
Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca cerita
"Hidayah Berukir Cinta"
Semoga kalian suka
❤❤❤
Jevin menepati janjinya untuk bertandang ke rumah Abang iparnya. Sebenarnya Kasha sudah sejak tadi pagi membujuk Jevin agar segera ke rumah Nufael namun Jevin mengulur-ngulur waktu sampai siang hari ini baru datang ke rumah Nufael. Biasalah namanya juga pengantin baru. Jevin masih ingin terus menghabiskan waktu berdua bersama istrinya. Dan sebenarnya Jevin ingin mengulur waktu sampai besok hari saja datang ke rumah Nufael namun Jevin terlanjur janji hari ini kepada Kasha hingga akhirnya mau tidak mau ia harus menepati janjinya.
"Assalaamu 'alaikum."
Kasha dan Jevin mulai memasuki rumah Nufael dengan mengucap salam hampir bersamaan.
Sesampainya mereka di dalam rumah, Niswah dan Shima memunculkan diri mereka secara bersamaan. Lalu disusul oleh Nufael dan Haziq yang ikut keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Wa 'alaikumus salaam."
"Eh ada pengantin baru nih." Ucap Shima menggoda pasangan pengantin baru di hadapannya.
"Pak Jevin, mari silakan duduk Pak."
Jevin menghela napas jengah. "Eh Abang ipar, masa sama Adik iparnya memanggil Pak. Ya meskipun memang lebih tua Adik iparnya sih, tapi biar lebih akrab panggil Jevin saja Abang."
Nufael terkekeh. Ternyata Jevin menyadarinya bahwa Nufael memanggilnya dengan sebutan Bapak. Maklumlah Nufael sudah terbiasa memanggil Jevin dengan tambahan Pak.
Kini Jevin pun duduk di kursi yang telah disediakan kemudian disusul Nufael. Dan Haziq menghampiri Jevin lalu mencium tangan Jevin, sebelum itu Haziq sudah lebih dulu mencium tangan Kasha.
"Eh Haziq, anak sholih ya."
"Aamiin, terima kasih Om keren."
Jevin terkekeh mendengar Haziq memanggil dirinya dengan sebutan Om keren. "Panggilnya Om Jev saja ya Haziq, biar kedengarannya tambah keren."
"Oke Om keren." Haziq langsung menutup mulutnya karena masih menyebut Jevin dengan panggilan om keren. "Maksudnya Om Jev." Ucap Haziq membenarkan panggilannya.
"Oh iya Haziq tolong doakan Om Jev sama Tante Kasha ya, semoga kami segera mempunyai anak yang sholih seperti Haziq, biar Haziq ada temannya."
Haziq mengangguk penuh antusias. "Aamiin."
"Aamiin." Kasha, Nufael, Niswah dan Shima ikut mengaminkannya.
"Oh iya Abang ipar, Kakak ipar, kedatangan kami ke mari selain ingin berkunjung, ada yang ingin kami sampaikan kepada kalian."
"Memangnya kalian mau menyampaikan apa?" Tanya Nufael mulai penasaran.
"Tante Kasha hamil ya?." Ucap Haziq yang main menimbrung saja. Namun malah menjadi bahan gelak tawa.
"Belum Haziq, Tante Kasha kan baru menikah dua hari yang lalu, jadi belum hamil Nak."
Niswah memberikan pengertian kepada putranya agar tidak salah paham. Haziq pun menganggukkan kepala pertanda mengerti.
"Oh seperti itu ya Umma, maaf ya Tante Kasha, Haziq nggak tahu, hehehe." Haziq cengengesan diakhir ucapannya.
"Iya Haziq nggak apa-apa kok." Ucap Kasha yang tidak mempermasalahkan hal kecil itu.
"Memangnya Haziq ingin cepat-cepat punya teman main ya?"
Haziq mengangguk cepat. "Iya Om Jev."
"Sayang, kita harus lebih semangat ikhtiarnya ya, biar Haziq cepat punya teman main." Ucap Jevin secara terang-terangan sembari menoleh ke arah Kasha.
Kasha yang mendengarnya langsung merasa malu dan hanya tersenyum miris. Menutupi rasa malunya kepada Abang, Kakak iparnya juga Shima.
"Hmmm, semangat ya Kasha ikhtiarnya, mumpung masih pengantin baru juga." Bisik Shima di telinga Kasha.
Niswah pun ikut tersenyum geli melihat Kasha terbelalak usai Shima membisikkan sesuatu di telinganya.
"Mas, silahkan dilanjutkan lagi pembicaraannya dengan Abang." Kasha segera mengingatkan Jevin untuk kembali melanjutkan pembicaraannya yang sempat tertunda.
Jevin pun tersadar dan kembali angkat bicara. "Jadi begini Abang, rencananya aku sama Kasha ingin pindah rumah, dan pindahnya di sekitaran sini, kira-kira Abang ipar bisa nggak bantu kita cari rumah?"
__ADS_1
"Kasha ingin pindah ke rumah yang dekat-dekat sini?" Tanya Niswah dengan ekspresi wajah yang girang.
Kasha mengangguk. "Iya Kak, in syaa Allah."
"Alhamdulillah Abang senang dengarnya kalau kaliau mau pindah ke rumah di sekitaran sini, jadinya rumah kita jadi lebih dekat." Sambung Nufael yang tidak kalah senangnya.
"Iya Abang, ini juga permintaan dari istri kesayanganku. Kalau sudah cinta mah apa saja dituruti."
Ucapan Jevin dengan nada santainya berhasil membuat Kasha tersipu malu. Jevin memang tidak malu untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada Kasha. Justru itu yang membuat Nufael maupun Niswah merasa tenang karena adik mereka menikah dengan laki-laki yang mencintainya bahkan mau menuruti permintaan Kasha.
"Jadi bagaimana Abang, kira-kira ada rumah kosong nggak di sekitaran sini?"
Nufael terdiam. Ia mencoba mengingat-ngingat apakah di sekitaran rumahnya ada rumah yang kosong. Namun sepertinya dari sepengetahuan Nufael tidak ada rumah yang kosong.
"Waduh kalau masalah rumah kosong di sekitaran sini, Abang kurang tahu, Umma tau nggak?" Nufael mencoba bertanya kepada istrinya. Siapa tahu Niswah mengetahui informasi tentang rumah kosong disekitaran rumah mereka.
"Umma juga kurang tahu Buya." Nyatanya Niswah juga tidak mengetahui tentang informasi rumah kosong di sekitaran rumahnya.
Sepertinya pupus harapan Kasha untuk tinggal berdekatan dengan Abang dan Kakak iparnya. Kasha sedih lantaran tidak ada rumah kosong di sekitaran rumah Abangnya. Itu artinya Kasha akan tetap tinggal di rumah Jevin lebih tepatnya rumah mewah Jevin yang jauh dari rumah Abangnya.
"Rumah kosong di sekitaran sini ada kok, itu lho rumah yang di depan rumah kalian, itu kosong, orangnya baru pindah satu minggu yang lalu, masa kalian nggak tahu sih?"
Shima yang sejak tadi tidak bersuara kini memberikan informasi yang membuat Kasha tersenyum ke arahnya. Akhirnya ada juga rumah yang kosong. Dan Kasha berharap dirinya dan Jevin merasa cocok dengan rumah kosong itu.
"Hah?, yang benar Shim, rumah yang di depan itu rumahnya Anin kan?, kok bisa kosong, bukannya Anin masih tinggal di sana?"
"Nggak Nis, Anin sudah pindah, selama ini dia kan sering bolak-balik Jakarta Surabaya tuh karena suaminya kerja di Surabaya, jadinya dia pindah ke Surabaya daripada bolak-balik, dan rumahnya sekarang kosong, dan sepertinya belum ada yang menempati soalnya kan Anin pindahnya baru satu minggu yang lalu."
"Alhamdulillah kalau ada rumah yang kosong, tapi bagaimana kami mau lihat rumahnya, kan orangnya sudah pindah ke Surabaya." Jevin menanyakan bagaimana dia dan Kasha melihat rumahnya sementara pemilik rumahnya sudah pindah ke Surabaya.
"Orangnya memang sudah pindah ke Surabaya tapi di sini ada orang tuanya kok, qodarullah rumah orang tuanya dekat sama rumah saya Pak, jadi saya bisa bantu Pak Jevin untuk memberitahu orang tua Anin, bahwa Pak Jevin ingin melihat rumahnya Anin."
Jevin pun mengangguk. "Oh syukurlah kalau ada orang tuanya, iya saya minta tolong untuk beritahu kepada orang tuanya Anin bahwa saya ingin melihat rumahnya dan kalau saya dan istrinya saya cocok kami akan membeli rumahnya."
Tanpa berlama-lama lagi. Shima pamit undur diri untuk segera menemui orang tua Anin untuk memberikan kabar bagus bahwa ada yang ingin melihat rumah anaknya dan jika cocok langsung dibeli.
❤❤❤
Kini Jevin dan Kasha sudah berada di dalam rumah yang sedang dijual. Mereka ditemani oleh Nufael, Niswah, Shima dan orang tua Anin.
"Sayang, bagaimana? kamu suka dengan rumahnya?"
Kasha tersenyum dan mengangguk kecil. "Iya mas, aku suka."
Jevin membalas senyuman termanis sang istri dengan senyuman yang tak kalah manisnya juga. "Oke kalau begitu, kami beli rumah ini sekarang juga ya Pak."
Kasha terkejut mendengarnya, bagaimana tidak usai menanyakan kepada Kasha, Jevin langsung mengambil keputusan secepat kilat untuk membeli rumah itu, seperti membeli makanan di warung saja. Semudah itulah yang dilakukan oleh Jevin.
"Mas, langsung beli sekarang juga?"
"Lho iya Sayang, kalau kamu sudah suka ya langsung kita beli saja."
"Tapi Mas, apa uangnya ada?"
Jevin terkekeh melihat sang istri yang menanyakan tentang uang untuk membeli rumah tersebut. Sepertinya Kasha melupakan status sosial dari suaminya, yang mana Jevin adalah seorang CEO perusahaan milik keluarganya sendiri, itu artinya masalah uang sudah bukan persoalan lagi bagi Jevin.
"Sayang tenang saja ya."
"Oh ya Pak kami jadi membeli rumah ini."
"Alhamdulillah, kalau begitu mari ke rumah saya Pak, untuk mengambil sertifikat rumahnya."
"Baik Pak."
Jevin kembali menoleh ke arah Kasha. "Sayang, kamu tunggu di sini dulu ya, kamu lihat-lihat lagi saja rumahnya."
Kasha hanya dapat mengangguk saja. Ia antara percaya dan tidak percaya, bahwa secepat itu suaminya akan membeli rumah yang saat ini mereka injaki.
Usai kepergian Jevin dan orang tua Anin, beserta Nufael yang ikut mendapingi Jevin. Niswah dan Shima saling tersenyum ke arah Kasha. Sementara Kasha terdiam saja dengan perasaan bingung yang menyergapnya.
"Maa syaa Allah Kasha, beruntung sekali kamu mendapatkan suami super baik seperti Pak Jevin, dia membelikan rumah ini untuk kamu, untuk kebahagiaan kamu."
"Iya sih Mbak Shima, tapi aku merasa nggak enak jadinya, Mas Jevin harus mengeluarkan uang banyak untuk membeli rumah ini."
__ADS_1
Shima terkekeh mendengar ucapan Kasha yang teramat polos sekali. Bahkan Kasha merasa tidak enak lantaran telah membuat suaminya harus menggelontorkan uang yang nilainya lumayan banyak untuk membeli rumah yang akan mereka tempati.
"Ya Allah Kasha, kamu amnesia apa bagaimana, suami kamu itu seorang CEO, jadi nggak heran lah kalau uangnya banyak, jangankan beli rumah ini, semua rumah di sini pun bisa dibeli sama dia, secara uangnya kan mengalir terus."
Niswah ikut bersuara. "Alhamdulillah, rezeki suami kamu memang baik Sha, dan Kak Niswah percaya sama kamu, meskipun suami kamu punya banyak uang, tapi kamu tetap ingin hidup sederhana, kamu tetap ingin tinggal di rumah seperti ini yang jauh dari kesan mewah, Maa syaa Allah Kak Niswah bangga sama kamu, Adikku Sayang."
Kasha tersenyum mendengar pujian dari Niswah yang ditujukan untuknya. Memang benar apa yang dikatakan Niswah, Kasha sama sekali tidak tertarik untuk tinggal di rumah mewah dan besar sekali seperti rumah Jevin yang saat ini masih mereka tempati. Bukannya Kasha tidak bersyukur hanya saja untuk saat ini Kasha lebih nyaman tinggal di rumah yang sederhana dan rumahnya bisa berdekatan dengan rumah Abangnya.
❤❤❤
Sepertinya Jevin sangat bergerak cepat. Tadi siang ia baru saja membeli rumah itu dan malam ini juga ia dan Kasha sudah pindah sekaligus menempati rumah baru mereka. Tepat di depan rumah Nufael dan Niswah. Bukan hal yang sulit bagi Jevin untuk mengangkut barang-barangnya apa lagi ia hanya membawa pakaian saja karena perabotan di rumah yang baru saja dibelinya sudah lengkap jadi Jevin tidak perlu repot-repot memindahkan perabotan di rumah lamanya untuk mengisi rumah barunya.
Kasha keluar dari dapur dengan membawa secangkir teh untuk Jevin yang saat ini sedang duduk santai di ruang tengah.
"Ini Mas tehnya."
"Jazakillah khoiron Sayang, sini duduk di samping Mas." Jevin menyuruh Kasha untuk duduk di sampingnya. Kasha pun menurut dan duduk di samping suaminya yang sedang menyeruput secangkir teh buatannya.
"Mas, jazakallah khoiron ya karena Mas nggak keberatan untuk pindah ke rumah ini, padahal rumah ini sangat berbeda dengan rumah Mas yang lama."
"Sayang..."
Jevin memegang kedua pundak Kasha. Menghadapkan wajah Kasha agar menghadap wajahnya. Binar cinta mulai menghiasi bola matanya. Kilatan kedua bola mata Kasha yang meneduhkan seakan menjadi candu bagi Jevin untuk terus memandanginya.
"Apapun akan Mas lakukan untuk Sayang, demi Sayang, mutiara berharganya Mas."
Kasha tersentuh akan ucapan Jevin yang siap melakukan apa saja untuknya. Bahkan tanpa malu-malu lagi Kasha segera berhambur ke pelukan sang suami yang dengan senang hati memberikan ruang untuk Kasha agar dapat memeluknya.
"Alhamdulillah, akhirnya Sayang mau memeluk Mas duluan, sudah nggak malu lagi ya sekarang?"
Kasha langsung tersadar. Ucapan Jevin berhasil membuat Kasha terbelalak dan langsung memberi jarak dengan Jevin.
Jevin terkejut mendapati Kasha yang langsung melepaskan diri dari pelukannya. Jevin merutuki dirinya yang telah membuat sang istri menjadi salah tingkah dan nampaknya mulai malu-malu.
"Lho Sayang kok dilepas?, maafkan Mas ya, Mas salah ngomong ya?"
"Nggak Mas, aku cuma ma-malu saja."
"Malu kenapa sih Sayang, Mas ini suami kamu lho, nggak apa-apa lah kalau Sayang mau memeluk Mas, ayo sini peluk Mas lagi."
Jevin membentangkan kedua tangannya. Bersiap-siap untuk menerima pelukan dari istrinya lagi. Namun Kasha justru berdiam diri saja. Bahkan Kasha menggelengkan kepalanya.
Jevin menghela napas pelan. Ia mengerti akan sifat istrinya yang pemalu. Namun tiba-tiba saja Jevin beranjak dari duduknya dan langsung menggendong Kasha ala bridal style. Sontak Kasha terkejut bukan main. Kedua bola matanya seakan ingin meloncat. Dan degupan jantungnya berpacu cepat dan pastinya pipi Kasha sudah merah merona.
"Mas turunkan aku."
"Nggak."
"Mas." Kasha memberontak untuk turun. Namun percuma karena tenaga Jevin sangat kuat dibandingkan dirinya.
"Ini akibatnya karena Sayang nggak mau memeluk Mas lagi." Ucap Jevin dengan tersenyum menyeringai, sehingga membuat Kasha meleleh dan hanya bisa pasrah saja.
"Ma-Mas kita mau ke mana?"
Jevin mulai melangkahkan kakinya sambil menggendong Kasha. "Ke kamar Sayang, sudah malam." Ucap Jevin seraya tersenyum menyeringai. Sementara Kasha hanya bisa diam saja, hingga akhirnya mengalungkan kedua tangannya di leher Jevin dan menenggelamkan wajahnya yang merah merona di balik dada bidang sang suami.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Assalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh
Alhamdulillah
Ukhfira kembali lagi nih
maafkan ya kalau udah lama nungguin Ukhfira update lagi
Doakan ya manteman smoga ceritanya Jevin dan Kasha sampai tamatttt
Jazakumullah khoiron untuk kalian Readers yang masih setia dilapak ini meskipun updatenya agak lelet
In Syaa Allah Ukhfira akan usahakan untuk terus update ya
BTW selamat menunggu part selanjutnya
__ADS_1
jangan bosan menunggu ya
Wassalaamu 'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh