Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
bab 9


__ADS_3

Miyong dan Yu Hwa melangkah perlahan menuju kediaman Miyong, akan tetapi langkah Miyong terhenti.


Miyong membalik badannya dan menatap Yu Hwa yang masih menunduk. Terdengar nafas yang di tarik kasar.


"Aku dulunya juga sama sepertimu!, tak ada yang spesial di hidupku," Miyong berceletuk.


Mendengar ucapan Miyong yang merendah Yu Hwa segera mendongakkan kepalanya.


"Nona adalah calon permaisuri yang patut di banggakan, tidak pantas bagi saya menyamakan kedudukan"


Miyung hanya terkekeh kecil mendengar penuturan Yu Hwa, sungguh gadis itu sangat lugu. Keluguannya lah yang membua Miyong sangat mempercayai Yu Hwa dari pada pelayan lain.


"Kau suka membaca?"


Mendengar pertanyaan Miyong membuat wajah Yu Hwa mendadak pucat, karena pelayan tidak di beri akses pendidikan di kerajaan.


Seketika Yu Hwa berlutut dan meminta maaf kepada Miyong atas kelancangannya, Miyong hanya merespon dengan gelengan pelan.


"Astaga, bangun ...!"


Mendengar perintah Yu Hwa lalu beridir dan mengikuti langkah Miyong yang mulai melangkah menjauh.

__ADS_1


"Lanjutkan belajarmu, Aku tidak pernah terganggu dengan semua itu. Bagaimana menurutmu tentang peraturan istana?"


Wajah Yu Hwa kembali di buat pucat oleh Nonanya, dia bukanlah penasehat istana. Mengapa Nona Miyong beprilaku seperti ini?.


"Tak usah di jawab, Aku sudah tau jawabanmu. Kau pasti akan bilang kalau kau tak pantas memberi nasehat, benarkan?" Miyong tersenyum simpul.


"Kau harus yakin kalau suatu saat hidupmu akan lebih baik Yu Hwa, roda hidup pastilah berputar. Dan ilmu sangatlah penting untuk hidup kedepannya"


Tidak terasa mereka telah sampai di kediaman Miyong, langkah mereka terhenti. Miyong membalikkan badan dan melangkah memeluk Yu Hwa.


"Percayalah!, suatu saat nanti kau akan jadi orang terpenting di kerajaan ini!, dan kau akan menjadi saksi saat aku berhasil membangun sekolah untuk setiap wanita Korea entah dia berada di kelas rendah atau kalangan bangsawan," bisik Miyong lirih di telinga Yu Hwa.


Miyong tersenyum manis dan memasuki kamarnya, setelah Nonanya menutup pintu. Yu Hwa segera melangkah menuju tempat istirahatnya.


Langkahnya Dia percepat karena firasatnya mendadak tak enak, akan tetapi langkahnya mendadak terhenti ketika melihat sekelebat bayangan hitam melompat di kegelapan menuju kediaman Miyong.


Melihat akan terjadi sesuatu kepada Nonanya Yu Hwa memberanikan diri untuk kembali menuju kediaman Miyong.


Apa yang Dia rasakan benar, beberapa prajurit tergeletak tak bernyawa di ambang pintu. Melihat semua ini kaki Yu Hwa mendadak lemas.


Tubuhnya terpaku tak sanggup di gerakkan, dengan sekuat tenaga Yu Hwa melawan rasa takutnya dan melangkah menuju kamar Miyong.

__ADS_1


Langkahnya kembali terhenti ketika melihat bayangan hitam masuk dengan cepat ke dalam kamar Miyong.


Hal ini membuat Yu Hwa semakin mempercepat langkahnya, dengan tangan gemetar Dia meraih sebuah pedang yang tergeletak di lantai istana.


Terlihat banyak cairan merah mengalir memenuhi lantai, membuat kaki dan tangan Yu Hwa bergetar semakin hebat.


Ayo Yu Hwa, kau pasti bisa !!!


Semakin mendekati kamar, semakin jelas pula suara dentingan pedang yang bergeser. Akan tetapi anehnya tidak ada suara Miyong disana.


Pikiran Yu Hwa semakin resah, tanpa pikir panjang dirinya berlarian masuk kedalam kamar Miyong.


Grepp ...


Seketika leher Yu Hwa di hadapkan dengan sebuah pedah panjang dengan banyak air merah membekas di sana.


"Lepaskan Dia!" perintah prajurit tersebut.


Yu Hwa tercengang ketika melihat keadaan Miyong baik-baik saja saat ini, seketika perasaan Yu Hwa menjadi sedikit lega.


Dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi apa-apa dengan Nonanya, selama ini Nonanya sudah sangat baik kepadanya dan hak yang bisa Dia berikan hanyalah pengorbanan yang tulus.

__ADS_1


"Mari kita bertukar barang, serahkan Permaisuri dan Aku akan menyerahkan Dia!" ucap bandit itu.


"Jangan!, lindungi permaisuri. Bawa dia pergi saat ini juga!" teriak Yu Hwa.


__ADS_2