
Di sisi istana lain, Jae Sung berdiri di tepi danau istana. Disinilah tempat favoritnya untuk menenangkan pikiran sekaligus mencari jalan keluar untuk semua masalahnya.
Air danau yang tenang, udara yang bersih tanpa adanya suara bising dari para pelayan dan prajurit. Membuat otaknya seakan tenang dengan sendirinya.
Masalahnya belakangan ini sangat berat, mulai dari banyak sekutunya yang berkhianat dan yang paling menyedihkan adalah ... kehilangan Sang Paman.
Dia tak menyangka musuhnya akan sekeji ini, Pamannya tidak tau menau tentang istana. Kenapa harus mengorbankan orang yang tak bersalah.
Selama Jae Sung menjalankan rencananya, dia. selalu berhati-hati dalam menghabisi nyawa seseorang.
Pedangnya tak sembarangan menebas nyawa, selalu dia pikirkan dengan matang sebelumnya. Akan tetapi semua berbanding terbalik padanya, nyawa orang-orang yang dia cintai di babat habis tak tersisa.
Kini dirinya benar-benar sendiri dan sebatang kara, tak terasa air matanya tumpah seketika. Isakan mulai terdengar menyayat hati.
Di balik raga kuat tak tertandingi, jiwanya juga sama seperti orang biasa. Tidak bisa begitu kuat menahan kesedihan mendalam ketika.di tinggalkan orang yang sangat dia cintai.
Mengapa orang menjadi lebih keji dari pada hewan saat memperebutkan kekuasaan, bahkan kekuasaanlah yang akan membunuh mereka secara perlahan tanpa mereka sadari.
Jae Sung menekuk kakinya, kepalnya menunduk tersungkur. Tak mampu menahan kesedihan mendalam yang dia rasakan.
Api dendam semakin berkobar tanpa sanggup di padamkan, dia berjanji kepada kedua mediang orang yang paling dia cintai.
Siapapun mereka, dia akan membabat habis. Nyawa harus di bayar dengan nyawa.
"Kau baik-baik saja?" tanya Yu Hwa.
Seketika Jae Sung berdiri dan menghapus air matanya, dia tak mau terlihat menyedihkan di hadapan orang lain.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Jae Sung dingin.
"Pangeran memanggilmu," jawab Yu Hwa.
"Baik, aku akan segera kesana." jawab Jae Sung singkat.
Yu Hwa masih berdiri di belakang Jae Sung, dia masih enggan untuk pergi. Melihat keadaan Jae Sung yang tidak baik-baik saja membuatnya khawatir.
Melihat Yu Hwa tak ada niatan untuk pergi, Jae Sung melangkah menjauh meninggalkan Yu Hwa.
"Tunggu ..." ucap Yu Hwa meninggikan suaranya.
Langkah Jae Sung terhenti sesaat, akan tetapi tubuhnya masih enggan untuk berbalik.
"Kau baik-baik saja," tanya Yu Hwa penasaran.
"Sepertinya kau sangat memperhatikan ku," jawab Jae Sung angkuh.
Jae Sung menatap lekat Yu Hwa dan melangkahkan kakinya mendekat, dan berhenti tepat di hadapan Yu Hwa. Kepalanya sedikit mendekat ke arah Yu Hwa.
Yu Hwa terdiam, entah mengapa jantungnya melompat-lompat tak tenang. Sejak kedekatannya dengan prajurit lidah tajam ini jantung Yu Hwa sering berdebat tak tentu.
"Kau bisa lihat kan, aku sangat baik-baik saja. Bukankah banyak prajurit yang terluka parah lebih dari aku?" tanya Jae Sung berbisik di telinga Yu Hwa.
"Jaga jarak denganku, atau nyawamu yang jadi taruhannya," ucap Jae Sung menekan kalimatnya.
Jae Sung mundur teratur dan melangkah menjauhi Yu Hwa, sementara Yu Hwa menatap punggung Jae Sung dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Menyeramkan sekali ... tapi kenapa merasa ... sedih ..." ucap Yu Hwa lirih.
****
Sementara itu di kediaman Miyong, ada seseorang misterius yang masuk ke dalam kamar Miyong.
Dengan hati-hati pelayan itu mengendap-endap masuk ke kamar dan meletakkan suatu benda di meja Miyong.
Belum selesai aktifitasnya, Yu Hwa datang membuka pintu. Pelayan tersebut terkejut dan tak sengaja menjatuhkan botol tersebut.
"Kau siapa?" tanya Yu Hwa curiga.
Belakangan ini banyak sekali seseorang yang menginginkan nyawa Nonanya, dia tak mau lalai dalam menjaga amanat Pangeran.
"Saya ingin membersihkan kamar Nona Miyong," jawab pelayang tersebut.
Kepalanya tertunduk jadi Yu Hwa tak bisa melihat dengan jelas wajah pelayan tersebut. Melihat tingkahnya sudah di curigai, pelayan tersebut segera melangkah keluar kamar Miyong.
Yu Hwa segera mengecek obat-obatan Miyong, dia tak mau mengambil resiko dan malah mencelakai Nonanya.
'Semua masih sama, sebenarnya siapa dia?'
Yu Hwa duduk di samping Miyong yang masih terlelap, matanya tertutup rapat. Perlahan Yu Hwa menempelkan punggung tangannya di kening Miyong.
"Panasnya sudah turun, Ayo Nona buka matamu. Apa kau tidak merindukanku?" ucap Yu Hwa lirih.
"Pangeran sangat mengkhawatirkanmu." lanjut Yu Hwa.
__ADS_1
Yu Hwa melempar pandangannya ke lantai, dan melihat suatu benda yang terjatuh.
Dia segera bangkit dan mengambil benda tersebut.