
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Seorang perempuan cantik dengan pakaiannya yang stylish keluar dari kamarnya. Ia melangkah dengan berjalan melenggak-lenggok bagaikan seorang model yang sedang mengikuti ajang perlombaan.
"Zaila, mau ke mana?"
Lubna menghentikan langkah sang putri yang tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu utama rumah mereka. Tidak heran jika penampilan bahkan cara jalan Zaila seperti seorang model karena profesi Zaila adalah seorang model internasional yang sudah terkenal di Amerika serikat. Namun ia tinggalkan profesinya dengan cuma-cuma hanya untuk kembali ke Indonesia menemui seorang laki-laki yang masih menetap di relung hatinya.
"Mami, aku mau ke rumah Jevin, aku ingin bertemu sama istrinya Jevin."
"Untuk apa kamu ke sana lagi, kemarin kan sudah?"
"Mami, kemarin itu aku hanya memperkenalkan diri dan sekarang saatnya aku beraksi."
Lubna tidak bisa menjangkau isi pikiran yang ada di otak putri tunggalnya itu sehingga membuat Lubna penasaran dengan tujuan sang putri yang hendak berkunjung lagi ke rumah Jevin.
"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan Darling?"
Zaila tersenyum sinis, seakan sedang menyembunyikan sesuatu. "Aku ingin lebih akrab sama Kasha, Mami."
"Hah?, kamu yakin Darling?, buat apa kamu mau lebih akrab sama istrinya Jevin?, bukannya kamu ingin merebut Jevin dari dia?, tapi kenapa kamu malah ingin akrab sama dia?." Lubna tidak habis pikir sebenarnya apa yang ada dipikiran sang putri sampai berniat ingin lebih akrab dengan istri dari keponakannya sendiri, Jevin.
"Justru itu Mami, untuk merebut Jevin dari istrinya ya aku harus bisa akrab sama istrinya, pokoknya Mami tenang saja, cepat atau lambat aku akan menikah sama Jevin."
Zaila sangat meyakinkan Maminya bahwa dia bisa merebut Jevin dari istrinya dan nantinya mereka akan menikah dan hidup bersama seperti apa yang dicita-citakan oleh Jevin lima tahun yang lalu.
"Oke Mami percaya sama kamu Darling, pokoknya apapun yang kamu lakukan Mami akan mendukung kamu, yang terpenting bagi Mami, anak Mami satu-satunya ini bisA hidup bahagia bagaimana pun caranya."
"Terima kasih Mami sudah mau mendukung aku."
"Sama-sama Darling, memang sudah seharusnya seorang Ibu akan mendukung setiap keputusan anaknya, termasuk Mami."
Zaila sangat terharu dan bahagia karena Maminya mendukung penuh atas keputusannya untuk merebut Jevin dari istrinya. Zaila berhak atas itu karena menurut Zaila, selamanya Jevin akan menjadi miliknya dan tidak boleh seorang perempuan mana pun merebut posisinya di kehidupan Jevin.
❤❤❤
Sebenarnya Zaila sangat tidak ingin berpura-pura baik di hadapan Kasha. Namun apa boleh buat. Inilah satu-satu cara agar ia bisa merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
"Permisi."
Pintu rumah Kasha terbuka lebar namun tidak terlihat ada orang di dalam rumah, sehingga Zaila harus berpura-pura ramah dalam bertamu, salah satunya mengucapkan sebuah kata permisi.
Tidak lama kemudian Kasha muncul dari dalam lebih tepatnya dari aarah dapur. Kasha tersenyum senang ketika melihat tamu yang datang berkunjung ke rumahnya.
"Mbak Zaila."
"Hai Kasha." Sapa Zaila yang tidak kalah ramahnya menyapa Kasha. Namun hanya sebuah sandiwara belaka.
"Ayo Mbak masuk."
Kasha segera mempersilakan tamu istimewanya untuk masuk ke dalam rumahnya. Kasha begitu senang dengan kedatangan Zaila yang tidak lain adalah sepupu dari suaminya sendiri. Bahkan Kasha sudah menganggap Zaila seperti kakaknya sendiri.
"Siang-siang begini kamu sedang apa Kasha?"
"Oh itu Mbak aku sedang buat jus buah."
"Wah segar banget tuh, siang-siang begini memang paling enak ngejus."
"Mbak Zaila mau jus juga?, ya sudah kalau begitu aku ke dapur dulu ya Mbak."
"Kalau begitu aku juga ikut deh ke dapur."
Dengan senang hati Kasha memperbolehkan Zaila untuk mengikutinya ke dapur. Bahkan tanpa sungkan dan canggung lagi Kasha langsung menggandeng Zaila. Otomatis Zaila merasa risih dan ingin sekali melepaskan tangan Kasha dari lengannya namun Zaila harus sabar karena saat ini ia sedang memasang topeng baik di hadapan Kasha.
Jus buah mangga yang dibuat oleh Kasha sudah selesai dengan dibantu Zaila yang terpaksa sekali membantunya. Kini keduanya saling menikmati jus buah di ruang keluarga.
"Segar banget jusnya Kasha, sepertinya nanti aku nambah deh."
"Iya Mbak segar banget, kalau Mbak Zaila mau nambah ambil saja ya, Mbak Zaila nggak usah malu-malu, anggap saja rumah Mbak Zaila sendiri, apa lagi kita kan masih satu keluarga Mbak."
"Iya Kasha, aku nggak malu kok, lagi pula ini kan rumahnya Jevin otomatis rumah aku sendiri kan." Ucap Zaila dengan tersenyum penuh makna.
Kasha tidak keberatan untuk menyetujui ucapan Zaila yang sudah menganggap rumah yang Jevin tempati adalah rumahnya sendiri padahal Zaila memiliki arti lain dalam ucapannya itu, apa lagi jika bukan ia bermaksud untuk merebut Jevin dari Kasha.
"Oh iya Kasha aku boleh bertanya sesuatu nggak sama kam?"
"Boleh, Mbak Zaila mau bertanya apa?"
"Mmm, kalau boleh aku tahu, apa yang membuat Jevin suka sama kamu, sampai dia menikahi kamu?"
Kasha tersenyum sejenak. Ia menjadi teringat akan waktu itu disaat pertama kali bertemu dengan Jevin bahkan sampai Jevin datang melamarnya sampai dua kali. Rasanya masih tidak percaya bagi Kasha karena akhirnya menikah dengan laki-laki yang awalnya bukan laki-laki yang sholih namun alhamdulillah laki-laki yang kini menjadi suaminya sudah menjadi laki-laki yang sholih lebih tepatnya imam yang sholih untuk dirinya.
"Mas Jevin bilang dia jatuh cinta sama aku karena penampilan aku Mbak."
Tiba-tiba saja Zaila tersendak karena ia menahan tawa usai mendengar perkataan Kasha tentang Jevin yang katanya jatuh cinta kepada Kasha karena penampilannya. Zaila sangat tidak percaya dan sangat tidak yakin. Mana mungkin Jevin jatuh cinta kepada Kasha karena penampilan Kasha yang menurut Zaila sangat kampungan dan seperti memakai karung beras bukan memakai baju. Yaitu sangat tertutup dan longgar.
"Mana mungkin Jevin jatuh cinta karena penampilan dia?, kampungan begitu, Jevin mana suka sama perempuan yang berpenampilan seperti dia, nggak percaya banget aku." ucap Zaila dalam hati yang meremehkan serta menghina penampilan Kasha yang terkesan kampungan dan tidak stylish seperti dirinya.
"Maaf ya Kasha, aku nggak bermaksud apa-apa, cuma setahu aku selera Jevin itu sangat tinggi, dia itu tertarik sama perempuan yang berpenampilan modis, stylish dan masa kini, ya contohnya seperti aku ini."
Kasha menghargai pendapat Zaila yang mungkin ada benarnya. Namun Kasha tidak berbohong bahkan Jevin sendiri yang mengatakan bahwa ia jatuh cinta karena penampilan Kasha yang tertutup dan jauh dari kata modern, berbeda dengan perempuan-perempuan di luaran sana, termasuk Zaila.
__ADS_1
"Mungkin itu dulu Mbak, karena alhamdulillah sekarang Mas Jevin sudah berubah, buktinya dia memilih aku menjadi istrinya, itu artinya Mas Jevin suka sama penampilan aku."
Terpaksa Zaila harus mengalah dan mengiyakan saja apa yang diucapkan oleh Kasha. Dan mungkin perkataan Kasha benar bahwa selera Jevin sudah turun sangat drastis namun tetap saja Zaila sangat tidak percaya mana mungkin begitu cepatnya Jevin menurunkan kriteria perempuan idamannya dari yang seperti Zaila, seorang model internasional langsung turun dratis kepada Kasha, seorang perempuan yang berpenampilan kampungan.
"Oh iya, itu dulu sepertinya, dan benar apa kata kamu Kasha, mana mungkin Jevin menikah sama kamu kalau dia nggak tertarik sama penampilan kamu."
Kasha pun tersenyum karena Zaila bisa menerima dan menghargai pendapatnya masalah ketertarikan Jevin kepadanya.
"Oh iya Kasha, ada yang mau kamu tanyakan nggak sama aku?, ya hitung-hitung biar kita jadi makin akrab."
Zaila memberikan kesempatan kepada Kasha untuk bertanya apapun kepada dirinya dengan maksud dan tujuan agar hubungan mereka menjadi akrab bahkan bisa lebih dekat, dengan begitu memudahkan Zaila untuk mencari celah agar bisa merebut Jevin, sang pangeran hatinya yang masih menempati singgasana di istana hatinya.
Dengan senang hati Kasha menerima tawaran itu. Kasha berharap ia dapat menjalin hubungan baik dengan Zaila. Sebenarnya Kasha adalah tipe orang yang tidak mudah dekat dengan orang lain namun kali ini Kasha merasa berbeda, mungkin karena Zaila yang mudah bergaul sehingga dapat membuat Kasha merasa lebih mudah untuk akrab dengannya. Apalagi Zaila adalah sepupu dari Jevin, memang sudah seharusnya Kasha menjalin hubungan dengan Zaila.
"Aku mau bertanya sama Mbak Zaila."
"Ya silakan Kasha, dengan senang hati nanti aku akan jawab."
"Kalau boleh aku tahu, kenapa Mbak Zaila pindah ke Amerika?" Kasha masih ingat betul akan perkataan Zaila waktu pertama kali berkunjung ke rumahnya dan Zaila bilang bahwa ia dengan kedua orang tuanya pindah ke Amerika, sehingga menimbulkan rasa penasaran di benak Kasha. Apa lagi saat ini Zaila mempersilakan dirinya untuk bertanya jadi ini waktu yang tepat untuk Kasha menanyakannya.
"Oh itu, jadi alasan aku sama kedua orang tuaku pindah ke Amerika itu karena aku ingin menjadi model internasional di Amerika, makanya aku pindah ke sana dan karena aku anak satu-satunya, jadinya Mami sama Papi aku juga ikut pindah deh ke Amerika, tapi sekarang aku sudah memutuskan untuk menetap lagi di Indonesia."
"Lho kenapa Mbak Zaila?, bukannya Mbak Zaila sudah menjadi model internasional di Amerika?"
"Karena aku ingin merebut Jevin dari kamu Kasha." ucap Zaila dengan kilatan mata yang tajam, namun dengan cepat ia mengembalikan kembali rona keramahannya ketika kembali bertatap muka dengan Kasha.
"Justru itu Kasha, karena keinginan aku sudah tercapai, jadi aku memutuskan untuk kembali lagi ke Indonesia, aku kangen banget sama tanah kelahiranku, aku juga kangen sama Mama dan Papanya Jevin dan kangen banget juga sama Jevin, sepupu kesayangan aku."
Kasha menganggap ucapan Zaila yang terakhir itu adalah hal yang lumrah. Karena sejatinya antara suaminya dengan Zaila adalah saudara sepupu jadi wajar jika Zaila merindukan sepupunya. Padahal itu adalah kode yang secara terang-terangan Zaila berikan kepada Kasha. Namun Kasha sama sekali tidak menyadari akan hal itu.
"Oh iya Kasha, kira-kira Jevin tahu nggak kalau aku sudah pernah ke sini?"
"Astaghfirullahal adzim aku lupa memberitahu Mas Jevin Mbak, in syaa Allah nanti aku akan beritahu, kalau nanti Mas Jevin sudah pulang."
"Memangnya Jevin pulang kantor kira-kira jam berapa ya?"
"Kalau Mas Jevin lagi nggak lembur jam delapan malam sudah pulang Mbak."
"Ya sudah kalau begitu, aku di sini saja sampai malam, sampai Jevin pulang, aku ingin tahu reaksi dia kalau tahu aku sudah akrab banget sama istrinya, pasti Jevin senang banget, karena istri dan sepupunya bisa akrab banget."
Kasha menyetujuinya. Sama sekali tidak berpikiran yang aneh-aneh. Padahal ini hanya akal-akalan Zaila saja. Zaila memang ingin melihat reaksi Jevin yang nantinya pasti akan marah karena melihat Zaila sedang berada di rumahnya dan Kasha memperbolehkannya masuk tanpa memberitahu terlebih dahulu kepada Jevin. Rasanya Zaila sudah tidak sabar ingin menyaksikan pertengkaran Jevin dengan Kasha. Dan itulah rencana Zaila saat ini. Dengan adanya pertengkaran antara Jevin dan Kasha, Zaila berpikir nantinya hubungan mereka akan merenggang dan bisa jadi rumah tangga mereka hancur seketika.
Allahu akbar
Allahu akbar
Disela-sela perbincangan hangat mereka, suara adzan terdengar begitu merdu di telinga Kasha. Namun terasa mengganggu di telinga Zaila. Rasanya Zaila ingin menutup kedua telinganya dengan rapat sampai suara berisik itu tidak terdengar lagi, namun Zaila masih sadar bahwa ia sedang berpura-pura menjadi orang baik di hadapan Kasha. Alhasil Zaila harus terkesan biasa-biasa saja ketika mendengar suara adzan.
"Alhamdulillah sudah waktunya sholat ashar. Kalau begitu ayo Mbak Zaila kita sholat ashar dulu."
"Hah?, sholat?"
"Iya Mbak Zaila, ini sudah waktunya sholat ashar."
"Aku nggak sholat."
"Oh Mbak Zaila sedang berhalangan ya?"
"Hah?, berhalangan?" Zaila sangat tidak mengerti akan ucapan Kasha.
"Iya, Mbak Zaila nggak sholat karena sedang haid kan?"
Sebenarnya Zaila masih kebingungan dan sama sekali tidak mengerti akan ucapan Kasha. Namun yang terpenting ia bisa menghindar dari yang namanya sholat.
"I-iiya aku sedang haid."
"Ya sudah kalau begitu aku tinggal dulu ya Mbak."
"Iya Kasha, silakan."
Setelah Kasha menuju kamarnya untuk menunaikan sholat, Zaila langsung bernapas lega sekali karena ia tidak dipaksa oleh Kasha untuk sholat. Zaila sangat anti sekali dengan yang namanya sholat, baginya sholat adalah membuang-buang waktu saja.
❤❤❤
"Mbak Zaila terima kasih ya sudah mau membantu aku menyiapkan makan malam."
"Iya Kasha sama-sama, aku juga senang kok bisa menyiapkan makan malam untuk Jevin."
"Sepupu aku."
Kini Kasha dan Zaila kembali duduk di ruang tamu usai bersama-sama menghabiskan waktu di dapur untuk memasak makan malam yang akan dihidangkan kepada Jevin.
Suara mobil terdengar dari luar. Kasha menoleh kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 20.12 malam itu artinya suaminya sudah pulang.
"Itu Mas Jevin sudah pulang Mbak."
"Serius?" kedua mata Zaila langsung berbinar-binar. Ia memperbaiki penampilannya agar tetap terlihat cantik di hadapan Jevin.
"Ayo Mbak kita buka pintunya."
Kasha dan Zaila sama-sama beranjak dari duduknya. Kemudian melangkah untuk menyambut kedatangan Jevin.
Kreggg
Pintu pun terbuka sebelum Kasha dan Zaila sampai di ambang pintu. Tatapan keduanya dengan kompak tertuju ke arah seorang laki-laki yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.
"Assalaamu 'alai-kum."
"Wa 'alaikumus salaam Mas."
__ADS_1
Jevin sangat terkejut melihat seorang perempuan yang berdiri di samping istrinya. Siapa lagi jika bukan Zaila. Sejenak Jevin melempar tatapan tajam ke arah Zaila. Sementara Zaila malah tidak memperdulikannya bahkan tanpa rasa bersalah dia tersenyum kepada Jevin.
"Hai sepupuku, pasti kamu nggak menyangka ya aku bisa ada di rumah kamu, oh iya aku juga sudah akrab banget lho sama istri kamu Vin, ya kan Kasha?"
Kali ini tatapan Jevin tertuju ke arah Kasha yang membalas senyuman ramah dari Zaila.
"Untuk apa dia ke rumahku?, dan kenapa dia akrab banget sama Kasha?, pasti dia lagi merencanakan sesuatu. Aku nggak sepolos itu Zaila." Ucap Jevin dalam hati sembari menatap tajam ke arah Zaila, tanpa Kasha sadari.
"Sayang, I miss you."
Bukannya merespon ucapan Zaila. Jevin justru lebih memilih beralih menatap istrinya dengan penuh cinta bahkan dengan sengaja sekali memeluk Kasha. Alhasil Kasha terperanjat dan merasa tidak enak karena di hadapannya sedang ada Zaila.
"Mas lepaskan, ada Mbak Zaila nggak enak." Bisik Kasha sembari mencoba melepas pelukan suaminya.
"Lho nggak apa-apa Sayang, kita kan suami istri, kustru kita harus terlihat mesra di hadapan Zaila, supaya Zaila merasa bahagia karena sepupunya sudah bahagia dengan istri yang sangat dicintainya, bukan begitu Zaila?"
Zaila sudah tidak bisa menahan kekesalannya ketika melihat Jevin dan Kasha bermesraan tepat di hadapannya. Dugaan Zaila salah, ia pikir dengan kehadirannya akan membuat Jevin naik pitam dan memarahi Kasha karena sudah mengizinkan Zaila masuk ke rumah mereka. Namun nyatanya Jevin malah memamerkan kemesraannya di hadapan Zaila. Dengan sengaja.
Dengan sangat terpaksa Zaila tersenyum sumringah melihat kemesraan Jevin dan Kasha. "Iya benar banget itu, kan kalau kalian mesra seperti ini aku ikutan senang lho lihatnya."
"Tuh kan Sayang, Zaila saja ngomong seperti itu."
Kasha tetap saja merasa tidak enak dan risih sekali karena mengumbar kemesraan di hadapan Zaila. Apa lagi sepertinya Zaila masih sendiri pasti menurut Kasha, Zaila merasa iri melihat kemesraannya dengan Jevin.
"Oh iya Mas, aku sudah siapkan makan malam buat Mas, kalau begitu kita maka malam dulu ya Mas, sama Mbak Zaila juga."
"Aku juga bantu Kasha memasak makan malam ini." Dengan bangganya Zaila memberitahu Jevin bahwa ia juga membantu Kasha memasak.
"Iya Mas, tadi Mbak Zaila bantu aku masak."
Jevin sangat tidak sudi untuk mencicipi makanan yang katanya ada campur tangan Zaila juga. Dan untungnya Jevin juga sudah makan tadi di cafe bersama cliennya, jadi ia tidak akan merasa kelaparan karena tidak mencicipi makanan yang sudah terhidang di meja makan.
"Aku nggak mau makan Sayang." Ucap Jevin sembari mempererat rangkulannya di pinggang Kasha. Otomatis Kasha ingin melepas diri namun Jevin semakin mempererat rangkulannya hingga akhirnya Kasha pasrah saja.
"Lho kok Mas nggak mau makan, memangnya Mas nggak lapar?"
Jevin menggeleng pelan. "Mas sudah makan tadi di luar."
"Oh kalau begitu Mas mau apa? mau teh?"
"Mas mau Sayang." Ucap Jevin sembari mencolek hidung sang istri dengan mesra.
Kemesraan yang diciptakan oleh Jevin berhasil membuat Zaila menahan napas agar tidak meluapkan amarahnya yang bisa meledak kapan saja. Zaila tidak tahu sampai kapan ia akan bertahan melihat Jevin bermesraan dengan Kasha. Zaila semakin membenci Kasha. Karena seharusnya yang berada di posisi itu adalah dirinya bukan Kasha.
"Mas." Pekik Kasha untuk mengingatkan suaminya agar tidak macam-macam. Namun bukan Jevin namanya kalau tidak bisa menghadirkan kemesraan apalagi di hadapan Zaila, semakin menjadi kemesraan yang diciptakan Jevin.
"Sayang ayo kita ke kamar, Mas mau..." Jevin mengkedipkan sebelah matanya genit, mengisyaratkan bahwa ia ingin sesuatu dari istrinya.
"Sial, sepertinya Jevin memang sengaja memanas-manasi aku. Gagal rencananku, GAGAL!" Ucap Zaila dalam hati. Ia merutuki dirinya yang gagal dalam rencananya kali ini. Bukannya melihat pertengkaran antara Jevin dan Kasha. Zaila malah melihat kemesraan dari mereka berdua.
"Tapi Mas-"
"Sayang nggak boleh lho menolak permintaan Mas yang satu ini, nanti Sayang malah berdosa."
"Tapi Mas, Mbak Zalia kan sedang bertamu ke rumah kita."
Kasha merasa malu sekali sekaligus tidak enak kepada Zaila karena Jevin seperti mengusir Zaila dari rumah mereka.
"Tapi Mas sudah ingin Sayang, masa Sayang tega sih menyiksa Mas seperti ini."
"Eh, kalau begitu aku pulang saja ya, lagi pula ini juga sudah malam." Akhirnya Zaila angkat bicara. Ia sudah tidak tahan harus melihat kemesraan Jevin dan Kasha yang semakin menjadi-jadi.
"Nah iya, mending kamu pulang saja." Ujar Jevin dengan senang sekali karena akhirnya perempuan di hadapannya itu sadar diri untuk segera angkat kaki dari rumahnya.
"Mbak Zaila mau pulang?"
"Sayang masa kamu nggak dengar dia bilang apa."
"Iya Kasha, aku pulang saja ya, sepertinya aku ganggu kalian deh."
"Benar banget." Ucap Jevin tersenyum puas.
"Ayo Sayang kita ke kamar."
Tanpa menunggu Zaila keluar dari rumahnya. Jevin sudah menggendong Kasha ala bridal style untuk menuju kamar mereka. Kasha memberontak ingin turun namun percuma karena tenaga Jevin lebih kuat darinya. Alhasil Kasha hanya dapat meringis karena menjadi pusat perhatian Zaila yang masih terdiam di posisinya.
Jevin tersenyum sangat puas sekali karena berhasil membuat Zaila kesal sekesal-kesalnya. Bahkan terdengar suara bantingan pintu yang cukup keras ketika Zaila keluar dari rumah mereka.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Alhamdulillah ada part baru lagi
Dan gak tau kenapa Ukhfira malah senyum-senyum sendiri nih saat nulis part ini
Kalau kalian juga senyum-senyum sendiri gak ya saat banyak part ini???
🙈🙈🙈
Kalian jadi makin greget gak sih sama Jevin???
Kira-kira ada yang baper laper wafer gak baca part ini???
😂😂😂
Sampai disini dulu ya sapa menyapanya
selamat menunggu part berikutnya Readers
__ADS_1
🤗🤗🤗
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh