Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
22. Imam Yang Sholih


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


"Sayang..."


"Sayang bangun, ayo kita sholat tahajjud berjamaah Sayang. "


Jevin mengelus lembut pipi sang istri yang sedang tertidur pulas. Sebenarnya Jevin tidak tega untuk membangunkan istrinya yang sedang merajut mimpi indahnya. Namun waktunya untuk mendirikan sholat tahajjud sudah tiba. Jadi Jevin harus tega untuk mengganggu tidur sang istri.


Perlahan kedua mata Kasha pun terbuka. Ia masih lemas karena baru saja kembali ke alam sadarnya. Dengan bantuan Jevin Kasha mendudukkan dirinya agar rasa kantuknya bisa memudar.


Kasha sedikit terkejut melihat laki-laki di hadapannya sudah terlihat tampan dengan pakaian sholatnya. Rupanya suaminya itu sudah lebih dulu bangun ketimbang dirinya. Biasanya kemarin-kemarin Kasha yang selalu bangun duluan namun kali ini berbeda justru Jevin yang terbangun duluan sehingga membangunkan Kasha yang tadinya masih terlelap.


"Mas sudah bangun?, atau Mas begadang lagi ya?" Kasha teringat akan waktu itu Jevin begadang sampai jatuh sakit karena takut tidak bangun saat sholat subuh tiba.


"Mas nggak begadang Sayang, Mas tidur kok, dan Alhamdulillah Mas bisa bangun sendiri tadi."


Kasha dapat bernapas lega. Suaminya tidak begadang lagi seperti waktu itu. Kasha juga bersyukur karena suaminya sudah bisa bangun sendiri tanpa bantuan siapapun namun tentu alarm alami yang membangunkannya.


"Alhamdulillah, Allah yang membangunkan Mas."


"Iya Sayang benar, memang Allah yang membangunkan Mas. Ya sudah sekarang Sayang ambil wudhu dulu ya."


Kasha mengangguk patuh. Lalu bergegas menuju kamar mandi. Dalam hati tiada hentinya Kasha bersyukur kepada Allah karena suaminya telah berhasil menjadi apa yang Kasha impikan selama ini, yaitu imam yang sholih untuk Kasha. Membangunkan Kasha di sepertiga malamnya untuk bersujud di hadapan sang Robbi.


Sholat tahajjud mereka telah mencapai salam. Kasha mengaminkan setiap bait doa yang Jevin panjatkan. Tak lupa Kasha mengucap syukur karena Allah telah membolak-balikkan hati suaminya yang kini sudah benar-benar menjadi hamba yang beriman kepadaNya.


"Mas, besok aku izin puasa sunnah ya?"


Kasha membuka obrolannya ketika mereka sudah selesai berdoa.


Jevin nampak sedang terdiam sejenak. Seperti sedang memfungsikan otaknya untuk memikirkan sesuatu.


"Puasa sunnah?, oh iya besok kan hari senin ya Sayang"


"Mas tahu tentang puasa sunnah senin kamis?." Tanya Kasha dengan kilatan mata yang terpancar bahagia karena suaminya mengetahui tentang puasa sunnah senin kamis.


"Iya Sayang alhamdulillah Mas tahu dari Haziq."


Kasha bertanya-tanya. Katanya Jevin mengetahui tentang puasa sunnah dari Haziq, keponakan mereka. Bagaimana ceritanya?, Kasha menjadi penasaran dengan ceritanya sampai suaminya itu tahu puasa sunnah senin kamis dari Haziq, si anak laki-laki yang sholihnya maa syaa Allah.


"Mas tahu dari Haziq?, bagaimana ceritanya Mas?"


"Jadi begini ceritanya Sayang, hari kamis kemarin Abang ipar itu kan mengantarkan catering ke kantor nah dan dia itu buru-buru soalnya mau jemput Haziq katanya. Terus Mas menawarkan diri ke Abang ipar untuk jemput Haziq, Abang ipar pun mengizinkan Mas. Nah Mas kan sudah jemput Haziq ke sekolahnya, dan di perjalanan pulang Mas sempat menawarkan Haziq untuk beli es cream eh dia nggak mau dan bilang lagi puasa sunnah, jadi Mas tahu deh tentang puasa sunnah senin kamis dari si anak sholih itu."


Kasha pun mengangguk-anggukkan kepala pertanda mulai paham akan cerita yang sedikit panjang tentang suaminya yang mengetahui puasa sunnah senin kamis dari Haziq yang dipanggil oleh Jevin sebagai si anak sholih.


Kasha kembali ke niat awalnya yaitu meminta izin untuk puasa sunnah esok hari. "Jadi bagaimana Mas, Mas mengizinkan aku puasa sunnah kan?"


Jevin mengangguk cepat. "Iya Mas izinkan dong Sayang, masa istri Mas mau menjalankan sunnah Mas melarang."


"Alhamdulillah kalau Mas mengizinkan, kalau begitu aku sahur dulu ya Mas."


Tanpa berlama-lama lagi Kasha langsung bergegas hendak keluar dari kamarnya. Sebelum itu ia membuka serta melipat mukenahnya terlebih dahulu.


"Sayang, Mas ikut."


Kasha terkejut. "Mas mau ikut sahur?"


Jevin mengangguk penuh keyakinan. "Iya Sayang."


"Jadi maksud Mas, Mas mau puasa sunnah juga?"


Jevin mengangguk lagi. "Iya Sayang, masa cuma istri Mas saja yang puasa sedangkan Mas malah nggak puasa."


Kasha yang mendengarnya langsung senang dan bahagia tidak lupa juga bersyukur. Alhamdulillah, suaminya mau ikut puasa juga. Bahkan kemauannya sendiri tanpa campur tangan dari Kasha. Bukan maksud Kasha tidak ingin mengajak suaminya untuk puasa sunnah, namun Kasha takut suaminya merasa terbebani karena baru saja istiqomah dalam sholatnya, Kasha malah langsung mengajaknya untuk berpuasa sunnah.


"Alhamdulillah kalau begitu Mas, aku sedang dengarnya."


"Iya dong Sayang, masa Mas kalah sama Haziq, dia masih kecil lho tapi sudah bisa menjalankan puasa sunnah, kan Mas jadi tertantang deh."


"Mas jangan begitu ya, Mas harus niatkan puasa sunnah semata-mata karena Allah, bukan karena nggak ingin kalah sama Haziq apa lagi karena merasa tertantang."


Jevin menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak membenarkan atas ucapan Kasha barusan. Jevin sama sekali tidak ada niat seperti itu. Kasha sudah salah paham dan Jevin harus meluruskannya.


"Bukan begitu Sayang, Mas niat puasa karena Allah kok, cuma maksud Mas, Mas menjadikan Haziq itu motivasi buat Mas agar Mas bisa meningkatkan ibadah Mas, begitu Sayang."


Kasha pun mengerti dan tidak lagi berpikiran negatif tentang suaminya. "Alhamdulillah kalau memang seperti itu Mas. Ya sudah kalau begitu ayo kita sahur Mas, nanti keburu adzan subuh."


"Iya Sayang ayo."

__ADS_1


Jevin bersemangat sekali untuk sahur. Bahkan ia sudah tidak sabar menunggu hari esok di mana ia sedang menjalankan puasa sunnah yang perdana alias pertama kalinya.


"Mas, makannya nggak usah banyak-banyak Mas, secukupnya saja."


Kasha mengingatkan Jevin untuk tidak berlebihan saat makan sahur ketika melihat Jevin mengambil nasi dan lauk pauknya cukup banyak, tidak seperti biasanya.


"Mas takut besok nggak kuat Sayang."


Kasha tersenyum. "In syaa Allah kuat Mas, Allah akan menguatkan Mas."


"Aamiin."


Akhirnya Jevin menaruh kembali sebagaian nasi berserta lauk pauknya ke tempat semula. Menuruti permintaan sang istri yang menyuruhnya untuk makan secukupnya saja.


❤❤❤


"Sayang doakan Mas ya, semoga puasa Mas hari ini lancar."


"Iya Mas. Aamiin, Mas yang semangat ya."


"Pastinya dong Sayang. Kalau begitu Mas berangkat dulu ya."


"Iya mas fii amanillah."


"Aamiin."


Jevin pun masuk ke dalam mobilnya usai Kasha mencium tangannya dan tak lupa Jevin juga mendaratkan ciuman di kening Kasha. Mobil yang dikemudikan Jevin pun keluar dari pekarangan rumahnya. Meluncur menuju kantornya.


Kasha berharap semoga pulang kerja nanti Jevin tetap bersemangat seperti saat ini ia berangkat kerja meskipun sedang berpuasa. Kasha juga mendoakan agar puasa sunnah pertama Jevin berjalan dengan lancar tanpa kendala dan pekerjaan Jevin juga tidak terganggu meskipun Jevin sedang berpuasa.


❤❤❤


"Assalaamu 'alaikum Mas."


Kasha masuk ke dalam ruangan suaminya yang kelihatan sunyi nan senyap. Kasha tersenyum mendapati suaminya sedang terbaring di kursi sofa. Matanya terpenjam, namun perlahan terbuka ketika menyadari kedatangannya. 


"Wa 'alakumus salaam Sayang." Ucap Jevin yang masih pada posisi rebahannya.


"Mas kenapa?, mengantuk ya?." Tanya Kasha sembari menghampiri sang suami yang kemudian menggeleng pelan.


"Mas lemas Sayang."


Kasha pun tersenyum. "ya sudah Mas batalkan saja puasanya." Ucap Kasha dengan santai.


Jevin tersentak dan langsung menggeleng cepat. "Nggak Sayang, Mas nggak mau membatalkan puasa Mas."


"Ya tapi katanya Mas lemas, nggak apa-apa Mas batalkan saja, ini kan puasa sunnah, Allah pasti memahami Mas kok, Mas kan baru belajar puasa juga, dari pada nanti Mas sakit, aku kan jadi khawatir sama Mas."


"Terus pekerjaan Mas bagaimana?"


"Pekerjaan Mas hari ini sedikit kok Sayang, jadi masih bisa dikerjakan besok."


Kasha mengangguk saja. Tidak banyak komentar, yang terpenting suaminya baik-baik saja dan melakukan apa saja sesuai dengan keinginannya tanpa paksaan darinya.


"Ya sudah Sayang ayo kita pulang, Mas mau tidur di rumah saja, biar bisa leluasa."


"Ya sudah terserah Mas saja, tapi Mas sudah sholat dzuhur kan?"


Jevin mengangguk. "Sudah Sayang, tadi setelah sholat dzuhur Mas jadi lemas, soalnya jalan kaki ke masjid."


Kasha terkekeh. "Ya Allah Mas, masjidnya deket kok."


"Tapi tetap saja jalan kaki Sayang, kan Mas sedang puasa."


Kasha hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala. Suaminya ini terlihat lucu sekali disaat-saat seperti ini. Seperti anak kecil yang sedang belajar puasa. Manja dan lemas.


❤❤❤


Suara adzan berkumandang dengan merdu nan syahdu. Pertanda telah masuk waktunya sholat ashar. Jevin masih berada dalam kepungan alam  bawah sadarnya, seakan tuli sementara sampai tidak mendengar suara adzan yang menggema cukup nyaring.


Kasha yang melihat suaminya masih tertidur lantas segera membangunkannya.


"Mas bangun Mas, sudah waktunya sholat ashar."


Perlahan Jevin menggeliat-geliatkan tubuhnya seperti ulat. Namun Kasha tidak berhenti disitu ia terus membangunkan Jevin sampai terbangun. Dan Jevin pun terbangun dengan gerakan lunglai serta lemas.


"Sayang Mas tambah lemas nih, bisa nggak sholatnya di rumah saja?"


Kasha menghela napas pelan. "Bisa kok Mas, tapi Mas sholatnya pakai mukenah ya."


Jevin langsung tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan giginya yang berbaris dengan rapi nan bersih.


"Iya Sayang, Mas sholatnya di masjid kok, ini Mas mau ambil wudhu dulu."


Jevin pun bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Sebenarnya Jevin lemas sekali bahkan perutnya sudah keroncongan tetapi Jevin tidak mau menyerah begitu saja. Jevin yakin Allah akan menguatkannya sampai nanti tiba waktunya adzan maghrib berkumandang. Jevin hanya perlu ekstra bersabar saja.


❤❤❤

__ADS_1


Jevin keluar dari rumahnya dengan berjalan sedikit lambat untuk menuju masjid yang untungnya letaknya tidak begitu jauh dari rumahnya.


"Om Jev?"


Jevin menatap ke arah depan. Ia melihat Haziq dan Nufael baru saja keluar dari rumah mereka dan segera menghampiri Jevin.


"Lho, Om Jev nggak ke kantor?." Tanya Haziq yang baru kali ini melihat Jevin sore-sore begini ada di rumah.


"Iya Jevin, kamu nggak ke kantor?, atau sudah pulang?." Sambung Nufael yang juga ikut bertanya-tanya.


"Om Jev sudah pulang Haziq, aku pulang lebih awal Abang."


"Kenapa sudah pulang Om?"


"Om sedang lemas banget nih, makanya Om pulang duluan."


"Kamu sakit Jev?"


Jevin menggeleng pelan. "Nggak Abang, cuma sedang lemas saja, soalnya ini pertama kalinya aku puasa sunnah."


Nufael dan Haziq kompak terkejut. Lalu keduanya saling tersenyum bahagia kepada Jevin. Terutama Haziq yang terlihat sangat senang dan riang.


"Oh ya?, Om Jev sedang puasa juga?, alhamdulillah."


"Alhamdulillah." Ucap Nufael ikut bersyukur.


"Om Jev jangan lemas lagi, ayo semangat Om Jev."


Jevin hanya dapat geleng-geleng kepala saja melihat bocah umur 7 tahun di hadapannya bersemangat sekali, padahal sedang berpuasa. Benar-benar anak ajaib menurut Jevin. Kapan dirinya bisa seperti keponakannya itu yang terlihat biasa saja tidak nampak lemas seperti dirinya saat ini meskipun dalam keadaan sedang berpuasa.


❤❤❤


15 menit lagi adzan maghrib akan segera berkumandang. Jevin sudah tidak sabar ingin mencicipi semua makanan yang terhidang di meja makan. Kasha yang melihat Jevin dibuatnya tersenyum geli, tingkah suaminya sudah sperti anak kecil yang baru belajar berpuasa dan sangat antusias sekali menunggu adzan maghrib berkumandang.


Allahu akbar


Allahu akbar


Adzan maghrib telah berkumandang. Tanpa berlama-lama lagi Jevin langsung meneguk air putih yang sejak tadi berada di hadapannya sebelum itu Kasha mengingatkan Jevin untuk berdoa terlebih dahulu sebelum air dan yang lainnya masuk ke dalam mulutnya.


"Mas makan kurma dulu."


Jevin pun menurut. Menjauhkan piring yang sudah terisi nasi dan lauk yang hampir saja ia santap. Lalu mengambil satu buah kurma dan menyantapnya. Usai menyantap kurmanya Jevin kembali bersiap-siap menyantap makannya yang ada di piringnya, namun Kasha menahannya lagi.


"Mas sholat maghrib dulu ya."


"Tapi Sayang-"


"Assalaamu 'alaikum, Om Jev."


Bersamaan dengan itu, terdengar suara Haziq dari luar rumah. Kasha yakin pasti Haziq dan Abangnya ingin mengajak Jevin untuk sholat berjamaah di masjid.


"Itu Mas di luar pasti ada Haziq sama Abang, mau mengajak Mas sholat di masjid."


Jevin menampakkan wajah kecewa karena gagal menyantap hidangan berbuka puasanya yang sudah menggoda lidahnya sejak tadi.


"Ya sudah Mas ke masjid dulu ya."


"Iya Mas, Mas yang semangat ibadahnya ya."


Senyuman manis yang merekah di wajah Kasha tidak bisa Jevin abaikan begitu saja. Hingga akhirnya Jevin pun membalas senyuman sang istri.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Apa kabar readers???


Smoga kalian sehat selalu ya


Dan tetap pantauin lapak ini


🤗🤗🤗


Jazakumullah khoiron untuk kalian yang sudah nyemangatin Ukhfira untuk terus update kisah cintanya Jevin❤Kasha


Vote dan komentar kalian sangat berarti sekali untuk Ukhfira lho


selaku penulis pemula yang memang membutuhkan dukungan dan saran dari kalian semuaaa


Btw jangan lupa tersenyum dan selalu bersyukur ya


Dan jangan lupa juga ibadahnya yang semangat seperti JEVIN


Biar disayang ALLAH dan RASULULLAH


Sampai bersapa kembali di part selanjutnya

__ADS_1


Jangan bosan menunggu ya


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2