
"Dia adalah putri dari salah satu tangan kananku," jawab Ratu.
Ratu duduk bersimpuh di lantai, dia menuangkan dua gelas teh di cangkir yang sudah di sediakan oleh para pengawalnya.
"Duduklah, kita akan mengobrol bersama dengan tenang." lanjut Ratu menyodorkan teh tersebut.
Jae Sung memalingkan pandangannya, dia menatap semua prajurit yang saat ini masih siaga. Entah mengapa mereka tidak segera bersiap di depan gerbang istana? Padahal musuh akan segera menyerang.
"Aku tau kau menyukai nya, Benarkan?" Tebak Ratu sambil melempar pandangan ke arah Yu Hwa yang masih terlelap.
"Aku tidak suka berbelit-belit, kita bisa memulai peperangan saat ini juga." ucap Jae Sung menyapu pandangan ke semua prajurit Ratu.
Ratu tersenyum simpul, dia melambungkan tangannya. Mengerti dengan kode sang Ratu, salah seorang prajurit mengambil sebuah kotak yang tersimpan di lemari Ratu.
Dia menatap lekat Jae Sung dan kotak secara bergantian,
"Jadi kau mau membukanya? tenanglah kita teman saat ini, tak ada benda bahaya di dalamnya," ucap Ratu dengan intonasi tenang.
Jae Sung mulai penasaran dengan kotak tersebut, matanya lekat menatap kotak yang saat ini di sodorkan oleh Ratu.
"Bukalah, anggap saja ini hadiah perdamaian kita." ucap Ratu tersenyum licik.
Jae Sung tak segera membukanya, dia tidak mudah percaya begitu saja. Dia kenal siapa seorang yang ada.di hadapannya.
__ADS_1
Dia penuh tipu muslihat untuk membuat siasat, bahkan dia juga tidak lupa siapa dalang di balik kematian Ibunya.
Jemari Jae Sung mengepal, dia sangat penasaran dengan benda di hadapannya. Namun dia juga tak mau gegabah.
"Ternyata kau tidak mudah percaya, ini sangat bagus," kekeh Ratu.
Dia menarik kembali kotak yang ada di hadapannya, kemudian membukanya. Matanya kembali menatap Jae Sung bergantian.
Hingga pada akhirnya Ratu memutar kotak itu dan menunjukkannya ke Jae Sung. Seketika matanya terbuka lebar.
Dia melihat ikat kepala berwarna merah, ada juga botol oba milik pamannya. Di tambah saat benda yang dari awal sudah dia curigai, yaitu tusuk konde marmer yang mewah.
"Tepat seperti dugaanmu, namun kau sedikit meleset." ucap Ratu.
Telinga nya masih tak dapat mendengar semua kenyataan saat ini, dia sudah mulai merasakan betapa hatinya bahagia saat berada bersama Yun Hwa.
Terutama saat dia mengucapkan janji pada Ayah Yu Hwa di akhir hembusan nafasnya. Dia tidak sanggup bila melepas janji begitu saja.
"Bagiamana? sudah siap mendengar," kekeh Ratu kembali.
"Apa yang kau mau?" tanya Jae Sung.
Ratu tersenyum simpul, dia sudah membayangkan kalau rencananya pasti berhasil malam ini.
__ADS_1
"Kalahkan mereka, karena tujuan mereka bukan hanya Yu Hwa." ucap Ratu.
Jae Sung terkekeh, dia tak menyangka seorang yang agung seperti Ratu bisa meminta pertolongan padanya. Apakah semua prajuritnya selemah itu?
"Raja benar-benar membenci Ibumu, saat itu Raja hanya melampiaskan hasrat sesaatnya pada Ibumu. Namun takdir berkata lain, memang ibumu cukup beruntung," ucap Ratu mulai bercerita.
Mendengar cerita tersebut, Jae Sung semakin tak dapat mengontrol emosinya.
"Aku akui, aku iri hati. Aku anak buahku untuk membunuh Ibumu. Namun lagi-lagi takdir memihak ibumu lagi." ucap Ratu sambil mengeratkan rahangnya.
"Anak buahku itu mencintai Ibumu, dan kau tau ... dia berkhianat padaku! Setelah aku berikan semuanya, dia pergi membebaskan Ibumu," ucap Ratu beranjak dari duduknya.
Jae Sung memasang telinga, mencoba merekam semua pengakuan Ratu padanya malam ini.
Meskipun kebenarannya masih di pertanyakan, setidaknya dia bisa mendapatkan sedikit informasi.
"Raja tau, dan dengan sendirinya mengutus anak buahnya untuk membunuh Ibumu karena diliputi rasa cemburu," kekeh Ratu.
"Sungguh di sayangkan, meskipun takdir berpihak padanya tapi lihatlah. Dia akan mati pada akhirnya," Ratu tersenyum penuh kemenangan.
"Dia memiliki posisi penting dalam pemimpin yang akan menyerang istana saat ini ..."
"Serang !!!" terdengar suara bergemuruh dari luar rumah Ratu.
__ADS_1
"Sial !!!" ucap Jae Sung.