Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
Bab 12


__ADS_3

Mentari yang cerah menerangi istana yang mulai sibuk dengan berbagai aktifitas paginya, semua prajurit yang mulai berlatih, sayang yang menyiapkan segala kebutuhan Nonanya dan semua pelayan-pelayan istana yang membersihkan tiap sudut kerajaan.


Suasana sudah tidak terlalu mencekam seperti semalam, hanya sebagian prajurit yang terlihat menjaga kadiaman selir Miyong.


Tampak Yu Hwa dengan terburu-buru berlarian menuju kediaman Nona Miyong. Sehingga dia tak melihat ada seorang prajurit yang melangkah dari arah yang berlawanan.


Brukkk ...


"Aww ...,"


"Apa kau tidak punya mata?" Jae Sung memicingkan mata.


"Maaf aku tidak sengaja," ucap Yu Hwa sambil mengelus keningnya yang sakit.


Yu Hwa heran, apa semua prajurit memiliki tubuh kokoh seperti benteng. Kenapa tubuh mereka keras sekali seperti batu?.


Prajurit itu berlalu tanpa basa-basi, melihat postur tubuh prajurit itu membuat Yu Hwa teringat seseorang. Yu Hwa sudah berusaha keras mengingatnya akan tetapi hasilnya nihil, dirinya tak mengingat apa pun.


Yu Hwa segera melanjutkan tujuannya untuk menuju kediaman Nona Miyong. Tak lama kemudian sampailah Yu Hwa di kediaman Nonanya.


"Semoga Nona Miyong selalu berbahagia!" ucap Yu Hwa lantang dan berlutut.


"Kalian bisa pergi, sudah ada Yu Hwa disini," ucap Miyong kepada semua pelayan.


Seperti biasanya, satu per satu pelayan meninggalkan kediaman Miyong dan hanya menyisakan Yu Hwa saja.


"Bagaimana keadaanmu, kau baik-baik saja kan?" Miyong khawatir.


"Terimakasih atas perhatian Anda Nona," Yu Hwa menunduk.


"Kau selalu seperti ini, aku kan temannu. Semalam aku sangat khawatir melihatmu di bawa para bandit itu!"


"Setelah itu Raja memperketat penjagaan, aku takut kalau orang suruhan pangeran tidak bisa masuk ke istana,"


"Pangeran telah memilih satu orang kepercayaan untuk menjagaku tanpa sepengetahuan siapa pun, kau sangat tau bagaimana kondisi istana saat ini,"

__ADS_1


"Saya paham Nona,"


"Antar aku ke perpustakaan," Miyong beranjak menuju perpustakaan istana, di susul oleh Yu Hwa di belakang.


Mereka melangkah menyusuri jalan kerajaan yang banyak di hiasi oleh kolam yang berhiaskan ikan koi di dalamnya.


"Kau tau Yu, dengan membaca kita akan dapat melihat dunia?"


"Maaf Nona, Saya kurang dapat mencerna kalimat Nona!"


Miyong tersenyum simpul, melihat Yu Hwa membuat dirinya merasa miris. Betapa minimnya pendidikan bagi kaum wanita terutama rakyat jelata.


"Saat kau membaca salah satu buku kau pasti akan mengetahui informasi bukan?, di situ secara tidak langsung kita dapat melihat dunia si penulis buku,"


Yu Hwa hanya tersenyum kecil, mencoba memahami apa yang di katakan Nonanya. Otaknya berkerja keras hanya untuk memahami satu kalimat.


"Nanti aku akan menunjukkannya padamu," Miyong tersenyum anggun.


"Terimakasih banyak Nona, Nona selalu memberi kebebasan untukku. Saya sungguh tak enak hati,"


"Meskipun kita wanita, bukan berarti kita tidak boleh untuk belajar. Ilmu sangatlah penting untuk kehidupan mendatang,"


"Saya hanya berdo'a supaya Anda sehat selalu agar bisa mengajari orang lebih banyak lagi Nona, Yu Hwa mengucap tulus.


"Dan kau harus tetap berada di sampingku dan melihat semua itu terwujud," Miyong menghentikan langkahnya dan membalik badan.


"Tetaplah seperti ini sampai kapan pun Yu Hwa, orang tulus sepertimu sangat sulit untuk di temui saat ini,"


"Hamba akan selalu setia di samping Anda Nona," Yu Hwa membungkukkan setengah badannya.


Entah mengapa mata Yu Hwa memanas seperti akan terjadi hal yang sangat mengerikan tak lama lagi, mendengar ucapan demi ucapan Nona Miyong membuat hatinya teriris perih.


"Berjanjilah padaku, kau akan menemaniku untuk memajukan bangsa ini dengan memberikan pendidikan untuk kaum wanita terutama rakyat jelata," mata Miyong menatap Yu Hwa tegas.


"Hamba berjanji Nona, akan tetap setia di samping Anda dan mewujudkan mimpi Anda untuk bangsa ini. Walaupun Saya akan mempertaruhkan jiwa raga," Ucap Yu Hwa mantap.

__ADS_1


"Aku sangat suka semangatmu, mari kita ke perpustakaan sekarang," ucap Miyong semangat.


Tak lama kemudian sampailah mereka di perpustakaan istana, Miyong menggandeng tangan Yu Hwa dan menuntunya untuk membaca salah satu buku favorit Miyong.


"Apa?, hukum-hukum negara?" mata Yu Hwa terbelalak membaca judul buku tersebut.


Jangankan untuk membaca isi buku tersebut, membaca sekilas judulnya saja otak Yu Hwa sudah tak mampu mencerna.


"Kau harus membaca buku ini!" ucap Miyong menyodorkan buku tebal tersebut.


"Maaf Nona, isi buku ini terlalu rumit untuk ku baca," Yu Hwa memamerkan gigi putihnya yang berjajar.


"Padahal aku sudah sangat tidak sabar untuk membahasnya bersamamu," tampak raut wajah kecewa terukir di wajah cantik Miyong.


"Aku akan berusaha Nona," dengan berat hati Yu Hwa meraih buku yang di sodorkan oleh Miyong.


Miyong memilih satu buku lagi, entah buku apa. Yang jelas buku itu cukup sangat tebal.


Dia duduk di sisi perpustakaan dengan menatap pemandangan taman istana, terlihat kolam ikan dan bunga warna warni menghiasi kolam.


Yu Hwa duduk di sudut perpustakaan dan mencoba memahami isi buku yang lumayan tebal ini.


Entah mengapa tiba-tiba Miyong menyuruhnya untuk membaca buku yang bertema berat seperti ini, padahal sebelumnya dia bebas untuk memilih buku.


Buku yang paling di gemari Yu Hwa adalah buku tentang seputar obat-obatan, jangan tanyakan mengapa. Orang tuanya sudah cukup menjadi alasan mengapa dia menyukai buku dengan tema obat.


Karena semalaman Yu Hwa tidak tertidur pulas membuat matanya sangat berat, jejeran huruf yang di hadapannya semakin lama semakin buram.


klekkk ...


kepala Yu Hwa tertunduk karena tak kuat menahan kantuk yang melandanya saat ini, matanya terpejam sambil memeluk buku yang belum dia baca sepenuhnya.


Terdengar langkah kaki mendekati Yu Hwa, semakin lama semakin mendekat hingga langkah kaki itu terhenti di depan Yu Hwa yang masih terlelap.


Seorang itu tersenyum tipis dan mengamati buku bacaan Yu Hwa.

__ADS_1


"Orang sepertimu ...!"


__ADS_2