Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
7. Mutiara Berharga


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


Jevin memasuki perusahaannya usai memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Sesampainya di dalam perusahaannya Jevin tidak lantas segera menuju ruangannya melainkan menuju seorang perempuan cantik yang berdiri di tempat resepsionist.


"Ajeng, apa Arfan sudah datang?"


Perempuan cantik dengan pakaian modisnya itu menggeleng sembari tersenyum semanis madu. Terlihat sekali bahwa perempuan yang bertugas sebagai resepsionist ini sedang tebar pesona di hadapan sang Bosnya yang masih berstatus single.


"Belum Pak, Arfan belum datang, Bapak butuh sesuatu?, biar saya saja yang bantu Bapak." Ucapnya dengan tutur kata sengaja dimanis-maniskan.


Jevin menyadari bahwa perempuan di hadapannya itu sedang tebar pesona kepadanya. Dan Jevin sangat tidak menyukainya. Jevin langsung meninggalkan perempuan itu dan akhirnya yang Jevin cari memunculkan dirinya.


"Arfan."


Arfan baru saja memasuki tempat ia bekerja. Arfan sedikit terkejut mendapati Bosnya sedang berdiri di hadapannya serta memanggil namanya. Jujur saja Arfan masih kesal atas perlakuan Jevin kemarin yang seenaknya main memotong gajinya begitu saja. Namun Arfan sadar bahwa Jevin adalah Bosnya yang harus Arfan hormati dan segani.


"Iya Pak ada apa?"


"Ke ruangan saya sekarang."


"Tapi Pak-"


"Mau, gaji kamu saya potong lagi?"


Arfan mendengus kesal. Bosnya itu mengancamnya dengan persoalan gaji. Semakin mendidih hati Arfan melihat perangai Bosnya ini. Tetapi Arfan tidak ada pilihan lain kecuali menuruti saja perintah sang Bos untuk menyusulnya menuju ruangan yang membuay bulu kuduknya merinding.


Arfan seakan dilanda rasa trauma. Baru saja kemarin ia duduk di kursi panas itu saat ini ia kembali menduduki kursi panas itu. Ditambah lagi Jevin juga duduk di hadapannya. Benar-benar menengangkan sekali bagi Arfan ketika berada di ruangan Bosnya.


"Maaf Pak, ada apa pagi-pagi ini Bapak menyuruh saya untuk ke ruangan Bapak?, maaf Pak pekerjaan saya hari ini menumpuk Pak."


"Lupakan dulu pekerjaan kamu itu, sekarang ini kamu sedang berhadapan dengan Bos kamu, dan Bos kamu lebih penting dari pekerjaan kamu itu, mengerti?!"


Arfan mengangguk cepat. "Me-mengerti Pak."


Jevin mengambil napas pelan kemudian kembali membuka suara. "Saya ingin bertanya sesuatu sama kamu, Arfan."


Arfan sedikit terkejut pasalnya kejadian kemarin seperti sedang terulang kembali, di mana Jevin ingin bertanya sesuatu kepada dirinya, lagi. Kira-kira apa lagi yang ingin ditanyakan oleh Bosnya ini?, Arfan penasaran saja dibuatnya.


"Bertanya apa ya Pak?"


"Ini soal Kasha."


Seketika mulut Arfan menganga. Apa lagi yang ingin ditanyakan oleh Jevin tentang Kasha. Bukankah kemarin sudah bertanya. Mengapa sekarang bertanya lagi?. Arfan berpikir bahwa Bosnya ini sepertinya penasaran dengan sosok Kasha yang dinilai aneh olehnya. Arfan berharap semoga saja kejadian pemotongan gaji kemarin tidak terulang kembali. Maka dari itu Arfan akan menjaga tutur katanya agar Bosnya yang berperasaan sensitif tidak membuatnya kesal untuk yang kedua kalinya.


"Ada apa lagi sama Kasha Pak?, Bapak masih curiga sama Kasha?"


"Kamu bisa diam?, saya belum selesai bicara, mulut kok seperti perempuan."


Arfan meneguk paksa salivanya. Baru saja memulai obrolan Arfan sudah salah bicara ditambah lagi Bosnya itu dengan seenaknya mengatakan dirinya seperti mulut perempuan. Kesal sih tapi Arfan tidak mungkin membalasnya. Sebab Arfan tidak amnesia bahwa saat ini ia sedang berbicara dengan Bosnya.


"Saya ingin bertanya, apa kamu tahu, kira-kira kenapa masih ada perempuan seperti dia yang berpenampilan kampungan dan nggak menarik sama sekali untuk dipandang."


Arfan sekarang paham Bosnya ini benar-benar penasaran dengan Kasha yang menurutnya berpenampilan kampungan dan tidak menarik. Wajar saja bila seorang laki-laki seperti Jevin tidak tertarik dengan penampilan seorang perempuan seperti Kasha. Arfan memakluminya karena Bosnya ini memang jauh dari agama sehingga jika melihat sesuatu yang berbeda dari sebelumnya akan terasa mengganjal dan aneh. Ini saatnya Arfan memberikan pemahaman kepada seorang laki-laki awam seperti Bosnya, Jevin.


"Jawabannya karena dia mencintai Tuhannya, mencintai Allah, makanya dia berpenampilan setidak menarik itu karena itu perintah dari Allah. Memang sudah seharusnya seorang perempuan muslimah menutup auratnya atau tubuhnya."


"Kenapa harus menutupnya secara berlebihan seperti itu?, kan dilihatnya jadi nggak menarik."


Arfan tersenyum. "Nah disitu tujuan perempuan muslimah menutup auratnya, yaitu agar kelihatan tidak menarik, sehingga laki-laki yang melihatnya tidak akan terpesona, sama seperti Bapak saat melihat Kasha bukan?"


Jevin masih belum puas dengan jawaban Arfan. Sepertinya masih ada yang mengganjal di benaknya dan Jevin harus mengeluarkan semua rasa keingintahuannya itu tentang perempuan seperti Kasha yang sudah berhasil membuatnya penasaran.


"Terus kenapa Tuhan menyuruh perempuan untuk menutup tubuhnya?"


Arfan menghela napas pelan lantaran Bosnya ini sangat awam sekali terhadap agamanya sendiri. Terlintas di pikiran Arfan bahwa ternyata masih ada bahkan mungkin banyak orang yang hanya menyematkan agama Islam di KTPnya saja namun di kehidupannya tidak sama sekali. Contohnya seperti Jevin saat ini.

__ADS_1


"Karena di dalam agama Islam, seorang perempuan itu dimuliakan, perempuan muslimah adalah ratu yang tidak sembarang orang bisa menikmati tubuhnya, makanya Allah menyuruh perempuan untuk menutup tubuhnya atau auratnya agar terlindungi dari laki-laki yang sama sekali tidak ada hubungan apapun dengannya."


"Di jaman yang modern ini sudah langka perempuan muslimah yang menutup auratnya dengan benar, mereka lebih mementingkan fashion dari pada kemuliaannya disisi Allah."


"Perempuan yang menutup auratnya bagaikan mutiara di dalam cangkang, terlindungi dan mulia. Hanya orang tertentu yang bisa menikmati kecantikannya, yaitu suaminya."


"Beruntung sekali jika seorang laki-laki mendapatkan seorang istri yang menutup auratnya, karena hanya laki-laki yang menjadi suaminya itulah yang boleh melihat aurat istrinya."


Usai penjelasan panjang lebar dari Arfan entah mengapa tiba-tiba saja hati Jevin seakan tersentuh. Otaknya dapat menerima semua penjelasan Arfan yang masuk akal. Rasa kagum kini membuncah di dalam hatinya lebih tepatnya rasa kagum kepada perempuan muslimah yang menuturp auratnya dengan benar yaitu salah satunya adalah Kasha. Perempuan yang kemarin sempat ia juluki dengan sebutan perempuan aneh.


Arfan telah membuka pikiran Jevin yang kini mulai jernih. Jevin tidak menyangka perempuan muslimah seperti Kasha adalah perempuan langka yang menjaga tubuhnya dari pandangan laki-laki lain dan hanya dipersembahkan untuk suaminya seorang. Laki-laki manapun pasti akan merasa sangat beruntung jika mendapatkan seorang istri yang menutup auratnya dengan benar termasuk Jevin.


"Ternyata Kasha bukan perempuan aneh tetapi dia adalah mutiara yang berharga." Ucap Jevin dalam hatinya yang tersentuh akan rasa kagum kepada perempuan yang bernama Kasha.


❤❤❤


Seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat awet muda memasuki sebuah perusahaan. Perempuan itu adalah Rifda, ibu dari pemilik perusahaan Alhusayn yang saat ini ia kunjungi lebih tepatnya perusahaan milik keluarganya sebab perusahaan tersebut pernah dipimpin oleh suaminya dan pada akhirnya dilanjutkan oleh putra sematawayang mereka yang bernama lengkap Jevin Alhusayn.


"Pak Jevinnya ada?"


Rifda menanyakan keberadaan Jevin kepada seorang perempuan yang sedang bertugas di resepsionist.


"Ada Bu, ta-tapi-"


"Baiklah terima kasih."


Rifda langsung meninggalkan tempat resepsionist sekaligus meninggalkan perempuan yang bertugas yang belum selesai berbicara.


"Bu, Ibu tunggu, aduh bisa dimarahi Pak Jevin ini, mati aku."


Perempuan tersebut merutuki dirinya lantaran gagal menahan perempuan tadi yang ia ketahui adalah ibu dari Jevin dan Jevin sudah memperingatkannya bahwa Ibu yang bernama Rifda tidak boleh masuk ke dalam ruangan Jevin. Namun apa mau dikata Rifda sudah melenggang pergi menuju ruangan Jevin berada.


Sementara di luar kantor, terlihat Nufael baru saja keluar dari mobil online yang ia pesan, seperti biasa Nufael mengantarkan pesanan makanan cateringnya ke perusahaan Alhusayn. Dan Nufael tidak sengaja menoleh ke arah mobil yang sedang terparkir di depan kantor. Nufael melihat sosok laki-laki yang tidak asing baginya sedang duduk di kursi kemudi.


"Pak Rozin."


Nufael pun langsung menghampiri mobil itu untuk sekadar menyapa pria yang tidak lain adalah Rozin. Orang yang sempat Nufael tolong beberapa waktu lalu.


"Assalaamu 'alaikum."


"Nak Nufael."


Rozin menoleh ke arah Nufael yang kini sedang berdiri di samping mobilnya. Seketika itu pula Rozin keluar dari mobilnya untuk menemui Nufael.


"Pak Rozin apa kabar?"


"Saya baik, Nak Nufael sendiri apa kabar?"


"Alhamdulillah saya juga baik Pak."


Keduanya bernapas lega lantaran keadaannya sama-sama baik. Dan tanpa sengaja Rozin menoleh ke arah kedua tangan Nufael yang sedang menenteng kantong besar berisi kotak-kotak makanan.


"Kalau boleh tahu, Nak Nufael sedang apa ke sini?"


Nufael pun ikut menoleh sejenak ke arah dua kantong besar yang ditentengnya.


"Ini Pak, saya mengantarkan catering ke perusahaan ini."


Rozin mengangguk pertanda mengerti. "Oh, jadi sekarang perusahaan saya pesan makanan catering?, bagus itu, saya setuju sekali."


Nufael sedikit tersentak ketika Rozin memberikan pernyataan bahwa perusahaan Alhusayn adalah perusahaannya. Rozin menyadari bahwa saat ini Nufael sedang bertanya-tanya atas pernyataannya barusan.


"Oh iya Nufael saya lupa mau memberitahu kamu, perusahaan Alhusayn ini adalah perusahaan saya dan saat ini sedang dipimpin oleh anak saya, anak sematawayang saya."


Nufael langsung terkejut. Ternyata Rozin adalah pemilik perusahaan Alhusayn yang saat ini sudah digantikan oleh anaknya, anak sematawayangnya itu artinya anaknya Rozin adalah Jevin yang Nufael ketahui adalah pemilik perusahaan Alhusayn.


"Jadi Pak Jevin anaknya Pak Rozin?"


Rozin mengangguk pelan. Senyuman di wajahnya mulai memudar. "Iya, anak yang sudah menyia-nyiakan saya dan istri saya. Sudahlah tidak usah dibahas, saya sedang tidak ingin membahas hal itu."


Nufael mengerti dan langsung melupakan tentang persoalan itu. "Baiklah kalau begitu saya masuk dulu ya Pak, sudah mau waktunya jam makan siang."


"Oh iya silahkan Nak Nufael."

__ADS_1


"Mari Pak."


"Mari."


Nufael masuk ke dalam perusahaan Alhusayn. Selang beberapa detik kemudian terlihat Rifda keluar dari perusahaan itu dengan wajah sembab seperti habis menangis. Rozin yang melihatnya langsung menghampirinya.


"Sudah Papa duga pasti Mama ke sini kan?. Mama ngapain sih masih menemui tuh anak, menangis lagi kan jadinya."


Rifda sedikit terkejut ketika mendapati suaminya kini sudah berada di hadapannya. "Papa?, jadi Papa mengikuti Mama?"


"Iya, ya sudah ayo pulang, nggak ada gunanya kita di sini."


Rifda hanya menurut saja ketika suaminya mengajaknya pulang. Ini bukan kali pertama Rifda diusir oleh Jevin namun Rifda masih belum bisa menerima kenyataan bahwa sang putra sudah tidak menganggap dirinya lagi sebagai Ibunya. Sebagai perempuan yang sudah melahirkannya. Sebenarnya Rifda sudah ingin menyerah saja namun rasa rindu kepada anak sematawayangnya itu yang memberanikan dirinya untuk kembali menemui sang putra. Seorang Ibu manapun pasti akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Rifda saat ini.


❤❤❤


Nufael merasa kecewa sekali kepada Jevin yang tega menyia-nyiakan kedua orang tuanya. Apapun kesalahan kedua orang tuanya tetap tidak ada alasan bagi Jevin untuk menyia-nyiakan bahkan membenci kedua orang tuanya yang sudah merawatnya dari kecil sampai saat ini sudah dewasa.


"Buya sudah pulang?, kok nggak langsung masuk?"


Nufael sudah sampai di rumahnya lima menit yang lalu namun Nufael enggan untuk masuk ke rumahnya melainkan ia duduk di teras rumahnya sambil memikirkan tentang Rozin dan Jevin. Bahkan saat ini Niswah sudah berada di sampingnya tetapi Nufael malah tidak menyadarinya.


"Buya." Niswah sedikit meninggikan suaranya.


Nufael akhirnya tersadar dari lamunannya dan langsung menoleh ke arah Niswah yang menatapnya dengan kebingungan.


"Eh Umma."


"Buya sedang memikirkan apa?, kok wajah Buya sedih seperti itu, cerita dong Buya sama Umma, Umma kan istri Buya."


Nufael tersenyum ke arah Niswah yang sepertinya penasaran sekali kepadanya. Namun Nufael enggan untuk membagi isi pikirannya kepada istrinya. Nufael malah beranjak dari tempat duduknya untuk melangkah masuk ke dalam rumahnya.


"Lho Buya kok malah masuk sih, bukannya cerita sama Umma. Oh Buya mulai menyembunyikan sesuatu ya dari Umma?, ayo ngaku." Niswah langsung mengintrogasi sang suami.


Nufael terkekeh. "Ceritanya di dalam saja Umma, nggak enak kalau di luar, ayo masuk."


Sebagai istri yang taat kepada suaminya. Niswah pun mengikuti arahan Nufael yang mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah mereka. Niswah sudah tidak sabar ingin mengetahui penyebab wajah tampan suaminya itu bersedih.


"Buya mau cerita apa?." Tanya Niswah bersemangat sekali.


Nufael yang baru saja duduk di kursi ruang tengah hanya dapat menggelengkan kepala seraya tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya yang bersemangat sekali untuk mendengarkan tentang cerita yang akan disampaikan olehnya.


"Sebelum cerita, tolong ambilkan Buya air ya Umma, Buya haus nih."


Niswah hendak beranjak menuju dapur untuk mengambilkan suaminya segelas air namun Niswah kembali duduk usai melihat Kasha sudah berada di hadapannya dengan membawa segelas air.


"Ini Abang airnya, maaf ya Kak Niswah aku yang mengambilkan air untuk Abang."


Niswah tersenyum. "Iya Kasha nggak apa-apa, justru Kak Niswah berterima kasih sama kamu karena sudah mau mengambilkan air buat Buyanya Haziq, sekaligus Abang kamu juga."


Kasha pun membalas senyuman dari Niswah dengan perasaan lega sebab sang Kakak ipar sama sekali tidak mempermasalahkan hal sepele itu.


"Oh iya sekalian Kasha duduk di sini saja, ada yang ingin Abang ceritakan."


Usai meminun air yang dibawakan oleh adiknya Nufael menyuruh Kasha untuk ikut duduk bergabung bersama dirinya dan Niswah. Kasha mengangguk patuh seraya menduduki kursi yang kosong tepat di samping Niswah.


Baik Niswah maupun Kasha kini saling memfokuskan pandangannya ke arah Nufael serta mempertajam indera pendengarannya agar dapat mendengar cerita yang akan disampaikan oleh Nufael dengan jelas.


Nufael mulai angkat bicara. "Jadi tadi itu di depan perusahaan Alhusayn, qodarullah aku bertemu dengan Pak Rozin, Umma sama Kasha masih ingat kan sama Pak Rozin?"


Niswah dan Kasha saling mengangguk. Pertanda bahwa mereka masih ingat dengan laki-laki paruh baya yang bernama Rozin. Bahkan ingat sekali lantaran mereka kasihan dengan cerita Rozin yang disia-siakan oleh anaknya sendiri.


Nufael kembali melanjutkan ucapannya. "Ternyata anaknya Pak Rozin yang sudah menyia-nyiakannya adalah..."


"Pak Jevin."


Kedua bola mata Niswah membulat seketika. Ada rasa terkejut yang dirasakan oleh Niswah ketika mengetahui bahwa anak yang telah menyia-nyiakan Rozin beserta istrinya ternyata adalah Jevin. Pemilik perusahaan Alhusayn yang telah bekerja sama dengan catering makanan sehatnya. Niswah sangat kesal kepada Jevin meskipun belum bertemu langsung namun Niswah tidak dapat menyembunyikan kekesalannya.


Sementara Kasha juga ikut terkejut bahkan ia tidak menyangka laki-lak yang kemarin sempat memperhatikannya itu adalah anak yang telah menyia-nyiakan kedua orang tuanya. Ada rasa kecewa di hati Kasha ketika mengetahui anak dari pak Rozin yang Kasha tahu orangnya. Kasha sangat menyayangkan sekali atas tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh Jevin. Namun Kasha tidak dapat berbuat apa-apa sebab ia tidak begitu mengenali Jevin sehingga Kasha tidak akan berani untuk menasihatinya. Kasha hanya dapat mendoakan saja semoga Jevin bisa mengubah sifat tercelanya itu.


"Astaghfirullahal adzim, dunia ini begitu sempit ya Buya, nggak nyangka ternyata orang yang bekerja sama dengan catering kita adalah anak yang tidak bersyukur. Tega sekali ya Pak Jevin menyia-nyiakan kedua orang tuanya. Ingin sekali Umma datangi dia terus nasihati dia. Tapi sayangnya dia laki-laki jadi yang lebih berhak menasihati dia ya Buya, kan sama-sama laki-laki. Anak seperti dia harus ditangani dengan segera Buya agar nggak menjadi contoh yang nggak baik untuk anak-anak di luaran sana. "


"Ya Allah semoga anak kami Haziq tidak seperti Pak Jevin itu, semoga Haziq menjadi anak yang sholih yang mencintai Umma dan Buyanya. Aamiin. "

__ADS_1


Nufael menyetujui serta mengaminkan semua yang diucapkan oleh Niswah. Namun untuk menasihati Jevin itu bukan hal yang mudah apalagi Nufael tidak begitu dekat dengan Jevin dan seperti yang dikatakan Arfan bahwa Jevin adalah orang yang tegas mendekati keras. Itu artinya Jevin tidak serta merta akan menerima sebuah nasihat apalagi nasihat dari seseorang yang baru dikenalinya. Namun Nufael akan mencobanya dan berharap Jevin mau menerima nasihat darinya.


"Ya Allah tega sekali Pak Jevin menyia-nyiakan kedua orang tuanya, semoga Pak Jevin segera menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Aamiin" Kasha membatin seraya mendoakan kebaikan untuk Jevin, seseorang yang tidak ia kenal namun ia wajib mendoakan untuk kebaikannya.


__ADS_2