Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
Bab 13


__ADS_3

"Kau ada disini?" sapa Pangeran.


"Semoga Pangeran panjang umur"


Miyong yang terkejut segera bangkit dan membungkukkan setengah badannya ke arah Pangeran mahkota.


"Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?" pangeran tersenyum manis.


"Itu bukan alasan untuk tidak memberi hormat padamu pangeran," ucap Miyong menunduk.


"Baiklah, kita bisa duduk?"


"Mari Pangeran, apa Anda membutuhkan sesuatu?"


"Tidak, sudahlah tenang saja!"


Miyong duduk di samping Pangeran mahkota, wajah mereka sama-sama memancarkan kebahagiaan.


"Kediamanmu nanti malam akan di perketat oleh pengawal, jadi kau tak perlu khawatir lagi!"


"Terimakasih pangeran atas perhatiannya," Miyong memperlihatka senyum anggunnya.


"Kau tidak keberatan dengan pernikahan ini?, tanggung jawabmu nantinya cukup berat,"


"Tidak pangeran, Saya sangat berterimakasih telah Anda percaya sebagai ratu utama untuk Anda,"


"Kau terlalu merendah, kau memang sangat pantas mendapatkan gelar ini,"


"Aku yang ..."

__ADS_1


"Pangeran adalah putra yang sangat berbudi pengerti luhur, bukanlah rakyat sangat mencintai Anda?" Miyong mencoba memberi rasa percaya diri kepada pangeran mahkota.


Bukan tanpa sebab Pangeran berkata demikian, situasi kerajaan yang kacau membuat sang Raja harus segera menikahkan putranya dan segera menobatkannya sebagai raja.


Sebetulnya dia tidak berpotensi dan jauh dari kata sempurna, akan tetapi tak ada pilihan lain. Mau tidak mau pangeran harus siap dengan tahtanya.


"Bagaimana tentang prajurit terbaik Anda?"


"Dia ada di dalam, sedang membaca buku,"


"Sebelumnya saya sangat ingin berterimakasih sudah menyelamatkan pelayan sekaligus teman saya!"


"Sepertinya itu memang tugasnya, tak perlu sungkan"


"Apakah dia terluka?"


"Tidak, dia adalah prajurit terbaikku jadi lukanya tidak cukup serius!"


***


Sementara Pangeran dan Nona sedang mengobrol di sisi perpustakaan satu orang di dalam sedang sibuk mencoba meraih buku dari pelukan gadis yang tertidur lelap ini.


"Astaga, buku favoritku bisa rusak kalau begini," Jae Sung sebal.


Perlahan Jae meraih buku tersebut dengan kedua jarinya, setelah buku sudah terjepit sempurna. Jae segera menariknya kuat.


Brukk ...


"Aww ..."

__ADS_1


Jae membuang buku yang berhasil dia raih dan pura-pura membaca buku yang lain, gadis itu segera bangkit dan perlahan duduk kembali.


Mata Yu Hwa menyapu sekitarnya dan terbelalak mendapati sepasang kaki berdiri di depannya, Yu Hwa mulai sedikit panik.


Perlahan dia mendongakkan kepalanya, dirinya bisa bernafas lega ketika siapa yang saat ini ada di hadapannya


"Kau yang melakukan semua ini?" Yu Hwa menatap sinis.


"Memang aku melakukan apa?"


"Kau ...!, Yu Hwa menunjuk buku yang tergeletak di lantai.


"Aku hanya menyelamatkan buku tersebut dari ombak bau yang akan menerpanya!"


"Apa kau bilang, ulangi!" mata Yu Hwa memicing.


"Kau bisa tidur di tempat lain, lagi pula kenapa pelayan sepertimu bisa ada disini ... dan membaca buku seperti ini ..." mata Jae Sung tak kalah sengit.


"Ini semua terserah aku dan kau tak berhak ikut campur!"


"Wow sekarang seorang pelayan mempunyai nyali yang besar yaa ...!" Jae Sung melangkah mendekat.


Yu Hwa terdiam, dia sangat tau posisinya kali ini, dia tak mau menjawab ucapan prajurit itu walaupun mulutnya sangat gatal untuk menjawab.


Bisa-bisanya prajurit biasa berkata seperti itu sedangkan Nonanya saja tidak pernah memandang kasta.


"Atau jangan-jangan kau salah satu mata-mata musuh yang akan mencelakai Nona dan pangeran," bisik Jae Sung sinis.


Jae Sung semakin menyondongkan wajahnya mendekat ketelinga Yu Hwa, hembusan nafas Jae Sung membuat bulu halus Yu Hwa merinding ngeri.

__ADS_1


"Yu Hwa ..."


Cuppp ...


__ADS_2