
Bandit itu melangkah mundur teratur saat jalannya kini terkepung, keringatnya sudah muali bercucuran melihat satu perajurit itu mampu dengan mudah mengalahkannya.
"Katakan, siapa dalang di balik pembunuhan Nona Ye Hwa!" bentak Jae Sung.
"Sa-Saya tidak tau!"
"Baik, berarti kau sudah bersiap dengan nyawamu!" Jae Sung melambungkan pedangnya.
"Ti-tidak, Aku benar-benar tidak tau!" Bandit itu masih teguh pendirian.
"Aku bukan manusia bodoh yang mudah percaya pada setiap orang!" Jae Sung mendekatkan ujung pedang tepat di leher bandit.
"Aku tidak tau ...!"
Jlebb...
Argh ...
"Kau terlalu membuang waktuku!" Jae Sung mendorong pedangnya.
Seketika aliran air kental berwana merah mengucur dari leher bandit tersebut, dengan santainya Jae Sung membersihkan percikan air merah ke baju bandit dengan seringai menakutkan.
Yu Hwa terdiam membatu, melihat peristiwa nyata di depannya membuat pandangannya mendadak kabur.
Brugh ...
Jae Sung membopong Yu Hwa dan mempercepat langkahnya menuju tempat persembunyiannya.
Mereka masuk ke dalam hutan yang rimbun dan gelap, terdengar lolongan srigala yang menambah seramnya hutan ini.
Langkah Jae Sung terhenti di gubug reot tempat dirinya biasa beristirahat, dengan hati-hati Dia merebahkan tubuh lemas Yu Hwa.
"Dasar, merepotkan sekali!" gerutu Jae Sung.
Jae Sung membuka bajunya yang compang-camping berhiaskan bercak merah dengan bau anyir.
Tampak tubuh kekar penuh luka dalam, Sebagian luka sudah sembuh dan mengering dan yang lainnya masih menganga akibat pertempuran ini.
"sshhh ..."
Jae Sung meringis menahan sakit, pelan-pelan dirinya memakai baju yang sudah di siapkan sebelumnya.
Setiap malam Jae Sung selalu berburu dan karena itu pula lukanya tak kunjung sembuh, malah selalu bertambah.
Yu Hwa mulai membuka matanya, matanya membulat ketika di hadapannya di suguhkan pemandangan yang menyakitkan.
Yu Hwa sangat mengenali luka itu, tapi dirinya masih lupa dimana dia pernah melihat bekas luka yang cukup banyak tersebut.
"Kau sudah bangun?" ucap Jae Sung setelah membalut tubuhnya dengan pakaian dan kemudian berbalik
Yu Hwa bangkit dari tidurnya dan duduk, kepalanya masih sangat berat untuk berdiri saat ini.
"Terimakasih!"
__ADS_1
"Cepat bangun dan jangan manja, Kita tidak punya banyak waktu untuk ini!"
"Astaga, Aku baru saja bangun!"
"Terserah kamu, yang jelas Aku harus segera pergi!" Jae Sung segera merapikan bajunya dan meraih pedangnya.
Melihat Jae Sung yang mulai beranjak Yu Hwa mencoba sekuat mungkin untuk berdiri. Tubuhnya saat ini masih sangat lemas.
Brugh ...
Mendengar Yu Hwa terjatuh Jae Sung melangkah mendekatinya, seketika Dia menggendong tubuh Yu Hwa dan mempercepat langkahnya meninggalkan gubuk reot tersebut.
Mata Yu Hwa lekat menatap wajah yang tertutup sebagian itu, mata tajam dan hidung yang mancung membuat Yu Hwa semakin penasaran untuk membuka kain yang menutup wajahnya tersebut.
Sadar kalau saat ini Yu Hwa sedang memperhatikannya, membuat Jae Sung salah tingkah.Untung sebagian wajahnya di tutupi kain.
"Ehemm ..."
"Maaf, Aku hanya khawatir dengan lukamu. Kau bisa turunkan aku disini saja!" ucap Yu Hwa dengan wajah semu merah.
"Diamlah, Aku tidak mau tambah repot lagi!" ucap Jae Sung sewot.
Yu Hwa kembali tertunduk, dirinya mencoba untuk diam walau banyak sekali pertanyaan yang timbul di kepalanya.
Tak lama kemudian sampailah mereka di tembok istana, perlahan Jae Sung melepas tubuh Yu Hwa dan melangkah menjauh.
"Masuk lewat pintu dan langsung kembali ke kamarmu, temui Nona besok saja. Situasi kerajaan masih belum aman!" ucap Jae Sung sambil melangkah pergi.
"Stop ..."
"Terimakasih," ucap Yu Hwa tulus.
Jae Sung dengan angkuh tak memberi respon, dirinya langsung melangkah dan menghilang di balik semak belukar tanpa ada penerangan.
Dasar, angkuh. Awas kalau sampai ketemu lagi !. akan aku lepas kain itu. huh ...!
Yu Hwa melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukanya perlahan, matanya menyapu keadaan sekitar.
Saat sudah dirasa aman Yu Hwa segera mempercepat langkahnya menuju kamar. Hari ini sudah cukup menguji adrenalin nya yang membuat lemas.
Dia tak mau kalau nantinya akan bertemu prajurit patroli yang akhirnya membuat semua masalah akan menjadi runyam.
Langkah demi langkah akhirnya sampailah Yu Hwa di depan kamar dengan selamat, dengan hati-hati dia membuka pintu kamar.
Greppp ...
Seseorang dengan kuat mengunci Yu Hwa dan menutup mulutnya rapat, matanya membulat ketika melihat tangan yang menutup mulutnya saat ini.
Perlahan tangan itu membuka mulut Yu Hwa, dirinya membalik badan dan segera memeluk seseorang yang amat dia khawatirkan beberapa saat yang lalu.
"Kau baik-baik saja?"
"Seperti yang anda lihat nona, Anda kenapa kemari?" Yu Hwa merenggangkan pelukan.
__ADS_1
"Aku sangat khawatir, jadi aku langsung mencarimu kemari!"
"Anda tau siapa yang menyelamatkanku?"
"Ya, dia adalah salah satu prajurit terbaik pangeran,"
Jadi selama ini dia tinggal di istana, kenapa aku tak pernah melihatnya?.
Kenapa pula dia tidak pernah memakai baju prajurit?.
"Syukurlah kau baik-baik saja, saat ini pengawal sedang memperketat penjagaan pintu istana. Kau tadi masuk lewat mana?"
"Pintu yang tak jauh dari sini Nona!"
Miyong mengingat-ingat pintu mana yang di maksud Yu Hwa, akan tetapi Miyong tetap tak bisa mengingat dengan jelas.
"Jangan khawatir Nona, Nona bisa istirahat sekarang, mari saya antar!" tawar Yu Hwa.
"Tidak usah, ada prajurit yang mengawalku!"
"Prajurit?, dimana?"
"Mereka sedang bersembunyi, sekarang kau cukup beristirahat saja!"
Miyong memeluk erat tubuh Yu Hwa dan memakai jubah hitamnya kembali, sesaat kemudian dirinya melangkah dan menghilang di balik pintu.
Yu Hwa merebahkan tubuh lelahnya di atas atas kasur, otaknya masih terus terbayang sosok yang baru saja menyelamatkannya.
Percikan-percikan air merah masih teringat jelas di ingatannya, hal itu membuat tubuhnya gemetar sesaat.
Mengapa saat ini nyawa sangat tidak berharga sekali?, Yu Hwa selalu berdo'a agar tidak ada lagi peperangan yang membuat pertumpah darahan terjadi berkelanjutan
***
Sringg ...
"Stop, siapa kau?" ucap seorang menghunuskan pedang panjang tepat di kepala Jae Sung dari arah belakang.
Perlahan langkah kaki Jae Sung terhenti dan membalik tubuhnya, sudah Jae Sung tebak hal ini akan terjadi.
Pasti bukan sembarang orang yang bisa mengirim bandit selincah itu, dan pastinya pasti ada misi besar di balik rencana ini.
"Siapa kau, berani-beraninya kau ikut campur dengan urusan kami!" Amarah bandit itu meledak-ledak.
"Aku hanya ingin membuang kerikil-kerikil pengganggu di jalanku," ucap Jae Sung santai.
"Beraninya kau ...!"
Wusshhh ...
Dengan mudah Jae Sung sanggup menghindar dari tebasan pedang yang hampir saja membelah kepalanya.
Jlebbb ...
__ADS_1
"Arghhh ..."
Terlihat anak panah yang melesat dan menancap di salah satu orang yang hendak berduel ...