
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Sedari tadi hati Kasha tidak merasakan ketenangan, lebih tepatnya setelah selesai membaca al-Qur'an. Kasha ragu akan jawaban yang ia dapatkan usai membaca kitab suci yang menjadi pedoman hidupnya. Namun Kasha meyakinkan dirinya bahwa jawaban yang ia dapatkan berasal dari Allah dan Kasha harus menerimanya, demi dirinya, demi calon bayinya, sekaligus demi keutuhan rumah tangganya.
"Ya Allah, jika memang ini yang terbaik, aku ikhlas, in syaa Allah aku ridho." Kasha berucap seperti itu bukan dengan mudahnya, melainkan sangat sulit tetapi Kasha tidak punya pilihan lain. Dan nanti sore Zaila akan menagih keputusan darinya.
Kreggg
Suara pintu terbuka. Kasha yakin itu pasti suaminya. Dan benar saja beberapa menit kemudian Jevin memasuki kamar mereka di mana saat ini Kasha sedang berada.
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam."
Kasha beranjak dari tempat duduknya untuk mencium tangan suaminya. Jevin menatap bingung ke arah istrinya yang masih lengkap dengan mukenahnya. Padahal matahati pagi sudah mulai menampakkan dirinya.
"Lho Sayang kok masih pakai mukenah?, tumben jam segini masih di kamar, biasanya sudah heboh di dapur."
Kasha tidak memberikan jawaban atas pertanyaan suaminya melainkan ia meraih tangan suaminya lalu membawanya untuk duduk di tepi ranjang bersama dirinya.
"Mas, aku ingin cerita sama Mas."
Jevin langsung bersemangat. "Oh iya Sayang, ayo cerita, dari tadi malam Mas penasaran sekali nih. "
Sebenarnya masih ada keraguan di benak Kasha untuk menceritakan apa yang sedang ia pikirkan namun suaminya harus mengetahuinya karena ini menyangkut kehidupan mereka berdua ke depannya.
"Bismillahirrohmaanirrohiim." Sebelum membuka suara kembali, Kasha berucap basmallah agar Allah memudahkan dirinya untuk menceritakan semuanya kepada suaminya.
"Tapi Mas janji dulu ya jangan marah." Kasha mengajukan kesepakatan terlebih dahulu kepada suaminya agar tidak marah apabila nanti Kasha sudah mulai membuka suaranya.
"Iya Sayang, Mas nggak akan marah, Sayang itu kan nggak boleh dimarahi, bolehnya dicintai." Jevin memulai aksinya untuk merayu sang istri. Mencairkan suasana yang sempat tegang.
Kasha menghela napas sejenak. Menetralkan suasana hatinya yang sedang bergemuruh tidak karuan.
"Mas, kemarin, Mbak Zaila ke sini." Kasha menatap wajah sang suami yang langsung berubah usai mendengar nama Zaila tersebutkan.
"Mas jangan marah dulu, tadi Mas sudah janji untuk nggak marah kan?" Kasha mengingatkan kembali kesepakatan tadi bahwa suaminya tidak boleh marah saat ia mulai membuka suara.
Jevin menghela napas kasar. Menahan amarahnya yang tidak boleh diluapkan saat ini juga, karena sudah terlanjur berjanji untuk tidak akan marah saat istrinya mulai bercerita.
"Dan Mbak Zaila meminta aku untuk melepaskan Mas"
"Tapi aku nggak mau Mas." Kasha langsung melanjutkan ucapannya agar sang suami tidak cepat tersulut amarah.
"Terus?" Tanya Jevin meminta Kasha untuk segera melanjutkan ucapannya.
Seketika Kasha menjadi bingung. Ia ragu untuk melanjutkan ceritanya lagi. Ia takut nanti suaminya akan tersulut amarah apabila mengetahui jika Zaila datang dengan mengajukan dua pilihan terberat kepadanya.
"Terus Mbak Zaila mengancam aku Mas, dia bilang kalau aku nggak melepaskan Mas, calon bayi kita akan jadi korbannya."
Jevin naik pitam. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan amarah yang sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Berani-beraninya dia mengancam istriku!" Ujar Jevin dengan wajah memerah dan kilatan mata yang menajam.
"Mas sabar dulu ya, Mas tahan amarah Mas." Kasha mencoba menenangkan suaminya yang amarahnya kian memuncak.
"Istighfar Mas."
Jevin tersadar. Kemudian beristighfar. Memudarkan amarahnya yang akhirnya mulai mereda.
"Sayang, Mas harus temui dia, Mas harus beri dia pelajaran, sudah cukup selama ini Mas sabar menghadapi dia, Mas nggak akan biarkan dia menyakiti kamu dan anak kita, Mas haru temui dia." Jevin beranjak dari tempat duduknya, namun Kasha menahannya.
"Mas sabar dulu, aku nggak izinkan Mas untuk bertemu sama Mbak Zaila, apa lagi Mas mau memberi Mbak Zaila pelajaran, itu bukan solusi yang baik untuk menyelesaikan masalah ini Mas."
"Tapi dia sudah keterluan Sayang."
Kasha mengelus bahu sang suami. Disaat-saat seperti ini suaminya butuh untuk ditenangkan.
"Mas, aku punya solusi terbaik untuk masalah ini." Kasha mengulas senyumannya. Memberikan rasa ketenangan kepada Jevin yang sketika langsung terpaku menatapnya.
"Solusi apa Sayang?"
"Jadikan Mbak Zaila istri keduamu, Mas."
"APAAA???" Jevin terkejut bukan main. Kedua bola matanya seakan hendak meloncat seketika itu juga.
Jevin beranjak dari tempat duduknya. Ia menggeleng dengan cepat. Ia benar-benar tidak menyangka istrinya sampai berpikiran sejauh itu. Pikiran yang sama sekali tidak pernah terlintas di otak Jevin.
Dengan mencoba untuk tetap tenang, Kasha ikut beranjak dari tempat duduknya. Menyentuh bahu suaminya untuk menenangkannya. Namun pergerakannya langsung dihentikan oleh suaminya yang sengaja tidak ingin disentuh olehnya.
"Mas dengerkan aku dulu, aku punya alasan atas keputusan ini."
"Alasan apa?, sampai kapanpun cuma Sayang satu-satunya istri Mas."
"Mas-"
Jevin membalikkan tubuhnya. Merengkuh kedua pundak sang istri sembari menatap lekat kedua matanya.
"Cukup Sayang, itu bukan solusi terbaik." Jevin melepas kedua pundak istrinya. Melangkah ke depan. Membelakangi sang istri.
__ADS_1
"Nggak ada pilihan lain Mas, aku nggak ingin kita bercerai dan aku nggak ingin kehilangan anak kita, jadi ini satu-satunya pilihan, demi kehidupan kita kedepannya Mas."
"Tapi aku nggak sudi menikahi perempuan itu, KASHA!!!" Jevin benar-benar marah. Sampai ia memanggil istrinya dengan menyebut namanya, bukan kata sayang lagi.
Kasha terperanjat di tempat. Kasha tidak menyangka suaminya semarah itu kepadanya. Bahkan sampai tega membentaknya.
"Mas nggak tahu apa yang ada dipikiran kamu ini, sekarang juga Mas bisa menghabisi perempuan itu agar kita bisa hidup tenang."
Kasha tidak bisa menahan air matanya yang sejak tadi sudah menetes. Bahkan isak tangis mulai terdengar. Kasha tidak sanggup untuk menahan kesedihannya ketika melihat wajah suaminya yang memerah akibat tersulut amarah. Namun Kasha tidak boleh rapuh. Demi keutuhan rumah tangganya, Kasha harus bangkit. Kasha harus kuat dan tegar.
"Bukan seperti itu menghadapi masalah Mas."
"Dari pada menikahi dia?!, sampai kapanpun Mas nggak akan pernah sudi!!!"
"Anggap saja ini takdir dari Allah Mas, mungkin Mas memang ditakdirkan untuk mempunyai dua istri, aku dan Mbak-"
"Cukup Kasha!!!" lagi, Jevin meninggikan suaranya untuk menghentikan ucapan istrinya yang akan menyebutkan nama perempuan itu. Perempuan yang selalu membuat hatinya mendidih.
Meskipun sudah kedua kalinya ia dibentak oleh suaminya sendiri. Namun Kasha akan tetap berpegang teguh kepada keputusannya, yaitu membujuk suaminya agar mau menikahi Zaila.
"Mas tolong setujui keputusan ini, memang ini keputusan yang berat, tapi hanya ini jalan keluarnya, Mas tahu kan bagaimana Mbak Zaila, dia nggak akan pernah berhenti mengganggu kehidupan kita kecuali dia sudah berhasil mendapatkan Mas."
"Menikalah dengan Mbak Zaila, Mas." Ucap Kasha melirih.
Siapa bilang Kasha menerima itu semua dengan lapang dada. Ini sangat menyakitkan untuknya. Perempuan mana yang rela membagi suaminya dengan perempuan lain. Kasha sama dengan perempuan di luar sana yang tidak rela jika harus membagi suami dengan perempuan lain. Tapi Kasha tidak mempunyai pilihan lain. Mungkin ini sudah menjadi takdir hidupnya. Kasha tidak bisa menentang jika Allah sudah berkehendak.
"Mungkin ini cara Allah untuk memberikan hidayah kepada Mbak Zaila, yaitu melalui kamu Mas, siapa tahu dengan Mbak Zaila menikah sama Mas, Mbak Zaila akan berubah menjadi lebih baik, Mbak Zaila akan menjadi perempuan muslimah yang sholihah."
"Aku nggak peduli sama perempuan itu, mau dia jadi perempuan baik ataupun perempuan buruk, itu bukan urusan aku."
"Kamu harusnya memikirkan kebahagiaan kamu, bukan kebahagiaan orang lain."
Kasha mencoba tersenyum, meski hatinya rapuh dan sudah menangis sejak tadi.
"Justru aku memikirkan kebahagiaan aku Mas, kebahagian kita, istri mana yang bahagia kalau ada perempuan lain yang mencoba untuk merebut suaminya, aku nggak bahagia Mas, aku nggak tenang."
Jevin membalikkan tubuhnya. Melangkahkan kakinya untuk menghampiri sang istri. Kasha menatap suaminya dengan binar-binar harapan agar suaminya mau menyetujui keputusan yang ia ajukan.
"Aku nggak menyangka, ternyata ada ya perempuan yang rela membagi suaminya dengan perempuan lain, dan itu kamu!!" Tunjuk Jevin tepat di hadapan wajah istrinya. Kemudian berlalu dengan membawa rasa kecewa yang teramat dalam.
Sakit!, sakit sekali yang Kasha rasakan. Tapi lagi-lagi Kasha tidak punya pilihan lain. Kasha harus rela menyakiti perasaannya demi kebahagiaan dirinya, suaminya serta calon anaknya yang harus ia perjuangkan keselamatannya sampai tiba waktunya terlahir ke dunia.
❤❤❤
"Apa???, jadi istri kedua???"
Zaila terkejut. Ia baru saja mendengarkan Kasha yang memberikan penawaran kepadanya untuk menjadi istri keduanya Jevin.
"Nggak, aku nggak mau!!!" Tolak Zaila dengan keras.
Untung saja suasana taman tidak begitu ramai dan mereka ketemuan di tempat yang jauh dari keramaian orang-orang yang sedang bersantai ria di taman.
"Aku kan mintanya kamu lepaskan Jevin, bukan menyuruh aku jadi istri kedua Jevin, pokoknya aku nggak mau!!!"
"Mbak, sampai kapanpun aku nggak akan pernah bercerai dengan Mas Jevin, Allah membenci perceraian, jadi jalan satu-satunya itu Mbak Zaila mau menjadi istri keduanya Mas Jevin, lagi pula Mbak Zaila menginginkan untuk menjadi istrinya Mas Jevin kan?"
"Tapi bukan menjadi istri kedua, aku maunya jadi istri Jevin satu-satunya."
Kasha mencoba menenangkan dirinya. Seorang perempuan mana yang tidak sakit hati jika ada perempuan lain yang menginginkan untuk menjadi istri dari suaminya. Begitu juga dengan Kasha. Rasanya seperti menelan pil pahit. Sangat pahit.
"Nggak bisa Mbak, begini saja, kalau Mbak Zaila nggak bersedia untuk menjadi istri keduanya Mas Jevin, Mbak Zaila jangan pernah ganggu kehidupan kami lagi." Kasha bersikap tegas dalam hal ini. Meskipun ia perempuan lemah lembut namun Kasha harus terlihat tegas dalam persoalan ini agar Zaila tidak mempermainkannya.
Zaila keberatan. Mana bisa ia menjauh dari Jevin sementara rasa cintanya semakin dalam kepada Jevin. Tetapi disisi lain Zaila tidak akan pernah sudi menjadi madu dari perempuan kampungan seperti Kasha. Zaila benar-benar dilema dan kebingungan. Mana yang harus ia pilih.
"Oke aku bersedia menjadi istri keduanya Jevin." Ujar Zaila tegas.
Kasha lega mendengarnya. Ia tersenyum bahagia meskipun dibalik senyuman bahagianya itu ada hati yang teriris luka.
"Alhamdulillah, tapi ada syaratnya Mbak." Ucap Kasha kemudian.
"Apa?!, syarat?!" Zaila terkejut, untuk yang kedua kalinya.
"Eh kamu mau mempermainkan aku?, pakai syarat segala lagi, maksudnya apa?!"
Kasha tersenyum, mencoba sabar. Ia menenangkan dirinya yang sejak tadi menjadi korban amukannya Zaila.
"Mbak Zaila tenang dulu, aku nggak pernah mempermainkan Mbak, memang untuk menjadi istri keduanya Mas Jevin harus ada syaratnya Mbak."
Zaila menghela napas jengah. Perempuan kampungan di hadapannya ini susah ditebak. Zaila harus berhati-hati dengannya.
"Ya sudah apa syaratnya?." Tanya Zaila ingin segera tahu syarat apa yang akan Kasha berikan kepadanya.
"Syaratnya, Mbak Zaila harus berubah."
Zaila menyerngitkan dahinya. Ia tidak mengerti akan maksud dari berubah yang Kasha tujukan kepadanya.
"Berubah bagaimana?, yang jelas deh kalau ngomong."
"Mohon maaf sebelumnya Mbak Zaila, untuk menjadi istri keduanya Mas Jevin Mbak Zaila harus mengubah diri Mbak untuk menjadi lebih baik lagi, salah satunya Mbak harus bersedia mengubah penampilan Mbak."
"Maksud kamu, aku harus mengubah penampilan aku seperti penampilan kamu yang kampungan ini?, nggak, aku nggak mau!!!"
Berbicara dengan Zaila memang membutuhkan kesabaran yang ekstra. Untung saja Kasha mempunyai stok kesabaran yang tidak terbatas, sehingga ia hanya menanggapinya dengan seulas senyuman.
"Ya sudah kalau Mbak Zaila nggak mau, berarti Mbak Zaila harus-"
"Oke-oke aku mau."
__ADS_1
"Kenapa perempuan kampungan ini mengancam aku terus sih dari tadi." oceh Zaila dalam hati.
"Alhamdulillah kalau Mbak Zaila mau mengubah menampilan Mbak." Kasha tersenyum lega. Namun bukan berarti ia melupakan kesakitan hatinya. Sabar dan tegar. Hanya itu yang saat ini bisa Kasha lakukan.
"Dan selain mengubah penampilan Mbak Zaila, ada satu yang terpenting yang juga harus diubah."
"Apa itu?"
"Akhlak Mbak."
"Akhlak?, bagaimana cara mengubahnya?." Tanya Zaila ketus.
"In syaa Allah dengan cara Mbak Zaila masuk pesantren."
"Apa?!, masuk pesantren?, maksudnya?" Zaila merasa aneh dengan kata pesantren yang terasa asing di pendengarannya.
"Iya Mbak, pesantren itu adalah tempat menimba ilmu agama Islam, in syaa Allah jika Mbak Zaila bersedia Mbak Zaila akan tinggal di pesantren."
Ingin sekali Zaila menolaknya. Namun ia kembali mengingat akan cintanya kepada Jevin. Mungkin inilah saatnya ia harus berkorban untuk Jevin. Untuk mendapatkan Jevin seutuhnya.
"Oke aku bersedia, berapa lama aku akan di sana?" Tanya Zaila dengan nada ketus. Tidak ada lembut-lembutnya sama sekali.
"In syaa Allah sampai Mbak Zaila berubah menjadi lebih baik."
Zaila hanya mengangguk. Ia sudah tidak berminat untuk memperpanjang obrolannya dengan Kasha. Mungkin jika bukan urusan Jevin. Zaila tidak akan sudi berbicara dengan perempuan kampungan seperti Kasha. Tidak sederajat dengannya. Secara ia adalah mantan model internasional sementara perempuan kampungan di hadapannya hanya perempuan biasa yang tidak mempunyai prestasi untuk dibanggakan. Zaila sampai tidak habis pikir bagaimana bisa seorang Jevin menikah dengan perempuan kampungan model Kasha. Tidak ada yang bisa dibanggakan adanya malah memalukan.
❤❤❤
"What darling?, Kamu jadi istri kedua?, yang bener saja." Lubna menolak mentah-mentah atas persetujuan putrinya untuk menjadi istri keduanya Jevin.
"Mami, nggak ada pilihan lain, aku juga terpaksa menyetujui keputusan ini, dari pada aku kehilangan Jevin."
Lubna menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih tidak percaya bahwa putrinya bersedia menjadi istri kedua dari Jevin. Ini diluar dugaannya.
"Ya tapi nggak jadi istri kedua juga."
"Mam, sudahlah, aku nggak apa-apa kok jadi istri keduanya Jevin, yang terpenting saat ini aku bisa menikah sama Jevin, lagi pula kalau aku jadi istri keduanya Jevin malah akan lebih mudah untuk menyingkirkan perempuan kampungan itu, bahkan dengan senang hati aku akan melenyapkan dia bersama anaknya, aan aku akan hidup bahagia bersama Jevin. Ah senangnya, jadi nggak sabar untuk melenyapkan perempuan kampungan itu." Zaila tersenyum licik. Bukan Zaila namanya jika tidak memiliki banyak cara untuk melenyapkan Kasha, perempuan kampungan yang sudah berani-beraninya merebut Jevin darinya.
Lubna akhirnya ikut tersenyum licik juga. Ia tidak menyangka putrinya begitu cerdik dalam menyusun rencana.
"Tapi sebelum aku menikah sama Jevin, aku harus tinggal dulu di...tadi perempuan kampungan itu bilang di mana ya tadi?" Zaila kebingungan. Ia lupa akan nama tempat yang tadi Kasha beritahukan.
"Di mana Darling?"
"Ah nggak penting Mam, yang peting itu habis dari tempat itu aku akan menikah sama Jevin, akhirnya aku akan menikah juga sama Jevin, aku senang sekali Mami." Zaila berhambur ke pelukan sang Mami. Rasanya ia sudah tidak sabar menunggu waktu itu tiba. Waktu di mana ia akan menjadi nyonya Jevin Alhusayn.
Melihat putrinya senang, lantas Lubna ikut senang juga. Baginya kebahagiaan putrinya adalah kebahagiaan dirinya juga. Ia akan mendukung apapun yang membuat putrinya bahagia, apapun itu. Termasuk saat ini, merebut kebahagiaan orang lain.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Alhamdulillah Ukhfira bisa menyapa kalian lagi Readers
🤗🤗🤗
Tapi dengan part yang menegangkan
Menguras perasaan yang bercampur aduk
😢😢😢
Btw menurut kalian keputusan Kasha bener gak sih???
Kalian setuju gak dengan solusi terbaik versi Kasha???
Kalau kalian diposisi Kasha
apa kalian akan mengambil keputusan seperti Kasha???
🙄🙄🙄
Ntah lah keputusan Kasha itu benar atau tidak
Intinya semua manusia yang bernama perempuan tidak akan pernah rela dimadu
Termasuk Ukhfira🙈
Eh tapi bukan berarti Ukhfira membenci poligami ya
Nggak sama sekali
🙅🙅🙅
Sudahlah yah kita lihat saja bagaimana kelanjutannya
di part selanjutnya
Tapi masih loading nih
Nunggu kalian vote dan komen dulu
🤓🤓🤓
See you all
🤗🤗🤗
__ADS_1
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh