
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Usai datang melabrak Zaila di rumahnya, Jevin kembali lagi ke rumah Nufael untuk bertemu dengan Kasha. Jevin tidak akan putus asa agar bisa bertemu dengan istri tercinta. Meskipun tadi Kasha tidak ingin bertemu dengannya. Namun saat ini Jevin berharap Kasha sudah jauh lebih tenang dan mau mendengarkan penjelasannya atas kesalah-pahaman yang terjadi diantara mereka.
"Assalaamu 'alaikum."
"Sayang, buka pintunya."
"Assalaamu 'alaikum."
Di dalam rumahnya, Niswah baru saja keluar dari dapur. Ia merasa terganggu akan suara di luar rumahnya. Dan Niswah dapat mengenali suara dari seseorang yang mengucap salam itu.
Niswah pun segera bergegas untuk membuka pintu rumahnya. Dan menemui seorang tamu yang dapat dikenali olehnya.
"Wa 'alaikumus salaam."
Jevin sedikit kecewa ketika melihat perempuan dibalik pintu. Jevin berharap yang membuka pintu itu adalah Kasha namun bukan, yang membukanya adalah Niswah, Kakak iparnya.
"Kasha belum bisa ditemui." Ujar Niswah dengan wajah tegas tanpa senyuman sedikit pun.
"Tapi Kakak ipar, aku ingin bertemu sama Kasha."
"Aku kan sudah bil-"
"Umma."
Ucapan Niswah terpotong begitu saja saat suara seseorang dari dalam sedang memanggilnya. Nufael dan Haziq keluar dari rumahnya dengan pakaian sholat karena mereka akan berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat ashar berjamaah.
"Buya, Haziq." Panggil Niswah ketika suami dan putranya menghampirinya.
"Lho Om Jev ada di sini?"
"Haziq, Om Jev mau bertemu sama Tante Kasha."
"Lho memangnya Tante Kasha ada di rumah Haziq?, nggak ada seprtinya Om Jev."
"Ada Haziq, tante Kasha-"
"Haziq, Haziq ke masjid duluan ya, Buya masih mau mengobrol sama Om Jev."
Haziq mengangguk patuh. Kemudian ia tidak banyak bicara melainkan langsung mencium tangan kedua orang tuanya sekaligus Omnya juga. Lalu bergegas melangkah untuk menuju masjid sebelum itu ia tidak lupa untuk mengucap salam.
"Buya, Umma masuk dulu ya."
"Iya Umma."
Kini di depan rumah Nufael, tersisa Nufael dan Jevin. Nufael hanya dapat tersenyum melihat sang adik ipar wajahnya sudah murung dan seperti tidak ada gairah untuk hidup.
"Abang ipar, tolong aku, aku ingin bertemu sama Kasha, aku ingin jelaskan semuanya, Kasha salah paham sama aku Abang ipar."
Jevin memohon sangat memohon kepada Nufael yang ia panggil dengan sebutan Abang ipar untuk bisa bertemu dengan Kasha. Jevin ingin menyelesaikan kesalahpahaman yang saat ini sedang mengguncangkan rumah tangganya.
Nufael hanya bisa tersenyum tenang. Padahal laki-laki di hadapannya sedang dirundung kegelisahan serta hatinya tidak tenang seperti dirinya.
__ADS_1
"Jevin kamu tenang dulu, untuk sekarang lupakan dulu Kasha, ini sudah mau masuk waktunya sholat ashar. Ayo kita ke masjid."
Jevin menggeleng cepat. Pikirannya saat ini hanya tertuju kepada Kasha. Bagaimana bisa ia melupakan Kasha apa lagi dengan masalah yang sedang menghimpit mereka.
"Nggak Abang ipar, aku harus bertemu Kasha sekarang juga. Aku ingin menyelesaikan kesalahpahaman diantara kami. Tolong lah Abang ipar, tolong mengerti aku."
"Nggak bisa Jevin. Kasha nggak mau bertemu kamu saat ini."
"Lho kenapa Abang?"
"Ini sudah waktunya sholat ashar pasti Kasha akan sholat ashar juga."
Akhirnya mulut Jevin mengatup juga. Ia tidak lagi banyak bicara. Benar yang dikatakan Abang iparnya, Kasha tidak akan menemuinya karena Kasha pasti sudah siap-siap untuk sholat ashar.
"Kalau begitu sekarang ayo kita ke masjid. Berdoa sama Allah, semoga kesalahpahaman kalian cepat selesai."
"Aamiin." Ucap Jevin mengamininya dengan penuh harap.
"Tapi aku pakai baju ini nggak apa-apa ya Abang, aku lagi malas pulang nih kalau di rumah nggak ada Kasha, biasanya Kasha yang menyiapkan pakaian sholat aku."
Nufael mengangguk, memahami keadaan sang Adik ipar yang sedang curhat tentang kebiasaannya yang apa-apa selalu dilayani oleh Kasha. Dalam hati Nufael bersyukur karena sang Adik berhasil menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik, sampai-sampai suaminya tidak bisa apa-apa tanpa dirinya. Meskipun sebenarnya Jevin terlalu berlebihan juga. Namun Nufael memakluminya karena sudah paham betul bagaimana perangai Jevin yang manja sekali kepada Kasha.
❤❤❤
Jevin dan Nufael serta Haziq berjalan beriringan dari masjid sampai tiba di kediaman Nufael beserta keluarga kecilnya. Haziq masuk ke dalam rumahnya lebih dulu karena Nufael yang menyuruhnya. Sementara Jevin dengan lemas duduk di teras rumah Nufael.
"Abang ipar, tolong aku Abang, bujuk Kasha supaya mau dengerkan penjelasan aku, aku nggak bisa tanpa Kasha, aku gak bisa." Jevin layaknya layangan putus yang sedang kehilangan arah. Bagi Jevin, Kasha adalah segalanya. Jika berjauhan seperti ini Jevin merasa sedang kehilangan separuh jiwanya.
Sebagai seorang Abang. Nufael ikut prihatin melihat kondisi Adik iparnya saat ini. Namun tidak banyak yang bisa dilakukan Nufael, karena ini adalah urusan rumah mereka yang tidak boleh diikutcampurkan. Namun Nufael akan tetap membantunya selama tidak keluar dari batasnya.
"Aku akan coba bujuk Kasha, dan semoga dia mau bertemu kamu dan mau mendengarkan penjelasan kamu."
Jevin antusias sekali bagaikan mendapatkan suntikan semangat dari Nufael. Jevin sangat berharap semoga Abang iparnya berhasil membujuk istrinya agar mau bertemu dengannya untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang sedang terjari diantara mereka berdua.
"Assalaamu 'alaikum, Kasha, tolong buka pintunya ini Abang."
Nufael sudah berdiri di depan pintu kamar Kasha yang tertutup rapat dan kemungkinan dikunci dari dalam.
Di dalam kamarnya Kasha baru saja selesai sholat ashar dan ia melipat sajadah serta mukenahnya lalu diletakkan di atas samping ranjangnya. Kasha enggan membuka pintunya kamarnya namun Kasha tidak enak jika mengabaikan Abangnya yang saat ini sedang berada di depan pintu kamarnya.
Perlahan akhirnya Kasha mau membuka pintu kamarnya untuk menemui sang Abang. Nufael bersyukur karena sang Adik mau juga membuka pintu kamarnya.
"Kasha sudah sholat ashar?." Yanya Nufael dengan berbasa-basi terlebih dahulu.
Kasha mengangguk pelan. Ia tidak banyak berkata-kata. Kasha tidak bermaksud untuk tidak sopan kepada Abangnya namun rasanya untuk saat ini Kasha tidak ingin membuka suara. Suasana hatinya sedang kacau balau, ia takut jika nanti salah bicara akibat terpengaruh dengan suasana hatinya.
"Alhamdulillah kalau sudah sholat. Oh iya, itu di luar ada Jevin, katanya mau bertemu sama kamu Dik, kamu temui ya."
Kasha menggeleng lagi. Dan gelengan kepalanya saat ini sangat cepat menandakan bahwa ia sangat tidak ingin menemui Jevin. Bahkan raut wajahnya seketika berubah.
Nufael bingung. Adiknya tidak ingin bertemu dengan suaminya. Nufael semakin dibuat penasaran saja. Kira-kira kesalahpahaman apa yang terjadi antara Adik kandungnya dengan Adik iparnya.
"Kalian sedang ada masalah ya?." Tanya Nufael dengan nada bicara yang lembut.
Kasha mengangguk namun wajahnya tertunduk. Ia sebenarnya tidak ingin memberitahu sang Abang karena Kasha tidak ingin membuat Abangnya kepikiran karena dirinya yang sedang ada masalah dengan Jevin. Namun tidak mungkin juga Kasha berbohong.
"Kalau kalian sedang ada masalah, diselesaikan dengan baik-baik, jangan menghindar seperti ini, kalau menghindar masalah itu tidak akan selesai, sekarang kamu temui Jevin, kalian selesaikan masalah kalian ini, ya?"
"Maaf Abang, aku tahu aku salah karena menghindar dari masalah, tapi aku perlu waktu, ini masalah besar untuk aku, untuk saat ini aku belum bisa bertemu dengan Mas Jevin, in syaa Allah kalau aku sudah siap aku akan menemui Mas Jevin untuk menyelesaikan masalah ini."
"Abang, aku perlu waktu untuk sendiri, tolong Abang untuk mengerti aku." Kasha memohon dengan sangat agar sang Abang mau mengerti akan dirinya yang memerlukan waktu untuk menenangkan suasana hatinya yang sedang kalut akibat kejadian tadi pagi yang menyesakkan dadanya serta menggores luka di hatinya.
__ADS_1
Nufael tidak bisa memaksakan kehendak sang Adik. Walau bagaimanapun ia tidak boleh ikut campur begitu jauh dalam urusan rumah tangga Adiknya. Yang terpenting saat ini ia sudah mencoba membantu sebisa mungkin dan keputusan tetap berada di tangan Kasha, dan tidak akan pernah berpindah ke tangan Nufael. Dan Kasha juga akan menyelesaikan masalahnya jika ia sudah siap. Untuk saat ini Nufael harus hargai keinginan Kasha untuk menenangkan dirinya dan tidak bermaksud untuk menghindar dari masalahnya, apa lagi menghidar dari Jevin, suaminya.
"Iya Kasha, Abang mengerti, ya sudah kamu istirahat saja, pulihkan raga dan jiwa kamu agar tetap kuat menghadapi masalah yang sedang terjadi di rumah tangga kalian, pesan Abang hanya satu, jangan mau kalah dengan masalah, Allah akan selalu menguji rumah tangga kalian, untuk membuktikan seberapa sabarnya kalian menghadapi ujian dari Allah."
Nasihat Nufael akan selalu terngiang di telinga Kasha serta akan selalu Kasha ingat untuk dijadikan pegangan saat dirinya lemah dan ingin menyerah saja dalam menghadapi masalah yang saat ini sedang menimpanya. Benar apa yang dikatakan sang Abang, masalah yang sedang terjadi ini adalah ujian dari Allah. Kasha menjadi teringat bahwa tidak ada yang namanya pernikahan yang tidak diuji begitupun pernikahan Kasha dan Jevin yang baru beberapa bulan mereka jalani.
"Abang ipar, bagaimana Kasha mau bertemu sama aku kan?"
Jevin langsung melayangkan pertanyaan kepada Nufael yang baru saja keluar dari rumahnya untuk menemui Jevin.
Nufael belum membuka mulutnya ia hanya menoleh sejenak ke dalam rumahnya sehingga Jevin ikut menoleh juga. Jevin pikir Nufael menoleh karena Kasha akan segera keluar dari dalam rumahnya namun setelah ditunggu beberapa detik Kasha belum kunjung terlihat.
"Abang ipar, bagaimana?, Kasha mau keluar kan?"
Perlahan Nufael menggelengkan kepalanya. Namun secepat mungkin ia meyakinkan Jevin karena Kasha belum ingin menemuinya.
Jevin terduduk lemas di emperan teras. Semangatnya memudar. Harapannya pupus. Kini ia hanya bisa tertunduk lesu. Jevin sudah seperti layangan putus yang menyangkut di pohon. Tidak bisa ke mana-mana dan hanya bisa berdiam diri saja.
Nufael ikut duduk di samping sang Adik ipar. Untuk menguatkannya dan untuk menjelaskan alasan Kasha belum bisa menemuinya saat ini.
"Jevin tenang dulu, Kasha belum bisa menemui kamu karena Kasha masih ingin menenangkan dirinya, dia perlu waktu untuk sendiri. Tadi Kasha bilang kalau dia sudah tenang dia akan menemui kamu untuk menyelesaikan masalah kalian."
"Tapi sampai kapan Abang ipar?, aku nggak sanggup berjauhan dengan Kasha, sekarang saja aku gegana seperti ini Abang."
"Sabar Jevin, pernikahan kalian sedang diuji sama Allah."
"Iya aku mengerti Abang ipar, tapi aku serius Abang, aku nggak bisa berjauhan sama Kasha, jangankan sehari, sedetik saja aku nggak sanggup Abang, aku ngga kuat, serius."
Nufael tidak bermaksud untuk mengejek Jevin dengan senyumannya namun perkataan dan sikap Jevin saat ini yang sudah gegana alias gelisah galau merana karena sedang berjauhan dengan Kasha membuat Nufael tidak kuasa menahan senyuman gelinya. Mungkin ini yang dinamakan kebucinan yang haqiqi. Tetapi hal yang wajar bahkan diharuskan karena kebuncinan mereka yang sudah terikat dengan ikatan yang halal.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Alhamdulillahirobbil alamin
Jevin❤Kasha muncul lagi guysss
Maapken kemarin-kemarin bagaikan ditelan bumi
Semoga makin suka dan tambah greget ya dengan kisah cinta keturunan adam❤hawa ini
Aamiin
Seperti biasa semoga disecarik rentetan-rentetan kata diatas semoga ada sepercik manfaat untuk kita semua
Percayalah jika ada kelebihan-kelebihan yang mendatangkan manfaat itu datangnya dari Allah
Dan segala kekurangan yang berceceran itu berasal dari ukhfira yang hanya manusia biasa punya salah dan khilaf
Ukhfira tidak akan meminta vote dan komen dari kalian karena yang jauh penting dari itu doakan ukhfira agar tetap menaburkan manfaat untuk kalian semua
Untuk tabungan ukhfira di akhirat
Dan jika menurut kalian cerita ini bagus dan bermanfaat silahkan kalian bagikan untuk orang-orang tersayang agar menjadi lebih baik dari sebelumnya dan In Syaa Allah kalian akan memanen pahala juga atas kebaikan kalian readerss
🤗🤗🤗
Mari berlomba-lomba dalam kebaikan
Mari manfaat kouta internet dengan kebaikan
__ADS_1
🌺🌺🌺
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh