
Mata Yu Hwa terbelalak, saat melihat sosok angkuh yang saat ini berdiri di sampingnya.
"Maaf, aku tidak ada waktu untuk ribut denganmu." ucap Yu Hwa lirih. tatapannya terus menunduk kebawah menyaksikan para semut sedang gotong royong.
Suasana hatinya saat ini sedang kacau, sangat malas baginya untuk menambah masalah dengan orang di hadapannya saat ini.
"Astaga, kenapa kau selalu menyita waktuku?" ucap Jae Sung menyeret tangat Yu Hwa.
"LEPAS." ucap Yu Hwa melepaskan genggaman tangan Jae Sung yang amat kuat.
Jae Sung tak mempedulikan rengekan Yu Hwa, dia semakin mempercepat langkahnya menuju belakang istana.
Langkah Jae Sung terhenti di belakang istana, nampak seorang prajurit menunggang kuda. Tampaknya dia sedang menunggu kedatangan seseorang.
Di sebelahnya ada seekor kuda berwarna hitam legam, Yu Hwa sangat kenal kuda milik siapa itu. Yu Hwa melempar pandangannya menatap Jae Sung yang sedang bersiap memakai jubah.
"Pakai ini," ucap Jae sung melempar sebuah jubah hitam kepada Yu Hwa.
"Ki-kita mau kemana?" tanya Yu Hwa khawatir.
Jae Sung adalah seorang yang sangat misterius, Sejujurnya Yu Hwa sangat takut bila ada di dekatnya.
Tak ada jawaban terlontar dari mulut Jae Sung, dia hanya memandang sekilas Yu Hwa dan melangkah menaiki kudanya.
Jae Sung mengulurkan tangannya. Akan tetapi, Yu Hwa hanya terdiam membeku. Matanya terus menatap Jae Sung dengan otak yang berfikir keras.
Melihat Yu Hwa tak segera merespon uluran tanganya, Jae Sung sedikit membungkuk dan meraih tubuh mungil Yu Hwa.
Tak sengaja tatapan mata mereka bertemu sesaat, Yu Hwa sedikit terpana dengan tatapan mata Jae Sung. Tanpa terasa dirinya sudah ada di atas kuda.
"Cepat pakai jubahmu, dan jangan mengulur waktu lagi." ucap Jae Sung, tanpa menatap Yu Hwa.
Setelah Yu Hwa siap, kuda berlari cepat meninggalkan kawasan istana. Otak Yu Hwa kini berlarian kemana-mana.
Kuda prajurit berada di depan, sedangkan Jae Sung dan Yu Hwa berada di belakang. Tak ada obrolan sedikitpun. Karena kuda yang berlari begitu cepat, Jae Sung hanya fokus pada jalanan yang dia lewati.
Dari kejauhan, Yu Hwa melihat sosok yang tak asing baginya sedang berjala santai melewati jalanan sepi.
__ADS_1
Prajurit tersebut berhenti tepat di samping sosok tersebut, dan membantunya menaiki kuda.
Yu Hwa tidak mendengar jelas obrolan wanita tersebut dan prajurit, karena jarak mereka cukup jauh.
Prajurit tersebut melanjutkan perjalanan, diikuti oleh Jae Sung yang menyusul di belakang. Mereka menaiki kuda dengan kecepatan penuh dan menghilang di ujung jalan.
Sementara di kediaman Miyong, Pangeran Haa Joon masih setia merawat Miyong. Dengan telaten Pangeran menyuapi ramuan yang di buat Yu Hwa untuk Miyong.
Miyong tersentuh melihat perlakuan pangeran padanya, memang tak ada cinta di hatinya untuk Sang Pangeran. Semua yang dia lakukan semata-mata agar tidak membuat pangeran tersinggung.
Pangeran Haa Joon, memiliki paras tampan serta sikap yang bijaksana. Banyak rakyat yang kagum padanya. Akan tetapi, entah mengapa Miyong masih tidak bisa membuka sedikit pintu hatinya untuk pangeran?
"Mengapa Pangeran repot-repot? sudah ada Yu Hwa yang merawat saya," ucap Miyong lirih.
Tubuhnya masih sangat lemas, wajahnya sangat pucat bagai mayat hidup yang tak memiliki tenaga.
Pangeran Haa Joon menarik nafas dalam dan menatap Miyong. Tatapannya begitu teduh, mata indahnya menatap lekat manik mata Miyong.
"Bukankah kita perlu memperat hubungan?" ucap Haa Joon.
Miyong memalingkan pandangan, kepalanya tertunduk. Yang di katakan Pangeran benar, mereka harus bisa terbiasa bersama karena pernikahan akan segera terjadi.
Pangeran menutup kembali pintu kamar Miyong dan melangkah menuju istana. Tanpa pangeran sadari ada seorang yang sedang mengawasinya.
Miyong duduk bersandar di tempat tidurnya, angannya melayang membayangkan pernikahan yang tidak lama lagi akan berlangsung.
Miyong menghela nafas panjang, sebenarnya dia tidak begitu mengharapkan pernikahan ini. Akan tetapi, tekatnya sudah bulat saat memilih untuk masuk ke istana.
Ucapan Ayahnya selalu terngiang di telinganya, tak ada yang bisa selamat dan bertahan hidup di istana. Hanya cara meninggalnya yang berbeda.
Mungkin kita merenggang nyawa sebagai gelar penghianat, Atau penuh hormat sebagai seorang yang memberikan kesan pada rakyat.
'Dimana sih Yu Hwa?' batin Miyong.
Beberapa hari ini dia terkurung di dalam kamar, tubuhya sudah sangat lelah karena hanya berbaring beberapa hari ini.
Dengan langkah lemas, Miyong melangkah menuju pintu dan membukanya. Mata Miyong terbelalak ketika melihat seseorang yang secara bersamaan membuka pintu kamar Miyong.
__ADS_1
Miyong mundur teratur, orang tersebut melangkah memasuki kamar Miyong. Di ikuti oleh Miyong yang melangkah duduk kembali di kasurnya.
Mata Miyong menatap lekat sosok yang sepertinya tidak pernah dia lihat, seorang itu hanya memandang Miyong dengan senyuman yang sulit di artikan.
****
Di tengah hutan belantara, Yu Hwa mulai menyadari suatu hal. Dia mulai familiar degan tempat ini.
Kuda berlari semakin memasuki jalanan berdebu, reflek Jae Sung menutup tubuh Yu Hwa dengan jubahnya.
Yu Hwa kembali di buat terpana karena perlakuan Jae Sung. Dia sungguh tidak menyangka kalau sosok angkuhnya ini juga memiliki rasa empati.
Hingga tanpa sadar kuda yang di tumpangi nya berhenti, Jae Sung membuka jubahnya. Yu Hwa tercengang menatap sebuah rumah di hadapannya saat ini.
Matanya berkaca melihat pemandangan indah di hadapannya, sebuah pemandangan yang sudah dia rindukan selama ini.
Jae Sung segera turun dari kuda, perlahan dia mengulurkan tangannya untuk membantu Yu Hwa turun.
Mata berkaca Yu Hwa menatap lekat sebuah rumah reyot yang telah lama dia rindukan, terdengar gemericik aliran sungai kecil di sebelah rumah tersebut.
Perlahan Yu Hwa melangkahkan kakinya mendekati rumah tersebut, air mata turun begitu deras tanpa bisa di bendung
Berulang kali dia mengusapnya dengan baju lusuh khas milik pelayang tersebut, langkahnya terhenti. Mendadak Yu Hwa membalikan badannya, menatap Jae Sung yang berdiri tak jauh darinya.
Melihat Yu Hwa menatapnya, Jae Sung segera memutar tubuhnya dan membuang pandanga. Dia sangat membenci air mata, terlebih itu harus keluar dari seorang wanita.
Yu Hwa kembali memutar tubuhnya dan melanjutkan langkahnya, tangisnya pecah sudah ketika melihat sosok yang tidak lama dia temui.
"Yu Hwa, akhirnya kau datang," ucap Ibu Yu Hwa penuh haru.
Sekian lama anaknya pergi mencari pundi-pundi rupiah di istana, sejak saat itu dia tak pernah bertemu putrinya.
Setelah semua rasa rindu dia lewati. Kini, dia bisa melihat putrinya pulang dengan keadaan sehat.
Meskipun hanya sesaat, setidaknya Sang Ayah pasti akan senang melihat putri kesayangannya kembali.
Yu Hwa berlarian memeluk Sang Ibu, isakan keduanya pecah dan saling bersahutan. Keduanya saling menumpahkan kerinduan yang selama ini tak kunjung terbalas.
__ADS_1
Keduanya membelalakkan mata, terdengar suara barang yang terjatuh amat keras.
"Ayah ...."