Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
Bab 14


__ADS_3

Mata Yu terbelalak ketika mendapati bibirnya tak sengaja menyentuh pipi mulus prajurit menyebalkan di hadapannya.


Dengan langkah teratur Yu Hwa melangkah menjauh, matanya mulai berkaca karena menahan amarah yang bergemuruh di dalam dada.


"Aku tidak akan melepaskanmu, setidaknya Aku adalah pelayan rendahan yang berkelas. Tidak sepertimu yang suka merendahkan pelayan dan mengambil keuntungan dari posisimu," ucap Yu Hwa berhenti sejenak dan melanjutkan langkahnya.


Jae Sung masih terdiam membeku, perasaan yang dia rasakan sangat sulit dijelaskan Dengan kata.


Wajahnya perlahan memerah seperti udang rebus, perlahan dia mengelap pipinya yang baru saja tersentuh bibir seseorang untuk pertama kalinya.


***


"Baik Nona," ucap Yu Hwa tergopoh-gopoh.


Matanya terbelalak ketika melihat tamu Nonanya, dirinya segera berlutut dan memberi hormat.


"Semoga Pangeran panjang umur dan sehat selalu," hormat Yu Hwa.


"Sudahlah jangan begini, anggap aku seperti temanmu sama sepertimu kepada Miyong," kekeh Pangeran yang melihat Yu Hwa salah tingkah.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya Yu Hwa dengan hormat.


"Siapkan barang-barang ku, nanti malam kita akan pergi ke suatu tempat," ucap Miyong bersemangat.


"Maaf Nona, kita?" Yu Hwa terkejut.

__ADS_1


"Ya ... Kita, apa kau tak mau menemaniku?" ucap Miyong karena dia lupa kalau Yu Hwa sangat sulit di ajak bepergian.


"Bukan begitu Nona, Ba-baiklah akan saya siapkan!" ucap Yu Hwa bangkit dari berlutut dan perlahan mengundurkan diri.


Yu Hwa segera melangkah keluar dari perpustakaan, langkahnya dia percepat karena tidak mau harus bertemu dengan seorang yang sudah membuatnya merasa sangat rendah.


Pandangan Yu Hwa menunduk serta mulut yang komat-kamit berdo'a agar dirinya tidak di pertemukan lagi dengan sosok yang menyebalkan itu.


Sejujurnya Yu Hwa masih sangat takut, baru kali ini dia berkata kasar kepada orang, dia hanya tak bisa terima kalau dirinya di pandang rendah hanya karena setatus sosial.


Karena pandangan yang menunduk membuatnya tak sadar ada seseorang yang berdiri di hadapamnya, akhirnya tabrakan pun tak dapat dihindari.


Kening Yu Hwa terasa sangat sakit ketika terbentur dengan dada bidang yang amat keras, seketika dirinya meringis kesakitan.


Perlahan Yu Hwa mendongakkan pandangannya, matanya kembali terbelalak ketika melihat siapa yang di tabraknya.


"Apa hobbimu juga membuntuti wanita?" Yu Hwa tidak mau kalah.


"Bahkan lebih dari itu!" Jae Sung mendekatkan tubuhnya lagi.


"Wanita penggoda!" bisik Jae Sung tepat di telinga Yu Hwa.


Plakkk ...


"Bisakah kau menghormati seorang wanita!" Yu Hwa sudah tak mampu menahan amarahnya.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga Yu Hwa mendorong tubuh kokoh Jae Sung, dan segera berlari keluar perpustakaan dengan tetesan Air mata mengalir di pipinya.


Jae Sung hanya menatap kepergian Yu Hwa dengan wajah tanpa ekspresi, hatinya tiba-tiba teriris ketika mendengar ucapan Yu Hwa.


"Jae Sung, siapakan keberangkatan kita!" perintah Pangeran yang tiba-tiba melangkah mendekat.


"Baik Pangeran," ucap Jae Sung sambil menundukkan kepala.


"Kita akan berangkat bersama Nona miyong dan satu pelayannya, siapkan beberapa prajurit untuk menemani kita," Perintah pangeran tegas.


"Baik Pangeran, Saya Akan menyiapkan semua," ucap Jae Sung menundukkan kepala dan pamit mengundurkan diri.


***


Terlihat Yu Hwa sedang menyiapkan beberapa keperluan Nonanya, matanya masih mengalir air mata walaupun sudah berusaha dia tahan.


Yu Hwa sangat memahami posisinya saat ini akan tetapi mendengar ucapan prajurit tadi membuat hatinya sangat terluka.


Setelah semua barang siap Yu Hwa segera membawanya ke sisi istana, disana sudah siap kereta kuda yang akan di tumpangi nanti malam.


Dengan lemas Yu Hwa menaruh barang-barang tersebut ke dalam kereta, setelah semua barang tertata rapi Yu Hwa segera turun dari kereta.


Yu Hwa melempar pandangannya ketika berpapasan dengan seorang yang membuat harinya mendadak mendung pagi ini.


"Jaga dirimu sendiri dan jangan merepotkan orang lain, kita akan menemani Nona dan pangeran dalam perjalanan yang cukup jauh," ucap Jae Sung menghentika. langkahnya di dekat Yu Hwa.

__ADS_1


Yu Hwa berhenti sejenak, kemudian melanjutkan langkahnya. Hatinya masih sangat sakit ketika mengingat ucapan Jae Sung beberapa menit yang lalu.


Yu Hwa hanya berlalu tanpa menanggapi ucapan Jae Sung, hatinya masih mencoba berdamai dengan keadaan.


__ADS_2