
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Sebagai seorang Ibu rumah tangga seperti yang lainnya kegiatan pagi ini Kasha isi dengan membersihkan rumahnya. Saat ini Kasha menyapu lantai rumahnya agar bersih dari debu-debu kecil yang bisa menjadi sarang penyakit. Namun Kasha tetap berhati-hati dan menjaga kondisi tubuhnya agar tidak terlalu lelah karena saat ini di dalam rahimnya ada buah cintanya bersama sang suami yang harus Kasha jaga baik-baik.
"Assalaamu 'alaikum."
"Ya Allah Sayang, kamu sedang apa?"
Jevin masuk ke dalam rumahnya dan dengan langkah seribu Jevin menghampiri Kasha lalu menyingkirkan sapu yang berada di tangan Kasha.
"Wa 'alaikumus salaam."
"Mas kok sapunya dibuang sih?." Oceh Kasha dengan kesal.
"Sayang, Mas kan sudah bilang, Sayang nggak boleh melakukan aktivitas apapun, apa lagi menyapu seperti ini, Mas nggak mau Sayang kecapek-an."
"Mas aku nggak capek kok, lagi pula kan cuma menyapu."
"Sayang memang merasa nggak capek, tapi Sayang harus ingat di dalam perut Sayang ada calon bayi kita, Mas nggak mau calon bayi kita kenapa-kenapa, Mas-"
"Mas berlebihan." Ucap Kasha dengan wajah yang cemberut. Dan berlalu meninggalkan Jevin begitu saja.
Jevin pun segera menyusul sang istri yang masuk ke dalam kamarnya. Jevin mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terlalu panik seperti tadi.
Kasha membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan mata yang dipaksa untuk terpejam. Jevin menghampirinya lalu duduk di samping istrinya yang membaringkan tubuhnya.
"Sayang, Mas minta maaf ya, Mas nggak bermaksud buat Sayang sedih dan marah sama Mas, tapi ini semua demi calon anak kita Sayang, maafkan Mas ya Sayang."
Tidak ada jawaban. Bahkan Kasha semakin merapatkan selimut tebal yang menutupi sekujur tubuhnya kecuali wajah dan kepalanya. Meskipun sang istri tidak merespon ucapannya setidaknya Jevin bisa tenang melihat sang istri saat ini beristirahat dan tidak melakukan aktivitas apapun.
Karena takut menganggu sang istri yang sedang istirahat. Jevin memilih keluar dari kamarnya. Padahal tadinya ia berniat untuk berganti baju usai pulang dari masjid. Namun Jevin mengurungkan niatnya lagi pula hari ini hari libur jadi Jevin tidak akan berangkat ke kantor.
❤❤❤
"Eh Sayang sudah bangun." Ucap Jevin ketika melihat sang istri keluar dari kamarnya dan hendak menuju dapur.
"Mas kok nggak ganti baju?." Tanya Kasha ketika melihat suaminya masih menggunakan pakaian sholat.
"Iya, ini Mas mau ganti baju."
Jevin segera masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju. Sementara Kasha menuju dapur untuk meminum air karena merasa kehausan.
Usai dari dapur Kasha menuju ruang tengah lalu melanjutkan kegiatan Jevin yang sejak tadi duduk santai di depan televisi yang menyala dan sedang menyiarkan lomba hafiz quran anak kecil.
Kasha tersenyum lalu ia teringat akan calon bayi di dalam perutnya. Dengan lembut Kasha mengelus perutnya seakan-akan sedang mengelus buah cintanya bersama Jevin.
"Nak, semoga nanti kamu bisa menjadi seperti kakak-kakak yang ikut lomba hafiz Qur'an itu ya Nak, menghafal Qur'an dan membanggakan Ummy dan Abby, aamiin."
Jevin baru saja keluar dari kamarnya. Ia melihat sang istri sedang duduk bersantai sembari menonton televisi. Jevin segera menghampirinya kemudian duduk di samping sang istri sembari merangkulnya.
Kasha masih terlihat kesal dengan Jevin. Bahkan tanpa ragu ia sedikit menggeser duduknya agar tidak terlalu dekat dengan suaminya sekaligus terlepas dari rangkulannya.
"Lho Sayang kok menghindar dari Mas sih?, Sayang masih marah ya sama Mas?"
Kasha menggeleng. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah sang suami yang sedang mengajaknya mengobrol. Kasha malah fokus menatap ke arah televisi.
Jevin menggeser duduknya agar lebih dekat dengan istrinya. Namun Kasha malah bergeser lagi sampai Jevin lelah untuk bergeser lagi.
"Sayang sudah dong merajuknya, Sayang kan tahu Mas nggak bisa berjauhan sama Sayang."
Kasha hanya diam saja. Ia sama sekali tidak berminat untuk menoleh serta menanggapi suaminya yang masih setia menatapnya.
Dengan bergerak cepat Jevin berhasil memeluk sang istri dengan sangat erat. Bahkan ia tidak memberikan kesempatan sang istri untuk meloloskan diri dari pelukan eratnya.
Kasha terkejut. Ia terperanjat dan langsung memberontak. Namun sia-sia Kasha tidak bisa melepaskan diri dari pelukan semena-mena suaminya.
"Mas lepaskan, aku nggak mau dipeluk sama Mas, lepas Mas." Oceh Kasha dengan terus berusaha untuk melepaskam pelukan suaminya. Namun Jevin semakin mempererat pelukannya.
"Mas lepas!? " Pinta Kasha dengan nada yang sedikit tinggi. Dan seketika air mata meluruh di kedua pipinya.
__ADS_1
Jevin terkejut mendengar nada tinggi yang berasal dari suara istrinya. Bahkan Jevin semakin terkejut saat mendengar isak tangis dari istrinya. Jevin langsung melepas pelukannya lalu dengan perlahan menyeka air mata yang membasahi wajah cantik sang istri.
"Lho Sayang kenapa menangis?, maafkan Mas ya."
Kasha menggelengkan kepalanya. Lalu melepaskan kedua tangan suaminya yang melekat di kedua pipinya. Kemudian Kasha beranjak dari tempat duduknya dan berjalan dengan cepat menuju kamarnya.
Jevin langsung menyusulnya dengan berlari tetapi sudah terlambat karena pintu kamarnya sudah ditutup oleh Kasha bahkan terdengar suara pintu yang terkunci. Dan benar saja Kasha mengunci pintu kamarnya dari dalam sehingga Jevin tidak bisa masuk ke kamar mereka.
"Sayang buka pintunya, Mas minta maaf Sayang, Mas nggak bermaksud buat Sayang sedih."
"Sayang ayo buka pintunya, jangan buat Mas khawatir sama Sayang dan calon anak kita Sayang."
Di dalam kamar, Kasha memilih membaringkan tubuhnya sembari terus menangis. Kasha merasa sedih sekali dengan perlakuan suaminya yang menurut Kasha tidak baik kepadanya. Rasanya saat ini Kasha tidak ingin dekat-dekat dengan suaminya.
❤❤❤
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'ailaikumus salaam, akhirnya Mama datang juga."
Jevin sangat senang melihat kedatangan Mama dan Papanya yang akhirnya datang juga ke rumahnya. Terutama sang Mama yang Jevin membutuhkan bantuannya.
"Kasha masih di kamar?." Tanya Rifda yang mengetahui keberadaan menantunya saat ini. Jevin memang menyuruh kedua orang tuanya untuk ke rumahnya. Terutama sang Mama yang Jevin mintai tolong untuk membujuk Kasha agar mau keluar dari kamar.
"Iya Mama, tolong ya Ma bujuk Kasha untuk keluar dari kamar, Jevin khawatir sama Kasha dan calon anak Jevin Ma."
"Iya Mama akan coba bujuk Kasha, kamu tenang dulu Vin."
"Jevin nggak bisa tenang Ma, Kasha dari tadi nggak mau keluar, dan dia tadi menangis tanpa Jevin tahu sebabnya apa."
Rifda menghela napas. Putranya ini begitu mengkhawatirkan kondisi istrinya yang saat ini sedang berdiam diri di kamar dan tidak mau diganggu oleh suaminya sendiri.
Rifda pun mencoba mengetok pintu kamar sang menantu. Dan berharap sang menantu mau membuka pintunya.
Dari jarak beberapa meter. Jevin terus memperhatikan sang Mama yang sedang berusaha membujuk sang istri untuk keluar dari kamarnya. Jevin berharap Mamanya berhasil membujuk istrinya agar mau keluar dari kamarnya.
"Assalaamu 'alaikum, Kasha, buka pintunya, ini Mama."
Kasha yang tidak tertidur mendengar suara ketokan pintu sekaligus suara seorang perempuan yang ia kenal betul suaranya.
"Alhamdulillah." Jevin dapat bernapas sangat lega karena Mamanya berhasil membujuk Kasha keluar dari kamarnya.
Jevin hendak melangkahkan kakinya untuk menghampiri Kasha. Namun Kasha melihatnya dan langsung mengajak Mama mertuanya untuk masuk ke dalam kamarnya dan mengunci kembali kamarnya agar Jevin tidak bisa masuk ke dalam kamarnya.
"Lho Sayang." Ujar Jevin setengah berteriak namun percuma karena istrinya sudah masuk lagi ke kamarnya dan Mamanya ikut masuk juga.
Rozin tidak tinggal diam. Ia menepuk pundak Putra sematawayangnya agar tetap tenang dan membiarkan Kasha bersama Mamanya dulu.
"Sudah Vin, tenang, Kasha kan sekarang sudah sama Mama."
"Tapi Pa, Jevin kan suaminya-"
"Yang bilang kamu bukan suaminya Kasha siapa?." Tanya Rozin sembari terkekeh geli lantaran ucapan putranya yang ada-ada saja.
"Ya maksud Jevin, Jevin kan ingin tahu istri Jevin itu kenapa Pa, Jevin khawatir."
"Vin. Kasha nggak apa-apa, kamu lihat tadi kan, Kasha baik-baik saja."
"Ya tapi kenapa Kasha menghindar dari Jevin Pa?, Jevin kan suaminya, mana Kasha sekarang sedang hamil, Jevin kan ingin mengelus-elus perut Kasha Pa, ingin mengobrol sama anak Jevin."
Rozin hanya bisa menepuk pundak Jevin berkali-kali. Mengisyaratkan kepada Jevin agar bersabar dan tetap bersabar. Rozin tidak habis pikir putranya ini begitu sayang dan cintanya kepada istri dan calon anaknya sampai-sampai ia tidak mau berjauh-jauhan meskipun tetap berada di satu atap yang sama.
Sementara di dalam kamarnya, Kasha menceritakan semua keluh kesah yang berkecamuk di hatinya kepada sang Mama mertua. Tentunya tentang suaminya yang berlebihan sekali dalam menjaganya karena sedang keadaan hamil.
"Yang sabar ya Kasha, anak Mama memang seperti itu, kalau dia sudah cinta dan sayang sama seseorang dia pasti akan menjaganya dengan ekstra, karena dia nggak ingin orang yang dicintainya terjadi apa-apa, apa lagi orang yang dicintainya adalah istri dan calon anaknya, wajar jika Jevin bersikap seperti itu dan memang terlalu berlebihan sih tapi ya sudahlah ini semua kan demi kebaikan kalian juga."
Perlahan Kasha dapat memahaminya. Dan ia sudah memaafkan sikap suaminya yang terlalu berlebihan dalam menjaga kondisi dirinya yang saat ini sedang hamil.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita keluar ya, kasihan Jevin sudah galau gara-gara kamu nggak mau keluar dan menghindar terus dari Jevin."
Kasha menggeleng. Untuk saat ini ia tidak mau bertemu dulu dengan suaminya. Entah penyebabnya apa Kasha sendiri juga tidak mengerti. Padahal Kasha sudah memaafkan kesalahan suaminya. Namun dia belum ingin bertemu dan dekat-dekat dulu dengan suaminya.
"Kasha nggak mau bertemu sama Mas Jevin dulu Ma."
"Lho kenapa Kasha?"
Kasha menggeleng pelan. "Kasha juga nggak tahu kenapa Ma, Kasha merasa nggak ingin dekat-dekat dulu sama Mas Jevin, bawaannya ingin menangis Ma."
__ADS_1
Rifda ber-o ria. Sepertinya Rifda tahu penyebab Kasha tidak ingin bertemu dulu dengan Jevin. Mungkin bawaan bayi yang di dalam kandungannya, lebih tepatnya hormon di dalam tubuh Kasha yang saat ini sedang berubah karena kondisinya yang sedang hamil.
"Oh mungkin ini karena kamu lagi hamil, Kasha, hormon perempyan hamil memang mudah berubah, dan mungkin karena setiap hari kamu sering sama Jevin terus, jadi sekarang kamu nggak ingin dekat-dekat dulu sama Jevin."
"Tapi ini wajar kan Ma?, Kasha bukannya sengaja untuk menjauh dari Mas Jevin, tapi nggak tahu kenapa untuk sekarang ini Kasha nggak ingin dekat-dekat sama Mas Jevin."
Rifda menganggukkan kepala. Sangat wajar bila saat ini menantunya sedang tidak ingin berdekatan dulu dengan suaminya mungkin karena pengaruh hormon di tubuhnya yang saat ini sedang berubah.
"Apa????"
"Kasha nggak ingin bertemu sama Jevin?, kok bisa begitu Ma?, aduh Jevin nggak mau jauh-jauh dari Kasha Ma, aduh bagaimana dong ini Ma."
Jevin langsung meradang usai mendengar ucapan Mamanya yang menyampaikan pesan dari Kasha bahwa Kasha tidak ingin bertemu dulu dengan Jevin. Bisa dibayangkan bagaimana gegananya Jevin yang harus berjauh-jauhan lagi dengan istrinya. Seperti kejadian yang lalu di mana Jevin sudah pernah merasakan berjauhan dengan istrinya. Dan itu membuat Jevin tersiksa setersiksa-tersiksanya.
Bukannya prihatin melihat Jevin gegana karena tidak bisa berdekatan dulu dengan Kasha, Rifda dan Rozin malah kompak menertawakan anak mereka sendiri.
"Ih Mama sama Papa tega banget, bukannya ikut prihatin melihat anaknya sedih seperti ini, eh malah ditertawakan, Nggak lucu Mama, Papa."
Perlahan Rifda menghentikan tawanya. Ia menghargai perasaan sang putra yang saat ini sedang gegana alias gelisah galau nan merana karena dicueki oleh istrinya. Tapi bagaimana lagi, jika itu keinginan Kasha yang saat ini sedang terjadi perubahan hormon di dalam tubuhnya karena sedang hamil dan memang tidak ingin bertemu dulu dengan Jevin.
"Iya iya, Mama sama Papa minta maaf, sudah kamu yang sabar saja ya, Kasha kan sedang hamil, dan hormon di tubunya sedang berubah, jadi wajar kalau dia nggak ingin bertemu kamu dulu."
"Ya tapi kenapa harus Jevin Ma, kenapa nggak Mama sama Papa saja, Jevin kan nggak bisa jauh-jauh dari Kasha."
"Ya mana Mama tahu Jevin, Memangnya bisa diatur seperti itu, kan nggak bisa. Sudahlah sabar saja, ini kan juga demi kebaikan istri sama calon anak kamu, sudah ditambahkan saja stok sabarnya."
Jevin tidak bisa menerima kenyataan begitu saja. Ia tidak mau berjauhan lagi dengan Kasha. Sudah cukup kemarin Jevin gegana karena berjauhan dengan Kasha. Jevin tidak ingin ada gegana jilid dua yang menyapanya.
"Ih Mama nggak mengerti perasaan Jevin sih."
"Siapa bilang Mama nggak mengerti, Mama ini pernah muda lho, jadi Mama sudah pernah merasakan apa yang kamu rasakan sekarang."
"Iya Jevin, Papa juga sudah pengalaman merasakan gegana seperti kamu ini, mEmang berat tapi ya mau bagaimana lagi coba." Sambung Rozin yang ikut angkat bicara.
"Tapi Jevin nggak bisa jauh-jauhan sama Kasha Ma, Pa."
"Ya terus kamu maunya bagaimana Jevin?, kamu mau tetap bertemu sama Kasha?, kamu mau Kasha menangis terus karena bertemu kamu?, yang ada kondisi istri kamu nanti memburuk bahkan calon anak kamu juga bisa terjadi apa-apa."
Akhirnya Jevin membungkam mulutnya. Ia sudah tidak banyak bicara lagi. Ucapan Mamanya barusan cukup menyadarkan dirinya tentang kesabaran dalam menghadapi ujian terberat yang menyapanya saat ini. Tak apalah jika saat ini gegana jilid dua menyapanya. Tak apalah jika saat ini Jevin harus tersiksa karena berjauhan dengan istrinya. Yang terpenting istri dan calon anaknya dalam kondisi baik-baik saja. Mungkin ini yang dinamakan pengorbanan cinta yang haqiqi. Dan kesabaran Jevin harus haqiqi juga biar seimbang.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Holla raderss
🤗🤗🤗
Ukhfira menyapa kalian lagi yakk
🤓🤓🤓
Semoga kalian tidak bosan disapa terus sama Ukhfira
Hehehe
Btw mana nih suaranya team gercep
Pasti seneng banget dapat notip dari Jevin❤Kasha
Pede amat ya authornya
🙈🙈🙈
Btw lagi nih Ukhfira mau tanya
di part ini menurut kalian terutama team gercep🤓, Si Jevin lebay gak sih karena berjauh-jauhan sama Kasha???
Atau wajar ajaa???
Komen dong 👉👉👉
biar Ukhfira tau pendapat kalian kek gimana
🤓🤓🤓
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
__ADS_1