Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
26. Tamu Istimewa


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


Jevin masuk ke dalam rumah dengan langkah yang tergesa-gesa. Rozin hanya dapat menggelengkan kepala melihat sang putra sudah lebih dulu masuk ke dalam rumahnya.


"Assalaamu 'alaikum Sayang."


"Sayang di mana?"


Jevin mencari keberadaan Kasha yang entah sedang berada di sudut ruangan yang mana. Dan akhirnya Jevin menemukan perempuan yang dipanggilnya dengan sebutan sayang di dapur bersama sang Mama.


"Wa 'alaikumus salaam."


"Mas sudah pulang?." Tanya Kasha ketika melihat sang suami bergegas menghampirinya.


"Sayang ayo kita pulang."


"Sekarang Mas?"


"Iya, kita pulang sekarang."


"Lho kok buru-buru sih Vin?." Tanya Rifda yang ikut menimbrung obrolan suami istri di hadapannya.


"Jevin kan harus ke kantor Ma."


"Ya sudah kalau begitu, ke kantornya dari sini saja, kan di kamar kamu yang di sini ada baju kamu juga Vin."


Jevin menggeleng cepat. "Nggak Ma, Jevin mau pulang sekarang saja, ayo Sayang kita pulang."


"Lho kok sudah mau pulang saja, mending sarapan saja dulu di sini Vin."


Jevin menghela napas ketika Rozin baru sampai di dapur dan berusaha untuk menahan Jevin agar tidak pulang dulu.


"Nggak usah Pa, nanti Jevin sama Kasha sarapan di rumah saja."


"Ya sudah kalau begitu kamu ganti baju saja dulu Vin."


"Nggak usah Ma, Jevin mau pulang sekarang saja."


Bukan hanya Rifda dan Rozin saja yang keheranan melihat tingkah Jevin yang ingin segera pulang ke rumah. Secepat mungkin. Kasha juga heran melihat suaminya yang terkesan tidak betah di rumah orang tuanya sendiri. Padahal Kasha betah sekali bahkan tidak ingin segera pulang tapi apa daya suaminya sudah mengajaknya pulang. Alhasil Kasha hanya menurut saja.


Kini Jevin dan Kasha sudah masuk ke dalam mobil. Dan Jevin mulai menyalakan mesin dan mengemudikan mobilnya.


"Alhamdulillah akhirnya pulang juga." Ucap Jevin dengan mengehela napas lega.


Kasha menoleh ke arah suaminya yang terlihat lega sekali karena sudah diperjalanan pulang ke rumah mereka.


"Mas kenapa sih mengajak aku pulang cepat-cepat?, aku kan masih ingin masak sama Mama, Mas."


"Sayang, sudah cukup ya kemarin seharian penuh Sayang sama Mama terus, Sayang nggak peduli sama Mas, perhatiannya sama Mama dan Papa saja. Sudah cukup satu malam saja Mas nggak nyenyak tidur karena nggak ada Sayang di samping Mas. Cukup kemarin saja Mas tersiksa karena berjauhan sama Sayang."


"Lho kok Mas berbicara seperti itu." Kasha tidak mengerti akan ucapan suaminya yang sepertinya bukan sekedar ucapan melainkan curhatan hatinya.


"Sayang, Mas itu cemburu karena Sayang lebih perhatian sama Mama dan Papa ketimbang sama Mas, makanya Mas buru-buru ingin cepat pulang, supaya Sayang bisa perhatian lagi sama Mas."


Kasha nampak sedih dan merasa bersalah karena perhatiannya kepada kedua mertuanya membuat suaminya cemburu bahkan merasa terabaikan. Kasha tidak pernah bermaksud seperti itu hanya saja mungkin Kasha terlalu bahagia lantaran sudah menganggap kedua mertuanya sebagai kedua orang tuanya sendiri sampai Kasha tidak menyadari bahwa suaminya keberatan akan perhatian lebih yang Kasha berikan kepada Rifda dan Rozin.


"Mas maafkan aku ya, aku nggak bermaksud buat Mas cemburu. Aku memang salah Mas, aku terlalu bahagia karena bisa merasakan punya keluarga yang lengkap. Sekali lagi aku minta maaf ya Mas karena keegoisan aku Mas jadi merasa terabaikan. Tapi aku sama sekali nggak bermaksud seperti itu Mas, aku-"


"Iya Sayang, Mas sudah maafkan kok, lagi pula Mas bukannya mau menyalahkan Sayang, cuma Mas cemburu saja Sayang."


"Tapi Mas masih mengizinkan aku untuk bertemu sama Mama dan Papa lagi kan Mas?" Kasha takut Jevin tidak memperbolehkan dirinya untuk bertemu lagi bersama Mama dan Papa mertuanya karena kejadian kemarin.


Jevin menoleh sejenak ke arah Kasha. Mengulas senyuman termanisnya untuk menenangkan hati Kasha yang sedang gelisah dan cemas. "Mas mengizinkan kok Sayang."


"Tapi."


"Tapi apa Mas?"


"Kalau Sayang mau bertemu Mama dan Papa saat Mas lagi di kantor ya, Mas nggak usah ikut ke rumah Mama dan Papa. Biar Mas nggak cemburu lagi. Oke Sayang."


"Alhamdulillah, oke Mas."


"Peluknya mana?"


Kasha menyerngitkan dahi. "Peluk?"


"Iya, seperti tadi malam, Sayang kan yang peluk Mas duluan."


Kasha langsung menghela napas jengah. Suaminya ini masih ingat saja akan kejadian tadi malam disaat ia tidak sengaja memeluk suaminya lebih dulu lantaran bahagia sekali.


Jevin yang sedang fokus menyetir langsung terkekeh geli melihat istrinya sudah memanyunkan bibirnya tentunya karena ulahnya yang sengaja menggodanya dengan mengingat kejadian tadi malam.


❤❤❤


Tingtung tingtung

__ADS_1


Suara bel berbunyi. Pertanda di luar sedang ada tamu. Rifda dan Rozin saling memandang satu sama lain kemudian saling menoleh ke arah pintu utama rumah mereka.


"Ada tamu Pa, siapa ya kira-kira?" Tanya Rifda yang penasaran karena tidak biasanya malam-malam seperti ini ada yang bertamu ke rumahnya.


Rozin mengkedikkan bahunya. "Papa juga nggak tahu Ma, Mama buka saja sana." Lalu Rozin kembali fokus ke layar handponenya yang sedang menampilkan tayangan seorang ustadz sedang berceramah.


Rifda menaruh buku tafsir quran yang sejak tadi ia baca di atas meja. Kemudian beranjak menuju ruang tamu untuk membuka pintu utama di rumahnya.


Kreggg


Pintu pun terbuka. Tatapan mama Rifda langsung tertuju ke arah sepasang suami istri yang seumuran dengannya sedang berdiri di hadapanya bersama seorang perempuan cantik yang masih muda.


"Lubna?"


"Arshad?"


"Zaila?"


Rifda memanggil satu-satu nama dari ketiganya yang saling tersenyum kepada dirinya yang masih tidak percaya bahwa kini mereka berada di hadapannya.


"Mbak Rifda apa kabar?"


"Mama Rifda baik kan?"


"Mbak Rifda, Mas Rozin sehat kan?"


Tidak ada jawaban. Rifda masih terpaku melihat ketiga orang di hadapannya. Namun secepat mungkin Rifda mengembalikam kesadarannya dan segera mempersilakan tamunya untuk masuk.


"Mas Rozin."


Rozin langsung berdiri. Ia terkejut mendengar seorang lelaki memanggil namanya. Sejenak Rozin terdiam dan tatapannya tertuju ke arah ketiga orang yang tidak lain adalah anggota keluarganya sendiri.


"Arshad?"


"Mas apa kabar?, sehat kan?"


Rozin hanya diam saja ketika seorang laki-laki yang umurnya tidak jauh berbeda dengannya itu memeluknya dengan hangat.


"I-iya aku sehat."


"Ayo duduk." Untuk menepis rasa canggungnya Rifda mempersilakan mereka untuk duduk terlebih dahulu.


"Kalian kapan pulang dari Amerika?, kok nggak mengabari kami."


"Baru tadi siang Mbak kita sampai di Indonesia." Ucap Lubna yang seketika memperhatikan Rifda dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Mbak sekarang pakai hijab?." Tanya Lubna dengan tatapan yang kurang suka, namun saat bertemu pandang dengan Rifda, ia langsung menampilkan senyuman ramahnya.


"Oh iya Mas, Mbak, rencananya, kita akan tinggal lagi di Indonesia." Ucap Arshad memberitahu.


"Iya Mbak kita sudah beli rumah juga di dekat sini, jadi nanti Mbak sama Mas jangan lupa main ya ke rumah baru kita."


Rifda dan Rozin saling bertemu pandang. Dengan dipenuhi akan tanda tanya. Mereka masih tidak percaya bahwa di hadapannya kini ada adik kandung dan adik ipar mereka beserta keponakan mereka yang umurnya tidak jauh berbeda dengan anak mereka, Jevin.


"Kalau boleh tahu, kenapa kalian memutuskan untuk tinggal di Indonesia lagi?, bukannya kalian sudah memutuskan untuk tinggal di Amerika selamanya?, dan Zaila juga sudah jadi model internasional kan di sana?"


"Iya Mas Rozin, memang awalnya kita ingin menetap di Amerika dan Zaila memang sudah menjadi model internasional yang terkenal, tapi nggak tahu kenapa Zaila meminta untuk kembali ke Indonesia, katanya sudah rindu dengan Indonesia."


Zaila pun angkat bicara. "Iya Papa Rozin, Mama Rifda, Zaila sudah kangen banget sama Indonesia, lagi pula Zaila juga sudah berhasil jadi model internasional jadinya Zaila ingin kembali ke Indonesia saja. Zaila juga kangen lho sama Papa Rozin dan Mama Rifda. Apa lagi sama Jevin,  Zaila kangan banget."


"Jevin ke mana Ma?, dia masih tinggal di sini kan?"


Rifda menenangkan dirinya. Ia mencoba untuk tetap tenang meskipun di dalam hatinya sudah terasa panas bagaikan terkobar bara api.


"Jevin sudah tidak tinggal di sini, dia sudah pindah."


"Oh iya Mama Rifda sama Papa Rozin kok nggak memberitahu Zaila sama Mami dan Papi, kalau Jevin sudah menikah."


"Zaila sudah tahu kalau Jevin sudah menikah?"


"Bukan cuma Zaila Mbak yang tahu, aku sama Mas Arshad juga tahu kok, kemarin nggak sengaja aku lihat postingan Mbak yang captionnya itu makan siang hasil jerih payah antara mama mertua dan menantu kesayangannya, itu artinya Jevin sudah menikah kan Mbak?"


"Iya nih, Mas Rozin kok nggak memberitahu kita sih, meskipun di masa lalu kita ada masalah, tapi kita kan tetap keluarga Mas, aku kan tetap Adik ipar kamu Mas, Mas nggak lupa kan kalau Lubna ini Adiknya Mas, kalian cuma dua bersaudara lho."


Baik Rozin maupun Rifda sama-sama bungkam dalam diamnya. Mereka sama-sama tidak tahu harus merespon dengan jawaban apa. Permasalahan yang cukup besar di masa lalu membuat hubungan mereka sempat renggang bahkan selama lima tahun lamanya mereka tidak bertukar kabar atau apa pun itu dan kini mereka dipertemukan lagi. Cukup sulit rasanya untuk mengembalikan hubungan baik yang pernah ada diantara mereka.


❤❤❤


Sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti di depan rumah Jevin dan Kasha. Tak berapa lama seorang perempuan cantik dengan pakaian stylish keluar dari mobil itu. Ia membuka kacamata berwarna coklat yang bertengger di hidung mancungnya. Tatapannya tertuju ke arah rumah sederhana yang di tempati oleh Jevin dan Kasha.


Tak ingin berlama-lama lagi perempuan cantik itu melangkah menuju rumah sederhana yang jauh dari kesan mewah. Ia pun mengetuk pintunya berkali-kali tanpa mengucapkan satu kata pun.


Dari dalam rumah. Kasha melangkah dengan cepat untuk membuka pintu yang sedang diketok. Dan Kasha pun berhasil memegang kenop pintunya sehingga pintunya pun terbuka.


Kedua perempuan cantik dengan penampilannya yang berbeda itu saling bertatap muka. Kasha mengulas senyuman ramahnya kepada perempuan di hadapannya. Sementara perempuan itu fokus memperhatikan Kasha dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Maaf cari siapa ya?." Tanya Kasha dengan ramahnya.


Perempuan itu tersadar dan segera mengalihkan pandangannya ke wajah Kasha yang sedang mengajaknya bicara.


"Saya ingin bertemu dengan..."


"Kasha, istrinya Jevin."

__ADS_1


"Oh, perkenalkan saya Kasha, saya istrinya Mas Jevin."


Perempuan itu terkejut bukan main. Ia seperti tidak percaya bahwa di hadapannya adalah istrinya Jevin. Sepupunya sendiri.


"Oh ini Kasha ya, hai Kasha kenalkan aku Zaila."


"Jadi ini istrinya Jevin." Ucap Zaila dalam hati.


Perempuan itu langsung mengulurkan tangannya seraya memperkenalkan diri kepada Kasha yang tidak lain adalah sepupu iparnya.


"Hai juga Mbak Zaila, oh ya mari silakan masuk dulu Mbak."


Kasha mempersilakan tamunya yang bernama Zaila untuk masuk ke dalam rumahnya. Karena tidak baik jika seorang tamu berdiri saja di depan pintu, tidak dipersilakan masuk.


Zaila pun mengikuti ajakan Kasha yang mempersilakan dirinya masuk sekaligus duduk di sofa ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu. Pandangan Zaila berkeliaran ke setiap sudut ruangan. Zaila sangat tidak percaya bahwa sepupunya seorang CEO di perusahaan keluarganya bertempat tinggal di rumah sederhana yang jauh dari kesan mewah nan megah.


Kasha kembali ke ruang tamu usai membuat secangkir teh untuk Zaila yang saat ini sedang bertamu ke rumahnya.


"Silakan diminum dulu Mbak tehnya."


Zaila tersenyum tipis. Perlahan ia meraih secangkir teh yang dihidangkan untuknya. Dengan seksama Zaila memperhatikan secangkir teh di hadapannya. Ia menaruh kembali secangkir teh itu di meja tanpa meneguknya meskipun sedikit saja.


Kasha yang melihatnya langsung kebingungan. "Kenapa nhgak minum Mbak?"


"Oh itu, aku nggak suka teh."


"Oh seperti itu ya Mbak, ya sudah kalau begitu aku buatkan yang lain ya Mbak."


"Oh nggak usah, maksudnya nggak usah repot-repot, aku nggak haus kok."


Kasha mengurungkan niatnya untuk kembali lagi ke dapur, karena Zaila menahannya agar tetap duduk menemaninya.


"Oh iya Kasha, kedatangan aku ke sini, aku ingin kenalan sama kamu, sepupu ipar aku."


"Sepupu ipar?." Tanya Kasha tak mengerti.


Zaila mengangguk dengan yakin. Ia membernarkan pertanyaan Kasha yang sepertinya tidak mengerti.


"Iya Kasha, kamu itu sepupu ipar aku. Jevin itu sepupu aku. Papa Rozin sama Mami aku kakak adik, alias saudaraan."


Kasha pun ber-o ria usai mengetahui bahwa ternyata Rozin memiliki saudara dan Jevin memiliki sepupu. Kasha pikir Jevin tidak memiliki sepupu karena waktu pernikahan mereka tidak ada anggota keluarga yang lain dari pihak Jevin dan baik Jevin maupun kedua mertuanya juga tidak cerita bahwa mereka memiliki anggota keluarga lagi.


"Oh iya?, tapi kok Mas Jevin nggak cerita ya Mbak kalau Mas Jevin punya sepupu, yaitu Mbak Zaila."


Zaila memutar bola matanya seakan sedang berpikir kira-kira jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan yang dilontarkan oleh Kasha.


"Oh mungkin Jevin lupa, soalnya aku dan kedua orang tuaku sudah lima tahun pindah ke Amerika, jadinya mungkin Jevin lupa, tapi nggak apa-apa kok itu bukan masalah besar bagi aku dan kedua orang tuaku."


"Sekalian aku ke sini mau mengucapkan selamat untuk pernikahan kamu dan Jevin, maaf ya kalau aku telat mengucapkannya soalnya aku dan kedua orang tuaku juga baru tahu kalau ternyata Jevin sudah nikah."


"Sekali lagi selamat ya Kasha."


Tanpa ragu Zaila memeluk Kasha dengan ramah dan seolah-olah menepis kecanggungan diantara mereka berdua karena baru saja bertemu sekaligus berkenalan.


"Terima kasih Mbak Zaila."


"Iya sama-sama Kasha. Aku ikut bahagia kalau Jevin sepupuku bahagia."


Awalnya Kasha merasa canggung sekali untuk sekedar mengobrol dengan Zaila yang katanya adalah sepupunya Jevin. Namun akhirnya Kasha terbawa suasana juga karena Zaila adalah tipe orang yang mudah bergaul dan bisa mencairkan suasana.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Selamat hari minggu


Untuk kamu yang semangat hidupnya menggebu


🤗🤗🤗


Jangan lupa bersyukur dan tersenyum ya


☺☺☺


Alhamdulillah Ukhfira bisa menyapa readers kembali


Tentunya dengan part terbaru di lapak ini


Senengnya


🤓🤓🤓


Btw jangan lupa vote dan koment ya kalau menurut kalian lapak ini ada manfaatnya dan harus sampai tamat


Dan kalau berkenan ingin menyambung silaturrahim dengan Ukhfira silahkan di follow akun ukhfira baik di noveltoon maupun di instagram ya


Itung-itung nambah saudara


🤗🤗🤗


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh

__ADS_1


__ADS_2