
Jae Sung dan Yu Hwa tiba di rumah Yu Hwa, Tampak Ibu Yu Hwa menunggu dengan cemas di depan rumah.
Dia melangkahkan kakinya mondar-mandir, wajahnya tampak cemas. Akan tetapi, kecemasan tersebut sirna ketika melihat putrinya sudah kembali.
Yu Hwa turun dari gendongan Jae Sung, Ibu Yu Hwa berlarian menuju putrinya dan memeluknya erat.
"Maaf Bu," ucap Yu Hwa menyesal.
Dia sudah sadar akan keegoisannya, Ibunya juga pasti merasakan kehilangan yang mendalam. Dibandingkan dengannya, Ibunya pasti juga sangat tersiksa.
Jae Sung melangkah mendekat, kemudian membungkukkan badannya.
"Maaf Bu, Saya harus segera membawa Yu Hwa kembali ke istana." ucap Jae Sung.
Tampak wajah sedih terpancar di wajah senja Ibu Yu Hwa, sebenarnya Jae Sung tak tega. Tapi peraturan harus di jalankan. Meskipun Jae Sung orang terpercaya pangeran. Akan tetapi, dia tidak bisa melanggar aturan seenaknya.
Ibu Yu Hwa menarik nafas panjang, dia mencoba menerima kenyataan. Memang putrinya saat ini harus pergi, sebelum warga istana menyadari semua.
"Apa tidak bisa besok? Aku masih ingin bersama Ibu," ucap Yu Hwa masih memeluk ibunya.
"Maaf, tapi kau akan terkena masalah jika lebih lama lagi." ucap Jae Sung.
Ibu Yu Hwa tersenyum kecil, dia melepaskan pelukan putrinya dan memberikan sebuah kalung giok.
Batu giok tersebut berwarna kuning serta ada ukiran berbentuk ikan di bagjan depan. Ibu Yu Hwa mengalungkan ke putri tercintanya.
"Ini adalah simbol keberuntungan, semoga dewa ikan selalu menjagamu." ucap Ibu yu Hwa dengan mata berkaca.
"Sekarang kau harus kembali, terimakasih Nak." ucap Ibu Yu Hwa mengelus rambut Yu Hwa.
"Ibu, aku masih ingin disini," Rengek Yu Hwa.
"Ingatkan, pesan Ayahmu. Jangan ..." ucap Ibu Yu Hwa terpotong.
"Baik Ibu, jangan rewel." ucap Yu Hwa kembali memeluk Ibunya.
"Jaga diri Ibu baik-baik, aku selalu menunggu surat darimu" ucap Yu Hwa dengan mata berkaca.
Dia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ibunya, baru saja dia kehilangan orang yang sangat dia cintai.
Sekarang harus melewati hari-harinya sendiri, tanpa ada seorang pun yang menemani.
__ADS_1
"Kau juga, selalu berhati-hatilah." ucap Ibu Yu Hwa melepaskan pelukan.
Ibu Yu Hwa melempar pandangan ke Jae Sung, dia melangkah perlahan dan memeluk Jae Sung.
Seketika jantung Jae Sung berdebar, pelukan hangat yang tak pernah dia dapatkan. Pelukan nyaman yang memberi rasa kedamaian, membuatnya teringat pada sosok yang amat dia rindukan.
"Meskipun kau berbohong, tolong jaga putriku. Aku tau kau adalah orang baik" bisik Ibu Yu Hwa.
"Aku tak akan mengecewakanmu Bu," ucap Jae Sung merenggangkan pelukan.
Jae Sung melempar senyuman termanisnya, entah sejak kapan senyuman manis ini kembali lagi.
Yu Hwa tersenyum melihat keakraban Ibunya dan Jae Sung, dia tak menyangka Jae Sung akan berprilaku demikian terhadap Ibunya.
"Sudah, berangkatlah." ucap Ibu Yu Hwa mundur teratur.
Prajurit Jae Sung menaiki kuda, dan pergi meninggalkan rumah Yu Hwa di susul oleh Jae Sung di belakang.
Yu Hwa masih terus menatap Ibunya yang masih setia berdiri, hati Yu Hwa sangat berat untuk pergi. Tapi apalah daya, peraturan istana sangat ketat. Bisa kembali dengan selamat saja dia sudah sangat bersyukur.
Jae Sung dan Yu Hwa menaiki kuda, mereka meninggalkan rumah Yu Hwa dan menghilang di ujung jalan.
'Jaga dirimu baik-baik Nak,' batin Ibu Yu Hwa perih.
Dengan senyuman yang merekah Ibu Yu Hwa berbalik badan, Akan tetapi, yang dia bayangkan tidak sesuai dengan apa yang di harapkan saat ini.
"Kamu ..."
Di sisi lain, Yu Hwa dan Jae Sung mengendarai kuda sangat cepat. Dia tidak mau ada seorang tau kalau dirinya membawa Yu Hwa keluar dari istana tanpa sepengetahuan.
Udara malam yang dingin, di tambah rintikan hujan membuat tubuh Yu Hwa mengigil. Jae Sung menutupi tubuh Yu Hwa dengan jubah hitamnya.
"Pegangan erat, kita harus tiba di istana sebelum fajar tiba." ucap Jae Sung tegas.
"Baik," jawab Yu Hwa singkat.
Yu Hwa memutar duduknya ke samping, tangannya mencengkram erat pinggang Jae Sung. Perlahan dia menyandarkan kepalanya di dada Jae sung.
Setelah posisi Yu Hwa aman, Jae Sung segera melajukan kuda dengan kecepatan penuh. Jalanan malam sangat berbahaya, di tambah dia tidak membawa teman.
Akan sangat berbahaya bila sampai ada seseorang yang mengincarnya, mungkin Jae Sung bisa selamat. Akan tetapi, tugasnya saat ini bertambah karena janjinya.
__ADS_1
Rintikan hujan membasahi tubuh Jae Sung, sedangkan seseorang di dalam jubah tak hentinya menenangkan jantungnya.
Entah mengapa jantungnya saat ini tidak bisa di kondisikan, jantungnya berdebar. Begitupula jantung Jae Sung yang tidak sengaja dia dengar.
'Ternyata saat orang menunggang kuda, jantungnya ikut terpacu yaa.' Batin Yu Hwa ketika menempelkan telinganya di dada Jae Sung.
Merasakan dadanya tersentuh pipi lembut Yu Hwa membuat Jae Sung kehilangan konsentrasi.
"Apa tubuhku sangat sexy?" tanya Jae Sung sinis.
"Maksudmu?" tanya Yu Hwa kembali.
"Jauhkan wajahmu dari tubuhku, tidak sembarangan orang dapat menyentuhku. Dasar mesum!" ucap Jae Sung.
"Apa? Kau kan yang menyuruhku untuk berpegangan erat," protes Yu Hwa tak terima.
"Mencari kesempatan dalam kesempitan," ucap Jae Sung.
"Kau ..." ucap Yu Hwa terputus karena dirinya kehilangan keseimbangan. Hampir saja dia terjatuh karena tidak berpegangan.
Akan tetapi, tangan Jae Sung yang cekatan segera meraih punggung Yu Hwa sehingga dirinya tidak jadi terjatuh.
Jae Sung membenarkan posisi Yu Hwa kembali, dan berdecih sebal.
"Jaga dudukmu, atau kau aku tinggal disini. Pasti srigala disini sangat menginginkanmu menemani mereka," ucap Jae Sung.
Yu Hwa hanya terdiam, entah mengapa hujan tak kunjung reda. Ingin sekali dia terbebas dari jubah Jae Sung.
Gara-gara jubah ini, posisinya jadi serba salah. Meskipun dia sangat menikmati alunan detak jantung Jae Sung. Tapi dia juga tidak terima di panggil mesum.
Jae Sung tampak lega karena hutan belantara telah dia lewati dengan selamat, tak ada penyerangan malam.
Kurang sedikit lagi dia telah sampai di istana, tiba-tiba kuda prajurit Jae Sung terhenti. Dia memberikan isyarat agar berpencar.
Prajurit yang dia bawa, bukanlah prajurit biasa. Telinganya sangat peka dengan suara-suara dari kejauhan.
Seketika Jae Sung memutar arah, dan bersembunyi di balik pohon. Menunggu seseorang yang akan melewati jalanan di hadapannya.
Yu Hwa membuka jubah, seketika Jae Sung menutup mulut Yu Hwa. Di saat yang bersamaan, sebuah kereta istana lewat.
Kedua pasang mata terbelalak dan saling melempar pandangan.
__ADS_1
'Pangeran Haa joon'