
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Hari ini tepat usia kandungan Kasha memasuki bulan keempat. Tiada hentinya Kasha bersyukur karena sampai saat ini kandungannya baik-baik saja bahkan sudah mulai membesar. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Kasha dan Jevin mengadakan acara syukuran empat bulanan kehamilan Kasha dengan mengundang anak-anak yatim piatu dari yayasan panti asuhan yatim piatu.
Anak-anak yatim piatu tersebut sudah memenuhi ruang tamu Jevin dan Kasha. Tempat diselenggarakannya acara syukuran empat bulanan kehamilah Kasha. Keluarga Jevin dan Kasha juga sudah berkumpul. Ikut serta menghadiri acaranya. Dan terlihat Arshad seorang diri saja menghadiri acara tersebut.
"Assalaamu 'alaikum warohmatullah wabarokaatuh." Jevin mengucapkan salam kepada adik-adik dari yayasan panti asuhan yatim piatu yang telah bersedia hadir ke acaranya.
"Wa 'alaikumus salaam warohmatullah wabarokaatuh." Jawab semua para tamu undangan dengan serentak.
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada adik-adik beserta Ibu pengurus yayasan panti asuhan yatim piatu ar-Rahman yang sudah bersedia hadir diacara syukuran empat bulanan kehamilan istri saya, Kasha putri Altahfurrahman." Jevin mengelus lembut perut sang istri yang sedang duduk di sebelahnya.
"Kami minta doanya kepada adik-adik yang ada di sini, semoga anak kami baik-baik saja, sehat dan semuanya berjalan lancar sampai lahiran nanti." Lanjut Jevin, meminta doa dari adik-adik yatim piatu tersebut.
"Aamiin." Serentak adik-adik yatim piatu mengaminkannya.
"Dan semoga anak kami nantinya menjadi anak yang menyejukkan hati kedua orang tuanya, membanggakan agamanya serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik."
"Aamiin."
Selang beberapa menit kemudian, acara syukurannya telah selesai dengan rentetan acara yang berjalan dengan lancar. Adik-adik yatim piatu mulai meninggalkan kediaman Jevin dan Kasha dengan membawa sekotak makanan serta sebuah amplop yang diberikan langsung oleh Jevin dan Kasha.
"Alhamdulillah acaranya berjalan dengan lancar ya Mas." Ucap Kasha mensyukuri kelancaran acara syukuran empat bulan kehamilannya.
"Iya Sayang alhamdulillah, oh iya Sayang mendingan istirahat saja ya, Sayang nggak boleh capek-capek, ayo Mas antar ke kamar."
Kasha nampak cemberut. Ia tidak ingin istirahat ke kamarnya. Apalagi saat ini keluarga mereka sedang berkumpul di rumahnya. Masa iya Kasha meninggalkan mereka untuk istirahat ke kamar.
"Mas aku nggak capek kok, lagi pula di sini kan keluarga kita lagi berkumpul masa aku tinggal ke kamar."
"Lho iya nggak apa-apa Sayang, pasti mereka mengerti kok kalau bumil cantik yang satu ini harus banyak-banyak istirahat, sudah ayo ke kamar Mas temani Sayang istirahat."
Kasha menggeleng cepat. "Nggak mau Mas, aku mau di sini berkumpul sama keluarga kita."
Jevin dan Kasha sama-sama teguh dalam pendirian mereka masing-masing. Jevin menginginkan Kasha untuk istirahat. Sementara Kasha menginginkan berkumpul bersama keluarganya yang saat ini sedang formasi lengkap.
"Ya sudah kalau Sayang nggak mau istirahat ke kamar, nanti malam Mas nggak mau mengelus-elus perut Sayang lagi." Ujar Jevin dengan nada mengancam.
Kasha semakin cemberut. Suaminya mengancamnya dengan tidak akan mengelus-elus perutnya yang semenjak hamil hampir setiap mau tidur selalu minta dielus-elus.
"Ih Mas kok begitu sih, kan yang minta dielus-elus anaknya Mas lho bukan permintaan aku." Oceh Kasha dengan kesal.
"Ini ada apa sih?, kok wajah Kasha cemberut begitu, Jevin kamu apakan istri kamu?!."
Rifda tiba-tiba saja datang melerai percakapan anak dan menantunya. Rifda bukannya ingin menganggu mereka namun sejak tadi ia memperhatikan anak dan menantunya yang sedang berdebat membuat dirinya penasaran.
"Ini nih Mama, Mas Jevin jahat, masa dia nggak mau menuruti permintaan anaknya." Kasha mengadu kepada Mama mertuanya tentang kejahatan suaminya yang tidak mau lagi menuruti permintaan anak mereka yang setiap malam minta dielus-elus.
"Jevin!!!" Rifda langsung melotot ke arah anaknya. Dan dengan gerakan yang cepat ia menjewer telinga anaknya.
"Awww sakit Mama." Rengek Jevin kesakitan.
"Ini akibatnya kamu nggak mau menuruti permintaan anak kamu sendiri."
"Ya Allah Mama itu nggak tahu apa-apa, ini lagi Sayang, suaminya sedang kesakitan malah ditertawakan, bukannya ditolong." Oceh Jevin yang kesal melihat istrinya malah menertawakannya, bukannya menghentikan jeweran dari Mama mertuanya pada salah satu telinga suaminya.
Kasha menghentikan tawanya. Ia sadar bahwa yang ia lakukan salah, yaitu menertawakan suaminya sendiri. Tetapi Kasha merasa lucu melihat suaminya yang sedang dijewer oleh Mama mertuanya layaknya anak kecil.
"Mama sudah Ma, kasihan Mas Jevin."
Akhirnya Rifda menghentikan jewerannya. Jevin lega sekali karena sudah tidak merasakan kesakitan lagi di telinganya.
"Sayang nih keterlaluan ya, lihat nih telinga Mas jadi merah, sakit tahu, jeweran Mama itu menyakitkan Sayang." Oceh Jevin yang masih kesal lantaran habis dijewer oleh Mamanya, padahal ia tidak melakukan kesalahan.
"Makanya Jevin, jangan macam-macam sama istri kamu ya, kalau kamu berani macam-macam, Mama akan jewer kamu sekali lagi." Ujar Rifda serius namun hanya candaan belaka.
"Mama kalau Jevin nggak macam-macam bagaimana Mama mau dapat cucu." Celetuk Jevin ngasal.
Kasha tersentak sama kedua matanya terbelalak. Ia langsung mencubit pinggang Jevin tanpa ampun. Lagi-lagi Jevin merasakan kesakitan.
"Awww sakit Sayang."
__ADS_1
"Habisnya Mas sih ngomongnya seperti itu." Ucap Kasha lirih. Takut didengar oleh Mama mertunya. Bisa malu bertubi-tubi nantinya.
"Lho memang benar kan Sayang, kalau Mas nggak macam-macam-"
Rifda terkekeh geli melihat menantunya dengan susah payah menutup mulut anaknya yang suka bicara seenaknya saja.
"Assalaamu 'alaikum."
Salam seseorang yang terdengar dari ambang pintu menghentikan aksi Kasha yang tadinya sedang bersusah payah untuk menutup mulut Jevin. Kini semua pandangan mata tertuju ke arah seorang perempuan cantik nan anggun dengan balutan gamis serta khimar syar'inya. Wajahnya nampak berseri dan bercahaya. Senyumannya terpancar indah.
"Wa 'alaikumus salaam."
"Mbak Zaila?"
Kasha terkejut. Ia seakan tidak mempercayai bahwa perempuan dengan baju syar'i di hadapannya itu adalah Zaila. Untuk memastikan kebenarannya Kasha mulai mendekati perempuan muslimah itu.
Sama halnya dengan Jevin, usai mendengar Kasha menyebut nama Zaila ketika melihat kedatangan seorang perempuan dengan berbusana muslimah tersebut, Jevin seakan tidak mempercayai bahwa itu adalah Zaila. Tidak mungkin secepat itu Zaila berubah.
"Iya Kasha ini aku, Zaila." Ucap perempuan muslimah itu dengan senyuman terpancar di wajahnya.
Kasha masih terus memperhatikan perempuan di hadapannya. Mulai dari bawah sampai atas.
"Mbak Zaila." Pekik Kasha dengan sangat yakin bahwa perempuan di hadapannya benar Zaila.
"Alhamdulillah ternyata kamu masih mengenali aku Kasha." Ucap Zaila dengan penuh syukur.
Kasha tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia begitu takjub melihat dengan pemadangan indah tepat di hadapannya. Zaila sangat cantik dengan penampilannya saat ini, yaitu menutup auratnya dengan sempurna. Seperti Kasha.
"Alhamdulillah Mbak Zaila." Kasha langsung memeluk Zaila. Rasa haru dan bahagia kini bercampur aduk mengisi relung hatinya.
"Mbak Zaila apa kabar?." Tanya Kasha usai mengakhiri pelukan singkatnya.
Zaila tersenyum ramah. "Alhamdulillah aku baik, kamu sendiri apa kabar?, maa syaa Allah perut kamu sudah mulai membesar Kasha, aku senang lihatnya." Zaila mengelus lembut perut Kasha yang mulai membesar.
"Kasha aku ingin berterima kasih sama kamu, karena ini semua berkat kamu, alhamdulillah selama tiga bulan lebih aku tinggal di pesantren aku mendapatkan hidayah dan hidupku jauh lebih bahagia." Zaila menggenggam kedua tangan Kasha. "Sekali lagi aku ucapkan terima kasih ya Kasha, jazakillah khoiron."
Kasha tersenyum bahagia. "Wa jazakillah khoiron Mbak Zaila, tapi ini semua bukan berkat aku Mbak, aku hanya perantara saja, ini semua karena Allah, Allah yang memberikan Mbak Zaila hidayah, hanya Allah yang mampu membolak-balikkan hati manusia."
Zaila menyetujui ucapan Kasha. Memang benar Allah yang memberikannya hidayah dan itu melalui Kasha.
"Zaila?, ini kamu Nak?." Rifda ikut menghampiri Zaila dengan rasa ketidakpercayaan.
Rifda bernapas sangat lega melihat keponakannya kini sudah berubah menjadi sangat lebih baik, menggunakan pakaian longgar dan tertutup, berbeda sekali dengan Zaila yang dulu.
"Alhamdulillah kamu sudah berubah." Rifda mensyukuri perubahan Zaila saat ini.
"Alhamdululillah keponakan tersayang Papa sudah berubah jauh lebih baik." Ucap Rozin yang juga menghampiri Zaila dengan decakan kagum.
"Iya Pa, alhamdulillah." Balas Zaila sembari mencium tangan omnya dengan hormat.
"Papi." Pandangan Zaila tertuju ke arah Arshad yang sejak tadi tidak berganti posisi. Bahkan tidak ikut menghampiri Zaila. Arshad masih tidak percaya bahwa perempuan muslimah itu adalah putrinya, Zaila.
"Papi, ini Zaila." Ucap Zaila meyakinkan sang Papi bahwa ia sungguhan Zaila, putrinya.
Perlahan Arshad mulai menghampiri Zaila. Kedua matanya sudah berkaca-kaca. Senyuman takjub terpancar di wajahnya.
"Zaila putriku." Panggil Arshad dengan tetesan air mata.
Zaila langsung berhampur kepelukan Papinya. Air mata sudah tidak bisa ia tahan lagi. Rasa bersalah atas dosanya di masa lalu kepada Papinya membuat tangisan Zaila semakin kencang.
"Papi, Zaila minta maaf selama ini Zaila menjadi anak durhaka, Zaila bahkan nggak menghormati Papi, maafkan Zaila Pi, Zaila mohon."
Arshad kembali menyunggingkan senyuman terbaiknya. Mengusap air mata yang menetes di kedua pipi putrinya.
"Papi sudah memaafkan kamu, maafkan Papi juga ya selama ini Papi belum bisa menjadi Ayah yang baik untuk kamu."
Zaila menggelengkan kepalanya. "Nggak Papi, Papi nggak salah, Zaila yang salah, Papi nggak usah minta maaf sama Zaila ya."
Arshad menganggukkan kepalanya. Ia tidak akan menyalahkan dirinya sendiri karena putrinya tidak memperkenankannya.
"Papi, Mami mana?." Tanya Zaila ketika tidak mendapati Maminya bersama Papinya.
"Mami di rumah, Mami nggak ikut ke sini."
"Ya sudah kalau begitu ayo kita pulang Papi, Zaila ingin bertemu dengan Mami, Zaila sudah rindu sama Mami." Ajak Zaila yang sudah merindukan sang Mami tercinta.
Arshad dan Zaila akhirnya berpamitan untuk pulang ke rumah mereka lantaran Zaila ingin bertemu dengan Maminya.
"Kenapa dia harus kembali lagi sih." Oceh Jevin dalam hati ketika Zaila sudah tidak berada di hadapan matanya lagi.
__ADS_1
❤❤❤
"Assalaamu 'alaikum Mami, Mami."
Zaila tiba di rumahnya. Ia langsung mencari keberadaan Maminya. Selang beberapa menit kemudian Zaila menemukan keberadaan Maminya. Di ruang keluarga.
"Mami." Panggil Zaila dengan riang.
Lubna menoleh ke arah Zaila. Ia sempat terdiam sejenak. Memperhatikan Zaila dari bawah sampai atas.
"Mami ini aku, Zaila."
Lubna terkejut. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia tidak percaya bahwa perempuan berbusana tertutup di hadapannya adalah putrinya, Zaila.
"Mamiii, Zaila kangen sama Mami." Dengan pergerakannya yang cepat Zaila langsung memeluk Maminya. Sementara Lubna masih terdiam di posisinya. Ia tidak membalas pelukan putrinya.
"Mami baik-baik saja kan?, atau Mami lagi sakit?." Tanya Zaila ketika melihat wajah Maminya tidak berekspresi bahagia padahal dia sudah kembali pulang ke rumah setelah tiga bulan lamanya tinggal di pesantren.
Lubna menggelengkan kepalanya. "Mami nggak sakit." Jawabnya singkat.
"Kamu serius sudah berubah?, ini hanya akting saja kan?"
Zaila tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Maminya yang meragukan perubahannya saat ini.
"Mami alhamdulillah Zaila sudah berubah dan ini bukan akting tapi nyata."
Lubna kembali terdiam. Ia tidak berniat untuk kembali berbicara.
"Mami nggak suka ya Zaila berubah seperti ini?" Zaila dapat melihat dari ekspresi wajah sang Mami tergambar jelas bahwa Maminya kurang menyukai perubahannya saat ini.
"Katanya Mami akan selalu mendukung setiap keputusan Zaila kan?, Mami pernah bilang seperti itu kan?" Zaila mencoba mengingatkan kembali kata-kata yang pernah Maminya ucapkan kepadanya. Zaila sangat berharap Maminya dapat menerima keputusannya untuk berubah menjadi jauh lebih baik dari Zaila yang kemarin.
Lubna teringat akan ucapannya sendiri. Memang benar ia akan mendukung setiap keputusan yang diambil oleh putrinya. Namun keputusan kali ini Lubna merasa berat untuk menerima serta mendukungnya.
"Mami nggak keberatan kan?, kalau Zaila berubah seperti ini?." Tanya Zaila penuh harap.
Perlahan Lubna menganggukkan kepala. Senyuman mulai terlukis di wajahnya. "Yang penting kamu bahagia Darling."
Zaila sangat bahagia sekali. Ia kembali memeluk Maminya dengan rasa bahagia yang tidak terhingga. Tak terasa air mata jatuh menetes di pipinya.
Arshad ikut tersenyum bahagia melihat putrinya kini sudah berubah dan istrinya mau menerima perubahan putrinya yang menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Assalaamu 'alaikum warohmatullah wabarokaatuh
Selamat pagi Readerss kesayangannya Jevin&Kasha
👋👋👋
Alhamdulillah Authornya Jevin&Kasha kembali lagi nih untuk menyapa kalian dengan part terbaru
💃💃💃
Senang nggak sih pagi-pagi dapat notip dari author???
Pastinya senang dong
karena sudah lama merindukan notip dari author kann???
🙈🙈🙈
Jangan bosan ya untuk selalu menghabiskan waktu dengan memantau perkembangan kisah cintanya Jevin&Kasha
🤗🤗🤗
Dan jangan lupa juga vote dan komennya ya
Supaya author tahu kalau banyak yang sayang sama Jevin&Kasha
Sama author juga
🙈🙈🙈
Sampai bersapa ria di part selanjutnya
🤗🤗🤗
Wassalaamu 'alaikum warohmatullah wabarokaatuh
__ADS_1