
Jae Sung melangkah menuju kamar Yu Hwa, saat dia membuka pintu di saat yang bersamaan ada seorang pelayan yang hendak keluar.
"Maaf Nona permisi, Saya mengantar obat untuk teman Saya." ucap Jae Sung menundukkan kepala.
"Silahkan Tuan, teman Anda baru saja saya kompres." ucap pelayan tersebut, kemudian melangkah meninggalkan kamar Yu Hwa.
Jae Sung masuk kamar Yu Hwa, dia melangkah perlahan mendekati Yu Hwa yang tertidur pulas.
Dia menempelkan punggung tangannya ke pipi Yu Hwa, ternyata panasnya belum turun. Wajahnya mulai sedikit panik.
Perlahan Dia mengganti kain yang menempel di kening, dan mencelupkan nya ke baskom yang berisi air hangat.
Pandangannya teralih pada sebuah kain yang terselip di kepala Yu Hwa, dengan hati-hati dia meraih kain tersebut.
Matanya terbelalak ketika melihat ikat kepala yang sangat dia kenali, ingatannya kembali pada sekian menit yang lalu.
'pelayan itu? sial!!!'
Jae Sung segera melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Yu Hwa, sungguh dia tak percaya akan ada pristiwa di luar dugaan.
Jae Sung berlarian menuju beberapa prajurit andalannya, mereka sedang beristirahat di pohon yang rindang.
"Ada mata-mata disini," ucap Jae Sung.
"Maaf kepala, kami lalai. Sebagian prajurit akan mencari mereka!" ucap salah satu prajurit tersebut.
Jae Sung mengulurkan Ikat kepala merah yang berada di genggaman nya, mata prajurit tersebut terbelalak.
Dia tak menyangka kalau Pangeran dan Sang Nona dalam bahaya saat ini, matanya menatap Jae Sung dengan isyarat tertentu.
"Tetap awasi Pangeran dan Nona, jangan buat kegaduhan." ucap Jae Sung lirih.
"Aku akan mencari dalang di balik penyerangan semalam, kau jaga baik-baik tempat ini." lanjut Jae Sung, menatap lekat Prajurit kepercayaan nya tersebut.
"Ini terlalu berbahaya Tuan," ucap prajurit itu lirih.
"Aku bisa mengatasi semuanya, kau harus hati-hati disini. Yang mereka incar Nona Miyong." ucap Jae Sung mengingatkan.
Jae Sung melangkah pergi, ketika Prajurit membalas ucapannya dengan anggukan kecil.
Jae Sung berlari dan menghilang di semak-semak, sedangkan Prajurit menugaskan kawan-kawannya untuk berjaga di sekitar kamar Miyong.
***
Hanya butuh sekian menit, Jae Sung sudah berada di sebuah pondok kecil dekat sungai. Matanya menyapu keindahan sungai tersebut.
__ADS_1
Ingatannya kembali ke masa lampau, dimana dirinya sering kemari dengan seorang yang paling dia cintai.
Hingga disini pula dia harus menyaksikan orang itu harus tiada, mengingat hal pedih tersebut Jae Sung mencengkram erat jemarinya.
'Aku tak akan membebaskan kalian begitu saja,'
Jae Sung segera melangkah mengikuti sungai, dengan jalan terjal dan bebatuan. Hingga akhirnya dia sampai di sebuah gubuk milik Sang Paman.
Dengan semangat Jae Sung melangkah cepat ke arah gubuk tersebut dan membuka pintu, dirinya semakin terkejut ketika melihat pamanya telah bersimbah darah.
Ada banyak bekas luka pedang di sekujur tubuh Sang Paman, mulutnya sudah banyak mengeluarkan cairan merah kental.
Jae Sung menyapu keadaan sekitar, mencari seseorang yang telah melakukan hal keji ini.
"Jae ..." rintih Sang Paman.
"Paman ... siapa yang melakukan ini?" tanya Jae Sung, dengan lembut dia memangku Sang Paman.
"Siapapun dia, tolong hentikan ini semua. Nyawamu dalam bahaya Nak," ucap Paman lirih.
"Aku pasti akan membalaskan semua ini Paman," ucap Jae Sung menggengam erat jemari Sang Paman.
"Hiduplah dengan damai Nak," ucap Paman, hanya sekian detik Sang paman menghembuskan nafas terakhirnya.
"PAMAN ...!!!" Teriak Jae Sung lantang.
Kali ini kemarahan Jae Sung sudah sampai ubun-ubun, bahkan Pamannya yang bersalah telah menjadi korban.
Jae Sung merebahkan tubuh lemah Sang Paman di kasur, dan menutupinya dengan kain tipis.
Air mata Jae Sung tak dapat di tahan, ingin sekali dia menghabisi orang yang melakukan ini semua saat ini juga.
Pamanya adalah satu-satunya keluarga yang dia punya, seorang yang amat menyayangi nya setelah Sang Ibu pergi.
Tadinya Jae Sung ingin meminta obat demam pada Sang Paman dan sekedar berkunjung, sudah lama Jae Sung tak mengunjungi Pamannya.
Ternyata pil pahit harus dia telan, Paman yang amat dia hormati dan sayangi harus tewas.
Dengan air mata yang berderai, Jae Sung menyiapkan pemakaman Pamannya. Setelah semua selesai, Jae Sung segera kembali ke paviliun.
Tak membutuhkan waktu lama Jae Sung tiba di paviliun, para prajurit memberi hormat kepadanya.
"Bagaimana?, kalian sudah menemukannya?," tanya Jae Sung.
Matanya masih lekat menatap langit biru, saat ini dirinya mencoba berdamai dengan hati yang di penuhi dengan gemuruh dendam.
__ADS_1
"Dia sudah kami bawa ke tengah hutan untuk di introgasi," ucap salah satu prajurit.
Jae Sung segera melangkahkan kakinya secepat kilat menuju tempat yang di maksud, gelora amarah yang berada di dadanya sudah tak mampu dia tahan.
Dia sudah melihat Ibunya merenggang nyawa dengan tragis dan kali ini Pamannya, secara tak langsung musuh sudah mengibarkan bendera perang padanya.
Hingga beberapa menit kemudian sampailah Jae Sung di tengah hutan, tampak seorang pelayan di ikat dan di bungkam di sana.
Perlahan Jae Sung melangkah mendekatinya, dia mengambil kain yang menyumpal mulut pelayan tersebut.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Jae Sung dengan nada dingin.
Pelayan itu tak langsung menjawab, matanya menyapu keadaan sekitarnya dengan tatapan takut.
"Sa-saya ti-tidak ... " ucap pelayan itu terbata.
Jae Sung melangkah mendekat dan menghunuskan tepat di hadapan pelayan tersebut.
Pelayan hanya bergeleng lirih, matanya mengisyaratkan sesuatu yang Jae Sung tak sadari.
Melihat keanehan pelayan tersebut, Jae Sung mendekatkan kepalanya ke telinga Pelayan. Pedangnya bertengger cantik di pundak sang pelayan.
"Apa yang mau kau sampaikan?" Tanya Jae Sung.
"Paman Anda dan Anda saai ini dalam bahaya, hamba suruhan Paman Anda. Argh ..." rintih pelayan.
Tiba-tiba ada anak panah kecil yang menancap tepat di jantung Pelayan, seketika pelayan tersebut merenggang nyawa.
"Sial, siapa kalian?" Ucap Jae Sung, matanya menyapu tajam setiap sudut hutan.
Prajurit sudah bersiap-siap mengayunkan pedang mereka, akan tetapi belum ada tanda-tanda musuh yang akan menyerang.
Ini sangatlah rumit, bila memang pelayan itu suruhan Sang Paman, kenapa dia harus di habisi di tempat? Semua masalah ini membuat otak Jae Sung pusing.
Melihat tak ada pergerakan, Jae Sung dan para Prajurit meninggalkan tempat. Langkah Jae Sung terhenti sesaat.
"Kubur dia dengan layak, dia hanya korban disini," ucap Jae Sung memberi perintah.
Jae Sung melanjutkan langkahnya, sebagian pelayan berbalik dan melakukan perintah Jae Sung untuk pemakaman pelayan.
***
Jae Sung sampai di paviliun, tanpa pikir panjang dia segera melangkah menuju kamar yu Hwa.
Dia takut kalau terjadi apa-apa dengannya, akan tetapi langkahnya terhenti saat melihat pintu kamar Yu Hwa terbuka.
__ADS_1
Tampak seorang sedang duduk di samping Yu Hwa, melihat ini Jae Sung mundur teratur.