
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Kasha keluar dari kamar mandi. Wajahnya nampak segar dan masih ada buliran-buliran air melekat di wajahnya. Jam menunjukkan pukul 03.40 dini hari.
Kasha melangkahkan kakinya, menghampiri Jevin yang sedang tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajahnya. Karena Jevin tertidur dalam keadaan tidak memakai baju alias bertelanjang dada. Kasha tersenyum melihat wajah tampan sang suami yang terlihat semakin tampan ketika sedang tertidur dalam damai.
Tiba-tiba saja wajah Kasha nampak bersemu merah merona. Kasha mengingat moment tadi malam yang begitu manisnya. Sang suami bersikap begitu lembut dan menatapnya dengan penuh cinta. Kasha dapat merasakan betapa suaminya begitu mencintainya.
"Bismillahirrohmaanirrohiim."
Perlahan Kasha menyentuh pundak Jevin. "Mas, Mas bangun."
Jevin tak meresponnya. Sepertinya Jevin begitu kelelahan sampai tidak mendengar bahkan tidak merasakan bahwa Kasha memanggilnya sembari menggerak-gerakkan pundaknya dengan cukup keras agar ia segera terbangun dari tidurnya.
Akhirnya perjuangan Kasha untuk membangunkan Jevin membuahkan hasil. Perlahan Jevin tersadar dari alam bawah sadarnya. Jevin mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Rasa kantuk masih menyerangkanya. Namun seketika kedua mata Jevin terbuka dengan lebar setelah melihat wajah cantik sang istri yang berada di hadapannya. Momen-momen sepeti inilah yang selama ini Jevin tunggu-tunggu yaitu ketika membuka matanya ada perempuan cantik yang sedang menunggunya terbangun dari tidurnya.
"Eh Sayang, sudah bangun duluan ya." Ucap Jevin sembari mengambil posisi duduk meskipun masih sempoyongan efek bangun tidur.
"Iya Mas aku sudah bangun, sudah mandi juga."
Seketika Jevin menghela napas ketika mendengar jawaban dari istrinya. "Yah kok sudah mandi sih, rencananya aku mau mandi bareng sama istriku ini."
Kasha langsung malu. Dan menundukkan wajahnya yang sudah merona. Seperti kebiasaan yang sering ia lakukan ketika malu ataupun salah tingkah yaitu menundukkan wajahnya.
"Ih Mas, masa mandi berdua sih, aku kan malu."
"Lho kenapa malu Sayang, kan kita sudah suami istri, dan mandi bersama istri itu sunnah Sayang." Jevin teringat betul akan buku yang ia baca pemberian Nufael tentang sunnah Rasul untuk para suami yaitu salah satunya "mandi bersama istri (HR. Nasai I/202)".
"Ta-tapi aku kan sudah mandi Mas, ya sudah Mas mandi dulu, habis itu kita sholat tahajjud berjamaah ya Mas."
"Hmm." Jevin sengaja berdehem untuk membuka obrolannya bersama istrinya.
"Terus setelah sholat tahajjud ngapain?"
Kasha sempat berpikir, hingga akhirnya menemukan jawabannya
"Baca Al-Quran."
"Setelah baca Al-Quran?"
"Mas pergi ke masjid untuk sholat subuh berjamaah."
"Setelah itu?"
Kasha pun dibuat bingung karena Jevin tidak habis-habisnya bertanya-tanya terus. Kasha tidak mengerti dibuatnya.
"Ih Mas kok dari tadi bertanya ya begitu terus, aku kan bingung jadinya, ya sudah Mas cepat saja mandi ya, nanti waktu sepertiga malamnya keburu habis."
Jevin terkekeh melihat wajah sang istri yang kebingungan karena keusilannya. Sebenarnya bukan keusilan melainkan ada sesuatu yang tersembunyi yang hanya Jevin yang mengetahui dan Allah pastinya juga mengetahui.
"Iya-iya ini Mas mau mandi."
"Tapi sebenarnya itu kode Sayang, cuma kamunya yang nggak peka." Ujar Jevin sambil terkekeh kemudian melangkah menuju kamar mandi.
Kasha terdiam dan mencerna ucapan Jevin yang mengatakan bahwa Jevin sedang memberikan kode kepada Kasha, namun Kasha malah tidak mengerti. Entah Kasha yang tidak mengerti atau Kasha terlalu polos, intinya bedanya tipis antara Kasha tidak mengerti dengan kepolosannya.
Pintu kamar mandi terbuka lagi. Jevin keluar dari kamar mandi sembari berjalan lebih cepat mendekati istrinya. Kasha kebingungan melihat suaminya keluar dari kamar mandi.
"Ada apa-"
Cup
Kasha langsung membungkam mulutnya. Ia sengaja memotong ucapannya sendiri karena tiba-tiba saja sebuah bibir mendarat di pipinya. Hampir saja Kasha mau roboh karena tidak kuat menyangga dirinya sendiri yang sudah seperti terkena sengatan listrik secar tiba-tiba.
Jevin tersenyum. "Morning kiss Sayang." Ucapnya dengan senyuman lebar dan langsung berlari menuju kamar mandi. Meninggalkan Kasha yang mematung sembari menutup mulutnya.
Jevin berhasil membuat pipi Kasha bersemu merah. Ini pertama kalinya Kasha dicium oleh seorang laki-laki selain Kekya dan Abangnya. Dan pastinya Jevin bahagia sekali. Karena dialah orang pertama yang mencium Kasha, perempuan halalnya, suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang Jevin yang mengaku dirinya adalah laki-laki beruntung karena mendapatkan seorang istri yang masih suci tanpa ada bekas dari laki-laki lain manapun yang bukan anggota keluarga dari istrinya.
❤❤❤
Sholat tahajjud berjamaah yang dilaksanakan oleh pasangan pengantin baru telah mencapai salam. Kasha mencium tangan sang suami, begitupun Jevin dengan penuh cinta mencium kening sang istri.
"Mas, kita baca Al-Quran dulu ya, sebelum Mas pergi ke masjid."
"Tapi Mas nggak lancar bacanya Sayang, Mas malu sama Sayang."
Kasha menggeleng pelan. "Mas bukannya nggak lancar tapi belum lancar, Mas nggak usah malu, kita kan suami istri, kita saling belajar ya Mas."
Jevin mengangguk seraya tersenyum. "Maa Syaa Allah sholihahnya istriku, sini Sayang peluk dan cium Mas."
Kasha tersentak. Jevin memintanya untuk memeluk dan menciumnya. Mana mungkin Kasha akan melakukan hal itu. Tetapi yang menyuruh Kasha adalah suaminya, itu artinya Kasha harus menuruti permintaan dari suaminya, tak terkecuali.
Jevin akhirnya terkekeh melihat tingkah polos sang istri yang mulai mendekatkan diri kepadanya, namun seperti keong yang pelan nan lambat.
"Malu-malu banget sih istriku ini."
"Ya sudah biar Mas saja yang peluk dan cium kamu."
Akhirnya Jevin mengalah dan langsung menarik Kasha ke dalam pelukannya, tidak lupa mendaratkan ciuman di kepala sang istri yang terbalut mukenah.
Kasha dapat bernapas lega karena tidak jadi memeluk dan mencium suaminya. Namun Kasha tidak dapat bernapas dengan lega sekali karena saat ini tubuhnya berada di pelukan suaminya. Jevin memeluknya dengan erat. Kasha masih belum terbiasa dengan pelukan itu, namun mulai saat ini Kasha harus membiasakan diri karena pastinya suaminya akan selalu memeluk bahkan menciumnya. Namun tidak bisa dipungkiri saat ini jantung Kasha masih berdetak tidak karuan, hatinya pun masih berdebar-debar.
"Mas peluknya sudah ya, kita kan mau baca Al-Quran, takutnya waktunya keburu habis."
Jevin pun melepas pelukannya meskipun sebenarnya ia masih ingin lengket dengan istrinya. Namun lagi-lagi Jevin harus bersabar, masih banyak waktu untuknya bisa bermesraan dengan Kasha dan saat ini ia dan Kasha harus meluangkan waktunya untuk membaca kitab suci Al-Quran.
Kini Jevin dan Kasha sudah duduk berhadapan dengan Al-Quran di tangan masing-masing. Jevin sangat gugup karena ia tidak begitu lancar membaca Al-Quran dan Jevin sangat malu sekali kepada Kasha. Seharusnya Jevin sudah dapat menaklukan Al-Quran dan dapat membimbing sang istri dalam membaca Al-Quran namun sepertinya terbalik.
Dan Kasha juga tidak ingin membimbing Jevin membaca Al-Quran, bukannya Kasha tidak ingin Jevin cepat lancar membaca Al-Quran. Namun Jevin tetaplah imam Kasha yang seharusnya membimbing Kasha. Alhasil Kasha yang membaca Al-Quran dan Jevin yang menyimaknya sembari Jevin ikut membaca di dalam hati. Kasha sengaja melambatkam bacaan Al-Qurannya agar Jevin bisa menyimaknya dengan baik. Dengan begitu seiring berjalannya waktu nantinya Jevin akan lancar membaca Al-Quran juga, tentunya juga atas izin dari Allah subhanahu wata 'ala.
❤❤❤
Jam menunjukkan pukul 06.01 pagi hari. Di pagi hari ini Kasha sudah sibuk dengan pekerjaannya, yaitu membuatkan sarapan untuk sang suami. Tadinya Mbok sudah melarangnya dengan alasan nanti Jevin akan memarahi Mbok bila mengetahui bahwa Kasha yang memasak, namun Kasha tetap ingin membuatkan sarapan untuk suaminya karena itu adalah kewajibannya. Akhirnya Mbok yang mengalah dan mengerjakan pekerjaan rumah yang lainnya yaitu menyapu lantai.
Menu sarapan sehat pagi ini adalah tumis sayuran beraneka ragam. Tidak susah bagi Kasha untuk membuatnya dan sehat juga untuk dijadikan sarapan pagi. Dan yang paling penting suaminya suka dengan tumis sayur sehat buatannya.
"Assalaamu 'alaikum."
Suara salam Jevin terdengar memasuki rumahnya lebih tepatnya memasuki dapur di mana Kasha sedang melakukan aktivitas paginya.
"Wa 'alaikumus salaam."
Sesampainya di dapur. Jevin sangat terkejut. Kedua matanya memperhatikan seorang perempuan sedang berperang di dapur. Wajah Jevin langsung berubah masam dan segera menghampiri perempuan yang tidak lain adalah Kasha, istrinya.
"Sayang sedang apa?"
"Mas, aku lagi masak untuk sarapan kita." Ucap Kasha yang sedang menyajikan tumis sayuran ke mangkok yang sudah ia sediakan.
"Maksud aku, kenapa Sayang yang masak?, Mbok mana?"
"Mbok, Mbok."
Jevin memanggil-manggil asisten rumah tangganya dengan suara yang melengking. Kasha sampai bergidik ngeri mendengarnya. Dan Mbok akhirnya memunculkan dirinya dengan wajah yang ketakutan dan seluruh tubuhnya gemetaran.
"I-iya Nak Jevin, a-ada apa?"
"Mbok ini bagaimana sih, kenapa istri saya dibiarkan memasak, ini kan tugas Mbok, Mbok mau saya pecat!"
"Ja-jangan Nak Jevin, Mbok tidak ingin dipecat."
Kasha langsung angkat bicara sebelum Jevin semakin salah paham dan memarahi Mbok yang sama sekali tidak bersalah.
"Mas, Mbok nggak salah, aku sendiri kok yang ingin membuatkan Mas sarapan, sebenarnya tadi Mbok sudah melarang aku tapi aku maksa, dan Mbok akhirnya membolehkan aku memasak."
Jevin masih menatap tajam ke arah Mbok seakan ingin menerkamnya saja. Kasha yang melihatnya tidak ingin berdiam diri saja. Terlebih suasananya masih pagi. Masa iya suaminya itu marah-marah di pagi hari hanya karena masalah sepele dan marahnya juga kepada orang yang tidak bersalah.
"Mas sudah jangan marah sama Mbok, Mbok nggak salah."
"Mbok tolong tinggalkan kami berdua ya."
"I-iya Nak Kasha."
Tanpa berlama-lama lagi Mbok segera keluar dari dapur dan kembali ke pekerjaan semula yang belum selesai.
__ADS_1
"Sayang, kenapa Sayang yang masak sih, di sini itu sudah ada Mbok dan yang menyiapkan sarapan itu harusnya Mbok."
"Bukan Mbok Mas, tapi aku, istri kamu, Mas sekarang sudah punya istri dan tugas aku sebagai istri Mas ya menyiapkan sarapan untuk Mas, bukan Mbok lagi."
"Ya tapi Sayang, Mas nggak mau Sayang capek, lagi pula Mas kan sudah gaji Mbok jadi biarlah Mbok yang mengerjakan semuanya, masa iya dia makan gaji buta."
Kasha menghela napas pelan seraya tersenyum melihat suaminya begitu perhatian kepadanya bahkan tidak ingin dirinya kelelahan. Namun perhatiannya terlalu berlebihan bagi Kasha.
"Mas, aku nggak merasa capek sama sekali, lagi pula aku kan cuma masak, bukan mengerjakan yang berat-berat."
"Tapi Sayang-"
"Mas, tolong izinkan aku menjadi istri yang sholihah, istri yang selalu melayani Mas dengan baik, tolong Mas, jangan larang aku untuk membuatkan Mas sarapan dan yang lainnya ya Mas."
Hati Jevin luluh lantah seketika. Jevin tidak tega melihat sang istri yang memohon dengan sangat kepadanya. Sejujurnya Jevin tidak ingin istrinya itu mengerjakan tugas Mbok karena Jevin tidak ingin istri kecintaannya itu kecapean dan lain-lain. Namun Jevin tidak bisa melarang Kasha untuk berbuat apa yang dia inginkan.
"Oke Mas nggak akan melarang Sayang."
"Alhamdulillah terima kasih Mas."
"Asal, Sayang jangan sampai lelah ya."
"Iya Mas, in syaa Allah aku nggak akan kecapean, ya sudah kalau begitu sekarang Mas duduk dulu ya, sebentar lagi makanannya akan tersaji di meja makan."
Jevin menggeleng sembari menampakkan wajah yang serius. Kasha kebingungan dan merasa bahwa ia sudah salah berbicara kepada suaminya sehingga suaminya menggeleng bahkan wajahnya nampak sangat serius.
"Ma-Mas kenapa?"
"Mas nggak mau duduk sebelum dapat morning kiss dari Sayang." Ucap Jevin terang-terangan bahkan sudah menepelkan jarinya ke salah satu pipinya.
Kedua mata Kasha langsung terbelalak. Jevin benar-benar selalu membuatnya jantungan setiap saat dan permintaannya itu-itu saja dari tadi. Sepertinya Jevin memang sengaja mengusili istrinya yang tidak mungkin akan menuruti permintaannya. Mana mungkin perempuan sepolos dan pendiam seperti Kasha main menyosor begitu saja.
"Mas, maaf aku nggak bisa-"
"Ya sudah nggak apa-apa, Mas mengerti kok."
Kasha malah merasa tidak enak lantaran telah menolak permintaan sang suami bahkan menyebabkan wajah suaminya terlihat kecewa, meskipun Jevin tidak menampakkannya secara langsung namun Kasha dapat mengetahuinya.
Akhirnya Jevin mengalah dan memilih duduk di kursi makan. Kasha pun kembali menaruh tumis sayurannya yang sudah jadi ke dalam mangkok yang ia pegang.
Jevin tersenyum seperti mendapatkan sebuah ide. Dan ia pun kembali menghampiri sang istri yang sibuk dengan pekerjaannya. Kasha menyadari kedatangan Jevin namun ia tetap fokus dengan pekerjaannya. Perlahan Jevin berdiri di samping Kasha. Dan Jevin mulai mendekatkan wajahnya tepat di samping wajah Kasha, namun Jevin tidak menatap ke wajah sang istri melainkan ikut memperhatikan tumis sayuran yang mulai terisi di mangkok.
"Sayang, lihat Mas dong."
Kasha menuruti permintaan Jevin. Ia menoleh ke arah Jevin yang berada di sampingnya bahkan sangat dekat dan...
Cup
Bibir Kasha menempel di pipi Jevin. Kasha terbelalak dan langsung menjauhkan wajahnya dari Jevin. Sedangkan Jevin tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil mendapatkan apa yang diinginkan, yaitu sebuah ciuman mesra dari istri tercintanya meskipun atas dasar ketidaksengajaan alias rencana Jevin sendiri, karena jujur saja sebagai laki-laki normal Jevin ingin merasakan ciuman dari istrinya.
"Terima kasih morning kissnya Sayang."
"Nanti kamu akan terbiasa juga Sayang, bahkan bukan cuma di pipi lho, tapi di yang lainnya." Bisik Jevin tepat di telinga Kasha.
Kasha masih terdiam dan mematung. Ia langsung memegangi bibirnya yang baru saja mencium pipi Jevin. Tidak ada yang salah memang, namun Kasha merasa malu sendiri. Ini pertama kalinya ia mencium seorang laki-laki. Bahkan sebelumnya Kasha tidak pernah mencium Kekya maupun Abangnya. Namun kini Kasha malah mencium Jevin. Meskipun tidak sengaja namun tetap saja Kasha merasa malu sekali kepada Jevin meskipun Jevin adalah suaminya sendiri.
❤❤❤
Usai sarapan pagi, Jevin memilih kembali ke kamarnya tentunya bersama istrinya. Kasha menurut saja dan seakan pasrah akan setiap perintah dari suaminya. Jevin tidak memerintahkan yang aneh-aneh kepada Kasha. Dan mereka juga tidak berbuat apa-apa di kamar. Jevin hanya ingin tertidur dengan berbantal di paha istrinya.
"Mas hari ini nggak ke kantor?"
"Nggak ah Sayang, Mas belum bisa jauh-jauh dari Sayang, bawaannya ingin menempel terus nih sama Sayang."
Kasha pun tersipu malu. Ia tidak dapat mengeluarkan satu katapun. Hari ini suaminya berhasil membuatnya selalu tersipu malu, entah itu dari perlakuan Jevin maupun kata-kata Jevin. Kasha serasa sedang melayang ke udara bersama burung-burung dan kupu-kupu yang terbang melambai-lambai.
"Mas mau libur sampai kapan?"
"Sampai Mas merasa puas menempel terus sama Sayang, dan sepertinya Mas nggak akan merasa puas deh, soalnya Mas sudah kecanduan Sayang nih."
"Mas, Kalau aku boleh sarankan, sebaiknya Mas jangan lama-lama ya liburnya, ya meskipun itu perusahaan Mas tapi Mas harus tetap profesional."
"Iya Sayang, Mas nggak akan lama-lama kok ambil cuti, lagi pula nggak apa-apa lah sekali-kali Mas jadi bucin."
Kasha tidak mengerti akan ucapan Jevin yang terakhir, lebih tepatnya pada kata bucin. Sepertinya kata bucin itu terasa aneh dipendengaran Kasha. Dan Kasha belum pernah mendengar kata itu sebelumnya.
Jevin paham akan kepolosan istrinya yang sama sekali tidak mengerti dengan bahasa gaul yang sedang viral saat ini. Namun itu tidak membuat Jevin ilfeel kepada Kasha, karena itu bukan sesuatu hal yang penting yang harus Kasha tahu.
"Iya Sayang, bucin itu singkatan dari budak cinta"
"Budak cinta?" Kasha masih sama sekali tidak mengerti.
"Iya Sayang budak cinta, maksudnya itu menomorsatukan cinta di atas segalanya."
Akhirnya Kasha paham dan mengerti maksud dari ucapan suaminya yang menamai dirinya sebagai budak cinta.
"Oh iya Mas, ada yang ingin aku bicarakan."
Jevin beranjak dari tidurnya. Lalu memandang istrinya dengan keseriusan. "Sayang mau bicarakan apa?, Mas siap dengarkan Sayang."
Awalnya Kasha ragu untuk mengutarakan sesuatu hal yang menjadi pusat pikirannya. Namun jika Kasha tidak mengutarakannya justru Kasha akan semakin kepikiran dan merasa tidak enak sendiri.
"Mas, bagaimana kalau...."
"Kita..."
"Pindah dari rumah ini."
Jevin terkejut. Ia langsung membenarkan duduknya. Dahinya sudah menyerngit menandakan kebingungan atas ucapan yang baru saja Kasha lontarkan.
"Lho Sayang kenapa mau pindah dari rumah ini?, Sayang nggak suka sama rumah ini, atau karena ada Mbok ya, jadinya kita nggak bisa bebas bermesraan?"
Kasha menggeleng cepat agar Jevin tidak berpikiran negatif yang lebih jauh lagi. Kasha juga langsung menghela napas jengah ketika mendengar ucapan terakhir Jevin yang tidak mungkin ada di kamus pikiran Kasha.
"Bukan seperti itu Mas, aku cuma merasa rumah ini terlalu besar untuk kita tempati, aku kurang nyaman Mas."
"Ya Allah Sayang, Mas sengaja buat rumah sebesar ini untuk keluarga kita ke depannya. Untuk tempat tinggal anak-anak kita yang nantinya berjumlah belasan."
Kasha langsung menatap Jevin. Ia bergidik ngeri mendengar keinginan Jevin untuk memiliki banyak anak. Belasan anak tidak tanggung-tanggung. Benarkah keinginan suaminya itu?, tapi kenapa Jevin tidak memberitahu Kasha terlebih dahulu tentang keinginannya yang membuat lidah Kasha seketika keluh bahkan Kasha susah meneguk salivanya sendiri.
"Ma-Mas serius ingin punya anak belasan?"
"Iya, Sayang nggak keberatan kan?"
Kasha langsung terbelalak. Suaminya ini benar-benar ingin punya anak banyak. Lebih tepatnya berjumlah belasan. Pantas saja rumah kediaman mereka sebesar istana. Ternyata untuk belasan anak mereka nantinya. Jangan ditanya tentang kesiapan Kasha untuk hamil dan melahirkan belasan anak. Kasha siap-siap saja selagi masih ada Allah yang tidak akan menguji hambaNya diluar batas kemampuan hambaNya sendiri.
Seketika Jevin tertawa. Wajahnya langsung memerah akibat sejak tadi menahan tawa yang sudah susah payah ia pendam. Kasha yang melihat suaminya bergelak tawa hanya dapat meringis dan kebingungan.
"Mas bercanda Sayang, ya memang Mas ingin punya anak banyak tapi nggak sampai belasan lah, kasihan Sayang yang harus hamil terus-terusan, nanti Mas malah jarang dibelai, kan Mas juga yang akan tersiksa."
Lagi-lagi Jevin menggoda sang istri yang sudah berwajah merah tomat. Tidak akan ada habis-habisnya seorang Jevin untuk tidak menggoda istrinya yang polos namun sangat menggemaskan. Bahkan rasanya Jevin ingin mencium pipi tomat itu namun takutnya istrinya malah jantungan karena mendapatkan ciuman tanpa aba-aba. Jevin mengerti akan kondisi istrinya yang masih polos dan membutuhkan waktu untuk membiasakan diri menerima ciuman dadakan darinya.
"Oh iya, jadi alasan Sayang mau pindah rumah karena rumah ini terlalu besar begitu Sayang?"
"Iya Mas."
"Ya sudah terus Sayang maunya bagaimana?"
"Kita pindah ke rumah yang lain saja Mas, kita pindah ke rumah yang lebih sederhana dari ini, dan satu lagi aku cuma mau kita tinggal berdua saja, Mbok sama Mamang nggak usah ikut kita pindah rumah ya Mas."
Kasha memohon kepada Jevin agar mengabulkan permintaannya. Jujur saja Kasha lebih merasa nyaman tinggal di rumah sederhana dan hanya tinggal berdua saja dengan suaminya. Dari dulu Kasha memang tidak terbiasa dibantu oleh siapapun dalam mengurusi pekerjaan rumah makanya itu Kasha kurang suka jika ada yang ikut campur dalam tugasnya sebagai seorang istri.
Jevin terdiam sejenak. Kedua bola matanya memutar, menimbang permintaan Kasha yang ingin pindah dari rumah yang sudah lima tahun lebih Jevin tempati.
"Sekarang Mas mengerti, kenapa Sayang mengotot ingin pindah dari rumah ini, supaya bisa bermesraan sama Mas kan?, dan supaya nggak ada yang ganggu kemesraan kita, iya kan Sayang?"
Kasha menghela napas pelan. "Bukan seperti itu Mas, kalau hanya karena nggak bisa bermesraan, di kamar ini kita bisa bermesraan kan tanpa diganggu siapapun."
"Ya sudah kalau begitu ayo kita bermesraan Sayang." Ajak Jevin bersemangat.
Kasha terperanjat. Jevin benar-benar menanggapi ucapan Kasha dengan serius. Bahkan secara terang-terangan mengajak Kasha untuk bermesraan. Apa itu artinya?....
"Ma-maksud Mas bagaimana?, Mas mau...?
"Mau apa Sayang?." Tanya Jevin sengaja menggoda.
"Mau bermesraan?." Tanya Kasha canggung.
"Ya Mas maulah Sayang, apa lagi sama Sayang yang sudah halal."
"Ber-bermesraan yang se-seperti apa Mas?" Kasha gugup sekali. Ia takut salah berbicara lagi sehingga nanti suaminya malah serius lagi menanggapinya.
__ADS_1
"Seperti tadi malam." Bisik Jevin di telinga Kasha.
Seketika Kasha bergidik ngeri. Bulu kuduknya kompak berdiri. Ia menatap sang suami yang sedang mengkedipkan sebelah matanya dengan sangat genit. Kasha sudah salah tingkah dan tidak tahu harus melakukan apa.
"Bercanda Sayang." Papar Jevin yang sudah tertawa terbahak-bahak lebih tepatnya menertawai wajah Kasha yang tadinya sudah pucat dan berkeringat dingin kini langsung berubah kesal dan tanpa ragu mencubit lengan Jevin.
"Aww jangan dicubit Sayang."
"Bahaya." Jevin berbisik lagi ditelinga Kasha.
"Ih MASSSS."
Kasha kesal bukan main. Suaminya itu senang sekali mengerjai dirinya. Mentang-mentang ia masih polos dan lugu yang mudah saja dikerjai.
"Mas minta maaf Sayang, maafkan Mas ya."
"Jangan diulangi lagi."
"Iya, lagi pula kamu menggemaskan sih."
"Sudah ah Mas jangan mengerjai aku terus, aku dari tadi nggak selesai-selesai nih bicaranya."
Jevin kembali serius dan melupakan gelak tawanya sejenak. Ia tidak ingin istrinya kesal karena keusilannya meskipun tidak akan jerah bagi Jevin untuk terus mengusili sang istri yang teramat menggemaskan.
"Ya sudah Sayang lanjutkan lagi bicaranya ya."
Kasha pun kembali bersuara usai melihat Jevin sudah anteng di posisi duduknya. "Mas aku itu ingin kita tinggal berdua saja soalnya aku nggak ingin apa-apa dilayani sama Mbok, aku jadi merasa hak aku memakai tanganku dirampas, jadi izinkan aku menggunakan hak tanganku untuk melakukan apa saja termasuk pekerjaan rumah tangga, Mas mengizinkan kan?"
Sejujurnya Jevin tidak ingin istrinya itu melakukan pekerjaan rumah yang harusnya menjadi pekerjaan asisten rumah tangga namun setelah dipikir-pikir lagi ucapan istrinya itu ada benarnya. Jika masih mampu melakukan pekerjaan yang mudah seharusnya dilakukan sendiri tidak perlu meminta tolong kepada orang lain karena sejatinya itu bukan sesuatu yang istimewa namun menjadi sesuatu yang memprihatinkan, karena hak memakai tangan dirampas oleh orang lain.
"Ya sudah kalau memang itu kemauan Sayang, Mas mengizinkan asal kalau Sayang merasa capek Sayang harus langsung bilang sama Mas, Mas nggak mau Sayang kenapa-kenapa."
"Alhamdulillah, iya Mas in syaa Allah aku akan bilang sama Mas kalau nantinya aku capek."
"Sip, tapi ngomong-ngomong Sayang maunya pindah ke mana?"
"Aku ingin pindah ke rumah yang dekat sama rumah Abang El, Mas nggak keberatan kan?"
"Oh oke Sayang, Mas nggak keberatan kok, tapi memangnya di dekat rumah Abang ipar ada perumahan ya Sayang?"
"Nggak ada Mas."
"Terus kita tinggal di mana dong Sayang?"
"Ya di dekat rumah Abang El."
"Bukan di perumahan?"
Kasha menggeleng cepat. Ternyata suaminya itu melupakan sesuatu. Tadi Kasha sudah bilang bahwa ia tidak ingin tinggal di rumah mewah nan besar. Itu artinya mereka tidak akan tinggal di perumahan lagi melainkan akan tinggal di rumah sederhana yang bertetangga dengan rumah Nufael dan Niswah.
"Mas aku kan maunya tinggal di rumah yang sederhana, seperti rumahnya Abang El sama Kak Niswah. Mas nggak keberatan kan?"
"Oh begitu, ya sudah Mas nggak keberatan kok, asal tinggalnya sama Sayang di mana saja Mas mau, di hutan juga mau."
"Ih Mas lebay." Oceh Kasha terkekeh.
"Ya sudah kalau begitu besok kita ke rumah Abang El ya Mas. Kita minta bantuan Abang El untuk mencarikan rumah untuk kita."
"Oke Sayang."
"Jazakallah khoiron Mas."
Jevin kebingungan. Ia tidak mengerti akan ucapan dari istrinya. Bahasa planet manakah yang istrinya ucapkan.
"Kamu bicara apa Sayang?, bahasa planet dari mana itu?"
"Ih Mas, ini bukan bahasa planet tapi bahasa Arab yang artinya semoga Allah membalasmu dengan kebaikan Mas."
"Oh bahasa Arab, oke aamiin."
"Jawabannya bukan hanya aamiin Mas."
"Terus apa Sayang?, ajari Mas dong, kan Mas nggak tahu."
"Jawabannya itu wajazakillah khoiron yang artinya sama seperti tadi."
"Oh oke Sayang, wa jazakillah khoiron."
Kasha pun tersenyum. Sangat mudah sekali bagi Jevin dalam memahami apa yang baru saja Kasha sampaikan. Kasha berharap suaminya, imam dunia akhiratnya ini bisa menjadi imam yang sholih bagi dirinya dan calon anak-anak mereka nantinya.
"Hm."
Jevin sengaja berdehem disela-sela Kasha yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Kenapa Mas?." Tanya Kasha kebingungan.
Jevin tidak merespon pertanyaan dari Kasha. Melainkan Jevin malah menggeser tubuhnya menjadi lebih dekat dengan Kasha.
"Sayang, Mas mau..."
Perasaan Kasha sudah tidak tenang. Pikirannya sudah ke mana-mana akibat ucapan suaminya yang ambigu itu.
"Ma-mau apa Mas?"
"Mau itu Sayang." Jevin semakin menepis jarak diantara dirinya dengan istrinya. Bahkan tanpa aba-aba lagi Jevin mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Kasha.
Debaran jantung Kasha mulai tidak karuan. Hatinya berdesir hebat. Kasha hanya dapat mematung saja tanpa memberikan perlawanan sedikitpun. Rasanya Kasha sudah ingin pingsan detik ini juga. Akhirnya Kasha lebih memilih untuk memejamkan kedua matanya. Dan....
"Mas ingin ke kamar mandi"
"Kabuuur."
Buru-buru Jevin melewati Kasha untuk segera menuju kamar mandi. Kasha bernapas sangat lega dan seketika terdengar gelak tawa yang bersumber dari Jevin yang malah asyik tertawa. Lebih tepatnya menertawakan tingkah lucu Kasha yang sedang salah tingkah.
"Mas usil yaaaa." Oceh Kasha sambil melemparkan bantal ke arah Jevin. Namun Jevin lolos dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Kasha dibuat senyam-senyum sendiri. Suaminya itu senang sekali membuatnya senam jantung setiap saat. Dan pastinya Kasha malu sendiri karena tadi ia sempat memejamkan kedua matanya. Seakan pasrah atas apa yang akan terjadi kepada dirinya. Kasha merutuki dirinya sendiri yang begitu polos dan lugu. Namun kedua sifat itulah yang membuat Jevin gemas kepadanya, sehingga selalu melancarkan aksi untuk mengusilinya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Selamat weekend Readers
Gimana kabarnya???
Semoga baik dan sehat selalu ya
Ukhfira hadir lagi nih
Dengan keromantisan pasangan pengantin baru yang lagi ngebucin
🤓🤓🤓
Kalian juga pada ngebucin kah???
Eittss tapi ngebucinnya sama yang halal aja ya
Biar berbuah pahala
Kalau sama yang haram
Malah berbuah dosa lhooo
😈😈😈
#Naudzubillah
Btw bagi para Zomblo tahan napas ya, banyak-banyakin ngelus dada
😅😅😅
Selamat hari baper buat para Readers yang sedang laperrrr
Laper kasih sayang
Hohohoho
😆😆😆
See youuu
__ADS_1
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh