
Pagi ini Miyong sudah bangun, dia sudah tidak sabar untuk keluar kamar. Karena kondisi ya yang melemah, membuat dia terkurung di kamar untuk beberapa hari.
Biasanya dia tidak bangun sepagi ini. Akan tetapi, dia ingin berbuat usil dengan teman sekaligus pelayan pribadinya itu. Sudah beberapa hari ini pelayan tersebut bertindak aneh.
Saat di tanya dia selalu menjawab, semua keadaan baik-baik saja. Miyong semakin penasaran, sebenarnya apa yang sedang terjadi setelah kepergiannya.
Jujur, Miyong sangat mengkhawatirkannya. Di tambah posisinya saat ini sangat bahaya. Dia tak mau orang-orang yang dia sayangi harus terseret ke dalam masalahnya ini.
Beberapa petinggi selalu menekan pelayan dalam melancarkan aksinya, seperti biasa. Keluarga pelayanlah yang akan jadi korban bila Si pelayan tak menurutinya.
Beberapa malam ini Miyong sampai tak bisa tidur nyenyak karena masalah ini. Dia sudah menganggap pelayannya adalah saudara, dan dia tak mau kalau sampai ada yang melukainya.
Miyong sudah siap, tinggal beberapa langkah lagi dia bisa membuka pintu kamar. Sayangnya, pintu tersebut sudah terbuka. Seseorang sudah membukanya dari luar.
Miyong terkejut, rencananya ternyata gagal. Harusnya dia bisa bangun lebih pagi lagi, agar bisa mengamati pelayannya tersebut.
"Nona sudah bangun?" ucap Yu Hwa, dia sangat terkejut, biasanya Nonanya masih tidur di jam seperti ini.
Perlu waktu lama untuk membangunkan Nonanya, terlebih bila kondisi kesehatannya memburuk. Dan saat ini jauh dari kata luar biasa, si nona sudah bersiap.
"Aku mau ada urusan?" ucap Miyong acuh.
"Baik Nona, saya antar," ucap Yu Hwa.
"Tidak perlu, saya bisa sendiri." ucap Miyong dengan nada angkuh.
__ADS_1
"Tapi, kesehatan Nona sedang tidak baik-baik saja. Dan acara sudah semakin dekat. Saya tidak mau terjadi apa-apa dengan Nona." ucap Yu Hwa menjelaskan.
"Tinggalkan aku! Memang apa peduliku denganku?" nada Miyong sedikit meninggi.
"Saya adalah pelayan Nona, dan harus menyiapkan segala keperluan Nona," jawab Yu Hwa, dengan kepala menunduk.
Bukan Yu Hwa tak merasakan ada hal aneh dengan Miyong, dia sangat tau bagaimana sikap Miyong kepadanya.
Miyong hanya ingin tau kemana dia pergi beberapa saat yang lalu. Akan tetapi, Yu Hwa lebih memilih diam.
Dia takut Nonanya akan bersedih, acara penting akan di laksanakan beberapa hari lagi. Dan dia tak mau merusak suasana hati Miyong hanya karena kabar tak penting.
"Kamana kau pergi beberapa hari yang lalu? Sampai kau lupa dengan tugasmu!" ucap Miyong membuang pandangannya.
"Saya hanya membeli dedaunan untuk ramuan di tetangga desa Nona," dusta Miyong.
"Saya hanya tidak mau merepotkan semua orang Nona," jawab Yu Hwa lirih.
"Oke, jadi kau harus menerima hukuman karena kau sudah lalai dengan pekerjaanmu," ucap Miyong.
Dia berharap Yu Hwa akan takut dan segera membuka rahasianya. Tangannya sudah berkeringat karena menantikan jawaban Yu Hwa.
Tak ada raut ketakutan yang nampak di wajah Yu Hwa, ini sangat aneh. Padahal beberapa hari yang lalu dia masih sangat takut akan hukuman istana.
Miyong semakin yakin, kalau saat ini Yu Hwa sedang tidak baik-baik saja. Miyong termenung beberapa saat. Memikirkan peristiwa apa yang Yu Hwa hadapi, sehingga dia begitu pasrah dengan hidupnya.
__ADS_1
"Saya siap menerima hukuman Nona," jawab Yu Hwa dengan tenang.
Mata Miyong membulat sempurna, jawaban Yu Hwa bagaikan petir di siang bolong yang menyambarnya saat ini.
Bagaimana bisa dia menghukum Yu Hwa? padahal dia sangat peduli padanya. Bahkan kalau sampai Yu Hwa terluka, pasti dia ada di garda terdepan untuk membelanya.
"Maafkan saya Nona, saya berjanji akan menjalankan tugas dengan baik. Silahkan hukum saya," ucap Yu Hwa kembali, dia menekuk kedua lututnya di hadapan Miyong.
Melihat perlakuannya membuat hati Miyong teriris perih, apakah Yu Hwa berpikir kalau dia akan di hukum sungguhan? Apakah dia tak ingat dengan janjinya untuk saling menjaga?
Mata Miyong memanas tak mampu menahan air yang siap menetes, dia segera berbalik badan. Menutupi air matanya yang akan segera menetes.
"Apa yang kau lakukan? Sampai kau dengan mudah menyerahkan nyawamu," tanya Miyong.
"Saya benar-benar membeli obat untuk Nona," dusta Yu Hwa kembali.
"Kau tau kan? saya tidak suka di bohongi!" ucap Miyong geram.
"Prajurit, ambil cambuk!" perintah Miyong dengan lantang.
Beberapa saat kemudian, datang beberapa prajurit membawa tali panjang dan juga cambuk.
Tampa Miyong katakan cambuk itu sudah bercerita segalanya, lewat noda-noda kusam yang berbau tidak anyir.
Yu Hwa di ikat dengan demikian rupa, prajurit sudah bersiap untuk memberikan hukuman. Akan tetapi, tak ada penolakan dari Yu Hwa.
__ADS_1
Hingga cambuk itu melambung ke udara. dan ....