
Assalamualaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Matahati perlahan menyusut menutup diri. Tugasnya hari ini telah selesai dengan cukup baik. Artinya malam kini telah datang dengan taburan para bintang yang asyik mengkedipkan cahayanya serta rembulan yang ikut meramaikan kegelapan malam yang hitam pekat.
Tiga orang laki-laki yang salah satunya bocah kecil tiba di depan rumah mereka. Dilihat dari bajunya mereka baru selesai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat beribadah yaitu shalat maghrib+isya berjamaah di masjid.
"Haziq masuk duluan ya, Buya mau bicara dulu sama Om Jev."
"Iya Buya." Ucap Haziq patuh. Kemudian tanpa disuruh lagi segera masuk ke dalam rumahnya.
Pakaian Jevin masih sama seperti tadi. Kemeja+celana panjang yang biasa ia pakai ke kantor. Jas serta dasinya sudah ia selempangkan di kursi yang berada di teras rumah Nufael. Jevin memang sejak tadi siang belum berganti baju sama sekali, saat ini Jevin tidak mementingkan penampilannya yang ia pentingkan hanya satu, Kasha.
"Jevin, ini sudah malam, kamu pulang saja dulu, kalau sampai besok Kasha belum ingin bertemu kamu, Abang akan bantu bujuk Kasha sampai dia mau bertemu sama kamu."
Jevin menggeleng. "Nggak Abang ipar, aku nggak mau pulang, bagaimana bisa aku pulang, istri aku nggak ada di rumah."
"Ya sudah kamu masuk ke dalam saja, ayo."
Jevin menggeleng lagi. "Nggak Abang ipar, selama Kasha nggak mau menemui aku, selama itu juga akan tetap di sini, menunggu dia keluar."
"Tapi Jevin-"
"Nggak apa-apa Abang, aku nggak apa-apa kok, ini memang kesalahan aku, dan aku harus terima akibatnya." Jevin meyakinkan Nufael bahwa dia baik-baik saja agar Nufael tidak mengkhawatirkannya.
Nufael tidak punya pilihan lain, kecuali ia masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Jevin yang tidak mau masuk ke dalam bersamanya. Nufael sangat tidak enak melihat Jevin sampai seperti itu tapi Nufael percaya Kasha pasti memilih alasan memperlakukan Jevin seperti itu.
"Jevin masih di luar, Buya?"
Nufael sedikit terkejut karena ia baru saja masuk ke dalam rumahnya, istrinya sudah berdiri di hadapanya.
"Astaghfirullahal adzim Umma."
Niswah merasa bersalah karena ia sudah mengejutkan suaminya karena tiba-tiba muncul begitu saja.
"Maaf Buya, Umma sudah mengejutkan Buya."
Nufael memaafkannya. Lagi pula itu bukan hal yang besar. Nufael pun memilih untuk menuju kamarnya karena sudah merasa lelah akibat dengan kegiatannya hari ini.
Niswah menyusulnya karena belum mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Namun sebelum menyusul suaminya ia sempat menoleh ke arah teras rumahnya mendapati Jevin sedang duduk di lantai membelakangi ambang pintu.
"Buya, itu Jevin kenapa masih di luar?, kenapa nggak pulang saja sih?"
"Jevin mau menunggu Kasha sampai ke luar menemuinya, Buya kasihan sama Jevin, ya walaupun Buya nggak tahu masalahnya, tapi Jevin benar-benar mengakui kesalahannya dan mau minta maaf sama Kasha."
"Buya untuk apa kasihan sama Jevin, itu hukuman buat dia, lagi pula Buya tahu sendirikan Adik Buya itu seperti apa, Kasha nggak mungkin setega itu sama Jevin kalau Jevin nggak berbuat kesalahan yang fatal, pasti kesalahan Jevin sangat fatal makanya Kasha nggak mau menemui dia."
Nufael menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka sang istri ikut terbawa perasaan dan mengikuti bisikan syeitan untuk menyalahkan Jevin padahal dia belum tahu permasalahannya.
"Astaghfirullahal adzim, Umma jangan su'udzon, nggak baik bicara seperti itu."
"Astaghfirullahal adzim, Umma lupa Buya." Niswah langsung tersadar dan beristighfar berkali-kali. Ia sadar bahwa apa yang keluar dari mulutnya itu adalah bisikan syeitan.
"Sudah ya, kita nggak usah ikut campur urusan rumah tangga mereka, biarkan mereka menyelesaikannya sendiri, kalau mereka butuh bantuan kita baru kita boleh ikut campur."
Niswah langsung mengangguk patuh serta menyetujui ucapan sang suami yang selalu bijak dalam menyikapi permasalahan apapun, meskipun saat ini menyangkut Adiknya sendiri. Mungkin jika Niswah berada di posisi suaminya, sudah habis Jevin kena amukannya.
❤❤❤
Di saat suasana malam sedang hening. Tiba-tiba terdengar suara kriuk-kriuk yang berasal dari perut Jevin. Alarm alami di perutnya sudah berbunyi menandakan bahwa di dalam perutnya sudah kosong tak berpenghuni. Jevin pun memegangi perutnya dengan lemas.
"Aduh aku lapar banget, oh iya dari tadi siang aku kan belum makan sama sekali." Jevin merasa sangat lapar sekali. Wajar saja karena sejak tadi siang ia belum makan sampai saat ini. Namun Jevin tidak akan ke mana-mana sebelum Kasha keluar menemuinya.
Tidak baik menahan rasa lapar dan itu akan berakibat fatal, namun Jevin tidak punya pilihan lain. Lagi pula selapar apapun saat ini Jevin tidak nafsu makan dan ia ingin makan jika ditemani oleh Kasha. Namun untuk saat ini rasanya tidak mungkin karena Kasha masih marah kepadanya.
Awalnya Jevin merasa kuat untuk menahan rasa lapar. Namun perlahan-lahan energinya menipis. Layaknya handpone yang kehabisan baterai dan harus segera dicharger.
Seluruh tubuh Jevin gemetar. Hembusan angin malam yang menyapanya semakin membuat tubuhnya dirasa tidak enak. Angin malama berhasil masuk ke tubuhnya sehingga Jevin merasa kedinginan sekali ditambah lagi ia kekurangan asupan energi sehingga perlahan-lahan ia tidak dapat menyeimbangkan diri, dan akhirnya ambruk terlunglai di dinginnya lantai.
Dari dalam rumah terlihat Haziq keluar dari kamarnya, awalnya hendak menuju dapur karena haus namun Haziq menoleh ke arah pintu rumahnya yang terbuka lebar.
"Lho kok pintunya masih dibuka, tumben Buya sama Umma nggak ditutup pintunya, ini kan sudah malam, atau mungkin Buya sama Umma lupa?" Haziq berbicara kepada dirinya sendiri. Merasa aneh dengan kedua orang tuanya yang mungkin telah lupa menutup pintu rumah mereka.
Tanpa berlama-lama lagi akhirnya Haziq berinisiatif untuk menutup pintu rumahnya yang terbuka. Haziq pun melangkah dengan santai, sampailah ia di ambang pintu. Dan betapa terkejutnya Haziq ketika melihat Jevin terbaring di teras rumahnya.
"Astaghfirullahal adzim Om Jev." Haziq terkejut melihat Jevin sudah tidak sadarkan diri.
Haziq langsung masuk ke dalam rumahnya lagi. Ia Berlari menuju kamar Kasha. Dengan deru napas yang masih tersenggal-senggal Haziq mengetok pintu kamar Tantenya berkali-kali dan sambil mengeraskan suaranya.
"Tante Kasha buka pintunya, Tante Kasha, Om Jev pingsan di luar."
Di dalam kamarnya Kasha sedang fokus berdzikir di hamparan sajadah. Namun seketika kefokusannya hilang saat dari luar terdengar ketokan pintu yang keras serta suara Haziq yang sangat terdengar sampai ke telinganya.
"Astaghfirullahal adzim Mas Jevin."
Kasha langsung bergegas membuka pintu kamarnya. Saat pintunya terbuka ia melihat Haziq sedang ketakutan dan tubuhnya berkeringat. Disaat Kasha keluar dari kamarnya, Nufael dan Niswah yang mendengar suara Haziq langsung keluar dari kamarnya juga dan langsung menghampiri Haziq.
"Haziq ada apa Nak?." Tanya Niswah dengan panik.
__ADS_1
"Itu Umma, Om Jev pingsan."
Kasha langsung berlari menuju luar rumah. Menemui suaminya yang katanya pingsan tidak sadarkan diri. Dan benar saja Jevin terlunglai lemas di teras rumah.
"Ya Allah Mas Jevin." Kasha langsung meletakkan kepala Jevin di pangkuannya.
"Mas bangun Mas, Mas Jevin bangun Mas." Kasha panik luar biasa. Bahkan tanpa tersadar air matanya meluncur bebas.
Nufael, Niswah dan Haziq baru sampai di depan rumah. Nufael dan Niswah tidak kalah paniknya dengan Kasha. Mereka langsung menghampiri Jevin dan Kasha.
"Sa-yang."
Perlahan kedua mata Jevin terbuka walau hanya sedikit. Ia menatap wajah istrinya yang panik dan air mata menggenang di kedua kelopak matanya.
"Alhamdulillah Mas sadar, Mas gak apa-apa kan?, ya Allah badan Mas panas sekali, Abang tolong bantu angkat Mas Jevin ke dalam."
Sebenarnya tanpa disuruh Nufael akan membantu Jevin untuk masuk ke dalam rumahnya namun Nufael menunggu instruksi dari Adiknya terlebih dahulu.
Arhirnya dengan susah payah Jevin berhasil dibaringkan di ranjang kamar Kasha. Nufael dan Niswah serta Haziq segera keluar dari kamar Kasha agar Jevin bisa beristirahat dengan tenang. Setelah kepergian Abang dan Kakaknya, Kasha langsung mengompres dahi Jevin dengan saputangan yang sudah dibasahi dengan air kompresan.
"Sa-yang di-ngin."
"Sa-yang, Mas- ke-dingin-nan."
Jevin menggigil lantaran tubuhnya terasa dingin. Kasha semakin memper-erat selimut yang sudah diselimutkan ke sekujur tubuh Jevin. Namun Jevin masih menggigil. Tubuhnya masih teras dingin seakan-seakan selimut yang tebal tidak bisa menghangatkan tubuhnya yang sedang kedinginan akibat terkena sapuan angin malam.
"Aku ambil selimut lagi ya Mas."
Jevin menggeleng. "Nggak usah Sayang, percuma, Mas nggak butuh selimut, Mas butuh Sayang."
"Sa-yang, to-long peluk Mas, Mas ke-dinginan Sa-yang." pinta Jevin dengan terus menggigil.
Kasha tidak berpikir yang aneh-aneh lagi. Suaminya membutuhkan bantuannya. Mungkin dengan pelukannya, suaminya akan merasakan kehangatan dan tidak menggigil lagi.
Akhirnya Kasha langsung membaringkan dirinya di samping Jevin. Dan tanpa sungkan lagi ia langsung memeluk Jevin dengan sangat erat berharap suaminya tidak kedinginan lagi.
Dan benar saja. Selang beberapa menit kemudian akhirnya Jevin tidak menggigil lagi itu artinya ia sudah merasakam kehangatan dari pelukan sang istri.
Kasha dapat bernapas lega karena suaminya sudah tidak menggigil lagi. Bahkan kedua matanya semakin tertutup rapat menandakan bahwa ia sudah bisa istirahat dengan tenang. Awalnya Kasha hendak melepaskan
pelukannya agar tidak menganggu suaminya istirahat namun ternyata Jevin malah membalas pelukan Kasha dengan erat sehingga Kasha tidak bisa meloloskan dirinya. Akhirnya Kasha mengalah dan perlahan menutup kedua matanya untuk ikut berisitrahat karena malam akan semakin larut.
❤❤❤
Kasha sedang tertidur dengan pulasnya. Namun tiba-tiba saja tidurnya terusik. Kasha merasa sedang ada yang menganggu ketenangan tidurnya. Dengan terpaksa Kasha membuka kedua matanya dengan perlahan. Betapa terkejutnya Kasha ketika melihat Jevin sedang tersenyum ke arahnya sambil membelai kepalanya. Bahkan wajah Jevin sangat dekat dengan wajahnya. Dan Kasha merasa bukan hanya wajah mereka yang dekat namun tubuh keduanya juga sangat dekat dan saling bersentuhan. Otak Kasha berputar, mengingat kejadian tadi malam dan Kasha pun sadar.
"Selamat bangun tidur Sayang." Ucap Jevin dengan amat lembut.
Kasha hendak beranjak dari tidurnya namun Jevin melarangnya. Alhasil Kasha kembali meletakkan kepalanya ke bantal dan menatap wajah suaminya yang sudah tidak pucat seperti semalam.
"Mas sudah enakan?." Tanya Kasha yang teringat bahwa semalam suaminya menggigil akibat masuk angin.
Kasha bersyukur serta dapat bernapas lega karena kondisi sang suami sudah kembali pulih. "Alhamdulillah Mas, ini semua berkat Allah, aku hanya perantara saja."
"Iya Sayang alhamdulillah."
"Sini peluk Mas lagi Sayang."
Raut wajah Kasha langsung berubah. Ia menggeleng seraya menghela napas karena disaat-saat seperti ini suaminya mulai lagi berulah. Pasti topik pembicaraan dini hari ini adalah pelukan Kasha semalam. Kasha langsung dapat menebaknya.
"Ih Sayang kok nggak mau peluk Mas lagi sih." Oceh Jevin memasang wajah kecewa.
"Mas kan sudah nggak menggigil." Ucap Kasha yang enggan untuk sekadar memeluk suaminya lagi seperti tadi malam, sampai ketiduran.
Jevin menghela napas. "Ih Sayang, masa Mas harus menggigil terus biar Sayang mau peluk Mas."
Diluar dugaan Jevin. Ternyata Kasha sungguhan menuruti permintaannya. Yaitu memeluknya bahkan tanpa disuruh juga Kasha memeluk Jevin dengan sangat erat seakan enggan untuk melepaskannya.
"Mas maafkan aku ya." Dari dalam lubuk hati yang paling dalam Kasha meminta maaf kepada Jevin sehingga membuat Jevin kebingungan dan merenggangkan pelukan istrinya agar sepasang mata mereka saling beradu pandang.
"Lho kok Sayang yang minta maaf sama Mas?"
"Gara-gara aku Mas jadi sakit, Mas jadi kedinginan, aku berdosa sama Mas, maafkan aku ya Mas."
Isak tangis mulai terdengar di telinga Jevin. Tangisan Kasha yang tiba-tiba saja itu mengejutkan Jevin dan Jevin langsung mengelus kepala sang istri untuk meredahkan tangisannya.
"Sudah Sayang, Mas sudah memaafkan Sayang, ini bukan kesalahan Sayang, Mas yang salah seharusnya Mas yang minta maaf sama Sayang, Sayang memaafkan Mas kan?"
Kasha mengangguk pelan. Ia tidak kuasa untuk berkata-kata akibat menangis yang semakin menjadi-jadi. Kasha merasa sangat bersalah dan berdosa. Seharusnya semarah dan sekecewa apapun kepada suaminya Kasha tidak boleh egois dan menghindar dari suaminya alhasil suaminya yang menjadi korban atas keegoisannya.
"Sayang menangisnya sudah ya, sayang air matanya kalau dibuang begitu saja."
"Tapi aku salah Mas, aku berdosa, aku harus menangisi kesalahan aku, aku harus menyesali kesalahanku Mas."
Jevin tidak banyak bicara lagi. Ia membiarkan sang istri mencurahkan kesedihannya dengan air matanya bukan Jevin tidak kasihan namun mungkin dengan istrinya menangis akan menenangkan hatinya.
Dan benar saja. Lima menit kemudian tangisan Kasha sudah tidak terdengar lagi. Kasha sudah tidak menangis. Jevin segera menghapus sisa-sisa air mata di wajah Kasha.
Jevin berganti posisi. Ia beranjak untuk duduk begitu juga dengan Kasha yang dibantu oleh Jevin. Kini mereka duduk dengan saling berhadapan satu sama lain. Jevin mengulas senyuman kepada sang istri untuk memancing senyuman istrinya.
Perlahan Kasha mengukir senyumannya. Ia sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. Rasa bersalah juga sudah pupus karena sang suami sudah memaafkannya.
"Sayang, Mas ingin menjelaskan tentang kesalahpahaman yang terjadi kemarin."
Kasha menggeleng. Ia tidak ingin Jevin menjelaskan apapun kepadanya terlebih lagi Kasha tidak ingin membahas dan mengungkit kejadian kemarin. Kasha sudah melupakannya yang terpenting saat ini ia sudah bisa memaafkan kesalahan suaminya.
__ADS_1
"Mas aku sudah memaafkan Mas, sudah jangan dibahas lagi ya Mas."
Kali ini Jevin yang menggeleng. "Nggak Sayang, Mas harus jelaskan semuanya sama Sayang, biar nggak ada kesalahpahaman diantara kita, Sayang tolong dengerkan penjelasan Mas ya, Mas mohon Sayang."
Jevin sangat memohon kepada Kasha agar mau mendengarkan penjelasannya tentang kejadian kemarin di mana Zaila memeluknya dari belakang. Sebenarnya seperti biasa Jevin sangat tidak ingin membahas masa lalunya dengan Zaila namun agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi yang mungkin bisa berdampak sangat fatal nantinya, jadi Jevin harus mau berdamai dengan masa lalu dan membiarkan sang istri mengetahuinya.
Kasha pun akhirnya mengangguk. Ia mau mendengarkan penjelasan dari suaminya tentang kejadian kemarin yang telah berhasil membuat hatinya remuk dan tergores luka.
"Kemarin itu memang Zaila memeluk Mas, tapi Mas nggak tahu kalau itu Zaila, Mas mekira itu Sayang, makanya Mas kelihatan senang, dan Mas kaget saat Sayang masuk ke dalam ruangan Mas, dan terrnyata yang memeluk Mas bukan Sayang tapi perempuan nggak punya malu itu."
"Sayang percaya kan sama Mas?, mas berani sumpah al-Quran Sayang, Mas berani sumpah apapun, Mas-"
Kasha menghentikan ucapan suaminya yang belum tuntas. "Aku sudah percaya sama Mas, Mas nggak usah bersumpah apapun."
"Sayang sungguh percaya sama Mas?" Jevin masih meragukan istrinya yang katanya sudah mempercayainya namun wajahnya masih menyimpan kekecewaaan.
Kasha mengangguk yakin. "Iya Mas aku percaya sama Mas." Ucapnya lagi dengan meyakinkan suaminya bahwa ia mempercayai penjelasannya.
"Oh iya Sayang, kejadian ini yang Mas takutkan selama ini, ini alasan Mas menyuruh Sayang untuk menjauhi perempuan yang putus urat malunya itu."
"Maksud Mas apa?"
"Zaila itu pura-pura baik di hadapan Sayang, dia itu ingin menghancurkan rumah tangga kita Sayang, dia ingin merebut Mas dari Sayang."
Kasha semakin tidak mengerti. Ucapan suaminya itu benar-benar di luar jangkauannya sehingga ia tidak sampai untuk berpikir ke situ.
"Maksudnya?"
Jevin menghela napas. Ia berusaha mengontrol amarahnya yang bisa meledak kapan saja. Jevin bukan marah kepada istrinya melainkan ia marah kepada Zaila karena berani-beraninya ingin menghancurkan rumah tangganya.
"Zaila...."
Berat untuk Jevin mengatakannya, namun ia harus berterus terang demi keutuhan rumah tangganya.
"Zaila bukan hanya sepupu Mas"
"Tapi..."
"Dia mantan tunangan Mas."
Kasha terkejut. Kedua bola matanya membesar. Ia menutup mulutnya seakan-akan tidak mempercayai kenyataan yang baru saja ia dengar. Kasha masih tidak percaya, sangat tidak percaya.
"Kami dijodohkan sejak kecil sama Kakek, tapi karena sering bersama akhirnya kami saling mencintai dan menerima perjodohan itu, empat tahun berpacaran, satu tahun bertunangan dan kami sudah merencanakan sebuah pernikahan, tapi tiba-tiba Zaila memutuskan hubungan kami, dia memilih pindah ke Amerika karena mendapatkan tawaran menjadi seorang model internasional"
"Tanpa rasa bersalah, dia meninggalkan Mas, dia nggak mempedulikan Mas yang sangat mencintainya, dan Mas nggak bisa menerima kenyataan itu sampai-sampai Mas menyalahkan keadaan, Mas menyalahkan kedua orang tua Mas"
"Lima tahun Mas hidup dengan penuh kebencian, susah payah Mas melupakan dia, dan akhirnya perlahan Mas sudah bisa melupakan dia, tapi Mas masih membenci keadaan, Mas masih membenci kedua orang Mas, tapi alhamdulillah sekarang Mas sudah berubah itu karena kehadiran Sayang, Mas bersyukur karena Allah menakdirkan Mas berjodoh dengan perempuan yang sholihah seperti Sayang, Mas sangat bersyukur."
Sudah sangat jelas penjelasan Jevin yang menceritakan masa lalunya bersama Zaila yang ternyata bukan hanya sepupunya tetapi juga mantan tunangannya. Kasha bisa menerima itu semua dengan lapang dada dan ia juga sudah jauh lebih tenang karena sudah mengetahui alasan yang selama ini suaminya tutup-tutupi dari dirinya.
"Jadi ini kesalahan Mbak Zaila sama Mas?, Mbak Zaila memutuskan hubungan kalian dan meninggalkan Mas?"
"Iya Sayang."
"Tapi Mas sudah memaafkan Mbak Zaila kan?"
"Iya Sayang, Mas sudah memaafkannya, tapi Mas nggak habis pikir dia datang lagi di kehidupan Mas untuk merusak kebahagian Mas, maunya dia apa coba?, dulu dia meninggalkan Mas dengan sesuka hati, sekarang dia kembali lagi dan ingin merebut Mas dari Sayang, dia benar-benar sudah nggak waras."
"Mungkin Mbak Zaila belum bisa menerima ini semua Mas, mungkin Mbak Zaila masih cinta sama Mas."
Jevin menggeleng cepat. Ada rasa muak ketika istrinya mengatakan bahwa Zaila masih mencintainya. Itu sudah teramat basi.
"Seharusnya dia bisa move on, dia yang meninggalkan Mas duluan, dia yang salah."
"Tapi kenyataannya Mbak Zaila belum bisa melupakan Mas."
Jevin menghela napas. Sudah cukup rasanya untuk membahas perempuan di masa lalunya. Jevin juga sudah muak membahasnya.
"Sudah Sayang, nggak usah bahas tentang dia lagi, yang terpenting sekarang diantara kita sudah nggak ada lagi kesalahpahaman, dan Sayang sudah tahu kan perempuan seperti apa Zaila itu, jadi Sayang nggak usah dekat-dekat lagi sama dia, Kalau dia ke rumah lagi, Sayang usir saja dia kalau dia nggak mau biar Mas yang usir dia, kalau perlu Mas usir dia dari Indonesia."
Kasha hanya bisa mengangguk. Ia tidak banyak bicara karena sejujurnya Kasha masih tidak percaya bahwa selama ini Zaila hanya berpura-pura baik kepadanya serta memiliki maksud yang tersembunyi, yaitu ingin menghancurkan rumah tangganya serta ingin merebut suaminya. Padahal Kasha sudah menaruh rasa percaya kepada Zaila namun nyatanya Zaila menyalahgunakan rasa percaya itu. Sekarang Kasha harus lebih hati-hati dengan Zaila yang ternyata adalah musuh yang nyata baginya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Alhamdulillah ukhfira bisa meluncurkan satu part lagi
Doakan ya semoga bisa meluncurkan part-part selanjutnya
Aamiin
Jazakumullah khoiron readers
Untuk yang sudah memberikan suntikan semangat sama ukhfira dengan vote dan komen kalian
berpengaruh sekali lho ternyata
🤗🤗🤗
Semoga setiap untaian kata yang tertoreh di kisah cintanya Jevin❤Kasha selalu menuangkan manfaat untuk kita semua ya
Aaamiin Allahumma Aamiin
Sampai bertemu di part selanjutnya
__ADS_1
🤗🤗🤗
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh