
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Diakhir waktu sepertiga malamnya, usai sholat tahajjud bersama Jevin, Kasha tidak lupa untuk membaca kitab suci Al-Qur'an. Kasha menaruh kembali mushaf Al-Qur'an setelah selesai membacanya.
Kreggg
Pintu kamar mandi terbuka. Bersamaan dengan itu keluarlah Jevin yang baru selesai mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya. Jevin terlihat segar dengan rambutnya yang masih basah dan butiran-butiran air dari rambutnya mengalir ke dadanya yang sengaja tidak dibaluti handuk karena handuknya sudah dililitkan di pinggangnya.
Sebenarnya sejak dulu Jevin tidak pernah mandi di waktu-waktu seperti ini. Waktu dini hari, di mana Jevin biasanya menghabiskan waktunya untuk terlelap sampai menjelang pagi. Namun kebiasaannya berubah drastis, setelah menikah, Jevin harus menunaikan sholat tahajjud bersama sang istri, dan kadang-kadang juga Jevin harus menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami, alhasil dinginnya air malam harus Jevin perangi.
"Sayang, baju Mas mana?"
Kasha tertegun dalam diamnya. Ia memperhatikan suaminya yang hanya berlilitkan handuk di bagian pinggang sampai lutut. Tanpa sengaja Kasha memperhatikan dada bidang sekaligus perut six pack suaminya. Kasha baru menyadari bahwa suaminya itu bertubuh kekar dan atletis sekali.
"Sayang?"
Kasha langsung tersadar dan seketika menatap ke arah wajah suaminya. "I-iya Mas, ini bajunya."
Tanpa berpikir panjang Kasha segera mengambil baju taqwa yang telah disiapkan di atas kasur kepada Jevin yang masih berdiri di depan kamar mandi.
Jevin mengetahui bahwa saat ini Kasha sedang salah tingkah karena tertangkap basah sedang memperhatikannya yang bertelanjang dada. Jevin pun gemas melihat sang istri memberikan baju taqwa kepadanya namun pandangannya malah tertunduk ke bawah.
Dalam satu tarikan bukan hanya baju taqwa yang Jevin raih namun tangan Kasha juga berhasil Jevin raih bahkan sampai Kasha terpental di hadapannya hingga kedua tangan Kasha secara tidak sengaja menyentuh dada bidangnya yang masih sedikit basah karena baru selesai mandi.
Kasha terbelalak. Ia memperhatikan kedua tangannya yang menempel di dada Jevin. Kasha pun mendongak, menatap Jevin yang tersenyum ke arahnya.
"Ma-Mas dipakai bajunya."
Kasha tersadar dan langsung memundurkan langkahnya, memberi sedikit jarak antara dirinya dengan Jevin. Namun Jevin malah melangkah, mendekati Kasha yang terus memundurkan langkahnya.
"Ma-Mas mau apa?" Tanya Kasha teramat gugup.
"Mas mau..."
Tok... tok... tok...
"Assalaamu 'alaikum."
"Tante Kasha, Om Jev."
Suara ketokan pintu plus suara salam menjadi penolong bagi Kasha untuk kabur dari Jevin. Kasha langsung keluar dari kamarnya untuk membukakan pintu sementara Jevin malah terkekeh melihat Kasha sudah berpipi merah merona akibat keusilannya.
"Wa 'alaikumus salaam."
Kasha membuka pintu rumahnya. Didapatinya Nufael bersama keponakannya Haziq sudah sama-sama tampan dengan pakaian sholat mereka.
"Eh ada Haziq."
"Tante Kasha, Om Jev mana?, Haziq mau ajak Om Jev ke masjid untuk sholat subuh berjamaah."
"Iya Kasha, Jevin mana?, dia sudah siap-siap belum?"
Kasha hendak menjawab pertanyaan Haziq maupun Nufael yang sedang mencari Jevin. Namun yang dicari sudah memunculkan dirinya dan berdiri di samping Kasha.
"Om Jev di sini Haziq."
Haziq tersenyum senang melihat Jevin sudah berada di hadapannya. Tentunya sudah tampan seperti Haziq dengan pakaian sholatnya.
"Ya sudah ayo Om Jev kita langsung ke masjid."
"Ayo."
"Sayang, Mas ke masjid dulu ya."
"Kalau kangen ditahan dulu ya Sayang, Mas nggak lama kok." Bisik Jevin tepat di telinga Kasha.
Kasha hanya tersenyum meresponnya. Suaminya itu berhasil membuatnya senyum-senyum sendiri. Bahkan sampai membuat Haziq kebingungan melihat Jevin yang baru saja membisikkan sesuatu di telinga Kasha.
"Om Jev kenapa kok ngomongnya bisik-bisik ke Tante Kasha?
"Haziq ayo kita berangkat, ayo Jevin."
Nufael segera mengalihkan pembicaraan agar Haziq segera melupakan pertanyaannya. Kasha pun bersyukur karena Abangnya dapat mengalihkan pembicaraan sehingga ia dan Jevin tidak perlu mencari jawaban untuk pertanyaan Haziq. Dan Kasha juga takut nantinya Jevin akan menjawab jujur kepada Haziq, yang ada nanti Kasha akan malu sendiri.
"Sayang, aku ke masjid dulu ya."
"Iya Mas, semangat ibadahnya ya."
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam."
❤❤❤
Jam menunjukkan pukul 06.49 pagi, namun Jevin masih duduk-duduk santai di pinggiran ranjang, ia sudah rapi dengan kemejanya namun sepertinya dari raut wajahnya, Jevin tidak bersemangat untuk masuk kantor hari ini. Ia lebih asyik mengotak-atik handpone pintarnya.
"Mas sudah si-ap?"
Kasha memasuki kamarnya. Ia menghela napas pelan ketika mendapati Jevin sedang duduk santai bukannya segera memakai jasnya lalu keluar dari kamar untuk pergi ke kantor.
"Lho Mas kok masih duduk-duduk, ini sudah jam berapa Mas, nanti Mas terlambat masuk ke kantornya."
"Mas nggak mau ke kantor Sayang, Mas mau di rumah saja sama Sayang."
Jevin beranjak dari duduknya. Menghampiri Kasha dan mengajak Kasha untuk duduk di sampingnya.
"Mas nggak mau berjauhan sama Sayang."
"Tapi Mas harus ke kantor, sudah satu minggu Mas nggak ke kantor."
"Mas belum puas berduaan sama Sayang."
Kasha menghela napas pelan. Suaminya ini benar-benar kecanduan akan dirinya. Sampai tidak ingin pergi ke kantor hanya karena tidak ingin berjauhan dengannya. Namun Kasha tidak akan mengizinkan suaminya untuk di rumah terus, karena ada tanggung jawab yang lebih besar dibanding dirinya yaitu mengurusi perusahaannya.
"Mas, aku kan nggak ke mana-mana, lagi pula nanti pulang dari kantor kita bertemu lagi, Mas harus kerja, Mas kan harus mencari nafkah buat aku, jadi Mas harus semangat."
Jevin tidak bisa beralasan lagi untuk tetap berada di samping Kasha seharian penuh. Sebenarnya Jevin masih ingin menghabiskan waktu bersama Kasha namun apa daya perkataan Kasha ada benarnya, Jevin memang harus bekerja untuk mencari nafkah buat Kasha, ditambah lagi pekerjaannya di kantor pasti sudah banyak karena satu minggu ini Jevin meliburkan diri. Tidak kebayang bagaimana sibuknya Jevin nanti di kantor.
"Iya Sayang, Mas mau ke kantor, tapi nanti siang Sayang antarkan makan siang untuk Mas ya."
"Iya Mas in syaa Allah nanti aku akan antarkan makan siang untuk Mas."
Akhirnya Jevin pun bergegas mengambil jasnya lalu memakainya dengan dibantu oleh Kasha. Setelah itu Kasha ikut keluar dari kamarnya untuk mengantarkan Jevin yang akan berangkat ke kantor.
"Fii amanillah ya Mas."
"Hah?, artinya apa Sayang?" Jevin tidak mengerti akan ucapan Kasha.
"Artinya semoga Mas dilindungi oleh Allah."
"Aamiin." Jevin mengaminkan ucapan selamat tinggal berbahasa Arab dari Kasha yang memiliki arti sebuah doa untuknya.
"Hamasah ya Mas."
__ADS_1
"Hah?, apa lagi itu Sayang?" Jevin dibuat bingung lagi akan ucapan Kasha dalam bentuk bahasa Arab.
Kasha tersenyum, memaklumi ketidaktahuan suaminya akan ucapannya. "Artinya semangat Mas."
Jevin ber-o ria ketika sudah mengetahui arti dari kata yang baru saja Kasha lontarkan kepadanya. Sekaligus Jevin menyimpannya di memori otaknya agar tetap mengingatnya dan nantinya bisa mengucapkannya.
"Oke."
Kasha menyerngit. Tidak setuju akan balasan jawaban dari Jevin atas ucapan semangatnya yang berbahasa Arab itu.
"Bukan oke Mas, tapi in syaa Allah."
Jevin menyengir kuda. "Oh iya, in syaa Allah Sayang."
Jevin sama sekali tidak kesal apa lagi tidak keberatan jika dari tadi sang istri membenarkan setiap ucapannya. Justru Jevin merasa bersyukur karena istrinya mau membenarkan ucapannya yang kurang benar. Sekaligus Jevin juga belajar bahasa Arab dari sang istri.
❤❤❤
Tok... tok... tok...
Suara ketokan pintu yang sedikit nyaring membuyarkan konsentrasi seorang CEO muda yang sedang berkutat dengan pekerjaannya. Jevin mendengus kesal lantaran merasa terganggu akan suara ketokan pintu tersebut.
"Masuk." Ucap Jevin dengan nada tinggi, seakan marah.
Pintu pun terbuka dan seorang perempuan muslimah mulai memasuki ruangan di mana Jevin berada. Melihat kedatangan perempuan muslimah itu wajah Jevin mendadak berubah. Bukan hanya senyuman yang terukir namun Jevin langsung bergegas menemuinya yang tak lain adalah istrinya sendiri, Kasha.
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam Sayang, Mas pikir siapa yang sudah ganggu waktu kerja Mas, eh ternyata Sayangnya Mas yang datang."
Jevin membawa Kasha ke sofa untuk duduk bersamanya. Kasha pun menurut dan langsung menyiapkan makan siang yang ia bawa untuk sang suami kesayangannya.
"Memangnya kalau bukan aku yang datang kenapa Mas?" Tanya Kasha penasaran.
"Ya Mas mau marahi lah, beraninya ganggu waktu kerja Mas."
Kasha menghela napas pelan. "Mas kok mau marah sih?, Mas jangan marah-marah ya, marah itu sifatnya syeitan lho Mas." Kasha mencoba mengingatkan Jevin agar tidak membuat syeitan tertawa senang karena Jevin mengikuti sifatnya.
"Iya Sayang, Mas nggak akan marah-marah kok, apa lagi sama Sayang, Sayang itu nggak pantas dimarahi, pantasnya dicintai." Ucap Jevin sembari memeluk Kasha dengan singkat.
Meskipun sesingkat apapun pelukan dari Jevin, namun Kasha tetap terkejut dan masih merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik. Ditambah lagi kata-kata manis yang Jevin selipkan saat tadi memeluknya.
"Oh iya Mas kok masih sibuk kerja, ini kan sudah jamnya istirahat, dan Mas sudah sholat dzuhur belum?"
"Mas sudah sholat dzuhur kok Sayang, cuma habis itu langsung buru-buru balik soalnya kerjaan Mas banyak banget hari ini."
Kasha dapat bernapas lega lantaran meskipun Jevin sibuk dengan rutinitas pekerjaannya namun tidak melupakan statusnya sebagai seorang hamba yang harus meluangkan waktunya untuk bersujud di hadapan Rabbnya.
"Alhamdulillah kalau begitu, ya sudah sekarang Mas makan dulu ya, ini."
Kasha segera memberikan satu kotak nasi kepada Jevin yang sedang duduk di sampingnya. Namun Jevin tidak segera mengambilnya bahkan ia malah menggelengkan kepalanya.
"Lho Mas nggak mau makan?." Tanya Kasha kebingungan.
"Mas mau makan tapi maunya disuapi sama Sayang."
Kasha terdiam sejenak. Ia tersenyum geli mendengar pernyataan suaminya yang meminta dirinya untuk menyuapkannya. Ditambah lagi saat ini wajah Jevin memelas kepadanya. Memohon agar dirinya menuruti keinginan suaminya.
"Tapi Mas kan bukan anak kecil, Mas makan sendiri saja ya." Kasha menolak permintaan Jevin dengan masih tersenyum geli. Suaminya ini ada-ada saja.
"Mas memang bukan anak kecil, tapi bayi besarnya Sayang." Ucap Jevin sembari menyandarkan kepalanya ke pundak Kasha. "Mama, aku ingin makan disuapi sama Mama." Jevin berbicara layaknya anak kecil. Hal ini sukses membuat Kasha bergidik geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ih Mas, aku geli dengarnya."
"Ayo Mama suapi aku." Jevin masih berceloteh layaknya anak kecil.
Kasha masih saja bergidik geli. "Mas, sudah jangan berbicara seperti anak kecil begitu, aku geli dengarnya." Oceh Kasha yang sudah tidak sanggup menahan kegeliannya melihat suaminya bertingkah seperti anak kecil.
"Iya-iya, ini aku mau suapi Mas."
"Yeay terima kasih Mama."
"MAS."
Kini berganti Jevin yang tersenyum geli karena telah berhasil mengusili istrinya dengan bertingkah seperti anak kecil agar bisa disuapi oleh istrinya.
Dengan senang hati Kasha akan menyuapkan Jevin. Meskipun Jevin tidak merengek bagaikan anak kecil seperti tadi Kasha akan tetap menyuapkannya karena Jevin yang memintanya. Lagi pula Kasha juga akan menuruti setiap permintaan suaminya, selagi Kasha mampu dan permintaan suaminya itu tidak aneh-aneh.
Makan siang dengan kemanjaan Jevin yang meminta disuapkan akhirnya selesai juga. Kasha membereskan kotak makanan yang tadinya penuh kini sudah kosong melompong. Jevin melahap habis makanan yang dibawa oleh Kasha, sebagai seorang istri pastilah senang jika makanan yang disuguhkan dimakan habis tak tersisa oleh suaminya, termasuk Kasha yang saat ini merasa senang karena perjuangannya membawakan bekal makan siang untuk suaminya tidak sia-sia.
"Mas aku pulang dulu ya, Mas yang semangat ya kerjanya, in syaa Allah lelah Mas bekerja berbuah pahala asal niatnya lillah."
"Aamiin."
"Mas antarkan Sayang pulang ya."
Kasha menggeleng cepat. "Nggak usah Mas, Mas kan lagi banyak kerjaan, lagi pula Abang El kan masih di sini menunggu aku."
Kasha bukannya menolak keinginan Jevin yang akan mengatarnya pulang, namun Kasha tahu bahwa suaminya itu sedang sibuk dengan pekerjannya. Dan Nufael juga belum pulang karena bersedia menunggu Kasha sampai selesai menemani Jevin makan siang.
Mungkin jika pekerjaannya tidak banyak dan teramat menyita waktunya, Jevin akan mengantar Kasha pulang ke rumah mereka dengan atau tanpa persetujuan Kasha. Namun kali ini Jevin harus menomor duakannya untuk sementara karena pekerjaannya memintanya untuk dinomor satukan.
"Ya sudah Sayang hati-hati ya-"
"Mas, kok hati-hati?" Tanya Kasha dengan sengaja, mengingatkan suaminya akan sesuatu hal.
Otak Jevin berputar dengan cepat. Memori ingatannya langsung berpihak padanya. "Maksud Mas, fii amanillah Sayang."
Kasha pun tersenyum bahagia. Tidak membutuhkan waktu lama untuk suaminya mengerti akan maksud dari pertanyaan yang ia layangkan padanya.
"Aamiin, aku pulang dulu ya Mas."
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam."
Kasha bergegas meraih kenop pintu untuk keluar dari ruangan Jevin. Agar Jevin dapat kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya.
"Sayang."
Jevin memanggil Kasha. Alhasil Kasha langsung menoleh ke arahnya. Dan dengan cepat Jevin memeluk Kasha seerat mungkin. Menyebabkan Kasha terperanjat dan terdiam untuk beberapa saat.
Lima menit kemudian. Namun Jevin belum kunjung melepas Kasha dari pelukannya. Kasha yang tadinya pasrah kini malah dibuat kebingungan. Jevin memeluk Kasha seperti tidak akan bertemu lagi padahal nanti mereka juga akan bertemu lagi di rumah. Namun entahlah Kasha juga tidak mengerti mengapa suaminya masih setia memeluknya.
"Mas, meluknya sudah ya, Abang El pasti sudah menunggu aku di luar."
Jevin menggeleng cepat. Pelukannya semakin erat. Seakan tidak memberikan Kasha peluang untuk melepaskan diri dari pelukannya.
"Mas, aku pulang dulu ya, nanti kita in syaa Allah bertemu lagi kan di rumah."
Sebenarnya Jevin enggan untuk menyudahi acara pelukannya yang cukup lama itu. Namun Jevin tidak tega melihat istrinya yang kepikiran dengan abangnya yang sedang menunggu di luar dan pekerjaan Jevin juga sudah meraung-raung minta untuk diselesaikan. Argh, hari ini hari yang menyebalkan bagi Jevin. Ia tidak bisa menatap wajah cantik istrinya karena harus menatap layar laptop yang menyuguhkan pekerjaan untuknya.
Akhirnya pelukannya pun terlepas. Kasha dapat bernapas dengan lega karena Jevin mau melepaskan pelukannya. Namun Jevin nampaknya sedang tidak baik-baik saja, raut wajahnya terkesan sedang terpikirkan sesuatu.
"Mas kenapa?, Mas sedih ya karena aku-"
"Nggak Sayang, Mas sedih karena harus berpisah sementara sama Sayang."
Kasha tersenyum jengah. "Mas, nanti juga Mas kan pulang, kita bertemu lagi di rumah kan Mas."
"Tapi masih nanti malam Sayang, dan sepertinya hari ini Mas lembur, pasti nanti pulangnya sampai larut malam."
__ADS_1
"Argh, Mas pasti sesak banget nih menahan rindu sama Sayang."
Jevin memang terlihat berlebihan sekali. Namun Jevin tidak bisa mengelak bahwa dirinya saat ini benar-benar tida bisa berjauhan dengan istrinya. Sedetik saja Jevin sudah merasa rindu apa lagi sampai berjam-jam. Maklumlah namanya juga pengantin baru apa lagi Jevin seorang budak cinta, sudah dapat dipastikan bagaimana tersiksanya seorang Jevin harus menahan gejolak rindu ingin lekas bertemu dengan sang kekasih halanya.
"Mas yang sabar ya." Kasha hanya dapat menyuruh Jevin agar bersabar karena hanya sabarlah kunci dari setiap permasalahan.
Sebenarnya bisa saja Jevin meminta Kasha untuk menemani dirinya bekerja, namun Jevin tidak mungkin seegois itu. Kasha pasti akan merasa bosan jika terus-terusan di ruangan kerja Jevin apa lagi hanya berdiam diri saja tanpa aktivitas apapun dan pasti nantinya Jevin akan mengabaikan Kasha karena lebih fokus dengan pekerjaannya.
Sabar!, Jevin memang harus melakukan satu kata itu. Berat memang namun sabar adalah kunci dari segalanya. Jika Jevin tidak bersabar dan lebih menuruti egonya maka akan berdampak pada masa depannya di mana perusahaannya akan terbengkalai karena dirinya selaku pimpinan perusahaan yang tidak memberikan contoh yang baik dalam menyelesaikan pekerjaannya dan yang ada jika terus-terusan seperti itu perusahaan Jevin akan cepat gulung tikar.
"Iya Mas akan sabar Sayang, Mas akan menyelesaikan pekerjaan Mas supaya bisa cepat-cepat bertemu Sayang." Ucap Jevin seraya mencolek lembut hidung Kasha yang setengah mancung.
"Ya sudah aku pulang dulu ya Mas, assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam Sayang."
Akhirnya Kasha benar-benar keluar dari ruangan Jevin. Meninggalkan Jevin yang masih pada posisinya. Menatap sejenak ke arah pintu yang sudah tertutup kembali. Jevin pun segera menuju ke tempat duduknya, berkutat dengan layar laptop yang menyilaukan kedua matanya. Menampilkan deretan file pekerjaannya yang harus diselesaikan sekarang juga.
❤❤❤
Jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 03.03 dini hari. Kasha sudah terbangun dari tidurnya lima menit yang lalu dan kini sudah anggun dan bercahaya dengan setalan mukenah putih bersih yang dikenakannya.
Kasha menghampiri ranjang tidurnya, lebih tepatnya menghampiri sisi ranjang tidur yang mana Jevin sedang terlelap sangat nyenyak. Jam 01.05 dini hari Jevin baru pulang dari kantor. Itu artinya baru dua jam lebih dua menit Jevin mengistirahatkan tubuhnya. Membuat Kasha tidak tega untuk membangunkannya. Namun selelah apapun Jevin harus tetap menghidupkan sepertiga malamnya untuk bermunajat kepada sang Khalik.
"Mas, Mas." Dengan lembut Kasha mengguncang-guncangkan tubuh Jevin agar segera kembali dari alam bawah sadarnya.
Tubuh Jevin tidak bergerak sama sekali. Sepertinya Kasha kurang keras mengguncang-guncangkan tubuh Jevin agar terbangun. Akhirnya Kasha mencoba membangunkannya lagi tentunya dengan lebih keras namun sama saja tidak ada perubahan. Sepertinya Jevin sangat lelah sampai tidak dapat dibangunkan dari tidurnya.
Kasha pun memilih untuk sholat tahajjud seorang diri. Membiarkan Jevin untuk beristirahat agar rasa lelahnya segera menghilang akibat lembur kerja sampai larut malam. Dan persoalan tentang Jevin yang tidak mendirikan sholat tajahajjud Kasha tidak terlalu ambil pusing karena sholat tahajjud adalah sunnah. Yang terpenting Jevin tidak meninggalkan sholat fardhu yang mana jika ditinggalkan akan berdosa.
Usai sholat tahajjud, Kasha tidak menyusul Jevin ke alam sadarnya. Melainkan meluangkan waktunya untuk memanen pahala dengan huruf demi huruf dalam kitab suci Al-Qur'an yang ia baca.
"Assalaamu 'alaikum, Om Jev, Tante Kasha."
Dari luar rumah terdengar suara salam khas suara anak kecil. Kasha mengenali suara itu yang tak lain adalah suara Haziq. Kasha dapat menyimpulkan bahwa Haziq yang ditemani Nufael pasti hendak mengajak Jevin pergi ke masjid untuk sholat subuh berjamaah. Tidak ingin berlama-lama lagi Kasha pun menghentikan aktivitasnya membaca Al-Qur'an. Dan langsung membangunkan Jevin yang masih terlelap sejak tadi.
"Mas, Mas bangun Mas, sebentar lagi adzan subuh, Haziq sama Abang El sudah di luar menunggu kamu Mas."
Jevin tidak kunjung bangun. Tubuhnya merespon Kasha yang mengguncangkan tubuhnya agar terbangun. Namun nyatanya Jevin hanya merubah posisi tidurnya bukan terbangun dari tidurnya.
Kasha tidak putus asa begitu saja. Bahkan Kasha lebih keras lagi agar Jevin terbangun. Namun Jevin hanya bergerak-gerak saja, kedua matanya masih tetap terpejam erat.
"Ya Allah Mas, kok kamu nggak bangun-bangun sih, ayo Mas bangun, sebentar lagi adzan subuh." Oceh Kasha dengan rasa kecewa mulai muncul di hatinya.
Akhirnya Kasha menyerah dan keluar dari kamarnya untuk menemui abang dan keponakannya yang sudah menunggunya di luar.
"Wa 'alaikumus salaam."
"Lho Tante Kasha, Om Jev mana?"
"Mungkin sebentar lagi keluar Haziq, seperti kemarin." Ucap Nufael agar Haziq bersabar menunggu Jevin keluar dan memunculkan dirinya.
Kasha tersenyum miris. "Abang, Mas Jevin sepertinya kali ini nggak sholat subuh berjamaah di masjid."
"Lho kenapa Tante Kasha?, Om Jev sakit?." Tanya Haziq seolah mewakilkan Nufael untuk bertanya kepada Kasha.
"Nggak Haziq, Om Jev baik-baik saja, cuma Om jev lagi kelelahan soalnya baru saja pulang dari kantor."
"Ya, terus bagaimana Buya?, memang boleh Om Jev nggak sholat subuh berjamaah di masjid?" Haziq menoleh ke arah sang Buya untuk meminta pendapat tentang Jevin yang tidak sholat subuh berjamaah di masjid.
"Nggak boleh kalau nggak ada udzur syari, tapi Om Jev kan kelelahannya karena habis kerja, dan kerja itu kan juga ibadah, Haziq doakan saja ya semoga Allah memperbolehkan Om Jev untuk kali ini sholat subuhnya di rumah saja."
"Iya Buya, aamiin."
"Kalau begitu Abang sama Haziq ke masjid dulu ya Kasha, jangan lupa nanti bangunkan Jevin untuk sholat subuh ya."
Kasha mengangguk. Menuruti ucapan sang Abang yang mengingatkannya untuk membangunkan Jevin lagi. Disaat nanti adzan subuh sudah berkumandang.
❤❤❤
Adzan subuh telah berkumandang dengan syahdu. Menandakan bahwa waktu sholat subuh telah datang. Kasha menggelarkan satu sajadah lagi di depan sajadahnya. Setelah itu Kasha bergegas untuk membangunkan Jevin untuk yang ketiga kalinya. Kasha berharap semoga yang ketiga kalinya ini ia membangunkan Jevin, Jevin akan terbangun juga dari tidurnya lelapnya yang lelah.
"Mas ayo bangun dulu, kita sholat subuh dulu ya Mas."
Lagi-lagi Kasha harus menghela napas panjang. Suaminya ini susah sekali untuk dibangunkan dari tidurnya. Padahal kemarin-kemarin Jevin tidak sesulit ini jika Kasha bangunkan. Apa karena habis lembur kerja sehingga tubuh Jevin sangat lelah sehingga tubuhnya itu mati rasa.
"Mas kok kamu susah sekali dibangunkannya, kamu harus sholat subuh Mas, nanti kamu berdosa kalau nggak sholat subuh."
"Mas ayo bangun Mas."
Akhirnya Kasha menyerah. Suaminya itu sama sekali tidak bisa dibangunkan. Entah harus dengan cara apa lagi agar suaminya itu bisa bangun dari tidurnya yang sudah seperti orang mati saja.
"Ternyata kamu belum berubah Mas." Ucap Kasha dengan guratan kekesalan.
Kasha merasa Jevin belum sepenuhnya berubah. Buktinya saat ia susah sekali untuk dibangunkan. Selelah apapun Jevin seharusnya Jevin dapat mengalahkan rasa lelah itu. Tidak terpedaya dengan bisikan syeitan yang pastinya sedang menggoda Jevin agar terus berada di alam bawah sadarnya. Jika Jevin lebih memilih tertidur dibanding beribadah kepada Rabbnya itu artinya Jevin memang belum berubah. Itulah yang dapat Kasha simpulkan.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Waduhhh Jevin gak sholat subuh nih
😱😱😱
Kasha pastinya kecewa dan kesal ya karena Jevin ternyata belum berubah lho
Buktinya Jevin gak bangun tuh untuk sholat subuh
Kira-kira apa yang akan dilakukan Kasha ya???
Apakah Kasha akan memarahi Jevin???
Atau bahkan Kasha akan meninggalkan Jevin???
Siapa suruh Jevin berani ninggalin sholat
Nanti kalau ditinggalin Kasha malah gak terima
Kalian setuju gak kalau Kasha ninggalin Jevin saja???
Btw kalian jangan seperti Jevin ya,
Semoga kita tetap sadar status kita sebagai seorang hamba yang mana wajib melaksanakan sholat fardhu
Dan semoga kita termasuk hamba-hamba yang rajin sholat dan bertaqwa kepada Allah
Aamiin Allahumma Aamiin
Sampai ketemu di part selanjutnya dengan kejutan yang tak terduga
Bisa jadi rumah tangga Jevin dan Kasha berada diambang kehancuran
karena dosa besar yang Jevin lakukan
Kalau banyak yang nungguin
Auto ngebuttttt
🤓🤓🤓
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
__ADS_1