Hidayah Berukir Cinta

Hidayah Berukir Cinta
11. Menjemput Hidayah


__ADS_3

Assalaamu 'alaikum Readers


Selamat membaca cerita


"Hidayah Berukir Cinta"


Semoga kalian suka


❤❤❤


"Mbok, mbok."


Jevin mengeraskan suaranya untuk memanggil pembantu rumah tangganya yang baru beberapa minggu ini bekerja untuk menggantikan pembantu rumah tangga sebelumnya yang Jevin pecat akibat berani memperbolehkan Rifda masuk ke dalam rumahnya tanpa seizin darinya.


Di lantai bawah terlihat sepi bagai tak berpenghuni. Jevin berdiri di balkon atas sambil menunduk ke bawah untuk mencari pembantu rumah tangganya yang tidak segera memunculkan dirinya.


"Mbok ke mana sih." Jevin berdecak kesal karena pembantu rumah tangganya tidak kunjung keluar dari tempat persembunyiannya. Akhirnya Jevin menuruni anak tangga satu persatu untuk mencarinya.


Kreggg


"Mbok, makan siang sa-"


Jevin langsung menghentikan ucapannya usai membuka pintu kamar sang pembantu. Di dalam sana terlihat ada seorang perempuan tua yang sedang menunaikan kewajibannya yaitu melaksanakan sholat dzuhur.


Dengan seksama Jevin memperhatikan setiap gerakan sholat yang dilakukan oleh perempuan tua itu. Dan sholatnya sudah mencapai salam. Perempuan tua itu yang tidak lain adalah pembantu rumah tangga Jevin segera beranjak menemui majikannya saat melihat Jevin sangat fokus memperhatikannya lebih tepatnya memperhatikan dirinya saat sedang sholat.


"Maaf Nak Jevin, Mbok tadi sedang sholat, Nak Jevin pasti ingin menanyakan makan siang ya?, Mbok sudah siapkan di ruang makan Nak Jevin."


Jevin segera menyadarkan dirinya yang tadinya fokus menatap Mboknya yang sedang sholat. "I-iya Mbok nggak apa-apa, oh iya Mbok saya boleh bertanya sesuatu sama Mbok?"


Tiba-tiba saja Jevin ingin menanyakan sesuatu hal kepada asisten rumah tangganya. Entah apa yang ingin Jevin tanyakan Mboknya juga tidak mengerti dan hanya bisa mengangguk. Mempersilakan Jevin untuk mengajukan pertanyaan dan Mboknya berharap bisa menjawab pertanyaan dari majikan mudanya itu.


"Mbok kenapa masih sholat?, Mbok kan sudah tua, pasti Tuhan memperbolehkan Mbok untuk nggak sholat lagi karena faktor umur Mbok yang sudah tua."


Sang Mbok tersenyum tulus ke arah Jevin. Kerutan di wajahnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Meskipun umurnya sudah tidak muda lagi, namun semangat Mbok tidak memudar. Sebenarnya Jevin keberatan untuk memperkerjakan perempuan setua Mbok untuk menjadi pembantu rumah tangganya namun dari pihak yayasan tempat mencari pembantu rumah tangga meyakinkannya bahwa Mbok bisa bekerja dengan baik dan Mbok sendiri juga bersedia hingga pada akhirnya Jevin menerima Mbok menjadi pembantu rumah tangganya.


"Nak Jevin, sholat itu hukumnya wajib, jika ditinggalkan maka akan berdosa. Sholat juga tiang agama, jika kita tidak sholat maka harcurlah keimanan kita. Umur bukan alasan untuk meninggalkan sholat. Bahkan jika sudah tidak mampu berdiri bisa sholat dalam keadaan duduk jika duduk juga sudah tidak mampu maka bisa sholat dalam keadaan berbaring dan jika berbaring juga sudah tidak mampu maka bisa sholat dengan berisyarat, dan jika sholat dengan berisyarat sudah tidak mampu maka sholatnya boleh diwakilkan alias disholatkan karena orang itu sudah meninggal."


Jevin terkejut ketika mendengar penuturan sang Mbok yang menjelaskan tentang kewajiban melaksanakan sholat bahkan dalam kondisi separah apapun harus mengerjakan sholat. Jika sudah tidak bisa mengerjalan sholat dalam keadaan separah apapun itu artinya orang itu sudah meninggal dan wajib untuk disholatkan. Sebenarnya Jevin sudah mengetahui hukumnya meninggalkan sholat bahkan dia masih ingat bacaan dan gerakan sholat karena waktu umurnya dibawah 20 tahunan Jevin rajin mendirikan sholat namun disaat umurnya diatas 20 tahunan Jevin sudah tidak lagi rajin mendirikam sholat dikarenakan faktor lingkungan yang mana kedua orang tuanya juga tidak mendirikan sholat akibat perusahaannya sukses sehingga lupa kepada Tuhannya.


"Nak Jevin mohon maaf sebelumnya, Mbok hanya mengingatkan saja, kita hidup di dunia hanya sebentar, dan hidup di dunia ini bukan hanya sibuk mengejar dunia saja. Dunia ini tempatnya kita untuk beribadah kepada Allah, salah satunya ya mengerjakan sholat. Kita boleh sukses di dunia namun kita juga harus sukses di akhirat, karena di akhiratlah kita akan hidup kekal. Jadi kita harus mempunyai bekal yang banyak untuk menuju akhirat nanti."


Meskipun Mbok baru saja bekerja di rumah Jevin dan baru mengenal Jevin namun Mbok sudah mengetahui sisi buruk dari majikan mudanya yaitu tidak menunaikan sholat lima waktu yang wajib hukumnya. Jevin juga menyadari bahwa Mboknya itu mengetahui dirinya yang sama sekali sudah tidak menyentuh sajadah untuk menggelarnya dan duduk bersimpuh di hadapan Tuhannya.


Jevin ragu untuk bersuara kembali namun hatinya seakan berontak agar ia mengeluarkan keluh kesahnya yang menjadi beban pikirannya selama berhari-hari ini.


"Mbok, apakah Allah mau memaafkan saya yang berlumuran dosa ini?." Jevin mengakui dirinya yang banyak dosa karena selama kurang lebih sepuluh tahun lamanya tidak menunaikan kewajibannya untuk mendirikan sholat. Jevin malu kepada Mbok yang sudah tua namun masih sanggup mengerjakan sholat sementara dirinya yang masih muda sudah tidak mau mendirikan sholat lagi. Jevin lebih malu lagi kepada Allah akan tabungan dosanya yang mungkin sudah sebesar gunung akibat sudah sepuluh tahun lamanya meninggalkan sholat.


Perempuan tua itu tersenyum seakan memberikan semangat kepada Jevin yang kini bermuram duka. Jevin masih belum tenang sebelum sang Mbok menjawab pertanyaan pentingnya itu.


"Nak Jevin, Allah maha Pengampun bagi semua hambaNya. Allah akan memaafkan hambaNya yang telah berbuat dosa. In syaa Allah, Allah akan memaafkan Nak Jevin."


"Mbok serius?, dosa saya banyak Mbok, bahkan-"


Mbok langsung memotong ucapan Jevin yang sepertinya akan membahas dosanya di masa lalu. Jevin seakan tidak percaya dengan begitu mudahnya Tuhan akan memaafkannya apalagi dosa yang diperbuat Jevin tidak sedikit dan Jevin sangat sadar itu.


"Nak Jevin, Allah maha Pengasih lagi maha Penyayang, jika Nak Jevin bersungguh-sungguh memohon ampun kepada Allah niscaya Allah akan mengampuni Nak Jevin."


"Iya Mbok, saya bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri saya, saya ingin menebus dosa saya di masa lalu."


Mbok tersenyum bahagia. Terharu melihat Jevin yang terlihat bersungguh-sungguh ingin memperbaiki dirinya, bersungguh-sungguh ingin kembali ke jalan Allah yang lurus. Maha besar Allah yang telah memberikan hidayah kepada Jevin.


"Alhamdulillah, kalau begitu sekarang Nak Jevin pergi ke Masjid ya, temui Pak Ustadz, sampaikan kepada Pak Ustadz kalau Nak Jevin ingin bertaubat kepada Allah. In syaa Pak Ustadz akan membimbing Nak Jevin untuk kembali lagi ke jalan yang lurus."


Jevin mengangguk yakin, menyetujui arahan sang Mbok yang menyuruhnya untuk pergi ke Masjid. Bertemu dengan Pak Ustadz yang siap membimbingnya bertaubat, kembali kepada Allah.


❤❤❤


Mobil yang dikemudikan oleh Jevin memasuki halaman Masjid yang besar nan bersih. Jevin memarkirkan mobilnya tepat di depan bangunan suci tempat umat muslim bersimpuh di hadapan Tuhannya. Jevin sempat ragu untuk keluar dari mobilnya namun perlahan Jevin memberanikan diri untuk keluar dari mobilnya.


Jam menunjukkan pukul 13.12 siang. Itu artinya sholat dzuhur sudah selesai didirikan dan suasana masjid nampak sepi senyap. Perlahan Jevin masuk ke dalam masjid, Jevin melihat ada seorang laki-laki sedang khusu' duduk bersimpuh menghadap kiblat dan di hadapannya terdapat kitab suci Al-Qur'an.


"A-assalaamu 'aikum." Jevin mengucap salam dengan sedikit gugup karena setelah sekian lamanya sudah tidak pernah mengucapkan kata salam.


Laki-laki tersebut menolehkan wajahnya ke belakang. Melihat Jevin yang sedang berdiri di ambang pintu. Laki-laki tersebut langsung beranjak dan mempersilakan Jevin untuk masuk ke dalam masjid.


Jevin memakai baju berlengan panjang dan celana jeans panjang berwarna gelap berbeda sekali dengan laki-laki di hadapannya yang nampak menyejukkan dengan pakaian kebanggannya, baju taqwa, sarung serta kopyahnya. Laki-laki itu tersenyum ramah kepada Jevin sembari mengulurkan tangannya. Perlahan Jevin menjabat tangan laki-laki itu sembari membalas senyuman ramah dari laki-laki itu.


"Ada yang bisa saya bantu Mas?." Tanya laki-Laki itu membuka obrolannya.


"Perkenalkan Pak ustadz, saya Jevin."


"Oh iya Mas Jevin, perkenalkan nama saya Zulkifli, ada yang bisa saya bantu Mas Jevin?"


Jevin mengangguk pelan. Sejujurnya Jevin tidak sanggup untuk berkata-kata lagi. Bahkan Jevin merasa tidak pantas berada di tempat suci ini. Jevin seakan mengotori tempat suci ini akibat dosanya yang teramat banyak.

__ADS_1


Tanpa disengaja tiba-tiba saja tatapan bola mata Jevin tertuju ke arah lafadz Allah yang terpajang di dinding tepat di hadapannya. Tak kuasa Jevin menatap lafadz suci itu, Jevin seakan sedang berhadapan dengan Tuhannya.


Jevin langsung duduk tersungkur dengan tatapan masih tertuju ke arah lafadz Allah tersebut. Zulkifli terkejut melihat kondisi Jevin saat ini. Zulkifli pun beralih menatap ke belakang di mana tatapan Jevin sedang tertuju ke arah sana.


Kini Zulkifli mengerti seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kembali tertuju ke arah Jevin dan duduk di samping Jevin.


"Mas Jevin ada apa?, kenapa Mas Jevin terlihat sedih melihat lafadz Allah?"


Kedua mata Jevin berkaca-kaca. Tidak sanggup menahan sesak di dadanya usai menatap lafadz Allah yang tidak ingin Jevin berpaling dari lafadz itu.


"Pak Ustadz, saya adalah seorang pendosa, saya-"


"Cukup Mas Jevin, jangan buka aib Mas Jevin kepada saya, Allah sudah menutupi aib Mas Jevin, dan Mas Jevin tidak boleh membukanya."


"Tapi Pak Ustadz, saya bukan orang baik, saya, saya ingin bertaubat Pak Ustadz, saya ingin mencintai Tuhan saya, saya ingin mencintai Allah." Air mata Jevin meluruh begitu saja bersamaan dengan ucapan terakhir Jevin yang ingin mencintai Tuhannya.


Zulkifli tersenyum seraya terharu. "Alhamdulillah Allah telah memberikan hidayah kepada Mas Jevin. Apakah Mas Jevin bersungguh-sungguh ingin bertaubat?"


Jevin mengangguk yakin. "Iya Pak Ustadz, saya bersungguh-sungguh, saya ingin menjadi seorang hamba yang mencintai Tuhannya, seorang hamba yang menjalankan perintah Allah."


"Baiklah kalau begitu, Mas Jevin harus niatkan dalam hati, bertaubat kepada Allah semata-mata karena Allah bukan karena yang lainnya."


Jevin meletakkan tangannya di dadanya seraya memejamkan kedua matanya untuk mengikuti arahan Zulkifli. "Saya bersungguh-sungguh ingin bertaubat kepada Allah semata-mata hanya karena Allah."


Perlahan Jevin membuka kembali kedua matanya. Kondisinya jauh lebih tenang dari sebelumnya. Saat ini Jevin benar-benar memfokuskan dirinya untuk bertaubat kepada Allah menjadi sebaik-baik manusia, sekaligus menjadi sebaik-baik seorang hamba.


"Apakah Mas Jevin masih ingat dengan bacaan dan gerakan sholat?"


Jevin terdiam sejenak, memikirkan apakah dirinya masih ingat betul dengan bacaan dan gerakan sholat. Tanpa tersadar Jevin teringat akan masa lalunya yang rajin sekali menunaikan sholat dan keseringan sholat berjamaah bersama Papa dan Mamanya. Namun semuanya berubah setelah keluarga mereka kaya raya dan Jevin mengenal cinta.


"Saya ingat Pak Ustadz, tapi ada sebagian yang sudah lupa."


"Alhamdulillah kalau Mas Jevin masih mengingat meskipun sudah ada yang lupa, tunggu sebentar saya ambilkan buku panduan sholatnya dulu ya."


Zulkifli bergegas meninggalkan Jevin untuk mengambil buku panduan sholat yang berada di sekitaran masjid lebih tepatnya di rak buku tentang keagamaan yang tersedia di masjid tersebut.


"Ini silakan Mas Jevin ingat-ingat kembali ya."


"Terima kasih Pak Ustadz." Jevin menerima buku panduan sholat tersebut kemudian mulai membuka lembaran demi lembaran untuk mengingat kembali bacaan dan gerakan sholat yang sebagian sudah melebur dari ingatannya.


Tiga puluh menit berlalu. Zulkifli masih setia menemani Jevin yang sedang fokus membaca serta memperhatikan buku panduan sholat yang berada di genggaman tangan Jevin. Buku panduan sholatnya sudah ditutup oleh Jevin itu artinya Jevin telah selesai mempelajari untuk mengingatnya kembali.


"Bagaimana, apakah Mas Jevin sudah mengingat semuanya?"


Jevin mengangguk yakin. "Iya Pak Ustadz sekarang saya sudah mengingatnya kembali."


Jevin mengikuti arahan Zulkifli untuk berwudhu terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat taubat. Tiga puluh menit yang lalu Jevin bukan hanya mempelajari serta memperhatikan kembali bacaan dan gerakan sholat namun juga mempelajari serta memperhatikan tata cara berwudhu, dan sekarang saatnya Jevin mempraktikannya tentunya dengan bimbingan dari Zulkifli.


Saat ini Jevin beserta Zulkifli sudah berada di tempat wudhu. Jevin menggulung kedua lengan bajunya sampai siku begitu juga dengan celana jeans yang dipakainya, dinaikkan sampai di atas lutut.


"Silakan dimulai Mas Jevin." Zulkifli mempersilakan Jevin untuk mulai berwudhu.


Sebelum memulai berwudhu, tidak lupa Jevin berucap basmalah terlebih dahulu, kemudian Jevin mulai menyalakan kran airnya, membasuh kedua tangannya sebanyak tiga kali, berkumur-kumur, membasuh hidung dan perlahan menyatukan kedua telapak tangannya untuk mengadahkan pancuran air di kran. Setelah terisi penuh kemudian menyiramkan ke wajahnya dengan pelan. Segar dan sejuk itulah yang dirasakan oleh Jevin pada bagian wajahnya yang terbasuh air wudhu.


Jevin telah selesai berwudhu kemudian dilanjutkan dengan membaca doa setelah berwudhu sebagaimana yang telah dipelajarinya di buku panduan sholat tersebut.


Butiran air wudhu yang menghiasi wajah Jevin seakan menimbulkan sinar di wajah tampannya. Bahkan Jevin terlihat lebih segar dan tenang seperti air yang tadi dijadikan untuk berwudhu.


"Mas Jevin silakan untuk sholat taubat."


"Baik Pak Ustadz."


Ketika mereka sudah masuk kembali ke dalam masjid, Zulkifli mempersilakan Jevin untuk segera melaksankan sholat taubat.


Jevin segera mempersiapkan dirinya untuk melaksanakan sholat taubat 2 rakaat. Perlahan Jevin pun bertakbiratul ihram seraya berucap "Allahu Akbar."


Jevin begitu khusu' dan tenang dalam sholatnya, seakan ia benar-benar sedang bertatap muka dengan Tuhannya. Jevin merasa kini sedang bersimpuh di hadapan Tuhannya maka sudah semestinya ia bersikap khusu' dan tenang.


Sholat taubatnya kini telah mencapai salam. Perlahan Jevin menengadahkan kedua tangannya. Berdoa sekaligus berkomunikasi kepada Tuhannya yang selama ini tidak pernah ia lakukan.


Air mata Jevin meluruh begitu saja. Jevin tidak kuasa menahan tangisannya ketika kini masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk duduk bersimpuh di hadapanNya. Rasanya Jevin tidak pantas untuk berkomunikasi kepada Tuhannya atas dosa-dosa yang selama ini ia perbuat. Namun Jevin teringat akan ucapan sang Mbok yang mengatakan bahwa Allah maha Pengampun. Allah akan mengampuni dosa hambaNya jika hambaNya telah benar-benar bertaubat.


"Ya Allah, aku adalah seorang pendosa, rasanya tidak pantas bagiku untuk duduk bersimpuh di hadapanMu. Hari ini aku sungguh-sungguh bertaubat kepadaMu ya Allah. Mohon terimalah taubatku, ampunilah dosa-dosaku yang banyak sekali dan jadikanlah aku hambaMu yang beriman dan bertaqwa. Aamiin ya robbal aalamiin."


"Astaghfirullahal adzim, astaghfirullahal adzim, Astaghfirullahal adzim."


Tiada hentinya kedua bibir Jevin berdzikir, beristighfar kepada sang Pencipta, memohon ampun atas segala dosa di masa lalu.


"Pak Ustadz." Jevin beralih menatap Zulkifli yang masih setia duduk di sampingnya. Memperhatikan dirinya yang telah selesai melaksanakan sholat taubat kemudian diakhiri dengan berdoa memohon ampun kepada Allah.


"Alhamdulillah hari ini Mas Jevin telah menerima hidayah yang diberikan oleh Allah khusus untuk Mas Jevin. Dan in syaa Allah, Allah telah menerima taubat Mas Jevin dan Allah juga telah mengampuni dosa-dosa Mas Jevin. In syaa Allah sekarang Mas Jevin sudah menjadi hamba yang beriman kepada Allah."


"Aamiin, terima kasih Pak Ustadz." Tanpa ragu Jevin segera memeluk Zulkifli sebagai bentuk terima kasihnya karena telah membimbingnya untuk bertaubat, kembali kepada Allah.


"Sama-sama Mas Jevin, semoga kedepannya Mas Jevin istiqomah di jalan Allah."

__ADS_1


"Aamiin." Jevin kembali mengaminkan doa yang dipanjatkan Zulkifli khusus untuknya.


"Iman itu kadang naik turun, jika di tengah perjalanan nanti, iman Mas Jevin turun itu hal yang biasa, tapi Mas Jevin harus segera bangkit agar iman itu bisa kembali naik dan stabil."


Jevin menganggukkan kepala seraya meniatkan dalam dirinya untuk terus menaikkan serta menambahkan keimannya. Dan jika nantinya imannya benar-benar sedang turun Jevin akan mengingat nasihat dari Zulkifli untuk segera menaikkan imannya kembali.


Alhamdulillah, hari ini Jevin bersyukur karena Allah telah berbaik hati kepadanya. Memberikan dirinya hidayah yang tidak semua hambaNya Allah berikan. Karena hidayah itu benar-benar milik Allah. Manusia tidak bisa campur tangan dalam hal memberikan hidayah. Dan hanya ada satu cara untuk mendapatkan hidayah dari Allah yaitu dengan bersungguh-sungguh menjemput hidayah itu sampai akhirnya Allah luluh dan memberikannya. Menjemput hidayah itu dengan cara meluruskan niat, bersungguh-sungguh memperbaiki diri untuk menjadi hamba yang beriman. Hidayah itu dijemput bukan ditunggu sebab Allah tidak akan mengubah nasib hambanya kecuali hambanya sendiri yang mengubah nasibnya. Sebagaimana firman Allah dalam surah Ar-Ra'd ayat 11


إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ


"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Assalaamu 'aikum Warohmatullah Wabarokaatuh


Alhamdulillahirobbil Aalamiin


Akhirnya Jevin bertaubat


Siapa disini yang ikut senang???


Ukhfira senang syekali


🤗🤗🤗


Hidayah itu jemput bung, bukan ditunggu, kan yang mau merubah nasib diri kita, ya kita sendiri lalu kenapa harus menunggu hidayah itu datang


kenapa tidak menjemputnya saja


Seperti Jevin yang akhirnya langsung menjemput hidayahnya


Maa Syaa Allah


❤❤❤


Btw Alhamdulillah dipagi yang cerah ini Ukhfira kembali hadir dengan part ini


Semoga kalian sukak ya


Dan tentunya semoga bermafaat bagi kita semua


🤗🤗🤗


Senang deh kalau ada waktu kosong gini


Jadi Ukhfira bisa fokus lanjut


tanpa ada yang ganggu


Kalian juga senang gak kalau Ukhfira sering update kek gini


???


Kira-kira kalau hari ini


Ukhfira up part selanjutnya banyak yang setuju tak???


Mumpung mahasiswi yang satu ini libur kuliahnya


😄😄😄


Kalau banyak yang setuju


Ukhfira langsung gaspoll nih


🤓🤓🤓


Yuk vote dan koment


bagi kalian yang setuju Ukhfira up lagi part selanjutnya


Ukhfira hitung ya!!!


Satu


Dua


Tiga


jazakumullah khoiron untuk kalian yang menyempatkan mampir di lapak ini


Jangan lupa manfaatnya dibawa ya


💐💐💐

__ADS_1


Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh


__ADS_2