Hidden Crown Prince

Hidden Crown Prince
Bab 31


__ADS_3

Miyong masih duduk di ranjangnya, dia berusaha mengingat seseorang yang saat ini berada di hadapanya.


"Salam Nona Miyong, saya kemari atas perintah Mama. Bagaimana keadaan Nona saat ini?" ucap pelayan tersebut membungkukkan setengah badannya


"Saya sudah mendingan, silahkan duduk." ucap Miyong mempersilahkan pelayan tersebut duduk di kursi yang tak jauh dari tempat tidur.


"Tidak Nona, terimakasih." ucap Pelayan, menundukkan kepalanya.


"Sepertinya aku pernah melihatmu," ucap Miyong sambil menatap lekat pelayan.


"Nona sangat baik dan memperhatikan tiap pelayan, mungkin wajah saya pasaran jadi Nona mengira itu saya," ucap pelayan.


"Kau terlalu melebih-lebihkan," ucap Miyong hendak beranjak.


Miyong cukup curiga dengan tingkah pelayan tersebut, beberapa kali dia mengunjungi kediaman Mama. Tapi, dia tak pernah melihat pelayan ini. Miyong mencoba mengingat-ingat kembali.


Sang pelayan yang merasa bahwa Miyong mulai curiga, dia segera menyampaikan maksud kedatangannya kemari.


"Mama menyuruh saya memberi ramuan ini, Mama mengharapkan kehadiran generasi penerus kerajaan," ucap pelayan mengulurkan botol kecil.


Miyong tersenyum kecil dan meraih botol tersebut, sepertinya dia pernah melihat botol ini sebelumnya.


Sementara Miyong mengamati botol, pelayan segera bergegas keluar dari kamar. Dia tak mau sampai di curigai kembali, sama seperti kemarin.


"Saya pamit Nona, semoga Nona lekas sembuh." ucap pelayan melangkah mundur dan keluar dari kamar Miyong


Entah mengapa perasaan Miyong tidak enak, dia segera membuka botol tersebut dan mengendusnya.


Tidak ada tanda-tanda yang aneh dari ramuan ini. Akan tetapi, Miyong tetap waspada. Dia tak mau mati konyol dengan mempercayai orang yang baru dia lihat.


Ingatannya kembali ke beberapa menit yang lalu, Dia menantikan seseorang yang sangat dia percaya.


Tidak biasanya dia menghilang selama ini, Miyong mulai cemas. Perasaan Miyong tidak tenang, akhirnya dia memilih beranjak dan melangkahkan kakinya keluar kamar.


Langkahnya terhenti, kepalanya tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa. Pandangannya berangsur-angsur kabur.


Tubuhnya seketika lemas, Miyong mencoba menyandarkan tubuhnya di pintu. Di saat yang bersamaan Pangeran datang menemui Miyong.

__ADS_1


Melihat Miyong yang tidak baik-baik saja, membuat pangeran seketika berlari menolongnya.


"Kau tidak apa?" tanya pangeran Haa Joon.


"Kepalaku sedikit sakit," ucap Miyong memijit keningnya.


Tanpa pikir panjang Pangeran segera menggendong Miyong dan menaruhnya di tempat tidur.


Pandangan pangeran tertuju pada botol kecil yang di genggam erat Miyong, kenapa botol yang sama persis bisa ada di tempat Miyong.


"Kau mendapatkan ini dari mana?" tanya pangeran Haa Joon.


Miyong masih membungkam mulutnya, dia tidak mau jawabnya nanti akan menimbulkan kericuhan.


Dia memilih untuk memejamkan mata, dan pura-pura tidak mendengar pertanyaan pangeran.


"Maaf Pangeran, bisakah aku istirahat sebentar." pinta Miyong dengan wajah lemas.


Pangeran hanya bisa menuruti permintaan Miyong, dan melupakan masalah botol. Toh masih ada lain waktu lagi, saat ini kesehatan Miyong lebih penting.


"Tabib akan segera kemari," jawab Pangeran lembut.


"Apakah Pangeran melihat pelayanmu," tanya Miyong lirih.


Sakitnya kian lama kian menyiksa, dia berusaha untuk tetap tenang. Semakin dia menunjukkan kesakitan nya, maka semakin runyam urusan yang akan menimpanya.


"Aku tidak melihatnya, biar Jae Sung yang akan mencarinya." ucap Pangeran menggenggam jemari lentik Miyong.


"Kau berlebihan, mungkin dia hanya istirahat di kamar." ucap Miyong tersenyum kecil.


"Dia harus di hukum, berani sekali meninggalkan Nonanya hanya untuk istirahat di kamar." ucap Pangeran Haa Joon.


"Dia sudah menjagaku beberapa malam tanpa istirahat, kau tidak bisa menghukumnya begitu saja." perotes Miyong.


"Tugasnya hanya menjagamu, apa itu sangat berat?" Pangeran Haa Joon menatap Miyong penuh tanda tanya.


"Kalau sampai Yu Hwa terluka sedikitpun, aku tidak akan memaafkan mu." ucap Miyong tegas.

__ADS_1


Kali ini Pangeran hanya terdiam, dia berusaha mengerti bagaimana kedekatannya dengan pelayan tersebut.


Ternyata rumor yang dia dengar benar, hal ini membuat pangeran Haa Joon lebih yakin untuk menikah dengan Miyong.


Calon Permaisuri nya tidak hanya cantik, melainkan pintar. Dan saat ini, dia melihat sendiri betapa dia sangat baik kepada para pelayan.


"Kau tidak takut kalau dia berkhianat?" tanya Pangeran.


"Dia tidak akan menyakitiku, kalaupun dia melakukannya. Pasti dia sedang dalam keadaan terhimpit." ucap Miyong lirih.


Tubuhnya masih sangat lemah. Akan tetapi, mendengar Pangeran meragukan kesetiaan Yu Hwa membuat dirinya tidak tinggal diam.


"Jadi kau rela, suatu saat dia akan berkhianat padamu?" tanya Pangeran kembali.


Miyong menatap mata pangeran lekat, berusaha memberi penjelasan lewat tatapan matanya.


"Pangeran sudah tau jawabannya, aku mohon izinkan aku istirahat." ucap Miyong memohon.


Pangeran beranjak, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Miyong. Tidak lupa dia mengecup mesra pucuk kepala Miyong


"Apapun yang akan kau lakukan, aku akan tetap menjaga keselamatmu." ucap Pangeran.


Pangeran melangkah menuju pintu, sesekali pandangannya menatap Miyong yang sudah memejamkan matanya.


Dia tau malam ini kata-katanya telah melukai hati Miyong, dia tak menyangka kalau pelayan rendahan itu sangat berarti bagi dirinya.


Pangeran menutup pintu, kemudian melangkah meninggalkan kamar Miyong diikuti oleh beberapa pengawal.


Langkahnya terhenti di sudut istana, tempat favoritnya bersama Jae Sung. Seperti biasa, dia menyuruh semua pengawal pergi dan menunggu kedatangan Jae Sung.


Dia juga baru menyadari kalau Jae Sung tidak menyapanya sejak tadi pagi, padahal dia tidak dalam tugas mata-mata.


Malam semakin larut, angin malam membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Pangeran Haa Joon memilih untuk beranjak pergi.


Mungkin saat ini, Jae Sung sedang melakukan misi penting. Jadi pangeran Haa Joon tidak mau mengganggunya.


Pangeran Haa Joon melangkah menjauhi gazebo di dekat kolam, matanya terbelalak ketika melihat sosok yang sedang memegang pedang.

__ADS_1


"Jae Sung"


__ADS_2