
Di sisi kerajaan Jae Sung dan Pangeran Haa Joon duduk di tepi kolam ikan di kediaman kekaisaran.
"Jadi, kau sudah menemukan pelakunya?" tanya Pangeran.
"Di kamar Nona Miyong tidak ada obat yang mencurigakan Pangeran, kemungkinan Nona hanya kecapekan akibat perjalanan jauh." ucap Jae Sung.
Pangeran terdiam sesaat, sebelumnya kondisi Miyong baik-baik saja. Saat itu dia masih mengobrol dengannya kemudian Miyong berpamitan masuk ke dalam kamar.
Setelah itu Pangeran Haa Joon menemukan Miyong dalam posisi pingsang di lantai, ini tidak mungkin kalau cuma kebetulan.
Melihat Pangeran yang berpikir keras, membuat Jae Sung semakin yakin kalau ini adalah siasat licik. Dia sangat pandai dalam menyiasati segala hal, sampai jejaknya tak dapat di lacak oleh Kae Sung.
"Hamba akan cari lebih teliti lagi Pangeran, " ucap Jae Sung membungkukkan badannya dan melangkah pergi.
"Tunggu." panggil Pangeran, seketika langkah kaki Jae Sung terhenti dan memutar badan.
"Bergeraklah diam-diam, aku takut orang ini adalah orang dalam." ucap Pangeran, Jae Sung menganggukkan kepalanya dan melangkah meninggalkan kediaman kekaisaran.
Jae Sung segera pergi menemui orang yang paling dia percaya untuk menuntaskan masalah ini, dia tak mau mengambil keputusan yang gegabah.
Tugasnya disini hanyalah, meruntuhkan kerajaan dan mencabut nyawa seseorang yang amat keji kepada keluarganya.
Dia tak berniat sedikitpun untuk menghabisi Sang Raja terlebih orang-orang di sekitarnya, baginya semua itu percuma.
__ADS_1
Langkah Jae Sung terhenti, ketika seorang yang hendak dia temui sudah berjalan menghampirinya.
"Lapor ketua, tidak ada kejanggalan di kamar Nona Miyong." ucap Prajurit kepercayaan Jae Sung.
Jae Sung berpikir sejenak, tidak mungkin tidak ada bukti. Jelas-jelas pangeran sangat yakin kalau sebelumny Nona Miyong baik-baik saja.
"Aku masih sangat ragu, terus selidiki tanpa ada seorang pun yang tau. Pangeran punya firasat kalau ini adalah ulah orang dalam." ucap Jae Sung tegas.
"Sekutu telah menyetujui kerja sama kita," ucap Prajurit itu lirih.
"Benarkah? sungguh kejutan yang sangat fantastis. Mari kita berpesta nanti malam." ucap Jae Sung menampakkan wajah bahagianya.
Akhirnya dia tak perlu memakai topeng lagi, setelah bantuan sekutu tiba. Dia mampu dengan mudah meruntuhkan pertahanan istana dan mencari orang keji yang selama ini mengganggu ketenangannya.
Beberapa saat kemudian, Jae Sung melangkah menjauhi prajurit. Begitupun prajurit, dia menghilang di tengah semak belukar.
Jae Sung tau, akan banyak penderitaan yang akan datang bila sampai rencananya berjalan lancar.
Akan tetapi, dendamnya lebih mendominasi dari pada hati nuraninya. Hati bersihnya sudah lama hilang terkubur bersama jasad Ibunya.
***
Yu Hwa masih duduk di samping Miyong, dia menatap iba kepada Nonanya yang masih memejamkan matanya.
__ADS_1
"Sampai kapan Nona akan tidur, Nona harus bangun dan banyak belajar. Bukankah Nona bilang akan mendirikan sebuah sekolah yang besar untuk para kaum rendahan." ucap Miyong menahan Isak.
"Nona tau? aku sangat menantikan saat indah itu tiba Nona." lanjut Yu Hwa menggenggam erat jemari Miyong.
"Aku mohon Nona, bangunlah." ucap Yu Hwa lirih.
Air matanya tak dapat terbendung, dia sangat tak tega melihat Sang Nona terbaring lemas. Mengapa ada seorang yang tega berbuat demikian.
Nonanya sangat baik dan tak pernah menganggu ketenangan seseorang, mengapa selalu dia yang di serang?
Pandangan nya beralih pada sebuah botol kecil yang dia temukan di bawah meja tadi, lagi-lagi botol ini.
Dia sangat ingat betul tentang botol ini, akan tetapi ingatannya masih belum mampu mengingat secuil pun kenangan tentang botol kecil ini.
Ingatannya tiba-tiba teringat dengan seseorang yang memberinya botol yang sama, dia segera melangkah keluar dari kamar Miyong.
Di saat yang bersamaan, ada seseorang yang diam-diam masuk ke kamar Miyong. matanya segera menatapl Miyong yang terbaring tak berdaya.
Dia segera masuk dan mecari benda yang terjatuh di bawah meja, tiba-tiba ...
"yu Hwa ..."
"Kau dimana?"
__ADS_1