
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Seperti hari kemarin, hari ini Kasha menemani Nufael mengantar pesanan catering ke perusahaan Arfan. Kasha bersyukur karena laki-laki yang kemarin memperhatikan dirinya tidak memunculkan diri. Bahkan sampai Kasha hendak keluar dari bagunan besar tersebut. Namun siapa sangka ketika Kasha dan Nufael hendak masuk kembali ke dalam mobil online yang mereka pesan, sebuah mobil berhenti di halaman perusahaan itu dan pemiliknya pun keluar.
"Pak Jevin."
Nufael tersenyum ramah ketika mendapati Jevin baru saja keluar dari mobilnya dan menghampiri Nufael beserta Kasha. Namun Kasha tidak memberanikan diri untuk menatap lawan jenis yang sedang bertegur sapa dengan Abangnya.
"Pak Nufael sudah selesai mengantar makan siang ya?"
Nufael mengangguk sopan. "Iya Pak Jevin, kalau begitu kami pamit undur diri."
"Oh, iya Silakan."
Jevin mempersilahkan Nufael beserta perempuan yang di belakang Nufael itu pergi meninggalkannya. Jevin sempat memperhatikan perempuan itu lagi. Dan masih terlihat aneh di mata Jevin. Bagaimana tidak di jaman yang sudah sangat maju ini masih ada perempuan yang berpenampilan kampungan apalagi ini di ibu kota Jakarta ini. Jevin tidak habis pikir masih ada perempuan yang tidak fashionable dan tidak mengikuti arus perkembangan jaman. Namun Jevin malah penasaran kira-kira apa yang membuat perempuan yang sudah pergi 5 menit yang lalu itu masih berpenampilan kampungan dan jauh dari kata modis.
❤❤❤
Sesampainya di rumah. Terlintas dipikiran Kasha akan laki-laki yang tadinya tidak sengaja sempat Kasha pandang. Dan laki-laki itu masih saja memandang Kasha. Kasha merasa risih sekali dengan perlakuan laki-laki itu. Sungguh tidak menjaga pandangan matanya. Padahal Kasha sudah berpenampilan setidak menarik mungkin bahkan seluruh tubuhnya ia tutupi dengan sempurna. Kasha semakin berpikiran bahwa laki-laki itu pasti tidak menjaga pandangan matanya ketika berpapasan dengan perempuan-perempuan di luaran sana yang mempertontonkan auratnya. Kasha bergidik ngeri. Sebab masih banyak ternyata laki-laki di luaran sana yang tidak menjaga pandangan matanya contohnya laki-laki yang tadi memandang Kasha yang ia ketahui namanya adalah Jevin.
"Ya Allah, ternyata masih banyak laki-laki yang tidak menjaga pandangannya, sungguh miris sekali, lindungilah hamba dari laki-laki seperti itu ya Allah. Aamiin." Kasha membatin.
❤❤❤
Meskipun terlihat aneh nyatanya berhasil membuat seorang Jevin Alhusayn termenung disela-sela aktivitas kerjanya. Tadinya ia sudah memfokuskan diri menatap layar laptop. Namun sosok perempuan aneh itu menyelinap masuk ke dalam ingatannya.
"Siapa sebenarnya perempuan itu?, kenapa masih ada perempuan seperti dia yang sama sekali nggak memikirkan penampilannya?, mana ada laki-laki yang tertarik sama perempuan seperti itu, jangankan tertarik melihatnya saja ogah." Jevin tersenyum meledek ketika mengingat perempuan yang sudah dua kali ia jumpai.
Kini Jevin sudah kembali dengan aktivitas semulanya, yaitu berkutat dengan berkas-berkas penting dan layar laptop yang menyala. Namun siapa sangka sosok perempuan itu hadir kembali diingatannya. Jevin menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir sosok perempuan itu namun tidak membuahkan hasil dan percuma saja.
Jevin menghela napas jengah dan duduk bersandar di kursi kebanggaannya.
"Sial, kenapa aku malah kepikiran sama perempuan itu, dan kenapa jadi penasaran saja. Kira-kira apa yang membuat perempuan itu percaya diri dengan penampilannya?. Dan dia sepertinya nggak merasa iri dengan perempuan-perempuan lain yang jauh lebih modis dibanding dia. Sudah nggak jaman kali berpenampilan seperti itu."
Lagi dan lagi Jevin tiada hentinya menghina penampilan perempuan yang ditemuinya tadi. Namun rasa penasaran kini muncul di benaknya. Baru kali ini Jevin penasaran dengan seorang perempuan yang baru dua kali dijumpainya. Sebenarnya Jevin sudah tidak ingin memikirkan manusia yang bernama perempuan. Menurut Jevin makhluk hidup yang bernama perempuan itu bisanya hanya menyakitkan hati seorang lelaki saja. Tidak lebih dari itu. Seperti halnya dengan masa lalu Jevin yang tidak sudi untuk Jevin ingat kembali. Namun kali ini atas ketidaksengajaannya Jevin memikirkan tentang satu orang perempuan yang awalnya dinilai aneh olehnya tetapi kini dengan perlahan mulai menghadirkan rasa penasaran di benaknya. Dan perempuan itu adalah Kasha.
Akhirnya Jevin sudah tidak memirkan perempuan itu lagi. Dan ia sedang menelpon seseorang. "Tolong panggilkan Arfan, secepatnya suruh ke ruangan saya." Jevin kembali menutup teleponnya usai keinginannya terlaksanakan yaitu meminta sekretarisnya untuk memanggil salah satu karyawannya yang bernama Arfan untuk segera ke ruangannya.
Tok... tok... tok...
Pintu ruangannya terketok, Jevin berspekulasi bahwa yang mengetoknya adalah seseorang yang ia suruh untuk menghadapnya sekarang juga.
"Masuk."
Pintu pun terbuka dan sosok Arfan memunculkan dirinya. Kemudian mengikuti arahan sang Bos yang mempersilahkan untuk duduk tepat dihadapan Bosnya.
"Maaf Pak, ada yang bisa saya bantu?." Ucap Arfan dengan rasa hormat yang tidak pernah ia lupakan ketika berhadapan dengan Bosnya yang super tegas.
__ADS_1
Jevin mengambil napas sejenak kemudian berucap "Apakah kamu mengenali perempuan yang ke perusahaan ini bersama Pak Nufael?"
Arfan sedikit terkejut. Ada rasa aneh ketika Bosnya menanyakan hal itu. Pikiran Arfan sudah kemana-mana bahkan ia sudah berani menyimpulkan bahwa Bosnya sedang tertarik dengan perempuan yang tidak lain adalah Kasha, adik dari Nufael.
"Saya hanya bertanya saja, kalau dia ******* bagaimana?, secara penampilan dia aneh sekali, saya tidak ingin ada bom yang meledak di perusahaan saya." Sarkas Jevin sangat serius.
Arfan menahan tawanya yang sudah separuh meledak. Bosnya ini ada-ada saja. Masa iya perempuan polos yang dikenal oleh Arfan adalah seorang *******. Jika Kasha benar-benar seorang ******* mungkin rumah Arfan sudah lebih dulu meledak sebab rumahnya dekat dengan rumah keluarga Nufael di mana Kasha tinggal.
"Bapak ini ada-ada saja, Kasha itu perempuan yang baik, dia adiknya Nufael Pak, Kasha bukan seorang *******, jadi Bapak tenang saja, perusahaan ini in syaa Allah aman tidak akan ada bom yang meledak."
Jevin dapat bernapas lega lantaran sudah mendapat sedikit info tentang perempuan aneh yang ternyata bernama Kasha.
"Oh ternyata perempuan itu bernama Kasha, aneh sekali namanya, sama seperti orangnya." Ucap Jevin membatin
"Kalau begitu kamu boleh keluar dari ruangan saya."
"Hah?, jadi Bapak manggil saya kesini hanya mau menanyakan itu saja?"
"Iya, memangnya kenapa?, ada yang salah?" Jevin balik bertanya kepada Arfan.
Arfan menggeleng sembari tersenyum aneh melihat Bosnya yang baru kali ini menanyakan sesuatu yang kurang bermutu dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan perusahaan.
"Nggak sih Pak, cuma aneh saja, saya pikir Bapak mau bertanya apa, ya sudahlah kalau begitu saya pamit ke ruangan saya Pak, masih banyak pekerjaan yang lebih penting."
Jevin sedikit naik pitam. "Jadi maksud kamu bertemu dengan Bos kamu ini tidak penting?, begitu?"
"Bisa jadi." Celetuk Arfan lirih namun siapa sangka Jevin mendengarnya. Sangat jelas.
"Gaji kamu bulan ini saya potong 50%."
Kedua bola mata Arfan melotot dan seakan ingin meloncat. "A-apa Pak?, gaji saya dipotong?, ya, ya jangan dong Pak-"
"Ta-tapi Pak-"
"KELUAR!!!"
Arfan pun keluar dengan langkah lemas. Tak bertenaga. Arfan menyalahkan dirinya sendiri yang sempat keceplosan di hadapan Bosnya. Sudah tahu perangai Bosnya seperti itu, namun Arfan malah tidak berhati-hati. Alhasil dengan berbesar hati Arfan harus menerima akibatnya. Memang super tega Bosnya itu hanya persoalan sepele saja gajinya yang jadi korban.
❤❤❤
"Assalaamu 'alaikum."
Arfan memasuki rumahnya dengan langkah yang lemas. Kejadian tadi sore di ruangan Bosnya sungguh menjadi beban pikiran untuk Arfan. Semudah itu Bosnya memotong gajinya hanya karena sebuah kesalahan yang sama sekali tidak menimbulkan dampak apapun. Bosnya itu benar-benar berhati batu. Seperti manusia yang tidak memiliki hati.
"Dasar perjaka tua."
"Wa 'alaikumus salaam, perjaka tua?"
Arfan tidak menyadari bahwa sang istri sudah berada di hadapannya dan menjawab salamnya bahkan mendengar perkataan Arfan yang menyebut dua kata yaitu "perjaka tua"
Shima mencium punggung tangan suaminya dan masih penasaran kira-kira siapa yang diberi julukan oleh suaminya itu dengan julukan "perjaka tua"
"Sayang, perjaka tua siapa?"
Arfan mendengus kesal. "si Jevin, siapa lagi."
__ADS_1
Arfan berlalu begitu saja meninggalkan sang istri yang sedikit terkejut karena baru kali ini suaminya itu kesal dengan Bosnya padahal kemarin baik-baik saja.
Shima bergegas menuju ruang tengah di mana Arfan berada sebelum itu Shima menuju dapur untuk mengambil secangkir teh yang sudah disiapkan untuk Arfan.
"Sayang kamu kenapa sih?, kok pulang-pulang mengejek Bos kamu seperti itu?"
"Si perjaka tua itu memotong gaji aku Sayang, nggak tanggung-tanggung, motongnya langsung 50%, kan aku jadi super kesal."
Shima terkejut dan akhirnya ikut kesal juga karena gaji suaminya dipotong sebanyak lima puluh persen oleh Bosnya yang bernama Jevin. Namun Shima tidak langsung menyalahkan Jevin tanpa mengetahui alasan memotong gaji suaminya itu sampai separuh dari keseluruhan gaji.
"Astaghfirullah, kok Pak Jevin setega itu sih Sayang sama kamu, memang kamu melakukan kesalahan apa sih?"
Sebenarnya Arfan sudah tidak ingin membahas persoalan tadi namun sang istri ingin mengetahui alasan pemotongan gajinya itu.
"Tadi itu pak Jevin menanyakan tentang Kasha, dia mengira Kasha itu ******* soalnya penampilannya aneh, ya aku jawab Kasha bukan ******* dan aku bilang pertanyaan Pak Jevin itu nggak penting, eh tahu-tahunya dia marah terus main potong gaji aku begitu saja, ngeselin kan?!"
"Apa?!"
"Pak Jevin mengira Kasha *******? kok bisa?, memangnya Kasha berpenampilan aneh yang bagaimana sih Sayang?, bukannya penampilan Kasha biasa saja sama seperti aku kan?"
Shima sudah melupakan tentang pemotongan gaji sang suami, justru saat ini dia membahas tentang Kasha yang dikira ******* oleh Jevin. Memangnya apa yang salah dari penampilan Kasha sampai Bos dari suaminya itu mengira bahwa Kasha adalah seorang *******.
"Iya Sayang, Kasha itu berpenampilan biasa saja seperti kamu ini, seperti Niswah dan seperti perempuan muslimah lainnya yang lebih memilih untuk menutup auratnya dengan benar."
"Lho terus kenapa Pak Jevin bilang penampilan Kasha aneh?"
Arfan menghela napas jengah. "Namanya juga Pak Jevin, Sayang, dia kan keseringan lihat perempuan-perempuan berpakaian kurang bahan, jadinya saat melihat perempuan yang tertutup auratnya seperti Kasha malah dikira aneh."
Shima mengelus dadanya sembari beristghfar. "Astaghfirullah adzim, jadi karena berpenampilan menutup aurat seperti ini, Pak Jevin malah merasa aneh bahkan menganggap seorang *******?"
Akhirnya Shima mengetahui alasan Jevin yang mengatakan bahwa penampilan Kasha aneh. Wajar saja jika laki-laki seperti Jevin berpendapat seperti itu. Karena keseringan melihat yang terbuka jadi ketika melihat yang tertutup malah disangka aneh bahkan sampai dikatakan seorang *******.
"Ya begitulah Sayang, kalau seorang laki-laki muslim kurang pengetahuan ilmu agamanya. Nggak bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil."
"Iya Sayang, sangat disayangkan orang seperti Pak Jevin, dia punya segalanya tapi dia kurang pemahaman ilmu agamanya. Sayang kamu bantu Pak Jevin ya untuk kembali kekodratnya sebagai seorang muslim. Berpahala lho Sayang kalau mengajak saudara sesama muslimnya kembali ke jalan agamanya yang lurus."
Arfan kembali menghela napas jengah. Istrinya menyuruhnya untuk mengajak Jevin kembali ke jalan Allah yang lurus. Sebenarnya tanpa disuruh Arfan sudah berinisiatif sendiri untuk mengajak Jevin melakukan kebaikan namun respon yang diberikan Jevin sungguh sangat disayangkan sekali.
"Sebenarnya kemarin aku sempat mengajak Pak Jevin untuk sholat jum'at tapi Sayang tahu respon dia seperti apa?"
Shima mulai penasaran dan langsung mengangguk menunjukkan bahwa dirinya ingin sekali mengetahui respon dari Jevin usai suaminya mengajaknya untuk sholat jum'at.
"Dia malah mengusir aku dari ruangannya bahkan dia sampai mau memecat aku Sayang, semenjak itu deh aku nggak berani lagi mengajak dia sholat."
Shima tidak habis pikir Bos dari suaminya itu tidak merespon baik ajakan kebaikan dari suaminya. Sangat disayangkan sekali. Ketika Allah memberikan segalanya namun ia tidak mau bersujud dihadapan yang telah memberikan segalanya kepadanya.
"Astaghfirullah kok Pak Jevin seperti itu ya Sayang, tapi Pak Jevin itu agamanya Islam kan?"
"Iya Sayang dia beragama Islam, tapi cuma di KTPnya doang, mungkin kalau orang yang sudah kaya dan sukses seperti Pak Jevin menganggap agama itu sudah nggak penting kali, kan dia sudah punya segalanya jadi dia sudah nggak butuh apa-apa lagi, apalagi menghambakan dirinya di hadapan Tuhannya."
Arfan dan Shima tidak bermaksud untuk membicarakan atau menghibah Jevin namun mereka membahas tentang Jevin hanya sebagai pelajaran saja agar tidak mengikuti jejak Jevin yang sungguh tidak terpuji. Dan sesama muslim sebenarnya Arfan juga kasihan melihat Jevin yang sengaja menjauhkan diri dari Tuhannya. Namun mau bagaimana lagi Jevin mengabaikan ajakan kebaikan dari Arfan beberapa hari yang lalu.
"Ya sudah Sayang, kalau memang ajakan kamu itu ditolak sama Pak Jevin, kita doakan saja semoga Allah memberikannya hidayah karena kan hanya Allah yang bisa memberikan hambaNya sebuah hidayah, dan kita sebagai saudara sesama muslimnya hanya dapat mendoakannya saja."
"Maa syaa Allah istriku ini bijak sekali. Iya Sayang kita doakan saja semoga Pak Jevin diberi hidayah oleh Allah."
__ADS_1
"Aamiin."
Arfan tersenyum bangga kepada istrinya. Bijak sekali istrinya itu dalam menghadapi persoalan seperti ini. Istrinya masih berbaik hati mendoakan Jevin agar diberi hidayah oleh Allah padahal Jevin sudah bersikap tidak baik dengan memotong gajinya sesuka hati.