalian sehat selalu ya
Readersss
Aamiin Allahumma Aamiin
🙏🙏🙏
Doa'in Author juga ya semoga sehat selalu dan mendapatkan ide-ide baru lagi
untuk kembali menulis novel selanjutnya
Aamiin Allahumma Aamiin
🙏🙏🙏
Sekarang
saatnya Ukhfira pamit undur diri yah
Saatnya Ukhfira kembali lagi ke dunia nyata
👋👋👋
In Syaa Allah jika ada waktu luang dan ada ide mampir
Ukhfira akan menulis lagi
Jangan bosan menunggu kembalinya Author yah
Tentunya dengan kisah cinta yang baruuuu
Okey
Sampai bertemu lagi
👋👋👋
__ADS_1
In Syaa Allah
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh