
Yu Hwa mulai membuka mulutnya dan mengumpulkan sisa-sisa keberanianya.
"Maaf Pangeran, hamba memang bersalah. Hamba siap untuk di hukum." ucap Yu Hwa.
Seketika badan Miyong lemas sudah, air mata mengalir semakin deras. Ingin rasanya dia menyeret dan membuang Yu Hwa ke jurang.
Setelah semua perjuangannya memohon kepada pangeran, dengan mudahnya Yu Hwa menolak.
Jae Sung segera berbalik badan, dia menatap tak percaya dengan apa yang di katakan Yu Hwa saat ini.
Mengapa dia tidak jujur saja dengan semua hal? Setidaknya pangeran akan mengurangi hukumannya, atau bahkan mencabutnya.
Jae Sung menatap Yu Hwa dan menggeleng kepalanya lirih, Yu Hwa hanya menatap Jae Sung sesaat dan tersenyum.
"Baik, kau dengar itu kan Permaisuri. Itu berarti hukuman akan tetap di jalankan," ucap Pangeran penuh kemenangan.
Prajurit melangkah mendekati Yu Hwa, dia segera mengayunkan cambuk kusam tersebut ke arah Yu Hwa.
"Argh," Yu Hwa merintih.
Miyong membuang pandangannya, dia tak mampu melihat orang yang sangat dia sayangi, harus di eksekusi di hadapannya saat ini.
__ADS_1
Suara cambukan dan rintihan saling bersahutan, membuat hati Miyong teriris perih. Dia sudah tak dapat berbuat apapun. Jemarinya mencengkram kuat selimut di sampingnya, seolah menahan rasa sakit yang sama seperti Yu Hwa.
Jae Sung segera berbalik badan, dirinya tak tega bila harus melihat eksekusi seorang wanita.
Meskipun dia panglima perang, tapi dia tidak pernah melukai seorang wanita. Mengingat wanita tercintanya telah di habisi dengan tangan kotor seorang prajurit.
Jae Sung hanya mampu memejamkan matanya, entah mengapa hatinya teriris perih?Mendengar suara cambukan yang sangat nyaring, diikuti suara rintihan Yu Hwa.
Seketika ingatan akan Ibunya terulang kembali, semua terputar bagaikan sebuah film menyedihkan di dalam kepalanya.
Matanya seketika memanas, dia berusaha keras untuk tidak menjatuhkan buliran bening.
Jae Sung segera memutar badannya, melihat kondisi Yu Hwa yang teragis. Saat ini tubuh Yu Hwa tergeletak lemas, punggungan di penuhi luka panjang berwarna merah segar.
Jae Sung segera melangkah mendekati Yu Hwa yang terkapar. Dengan hati-hati dia meraih tubun Yu Hwa dan menggendongnya.
"Hamba izin mengobatinya," ucap Jae Sung melangkah keluar.
"Mengapa kau sangat peduli padanya?" tanya pangeran,
Jae sung mengehentikan langkanya dan berbalik, dia membungkuk dan memberi hormat.
__ADS_1
"Hamba sudah menghukum dia sebelumya, Hamba tidak tega sebagai sesama pelayan istana." ucap Jae Sung.
"Baiklah, terserah kau saja." ucap Pangeran.
Jae Sung segera melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Miyong, dia tak menyangka gadis yang di gendongnya saat ini sangat bodoh, melebihi yang dia bayangkan.
Bahkan menjaga dirinya sendiri saja tidak becus, apa susahnya hanya berbohong sedikit demi keselamatan nyawanya.
"Maaf Pangeran saya ingin beristirahat," ucap Miyong lirih.
Dia sudah tidak peduli dengan apa yang ada di pikiran pangeran, hatinya saat ini sangat hancur melihat teman dekatnya di hukum.
Pangeran segera beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu, saat ini dia lebih memilih mengalah dari pada harus berdebat.
Pangeran keluar dari kamar dan menutup pintu, setelahnya hanya terdengar langkah kaki serentak menjauh dari kamar Miyong.
Miyong segera bangun dari tidurnya, ketika tak suara langkah kaki semakin jauh dan mulai tak terdengar.
Berulang kali dia mondar-mandir di kamar, mencari ide bagaimana caranya dia bisa keluar.
Pasti ada beberapa penjaga di depan pintunya saat ini, melihat bagaimana pangeran memperlakukan beberapa saat yang lalu.
__ADS_1