Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
Bab 25


__ADS_3

Yu Hwa membalikkan tubuhnya, ketika dia mendengar suara yang amat dirindukannya.


"Nona, kau sudah sadar?" tanya Yu Hwa duduk di samping Miyong.


Miyong mulai bangun dan duduk bersandar di ranjangnya, mata sayupnya menatap wajah khawatir Yu Hwa.


Wajah Yu Hwa sangat kuyu, sepertinya dia begadang semalaman demi menjaganya.


"Maafkan aku telah merepotkan mu," ucap Miyong lirih. Tubuhnya masih sangat lemas tak berdaya.


"Nona, ini tugasku." ucap Yu Hwa mengenggam jemari Miyong.


Tampak senyuman kecil menghiasi wajah pucat Miyong, dirinya sangat beruntung memiliki pelayan sebaik Yu Hwa.


Setidaknya ada satu orang yang menganggapnya teman, bukan seorang calon Ratu. Apalagi musuh yang harus di bunuh.


Tanpa terasa air mata menetes di pipi Miyong, dia tak mampu menahan rasa haru yang menyelimuti hatinya saat ini.


Melihat Miyong yang menangis membuat Yu Hwa semakin khawatir.


"Nona baik-baik saja, saya akan panggil tabib istana." ucap Yu Hwa beranjak.


Langkah Yu Hwa terhenti ketika bajunya tersangkut sesuatu, perlahan dia menoleh kebelakang.


Matanya membulat, ketika melihat tangan Miyong lah yang menghentikan langkahnya. Yu Hwa kembali duduk di tempat semula.


"Ada apa Nona?" tanya Yu Hwa cemas.


Miyong memeluk erat Yu Hwa, terdengar isakan yang pecah dari bibir tipis Miyong. Yu Hwa semakin kebingungan melihat kondisi Miyong yang demikian.

__ADS_1


"Berjanjilah akan selalu seperti ini," ucap Miyong terisak.


Yu Hwa merenggangkan pelukan Miyong, jemarinya menghapus air mata yang membasahi pipi Miyong.


"Dengarkan aku baik-baik Nona, Anda sudah sangat baik kepadaku. Saya adalah pelayang Nona dan tugasnya memang melayani Nona, sampai kapanpun akan seperti ini." ucap Yu Hwa menatap lekat manik mata Miyong yang masih berkaca.


"Sekarang Nona sudah bangun, dan sekarang waktunya minum obat." lanjut Yu Hwa sambil beranjak mengambil mangkuk ramuan yang sudah dia sediakan.


Langkahnya terhenti, ketika ingatannya kembali ke beberapa menit yang lalu. Saat dirinya melihat salah satu pelayan dan botol obat.


'Dimana botol obat tadi, aku lupa mengambilnya?' batin Yu Hwa.


"Ada apa Yu Hwa?" tanya Miyong karena melihat Yu Hwa berdiri cukup lama.


"Ti-tidak Nona, saya lupa meracik obat untuk Nona." dusta Yu Hwa.


Dia tak mau mengambil resiko besar, bukan tidak ada kemungkinan kalau ramuan ini sudah di campur racun.


Setelah kejadian di paviliun kemarin, Pangeran tidak mau mengambil resiko besar lagi. Begitu banyak orang yang menginginkan nyawa Miyong saat ini.


Yu Hwa melangkah ke sudut ruangan, dan mula menyalakan tungku kecil yang di atasnya sudah ada kendi yang di isi oleh beraneka dedaunan kering.


Beberapa saat kemudian tercium bau obat yang sangat menyengat, Yu Hwa segera mengambil beberapa sendok ramuan dan meletakkannya di mangkuk kecil.


"Nah sudah siap, Ayo Nona minum obat!" ucap Yu Hwa memamerkan senyum manisnya.


Miyong menggelengkan kelapa lirih, bibirnya mulai manyun dan membuang muka. Tingkahnya seperti bocah usia lima tahun saja.


Yu Hwa tersenyum kecil, dirinya sudah lama tidak melihat ekspresi Nonanya seperti ini. Belakangan ini Nonanya sudah mengalami banyak kesulitan.

__ADS_1


Yu Hwa sangat senang melihat Nonanya kembali ke sikap aslinya, kekanak-kanakan dan yang pastinya lucu.


Yu Hwa melangkah mendekati Miyong, dan duduk di sampingnya. Seketika Miyong menutup hidungnya.


"Ayo Nona, buka mulutmu." ucap Yu Hwa.


"Tidak, itu pahit." ucap Miyong sambil menutup mulutnya.


"Cobalah sedikit, lihat ini." ucap Yu Hwa menyendok kan satu sendok ramuan ke mulutnya.


Seketika lidah Yu Hwa mengkerut, ini memang obat yang sangat pahit. Akan tetapi, Yu Hwa tetap menjaga mimik wajahnya agar terlihat baik-baik saja.


"Tuh kan nggak," Dusta Yu Hwa.


Tiba-tiba pintu terbuka, tampak Pangeran memasuki kamar Miyong. Seketika Yu Hwa beranjak dari kasur Miyong dan menekuk lututnya.


"Hormat kepada Pangeran!" ucap Yu Hwa memberi salam.


"Jadi, kenapa Nonamu?" tanya Pangeran.


"Nona ..." ucapan Yu Hwa terputus.


"Aku tidak mau minum, obat Itu sangat pahit." perotes Miyong.


"Kau boleh pergi istirahat, kau pasti sangat lelah telah menjaga Nona Miyong." ucap Pangeran.


"Baik Pangeran." ucap Yu Hwa segera beranjak dan melangkah dari keluar dari kamar Miyong.


Pangeran tersenyum kecil melihat tingkah kekanak-kanakanya, dia melangkah mendekati Miyong dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


Mata mereka saling bertatapan, Pangeran sangat lega melihat permaisurinya telah sehat kembali.


Perlahan Pangeran menyondongkan kepalanya mendekati Miyong dan ...


__ADS_2