
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
"Ya, kosong."
Rifda nampak kecewa ketika membuka pintu kulkas yang sudah kosong penghuninya.
Kasha pun ikut menyadari bahwa bahan-bahan untuk dimasak sebagai sarapan hari ini sudah lenyap tak bersisa.
"Bahan-bahannya sudah habis ya Ma?." Tanya Kasha untuk memastikannya.
Rifda pun menutup kembali pintu kulkasnya. Lalu mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari menantunya.
"Kita masak apa ya untuk sarapan hari ini?, Mama bingung nih."
Kasha pun ikut kebingungan. Namun tanda sengaja Kasha menoleh ke arah meja makan. Terdapat sebungkus roti lengkap dengan selai kejunya. Kasha pun tersenyum karena masih ada sebungkus roti untuk dijadikan sarapan pagi kali ini.
"Ma, itu ada roti sama keju, bagaimana kalau pagi ini kita sarapannya roti bakar saja."
Rifda ikut menoleh ke arah sebungkus roti yang berjajar rapi dengan selai keju di atas meja makan. Rifda pun tersenyum dan bernapas lega karena hari ini masih ada roti yang bisa dijadikan sarapan pagi.
"Ide yang bagus, kamu memang menantu Mama yang paling the best Kasha. Mama lupa lho kalau masih ada roti di meja makan. "
"Ya sudah kalau begitu Kasha ambil dulu roti dan kejunya ya Ma."
"Iya Kasha."
Akhirnya kedua perempuan cantik beda generasi itu dengan kompaknya membuat sarapan untuk keluarga mereka yaitu roti bakar berselai keju.
Dua puluh lima menit kemudian. Roti bakar berselai keju telah siap dihidangkan. Aroma panggang yang menggoda membuat Kasha maupun Rifda ingin segera menyantapnya namun suami mereka belum pulang dari masjid. Itu artinya mereka harus sabar menunggu sejenak sampai kedua lelaki tampan itu pulang dari masjid.
Selang beberapa menit. Jevin dan Rozin pun datang dan segera menduduki kursi yang kosong untuk segera bergabung bersama Kasha dan Rifda. Mereka pun menyantap sarapan paginya dengan tenang dan menikmati.
"Oh iya Pa, bahan-bahan dapur sudah habis semua, Papa temani Mama belanja ya hari ini."
"Ma, Kasha aaja ya yang menemani Mama belanja." Kasha menawarkan dirinya untuk menemani Rifda berbelanja.
Rifda senang mendegarnya. Begitupun dengan Rozin yang juga senang bukan kepalang karena tidak jadi membuang-buang waktu untuk menunggu istrinya berbelanja. Bukan tidak senang melainkan jika Rifda berbelanja pasti lama sehingga Rozin menjadi jenuh dan bosan menunggunya.
"Jevin juga ikut ya Ma."
"Nggak boleh, kamu di rumah saja sama Papa, Jevin, kalau kamu ikut kasihan Papa sendirian di rumah."
Jevin menghela napas kasar. Ia nampak kecewa lantaran Mamanya tidak memperbolehkannya untuk ikut menemaninya berbelanja.
"Tapi Ma, Jevin nggak bisa jauh-jauh dari Kasha."
Rifda menggelengkan kepalanya. Putranya terlihat manja sekali seperti anak kecil yang tidak ingin berjauhan dengan ibunya saja. Rifda memakluminya karena Jevin memang sudah terbiasa bersama Kasha apa lagi mereka masih terbilang pengantin baru. Jadi hal yang biasa jika Jevin tidak ingin berjauhan dengan Kasha.
"Iya Mama tahu, tapi kan cuma sebentar saja kok. "
"Tetep saja Mama, mau sebentar apa lagi lama, Jevin nggak bisa Ma, pokoknya-"
"Mas." Kasha menghentikan ucapan Jevin yang sepertinya akan panjang dan lebar serta jangan lupakan kelebayannya yang akan bertebaran disetiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Mas di sini saja sama Papa, biar aku sama Mama yang belanja ya."
"Tapi Sayang, Mas nggak bisa jauh-jauh dari Sayang." Rengek Jevin yang sudah tidak memikirkan kedua orang tuanya yang tersenyum geli melihat tingkahnya.
"Mas, kali ini saja, ya."
Sepertinya Jevin harus mengalah. Menyabarkan dirinya yang akan berjauhan dengan sang istri. Beratnya sungguh luar biasa bagi Jevin. Namun apa daya Jevin tidak tega melihat wajah istrinya yang nampak berharap agar dirinya mengizinkannya. Lagi pula ini juga salah satu moment yang akan membangun hubungan baik antara istri dengan Mamanya. Jadi sudah seharusnya Jevin memberikan ruang untuk Kasha agar lebih dekat dengan Rifda.
"Iya Sayang, Mas izinkan."
"Tapi, jangan lama-lama ya, Mama kalau sudah selesai belanja langsung pulang ya Ma. Soalnya Jevin nggak kuat menahan rindu sama Kasha."
Rifda geleng-geleng kepala. "Iya-iya Mama tahu yang pengantin baru nggak bisa berjauhan." Goda Rifda yang berhasil membuat Jevin menyengir kuda.
❤❤❤
Mobil yang dikemudikan oleh Rifda keluar dari garasi rumahnya. Kasha yang sedang duduk di samping Rifda tak hentinya berdecak kagum melihat sang Mama mertua yang mahir dalam urusan menyetir mobil. Sementara Kasha jangankan menyetir mobil, menyetir motor saja ia belum bisa.
"Maa syaa Allah, Mama hebat bisa menyetir mobil sendiri."
"Lho memangnya kamu belum bisa menyetir mobil, Kasha?." Tanya Rifda dengan sesekali menoleh ke arah Kasha.
Kasha menggeleng pelan. "Belum Ma, jangankan menyetir mobil, menyetir motor saja Kasha belum bisa."
Rifda sedikit terkejut. Ia tidak menyangka sang menantu belum pernah memegang setir kendaraan baik itu motor maupun mobil. Terbesit keheranan di hati Rifda, kira-kira mengapa menantunya itu belum bisa menyetir motor ataupun mobil.
"Kira-kira kalau boleh Mama tahu, kenapa kamu belum bisa menyetir motor ataupun mobil Kasha?"
"Dari dulu Kasha belum berani untuk belajar mnyetir Ma, jadinya sampai sekarang belum bisa menyetir motor apa lagi mobil."
"Ya sudah nanti Mama ajarkan kamu menyetir mobil, tapi kamu harus siapkan mental dulu ya Kasha."
__ADS_1
"In syaa Allah Mama." Ucap Kasha dengan memantapkan hatinya padahal di dalam hatinya sudah ketakutan dan deg degan karena ini bukan persoalan kecil apa lagi resiko kecelakaannya tinggi bila dapat mengendarai kendaraan.
❤❤❤
Rifda dan Kasha sama-sama keluar dari pasar tradisional dengan menenteng barang belanjaannya yang terbungkus goody bag berukuran besar. Rifda sengaja membawa goody bag dari rumah karena ia sangat peduli dengan lingkungan. Jadi Rifda tidak ingin menerima plastik yang jahat lingkungan dari para penjual.
Semua barang belanjaan mereka telah masuk ke dalam bagasi mobil. Di benak Rifda masih terbesit tanya lantaran niatnya tadi ia ingin berbelanja di supermarket namun sang menantu mengajaknya untuk belanja di pasar tradisional saja entah apa alasannya Rifda belum sempat bertanya dan inilah saatnya ia bertanya agar tanda tanya di benaknya dapat terjawabkan.
"Kasha, Mama mau tanya sesuatu sama kamu."
"Mama mau bertanya apa?." Dengan senang hati Kasha menanggapinya.
"Kalau boleh Mama tahu kenapa kita belanjanya di pasar tradisional, kenapa nggak di supermarket saja?"
Kasha tersenyum sebelum menjawab pertanyaan sang Mama mertua. "Karena hitung-hitung kita membantu pedagang kecil yang berjualan di pasar tradisional itu Ma, mereka berjualan untuk menghidupi keluarganya, mereka pantas kita bantu, dan kalau bisa kita jangan menawar dagangannya, karena mereka berhak mendapatkan keuntungan dari hasil dagangannya yang mungkin nggak seberapa."
Rifda yang mendengar alasan Kasha dengan seksama dibuat berdecak kagum atas pemikiran yang mulia. Menantunya bukan hanya sholihah namun juga berhati mulia. Mau membantu sesama yang memerlukan bantuan. Patut diacungi jempol kemuliaan hati Kasha.
"Maa syaa Allah, menantu Mama bukan hanya sholihah tapi juga berhati mulia, Mama bersyukur kamu menjadi menantu Mama, Kasha. Mama bersyukur sekali. Sini peluk Mama."
Kasha tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memeluk Rifda. Bahkan Kasha merasa pelukan Rifda adalah candu baginya sehingga ingin selalu merasakan kehangatan serta ketenangan dipelukan Rifda yang sudah Kasha anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
Tak terasa air mata jatuh meluruh dipipi Kasha. Air mata haru dan bahagia karena dapat merasakan pelukan hangat dari seorang ibu yang selama ini belum pernah Kasha rasakan. Berada dipelukan Rifda, Kasha merasa seakan berada di pelukan ibu kandungnya sendiri.
Rifda seakan ikut merasakan kepiluhan hati Kasha yang menangis di pelukannya. Rifda mengetahui cerita hidup Kasha yang ditinggal oleh kedua orang tuanya sewaktu masih bayi bahkan sang Popa sudah lebih dulu meninggal saat Kasha masih berada di dalam kandungan. Sangat tragis dan menyayat hati cerita hidup menantunya ini. Maka dari itu sebisa mungkin Rifda akan selalu berusaha menjadi Mama yang baik untuk Kasha. Bahkan tanpa sepengetahuan Kasha, Rifda juga selalu mengingatkan Jevin agar jangan pernah membuat Kasha sedih apa lagi sampai Kasha mengingat kedua orang tuanya. Rifda tidak akan memaafkan putranya jika itu sampai terjadi. Namun Rifda dapat bernapas lega karena Jevin begitu mencintai Kasha sehingga tidak mungkin untuk Jevin menyakiti atau membuat istri yang dicintainya bersedih atau bahkan sampai terisak tangis. Itu tidak akan mungkin terjadi.
❤❤❤
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam, Sayang kenapa lama banget sih."
Kasha dan Rifda baru saja sampai di dalam rumah, namun Jevin sudah mengoceh meluapkan kekesalannya karena menurutnya Mama dan istrinya itu pergi dengan waktu yang lama padahal hanya satu jam saja.
"Jevin bukannya bantu bawakan barang-barang belanjaan seperti Papa, ini malah mengoceh nggak jelas seperti itu." Oceh Rifda yang dibuatnya kesal namun tidak serius.
"Iya Mas, bantu Papa bawakan barang-barang belanjaan ya, mengocehnya dilanjutkan nanti saja."
Jevin pun mengalah. Kedua perempuan muslimah yang Jevin cintai itu dengan kompaknya meminta Jevin untuk membantu Rozin membawakan barang-barang belanja ke dalam dapur.
"Ma Kasha bantu ya."
Rifda pun mengangguk untuk memperbolehkan Kasha membantu dirinya menata bahan-bahan makanan yang baru saja dibeli. Sementara Jevin kelihatannya keberatan sekali jika Kasha membantu Mamanya, bukan karena apa tapi Jevin sudah tidak bisa jauh-jauh lagi dari Kasha.
"Jevin, ayo kita keluar, jangan ganggu Mama sama Kasha."
"Tapi Pa-"
Sudah kesekian kalinya Jevin harus mengalah dan mengalah. Namun apa mau dikata, ini demi kebahagiaan sang istri. Lagipula kelihatannya Kasha begitu senang jika bersama-sama dengan Mama mertunya. Dan seharusnya Jevin senang bukan malah kesal karena berjauhan dengan Kasha.
❤❤❤
Makan siang telah tersaji di meja makan. Rifda mengabadikan hasil jerih payahnya bersama sang Menantu kesayangan di handponenya kemudian menguploadnya di media sosialnya, salah satunya di instagramnya dengan caption "makan siang hasil jerih payah antara mama mertua dan menantu kesayangannya"
"Mama mau nambah nasi?." Tanya Kasha disela-sela aktivitas makan siangnya.
"Boleh." Jawab Rifda dengan tersenyum.
"Kasha ambilkan ya Ma."
"Iya, dengan senang hati Kasha."
"Terima kasih ya Kasha."
"Iya Ma, sama-sama."
Kasha selesai menambahkan nasi ke piring Mama mertuanya. Kemudian ia melanjutkan lagi makan siangnya. Namun secara tidak sengaja Kasha menoleh ke arah piring sang Lapa mertua, nasinya masih banyak tapi lauknya sudah mau habis.
"Papa mau nambah ayam bakarnya?"
"Boleh."
"Kasha ambilkan ya Pa."
"Iya Kasha, terima kasih ya."
"Iya Pa, sama-sama."
Meskipun terlihat sederhana. Namun sangat berarti bagi Kasha. Melayani kedua mertuanya yang sudah ia anggap seperti kedua orang tuanya sendiri. Akhirnya Kasha merasakan juga memiliki keluarga yang lengkap, ada ibu dan bapak.
Bicara tentang hati Kasha yang bahagia bisa melayani kedua mertuanya berbanding terbalik dengan Jevin yang sepertinya Kasha lupakan sejenak. Istilahnya amnesia sementara. Bukan Jevin namanya kalau tidak ada kata cemburu dalam hatinya melihat istrinya lebih perhatian kepada kedua orang tuanya ketimbang dirinya sebagai suaminya. Jevin tidak bermaksud untuk cemburu namanya juga Jevin yang sudah terbiasa mendapat perhatian dari Kasha sehingga saat ini Jevin merasa terabaikan begitu saja. Namun Jevin tidak mencurahkannya. Ia hanya dapat mengelus dadanya agar tetap tenang dan damai.
❤❤❤
Usai sholat isya berjamaah dengan Rifda, Kasha meluangkan waktunya untuk membantu menyimak bacaan Al-Quran Rifda yang belum begitu lancar. Istilahnya masih belajar membaca Al-Quran setelah cukup lama menjadikan Al-Quran sebagai pajangan saja.
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam."
Jevin dan Rozin sudah kembali lagi ke rumah usai melaksanakan sholat maghrib + isya' di masjid. Jevin yang melihat Kasha sedang di musholla bersama Rifda ingin menemuinya namun Rozin mencegahnya.
"Biarkan Mama belajar mengaji dulu sama Kasha, jangan ganggu mereka ya."
__ADS_1
"Tapi Pa, seharian ini Jevin nggak sama Kasha, Jevin kangen sama Kasha Pa."
"Tapi kasihan Mama kamu Vin, dia ingin belajar mengaji sama Kasha. Sudah sabar saja dulu, sebentar lagi juga selesai mengajinya."
Jevin pun hanya bisa menghela napas panjang. Kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Meskipun pandangannya masih sesekali menoleh ke arah Kasha yang fokus menyimak Rifda membaca Al-Quran.
Dua jam kemudian. Jevin ketiduran di atas ranjangnya. Tangannya meraba-raba sisi ranjang di sampingnya. Kosong. Kasha tidak terbaring di sampingnya. Jevin terkejut dan langsung terbangun. Rasa kantuknya menghilang secara tiba-tiba.
"Lho, Sayang, Sayang di mana?"
"Sayang di kamar mandi ya?"
Tidak ada jawaban. Jevin langsung beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi. Dan di kamar mandi tidak ada siapa-siapa. Lalu di mana istrinya berada?, Jevin bingung sendiri dibuatnya. Akhirnya Jevin memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Dan mencari Kasha di setiap sudut ruangan namun tidak ada. Di ruang keluarga malah terdapat Rozin yang sedang menonton tv seorang diri.
"Lho, Vin kamu belum tidur?"
"Kasha ke mana Pa?"
"Kasha sedang di kamar sama Mama."
Jevin tidak berkata apa-apa lagi melainkan langsung menuju kamar sang Mama yang pintunya sudah tertutup rapat. Jevin mengetok-ngetok pintunya dengan sedikit keras, wajahnya juga sudah memerah akibat menahan kekesalan di rongga dadanya.
"Lho Mas?, bukannya tadi Mas sudah tidur?"
"Mas kebangun, ayo ke kamar Sayang."
"Mas, malam ini aku tidur sama Mama ya."
"Nggak boleh, Sayang harus tidur sama Mas."
"Tapi Mas-"
"Sayang kan tahu Mas itu nggak bisa tidur tanpa Sayang di samping mas, sudah ayo kita ke kamar Sayang."
"Tadi Mas kan sudah tidur, berarti bisa kan tidur tanpa aku Mas."
Jevin menghela napas jengah. "Iya itu tadi Mas ketiduran Sayang, dan sekarang Mas kebangun soalnya kamu nggak ada di samping Mas, sudah ayo ke kamar Mas mengantuk lagi nih."
Kasha menggeleng pelan. Wajahnya seakan memohon agar Jevin mau mengizinkannya untuk malam ini saja tidur dengan Mama mertuanya. Kapan lagi Kasha bisa merasakan tidur dengan ditemani seorang ibu. Dan ini adalah moment yang tidak boleh Kasha sia-siakan.
"Mas, boleh ya aku tidur sama Mama, malam ini saja Mas." Ucap Kasha dengan memelas dan penuh harap.
Jevin paling tidak tega melihat sang istri memohon seperti itu. Apa lagi raut wajahnya sudah memelas. Bisa-bisa Jevin bertengkar pada dirinya sendiri jika tidak mengizinkan istrinya untuk tidur bersama Mamanya untuk malam ini saja. Ya sudahlah Jevin harus mengalah lagi demi melihat istrinya tetap mengukir senyuman bahagianya.
"Ya sudah Mas izinkan, tapi cuma malam ini saja ya Sayang."
"Alhamdulillah, jazakallah khoiron Mas."
Entah sadar atau tidak. Kasha tiba-tiba saja langsung berhambur di pelukan Jevin. Bahkan Jevin terkejut lantaran ini pertama kalinya Kasha memeluk dirinya duluan bahkan tanpa Jevin memintanya. Seakan tidak ingin menyia-nyiakan adegan romantis di malam hari ini, Jevin membalas pelukan Kasha dengan tidak kalah eratnya bahkan Jevin sampai menutup mata, menikmati pelukan istrinya yang selalu Jevin rindukan setiap saat.
"Wa jazakillah khoiron Sayang."
Seketika Kasha langsung tersadar bahwa ia yang memulai acara peluk memeluknya. Dengan cepat Kasha langsung melepas diri dari pelukan Jevin yang terkejut karena pelukannya sesingkat itu.
"Lho kok dilepas Sayang, Mas belum puas lho."
"Mas sudah malam, aku sudah mengantuk, kalau begitu aku masuk dulu ya Mas."
Kasha sengaja mengalihkan pembicaraan untuk memudarkan rasa malunya yang tiba-tiba saja hinggap didirinya.
"Yah, ya sudah deh, Mas juga mau ke kamar."
"Selamat mimpi indah Sayang, jangan lupa mimpikan Mas ya."
Kasha hanya dapat tersenyum saja. Lalu perlahan masuk ke dalam kamar sang Mama mertua yang sudah lebih dulu tertidur.
Mau tidak mau Jevin harus kembali ke kamarnya yang sunyi senyap bagaikan di hutan belantara tanpa penghuni. Bagi Jevin malam ini adalah malam tersunyi baginya setelah menikah dengan Kasha. Sudah dipastikan Jevin tidak akan bisa merajut mimpi indahnya lantaran pikirannya sudah dipenuhi dengan wajah cantik sang istri yang selalu meneduhkan dan membuat Jevin ingin terus menatapnya. Namun apa daya malam ini Jevin harus absen untuk menatap wajah sang istri sebelum tertidur. Rasanya Jevin ingin cepat-cepat esok hari agar dirinya bisa berdekatan lagi dengan sang istri yang saat ini sedang berjauhan dengannya. Hanya berbeda ruangan saja. Namun bagi Jevin ini adalah LDR pertamanya bersama Kasha.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Ampun deh Jevin, cemburunya gak ketulungan
Mana gak bisa jauh-jauh dari Kasha lagi
Emang gitu ya kalau sudah menikah???
Pengennya dekat-dekat terus
gak ingin berjauhan???
Komen dong yang sudah sold out dan merasakan apa yang Jevin rasakan
🙈🙈🙈
Btw Alhamdulillah Ukhfira come back again dengan part terbaru pastinya
🤗🤗🤗
Dan selamat menunggu part selanjutnya untuk kalian yang masih setia pantengin kisah cintanya Jevin & Kasha
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
__ADS_1